there’s something about geometry + architecture

April 4, 2014

Prinsip Estetika Klasik pada Taman

Filed under: Uncategorized — endahpratiwi02 @ 02:47

Taman publik seringkali kita temui di kota-kota besar dan diklaim sebagai ‘paru-paru’ kota. Kualitas ruang yang dihasilkan dapat mendorong manusia untuk menjalin hubungan sosial dengan lingkungannya. Taman – taman yang ada dimanapun pasti memiliki tata letak yang sedemikian rupa agar menghasilkan keindahan.

Seperti yang kita ketahui, prinsip estetika klasik banyak diterapkan pada bangunan-bangunan publik, khususnya pada kuil-kuil kuno di Eropa. Lantas, apakah prinsip estetika klasik juga diterapkan pada taman-taman? Jika betul, apakah mempengaruhi aktivitas didalamnya? Bagaimanakah perkembangannya dari waktu ke waktu?

Berikut adalah denah sebuah vila yang bernama Laurentian Villa yang dibangun pada era Romawi kuno. Bagian yang diberi tanda persegi panjang hijau adalah area taman. Ternyata, setelah dianalisis, area taman tersebut menerapkan prinsip estetika klasik yaitu golden ratio.

1                                                                          Gambar 1. Taman pada Laurentian Villa

2

Gambar 2. Prinsip golden ratio ternyata diterapkan dalam penataan taman Laurentian Villa

Tetapi menurut saya, kualitas ruang kebun tersebut agak sedikit kaku karena tata ruangnya benar-benar merupakan aplikasi langsung dari konsep golden ratio. Namun keuntungan penataan ruang yang seperti ini, menurut saya akan menghasilkan pandangan yang luas dan menyambung, seperti tak terbatas jika berada di tengah akses utama.

3

 Gambar 3. Villa Lante di Bagnaia

4

Gambar4. Golden ratio pada Villa Lante di Bagnaia

 

Selanjutnya adalah Villa Lante di Bagnaia. Prinsip golden ratio diulang sebanyak dua kali dengan tampilan denah yang sekilas berbeda. Hal ini membuktikan betapa eratnya persepsi keindahan pada era Renaissance dengan prinsip golden ratio. Pada gambar diatas juga terdapat beberapa tahapan untuk mencapai bagian yang paling suci, yakni bagian paling kanan. Hal ini menunjukkan adanya pemanfaatan axis untuk pembentukan persepsi manusia bahwa manusia harus ‘menuju satu titik yang agung setelah melalui beberapa tahapan.’

Gambar berikutnya adalah sebuah taman yang berada di Collodi, tepatnya di Villa Garzoni yang juga menerapkan golden ratio.

5

               Gambar 5. Villa Garzoni di Collodi                Gambar 6.  Golden ratio pada Villa Garzoni di Collodi

Selanjutnya adalah analisis pada tata letak taman di University of Virginia. Pada taman modern ini, terlihat adanya reduksi ‘ornamen-ornamen’ yang kerap menghiasi taman pada era-era sebelumnya.

6                                     Gambar 7. Taman University of Virginia           Gambar 8. Golden ratio pada Taman University of Virginia

 

Berikut adalah contoh lain dari taman publik era modern yang berada di Massachusetts. Prinsip golden ratio ternyata masih diterapkan pada masa yang lebih modern lagi, namun dengan penerapan yang berbeda. Hal tersebut ternyata sangat berpengaruh pada perilaku manusia didalamnya, dengan pengaplikasian prinsip estetika klasik yang lebih ‘luwes’ namun tetap memiliki esensi yang sama, manusia terbukti lebih bebas melakukan kegiatan rekreatif sehingga timbul rasa nyaman pada ruang publik ini.

 

7

Gambar 9 dan 10. City Hall and Plaza, Massachusetts

8

Gambar 11. Suasana santai di taman City Hall and Plaza, Massachusetts

9

Gambar 12. Suasana taman di Villa Lante

Referensi

Ching, Francis D.K. (1996). Arsitektur: Bentuk, Ruang & Susunannya. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Jellicoe, G., & Jellicoe, S. (1995). The Landscape of Man. Shaping the Environment from Prehistory to The Present Day. London: Thames and Hudson Ltd.

Park. (n.d.). Dalamkamus online Oxford Dictionaries. Diakses pada tanggal 01 April, 2014, dari http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/park

 

Sumber gambar

Jellicoe, G., & Jellicoe, S. (1995). The Landscape of Man. Shaping the Environment from Prehistory to The Present Day. London: Thames and Hudson Ltd.

 

 

 

1 Comment »

  1. penggunaan golden ratio pada design landscape saya anggap mendesain melalui denah. lalu, apakah kesuksesan golden ratio tersebut untuk menghasilkan denah landscape yang “indah” akan selalu menghasilkan ruang tiga dimensi yang dialami juga akan selalu indah?

    Comment by Gita Andriani — June 15, 2014 @ 09:59


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: