there’s something about geometry + architecture

March 30, 2014

Hasil Iseng: Menguak Habis Aksis-aksis Kampus ITB (1)

Filed under: classical aesthetics,ideal cities — rizkidwika @ 09:07

Seorang arsitek Belanda, Herman Hertzberger dalam bukunya “Space and Learning Lesson” mengatakan bahwa kota adalah sebuah sekolah/ lingkungan pendidikan berskala makro bagi penduduknya, begitu pula sebaliknya. Ya, semenjak mengikuti perkuliahan geometri, saya menjadi memiliki ketertarikan terhadap pengaturan kota, terutama terkait grid, aksis, maupun simetri yang sering dijadikan pakem bagi para pendahulu saat merancang. Berangkat dari pendapat beliau, saya kemudian mempertanyakan: apakah konfigurasi kota yang seringkali memiliki pusat, bersumbu, dan serbasimetri juga bisa diterapkan pada kompleks bangunan pendidikan, terlebih di Indonesia?

Pertanyaan tersebut terjawab pada saya melihat kampus Institut Teknologi Bandung yang berada di lembah Sungai Cikapundung, dekat pusat kota.

Sebagai institut yang lahannya hanya tiga puluh hektar –bandingkan dengan luasan kampus kita- bekas FTUI cabang Bandung yang gagas pada masa kolonial ini memang telah direncanakan sedemikian rupa pembangunannya oleh perancang pertamanya, Henri Maclaine Pont. Keteraturan ini dapat dilihat dari konfigurasi yang terdapat pada masterplan kampus pertama, begitu juga hasil pengembangan setelahnya.

Masterplan awal Kampus ITB

Masterplan awal Kampus ITB

Masterplan Kampus ITB saat ini. Meski tidak persis simetri, kehadiran sumbu masih dipertahankan dan menjadi ciri khas kampus ini.

Masterplan Kampus ITB saat ini. Meski tidak persis simetri, kehadiran sumbu masih dipertahankan dan menjadi ciri khas kampus ini.

Saat melihat masterplan, kita langsung dapat membayangkan suatu sumbu imajiner yang membagi kampus menjadi dua bagian yang hampir sama, namun tidak identik. Oleh sang perencana, sumbu tersebut berfungsi sebagai “bulevar” yang diperuntukkan bagi parapejalan kaki yang menghubungkan tiap fakultas, sama halnya dengan logika koridor—ruang kelas pada sebuah sekolah.

Uniknya, keputusan untuk memilih lokasi yang kelak dijadikan aksis ini tidak sembarangan. Dalam menentukannya, sang perencana menarik garis lurus antara Gunung Tangkubanparahu dan Gunung Galunggung, kemudian, hasil garis yang memotong lahan itulah yang dijadikan sebagai “jalur utamanya” –mulai dari Taman Ganesha, gerbang masuk, Kolam Intel, hingga terowongan menuju Sabuga- sehingga, apabila kita berjalan sepanjang bulevar, kita dapat dengan jelas melihat puncak kedua gunung tersebut pada sisi yang berlainan, satu di utara, dan satu di selatan.

Pemandangan sumbu arah selatan.

Pemandangan sumbu arah selatan.

Pengalaman merasa terhubung dengan alam ini semakin kuat jika kita melihat kawasan yang berbatasan dengan tapak, di mana pada saat itu pemandangan sekitar ITB masih berupa hamparan sawah dan hutan yang dapat dinikmati oleh mahasiswa setiap harinya.

 

Siteplan ITB tahun 1920-an

Siteplan ITB tahun 1920-an

Dari sana, saya melihat bahwa pendekatan yang digunakan sang perencana dalam merancang kompleks ITB hampir sama dengan apa yang dilakukan kerajaan di Pulau Jawa saat menentukan orientasi pusat kotanya, yakni, keseimbangan tidak hanya didapatkan dari kesimetrian, baik itu secara siteplan maupun visual semata, tetapi juga didapatkan dari pemikiran yang lebih filosofis: bagaimana kedudukan bangunan terhadap alam sekelilingnya (makrokosmos-mikrokosmos).

 

Referensi:
1) Herman Hertzberger: Space and Learning Lesson
2) Edward T White: Tata Atur, Pengantar Merancang Arsitektur
3) Direktorat Pengembangan Kampus Institut Teknologi Bandung: http://ditbang.itb.ac.id/

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: