there’s something about geometry + architecture

April 1, 2014

Kota, Arsitektur Sekelompok Manusia; Diciptakan (secara sadar) atau Tercipta (secara tak sadar)

Filed under: Uncategorized — sriwulandariarsui2010 @ 23:26
Gambar 1. Kota Colmar, Perancis. Kota masa lalu yang nyawa hidupnya masih bertahan menjadi kota masa kini.

Gambar 1. Kota Colmar, Perancis. Kota masa lalu yang nyawa hidupnya masih bertahan menjadi kota masa kini.

Kota dalam bahasa Indonesia di artikan sebagai daerah pemukiman yang terdiri atas bangunan rumah yang merupakan kesatuan tempat tinggal dari berbagai lapisan masyarakat (2013, KBBI), oleh M. Gottdiener & Leslie Budd dalam bukunya Key Concepts in Urban Studies dijabarkan sebagai padanan kalimat “a city is a bounded space that is densely settled and has a relatively large, culturally heterogeneous population.” (2005, hal. 4). Dari sini kita dapat pahami bahwasanya kota merupakan ruang bentukan manusia-manusia dengan latar belakang (dalam konteks ini latar belakang diartikan sebagai sesuatu yang bersifat bukan bawaan individu, melainkan identitas bersama seperti ras, suku, atau agama) yang berbeda dalam satu tempat. Tentunya lambat laun manusia-manusia yang beragam ini memiliki suatu sistematika tertentu dalam menjalani hidupnya, keberagaman yang mereka miliki menjadikan sebuah kota kaya akan kepentingan yang beragam pula. Hingga pada akhirnya kepentingan ini harus diatur sedemikian rupa sehingga berkurangnya gesekan-gesekan yang merugikan di tengah kehidupan perkotaan. Hal ini mengindikasikan bahwasanya kota merupakan suatu ‘place’ terbentuk akibat aktifitas manusia yang beragam disekitarnya, yang pada akhirnya secara terus menerus menguatkan ide akan ‘place’ terbentuk di kawasan itu sendiri.

Namun disisi lain kita pahami juga bahwa, kota adalah kreasi dari karya cipta manusia, di dominasi oleh lansekap, yang merupakan bentuk terjemahan dari kebahagiaan atau pun ketakutan manusia itu sendiri. Hal ini mengindikasikan bahwasanya kota bukan lah sesuatu yang tercipta dari alam atau bersifat alami, karena beberapa alasan penciptaan atau pun ketidaknyamanan yang ditimbulkan, sehingga seringkali bersinggungan dengan fitrah dasar manusia dalam menjalani kehidupannya. Kota adalah fitur-fitur lingkungan yang akan mengisi seluruh hidup penghuninya. (Bell, 2001). Kota sebagai ‘place’ dikarakteristikan melalui berbagai realita kehidupan atau pun bahkan kebalikannya (khayal) di atas sebuah tempat. Yang mana kota, baik secara menerus atau pun terhenti, dapat mempertahankan keberadaannya secara simultan melalui aktivitas para penghuni.

Kota dapat membuat manusia menjadi makhluk yang sangat individualistis atau pun berjiwa sosial sangat tinggi, memberikan kesempatan berkehidupan kepada manusia namun di sisi lain memaksa manusia keluar dari zona nyamannya. Ada baik dan buruk atau pun kaya dan miskin, terisolasi dan terintegrasi kedalam batasan ruang yang disebut sebagai kota. Dan pastinya kota bukanlah sesuatu tempat tersendiri, melainkan sesuatu yang terhubung, bagian dari sebuah hierarki suatu distrik yang cakupan kawasannya lebih besar (Bonnes et al., 1990). Yang mana berdasarkan pengertian tersebut, mengidentifikasikan bahwa kota terlebih dahulu memiliki gambaran sebagai tempat, yang kemudian barulah masuk ke dalam alam bawah sadar memori manusia, yang pada akhirnya mendefinisikan kota sebagai kondisi dari gambaran lebih lanjut, sehingga pada akhirnya terbentuklah sebuah karakter berdasarkan kondisi tempat di sekitarnya.

Sedangkan berdasarkan konteks sejarahnya, kota sendiri adalah bentuk manifesto berkehidupan bangsa barat pasca penjajahan di Indonesia akan kebutuhan ‘serba lengkap’ dan ‘serba ada’ setelah sampai di negara yang notabenenya berlatar belakang hidup ‘serba ada’ dalam konteks yang berbeda. Barat dan Timur. Walau pun, sekarang ini konsep tersebut mulai baur batasan-batasannya seiring perkembangan teknologi. Kota dan arsitektur di kategorikan memiliki hubungan dari pemetaan diagram bagaimana mereka terhubung, dengan skala, proporsi, solid void, dan segala hal yang berkaitan dengan isian kota dalam konteks keruangan (space); kota sebagai ‘place’. Dimana, kota seharusnya mampu menyediakan segala kebutuhan penghuninya. Hal ini telah diungkapkan pula oleh Jean Jacob dalam bukunya The Death & Life of Great American Cities (1961), “Cities have the capability of providing something for everybody, only because, and only when, they are creted by everybody”.

Sehingga pada akhirnya dapat disimpulkan bahwasanya, kota merupakan lingkungan hidup manusia yang ada dan terbentuk hingga akhirnya di bentuk berdasarkan kemampuan manusia sendiri dalam mendefinikan lingkungannya.

Referensi:
1. Fisher, Ole W., 2012, Architecture, Capitalism, and Criticality – Section 1 – Power/Difference/Embodiment – Sage Hand Book of Architectural Theory, London, SAGE Publication Ltd.
2. Gottdiener, M. dan Leslie Budd., 2005. Key Concept In Urban Studies, London, SAGE Publication Ltd.
3. Irawan Surasetja, Drs. R., 1999, Bahan Ajar ARS 546: Teori-Teori Arsitektur Dunia Timur, Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia
4. Kusno, Abidin., 2012, Zaman Baru Generasi Modernis – Sebuah Catatan Arsitektur, Yogyakarta, Penerbit Ombak
5. Bell, Thomas C. Greene, Jeffrey D. Fisher, Andrew Baum., 2001. Environmental Psychology Fifth Edition, Chapter 10 – The City, p.335,. Van Nosrand Reinhold Company
6. Jacobs, Jane. 1961. The Death & Life of Great American Cities. Penguin Publisher

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: