there’s something about geometry + architecture

March 31, 2014

Indah?

Filed under: Uncategorized — estherwahyuni01 @ 01:45

Berawal dari jalan-jalan iseng di suatu akhir pekan, saya berkesempatan mengunjungi beberapa bangunan museum di Jakarta. Deretan kolom pada muka sebagian bangunan segera mengingatkan pada arsitektur klasik Yunani yang mengedepankan proporsi sebagai dasar berarsitektur.

Sekilas pandang, salah satu bangunan nampak menerapkan bulat-bulat ‘resep’ proporsi sebuah temple Yunani yang dicantumkan dalam Ten Books on Architecture, Book 3: Temple yang ditulis oleh Vitruvius.

Image

Museum Nasional Republik Indonesia, Jakarta

Image

Eustylos Temple

 

Prinsip tersebut, yaitu berdasarkan pada penemuan bahwa tubuh manusia diciptakan dengan perbandingan yang sama antar tiap bagian dan keseluruhannya sehingga tercapai suatu sistem yang seimbang (kerap disebut Golden Section), maka pembuatan elemen-elemen sebuah temple pun sewajarnya didasari pada perbandingan tersebut.

         “… if Nature has composed the human body so that in its proportions the separate individual elements answer to the total form, then the ancients seem to have had reason to decide that bringing their creations to full completion likewise required a correspondence between the measure of individual elements and the appearance of the work as a whole. … They did so especially for the sacred dwellings of the gods.” (Vitruvius, 30-20 B.C.)

Proporsi tersebut diterapkan antara lain pada jarak antar kolom (intercolumniation), yang diatur harus seragam, memenuhi sepersekian kali dari diameter kolomnya. Jarak sepersekian tersebut bervariasi besarnya, tergantung pada spesi temple yang dibangun: pycnostyle, systyle, diastyle, araeostyle, atau eustyle.

Image

Species  (‘Aspects’) of Temples

 

Penerapan prinsip ini dipercaya antara lain dapat mengantar pada tercapainya sebuah keindahan dalam pandangan mata, karena terpenuhinya suatu keseimbangan pada muka bangunan, baik antar bagian maupun sistem utuh secara keseluruhan.

         “For our vision always pursue beauty, and if we do not humor its pleasure by the proportioning of such additions to the modules in order to compensate for what the eye has missed, then a building presents the viewer with an ungainly, graceless appearance.” (Vitruvius, 30-20 B.C.)

Sayangnya, pada kenyataannya terdapat beberapa spesi temple yang seolah ‘cacat’ ketika ia digunakan. Jarak antar kolom yang dibuat seragam, pada beberapa tipe terlalu sempit sehingga menyulitkan sirkulasi masuk-keluar bangunan, juga menghalangi pandangan ke dalam bangunan; sebaliknya, pada tipe lain jarak yang terlalu lebar mengurangi gaya topang pada ‘kepala’ museum sehingga timbul kecenderungan untuk patah.

 

Sementara pada beberapa bangunan lain yang saya kunjungi, terlihat sedikit modifikasi dalam menentukan jarak antar kolomnya, dimana jarak tiap kolom tidak lagi dibuat seragam. Dua kolom dirapatkan, menghasilkan penggabungan dari yang semestinya dua intercolumniations menjadi satu, sehingga tercipta ruang yang lebih lebar dan leluasa untuk akses masuk-keluar bangunan, baik bagi manusia maupun udara.

 ImageGedung Joang ’45, Jakarta

Image

Museum Tekstil, Jakarta

 

Jarak kolom yang demikian, bila dilihat menurut prinsip proporsi Yunani klasik yang dijabarkan di atas, merupakan sesuatu yang disorder, menyalahi aturan; dengan demikian tidak termasuk kategori ‘indah’. Namun pada kenyataannya, keleluasaan yang tercipta dari ‘keberantakan’ tersebut menghasilkan ruang yang lebih ‘indah’ ketika dialami.

 

Mengutip Romo Mangun dalam bukunya Wastu Citra, terdapat pandangan lain mengenai definisi ‘indah’ itu sendiri:

         “… pada hakikatnya kegunaanlah yang menjadi inti dan sebab paling dasar mengapa bentuk-bentuk yang benar dan jujur serta konsisten itulah benar-benar indah. Tubuh manusia dengan anggota-anggota badannya yang berfungsi bagus itu indah. Dengan kata lain: hakikat keindahan adalah kegunaan. Semakin berguna semakin indah.” 

 

Mungkin di sini kita perlu menyepakati kembali definisi indah: apakah ia melulu sesuatu yang dinikmati secara visual? Atau guna yang dialami nyata oleh seluruh tubuh kita?

 

 

Referensi

Vitruvius. Ten Books on Architecture. Terjemahan oleh Ingrid D. Rowland (hlm. 46-50). New York: Cambridge University Press, 1999.

Mangunwijaya, Y. B. Wastu Citra: Pengantar ke Ilmu Budaya Bentuk Arsitektur Sendi-sendi Filsafatnya beserta Contoh-contoh Praktis (hlm. 191-234). Jakarta: PT Gramedia, 1988.

 

Sumber Gambar

Vitruvius. Ten Books on Architecture. Terjemahan oleh Ingrid D. Rowland (hlm. 195-196). New York: Cambridge University Press, 1999.

 

Sumber Foto

Dokumentasi pribadi.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: