there’s something about geometry + architecture

April 1, 2014

vitruvian city. sebuah metode, masih relevankah saat ini?

Filed under: ideal cities — ekapradnyanida @ 21:16

Vitruvian city” adalah sebuah metode merancang sebuah kota yang dibuat oleh Vitruvius untuk membuat sebuah kota yang bisa bertahan dari serangan lawan. Kota juga harus mampu memberikan makanan dan kesehatan bagi penduduknya. Dengan fasilitas-fasilitas penunjang yang bisa dipergunakan untuk kesejahtraan sebuah kota.

vitruvian city "utopian"

vitruvian city “utopian”

 

Sebuah metode merancang sebuah kota yang dikeluarkan oleh Vitruvius dengan segala aturan, simetri, dan keteraturannya, dirancang pada jaman tersebut untuk mempertahankan kedudukan sebuah kota. Kota dengan plan tertutup (cluster) yang bertujuan melindungi kota dari serangan musuh. Aturan tiga bangunan yaitu building for defensive, building for utility, dan building for religion dengan aturan penempatannya. Arah peletakan rumah untuk menghindari angin yang tidak sehat bagi penduduk. Pengaturan transportasi antar dan dalam kota guna mempermudah distribusi barang untuk kebutuhan kota.

Sebua aturan tersebut dibuat oleh Vitruvius pada jaman itu sebagai aturan merancang sebuah kota. Pertanyaannya adalah, apakah aturan itu berlaku pada masa sekarang ini? apakah sebuah kota harus tertutup dan harus mempertahankan dirinya dari serangan? Apakah sebuah kota harus simetris dan teratur? Bagaimana dengan aturan ruang kota yang lain, dimana penduduknya bisa mengalami beragam pengalaman ketika hidup didalamnya. Bagaimana jika semua kota satu sama lain sama?

Saya tertarik dengan sebuah pernyataan “… there was no general consciousness of “good” architecture or a “right” way to build a city.” (Tony Favro,2012). Apa benar tidak ada cara yang baik untuk membangun sebuah kota? Mungkin cara yang baik memang benar tidak ada, tapi mungkin bisa mendekati baik paling tidak sebuah kota mampu memyediakan kebutuhan bagi penduduknya. Menurut saya cara membangun sebuah kota menurut Vitruvius tidak semuanya masih relevan di jaman sekarang ini. tapi beberapa hal bisa di ambil sebagai acuan daam membangun kota. Kota sebagai “rumah” yang menghidupi, kota sebagai perlindungan, dan kota yang “menyehatkan”. Mungkin itu tiga esensi tersebut yang masih relevan untuk kota saat ini ditambah faktor kultural yang harus terus mengikuti perkembangan sebuah kota.

sebuah kota yang "ideal" berdasarkan lokasi dan tradisinya

sebuah kota yang “ideal” berdasarkan lokasi dan tradisinya

refrensi:

http://www.investingincities.com/tag/vitruvius/

http://www.universutopia.net/note.asp?L=EN&note_id=42

http://www2.lingue.unibo.it/utopia/universutopia/

http://www.metmuseum.org/collections/search-the-collections?&when=A.D.+1400-1600&who=Marcus+Pollio+Vitruvius&what=Drawings&pg=1

2 Comments »

  1. saya setuju dengan pendapat anda tentang topik di atas bahwa ada tiga esensi yang masih relevan untuk kota saat ini, yaitu Kota sebagai “rumah” yang menghidupi, kota sebagai perlindungan, dan kota yang “menyehatkan”. saya sendiri berpendapat bahwa kultur memang penting untuk memberikan ciri khas dari sebuah kota. namun, apakah kultur masih menajdi bagian penting dalam mendesain sebuah kota? karena pada kenyataannya saat ini sebuah kota merupakan tempat tinggal dari berbagai macam kultur, sehingga bangunan-bangunan yang ada di kota tersebut cenderung bergaya internasional dimana segala jenis kultur (mungkin) dapat beradaptasi di dalamnya.

    Comment by gittaraditya — April 2, 2014 @ 08:55

  2. Mungkin seharusnya kita memperluas kata kultur itu sendiri. Kultur dapat diartikan sebuah ciri khas pada kota itu sendiri. Memang sebuah kota merupakan komunitas heterogen, sehingga ada banyak individu dengan kultur yang beragam. Namun kultur bisa juga dimaksud dengan perbendaan pada keseluruhan kota dengan kota lainnya sehingga setiap kota mempunyai pengalaman ruang yang berbeda bagi individunya. Mengenai paham post modernisme, itu merupakan warisan arsitektur pada masa lalu. Apakah itu jelek? Saya rasa tidak. Setiap kasus pasti ada baik buruknya. Namun apa yang bisa kita ambil untuk kebaikan justru lebih penting ketimbang kita mempermasalahkan buruknya.

    Comment by ekapradnyanida — April 7, 2014 @ 00:13


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: