there’s something about geometry + architecture

March 25, 2014

Seni ilusi anamorphosis; sebuah cara lain untuk melihat keindahan

Filed under: Uncategorized — endahpratiwi02 @ 22:54

The good, of course, is always beautiful, and the beautiful never lacks proportion.”

– Plato

Apakah semua hal yang indah memang harus selalu dihasilkan dari sebuah proporsi yang seimbang dan sesuai dengan teori golden section? Adakah cara lain yang bisa menghasilkan keindahan terlepas dari subjektivitas para penikmat keindahan? Atau bisakah sebuah hal yang tidak teratur maupun tidak seimbang menghasilkan keindahan?

Kali ini, saya akan mencoba untuk mengamati salah satu bentuk ilusi yang unik dan indah, yaitu ilusi anamorphosis. Definisi dari anamorphosis adalah sebuah proyeksi yang terdistorsi atau sebuah perspektif yang membutuhkan perangkat khusus atau sudut pandang tertentu untuk melihat bentuk asli gambar.

Anamorphosis merupakan suatu bentuk seni yang unik dan menarik, karena terbentuk justru dari proyeksi-proyeksi yang terdistorsi dan sekilas tidak terlihat mengikuti kaidah proporsi yang baik ataupun kaidah golden section.

Namun, apakah benar seni anamorphosis tidak memiliki aturan proporsi?

Salah satu contoh dari ilusi ini adalah karya seorang seniman Swiss bernama Felice Varini yang telah membuat seni anamorphosis selama 30 tahun. Karya-karyanya sering ditampilkan di permukaan dinding ruang-ruang publik sebagai sebuah pameran seni. Ketika kita melihat karyanya dari sisi yang tidak tepat, maka karya tersebut tidak akan terlihat utuh, melainkan terlihat ‘berantakan’.

Contoh proyeksi-proyeksi yang terdistorsi adalah seperti berikut:

Image

 

Namun ketika dilihat pada angle yang tepat, maka akan terlihat seperti ini:

Image

 

 

Contoh-contoh seni ilusi anamorphosis lain yang dibuat oleh Felice Varini :

ImageImage

ImageImageImageImage

ImageImage

 

Hal yang paling menarik dari ilusi-ilusi anamorphosis tersebut adalah bagaimana penikmat seni anamorphosis mencari titik-titik ideal untuk melihat karya tersebut agar menjadi suatu karya yang utuh dan indah.

Namun ternyata, cara Felice Varini membuat karya tersebut juga merupakan hal yang menarik untuk diamati. Cara membuatnya adalah dengan memproyeksikan gambar pada bidang yang diinginkan (sebagian besar) di malam hari agar mudah untuk dijiplak. Baru setelah itu para pekerjanya membuat outline pola-pola yang terproyeksi oleh proyektor pada bidang gambar dan mulai mengisi pola-pola tersebut dengan warna. Sebagian besar karyanya berupa bentuk-bentuk sederhana seperti lingkaran, persegi dan lain-lain.

Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah bisa dikatakan proyeksi-proyeksi yang terdistorsi tadi sebenarnya tetap datang dari sebuah gambar indah yang memiliki proporsi yang baik, bukan dari gambar yang terdistorsi?

Referensi:

http://freshome.com/2012/02/13/redefining-spaces-with-astounding-anamorphic-illusions/

http://www.jeanniejeannie.com/2012/04/anamorphic-illusions-enormous-paintings-that-deceive-the-eye/

http://www.anamorphosis.com/what-is.html

7 Comments »

  1. seni ilusi demikian pasti membutuhkan sudut pandang yang benar agar apa yang dilihat terlihat seakan-akan menjadi suatu kesatuan. Tapi menurut saya, untuk dapat menghasilkan suatu kesatuan yang baik pasti harus memperhatikan proporsi antara satu bagian dengan bagian yang lain.
    Seperti layaknya gambar perspektif. bagaimana agar balok yang depan yang memiliki tinggi yang sama dengan balok belakang rumusnya balok depan ga boleh lebih kecil dari balok belakang.

    Comment by amaliaputriayuichlasiaty — March 26, 2014 @ 10:02

  2. saya setuju dengan komentar dari amalia, karena bagaimana cara Felice Varini membuat karya tersebut, dengan cara memproyeksikan gambar pada suatu bidang. dan apa yang diproyeksikan tersebut pasti merupakan sebuah bentuk geometris yang proporsional. karena tujuan dari ilusi ini bukan bagaimana seseorang dapat melihat bentuk acak melainkan bentuk yang proporsional, yang terbentuk dari bentuk-bentuk yang acak.
    karena bagaimana ilusi anamorphosis dapat terlihat acak dan tidak proporsional hanya ketika seseorang melihat pada sudut yang tidak tepat.

    Comment by anwarbahir — March 26, 2014 @ 15:22

  3. Secara pribadi saya hanya mengatakan ilusi ini unik bukan indah. Sebaliknya, karya-karya artis anamorphosis terlihat indah bagi saya ketika saya tidak berada di titik atau sudut yang tepat. Dengan kata lain, karya-karya ini menawarkan keindahan ketika saya sebagai pengamat melihat bagian-bagian atau pola-pola yang tidak membentuk kesatuan yang diharapkan sang artis. Bahkan saat kondisi di mana pola-pola tersebut tidak proposional.

    Comment by Heru Junaidi — March 27, 2014 @ 11:39

  4. “Hal yang paling menarik dari ilusi-ilusi anamorphosis tersebut adalah bagaimana penikmat seni anamorphosis mencari titik-titik ideal untuk melihat karya tersebut agar menjadi suatu karya yang utuh dan indah.” Pernyataan anda ini mengingatkan ttg salah satu law dari Gestalt, yaitu Law of Closure, dimana kita mempersepsikan suatu objek yg sebenarnya tidak lengkap bagiannya menjadi suatu objek yg lengkap, krn otak kita seperti ‘melengkapi’ bagian2 yg hilang dr objek tersebut. Dari karya ini terlihat sang artis ingin memanfaatkan kemampuan otak kita untuk melengkapi bagian yg hilang tersebut sehingga saat kita melihat karya ini kita mencari kesinambungan antara satu titik dengan titik yg lain/satu garis dgn garis yg lain. Karya yg menarik, krn sang artis berusaha menyampaikan karya tidak secara gamblang, tp membuat kita hrs menduga2 dahulu sampai akhirnya bs menikmati karya ini. Selain itu, menurut saya ini salah satu contoh proses dalam membentuk suatu pola dengan cara yg berbeda dan ternyata pola dasar pun bisa dibentuk dengan metode apapun sehingga pola dasar yg terlihat ‘biasa’ menjadi sesuatu yg luar biasa

    Comment by nandittafitri — March 29, 2014 @ 01:31

  5. proses proyeksi untuk membentuk seni anamorphosis menurut saya memang menjadi bagian dimana seniman tersebut memcari proposi terbaik karena dengan proporsi yang tidak tepat, bentuk ‘utuh’ pada posisi ideal untuk melihat tidak akan tercapai. saya pribadi menjadi tertarik untuk melihat seni ini secara langsung, karena mungkin justru yang menarik adalah pengalaman bergerak ketika anda berjalan dari posisi gambar yang terdistorsi ke titik gambar yang ‘utuh’, karena mungkin akan timbul efek dimana gambar seolah bergerak membentuk bentuk yang ‘utuh’.

    Comment by ellyzakurnia — March 29, 2014 @ 07:36

  6. terlepas dari apakah keindahan dan keunikan seni anamorphosis berasal dari proyeksi gambar yang baik atau tidak, menurut saya yang menarik adalah, bagaimana keberadaan anamorphosis di suatu tempat dapat ‘mengaburkan’ dimensi visual yang terlihat ketika kita menangkap anamorphosis dari titik yang tepat. Anamorphosis dapat membingkai sebuah ruang dengan cara yang unik, menarik figure dan ground kedalam satu bidang yang terhlihat seolah-olah ada di kedalaman bidang yang sama. ketika cahanya dapat digunakan untuk menonjolkan perbedaan kedalaman bidang, anamorphosis dapat digunakan untuk sebaliknya.

    Comment by nadiadputranti — March 29, 2014 @ 08:51

  7. Terima kasih teman2 atas komentarnya🙂 Setelah saya amati justru ada beberapa sudut pandang baru yang menurut saya menarik. Seperti komentar dari saudara Heru Junaidi yang mengatakan bahwa seni ini hanya indah ketika berada di sudut yang tidak tepat, ketika gambar yang terlihat adalah gambar-gambar yang terdistorsi.

    Selain itu, ada juga saudara Ellyza Tri Kurnia yang berpendapat bahwa seni ilusi anamorphosis terlihat menarik justru dari pengalaman bergerak untuk mencari sudut yang tepat agar bentuk tersebut menjadi bentuk yang utuh. Saya pribadi setuju dengan komentar dari saudari Ellyza dan Nadia, bagaimana gambar-gambar terdistorsi tersebut seolah-olah ‘membawa’ kita menuju titik yang akan menjadikan gambar tersebut sebagai sebuah gambar yang ‘utuh’ dan seolah membentuk sebuah kedalaman ruang yang sama. Mungkin keindahan dan keunikan yang ingin ditampilkan oleh Felice Varini bukan hanya ketika gambar utuh tersebut ‘terbentuk’ melainkan juga perjalanan menuju keutuhan tersebut yang membuatnya menjadi menarik.

    Menanggapi komentar dari saudari Amalia Putri dan saudara Anwar Bahir, seni ilusi ini memang berasal dari sebuah gambar yang berada di satu permukaan yang sama, namun ketika diaplikasikan di dalam sebuah ruangan yang memilki kedalaman berbeda, maka dibutuhkan sebuah kejelian untuk menghasilkan ‘keutuhan’ tersebut. Sebelum Velice Farini memutuskan ingin memproyeksikan gambar ke bidang yang memiliki kedalaman berbeda, pasti terdapat banyak pertimbangan yang mungkin salah satunya melingkupi pertimbangan jarak-jarak kolom yang harus proporsional dan lain sebagainya.

    Saya sependapat dengan saudari Nanditta Fitri yang menyebutkan bahwa seni ini mungkin menerapkan salah satu hukum gestalt, yaitu law of closure dimana otak kita mempersepsikan suatu bentuk sebagai sebuah bentuk utuh padahal jika dilihat kembali bentuk tersebut bukanlah bentuk yang utuh melainkan terdiri dari fragmen-fragmen yang terpisah. Hal ini kemudian mengingatkan saya terhadap hukum gestalt lainnya, yaitu law of continuity yang mungkin saja diterapkan juga pada karya seni ini ketika dilihat dari sudut pandang yang menampilkan gambar-gambar terdistorsi. Bagaimana gambar-gambar yang terdistorsi tersebut terlihat seperti ‘mengalir’ ke arah yang sama karena terlihat sebagai sebuah bentuk yang sama diatas sebuah permukaan yang benar-benar berbeda. Mungkin keindahan pada seni ilusi ini tidak terbatas hanya dari sudut pandang yang menghasilkan gambar utuhnya saja, melainkan proses menuju gambar utuh tersebut yang juga memiliki aspek keindahan tersendiri.

    Comment by endahpratiwi02 — March 30, 2014 @ 00:39


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: