there’s something about geometry + architecture

June 3, 2014

Icon Pop Quiz: Penerapan Teori Gestalt?

Filed under: Uncategorized — aghniamarsha @ 16:48

Pernahkah Anda memainkan game Icon Pop Quiz yang sempat booming beberapa waktu silam? Bagi para pengguna smartphone, mungkin game ini sudah tidak asing lagi didengar. Icon Pop Quiz ialah permainan yang dibuat oleh salah satu mobile game developer Indonesia, Alegrium, yang dirilis pada November 2012 dan termasuk apps yang sukses di pasaran dengan jutaan instalasi pada perangkat iOS dan Android.

Konsep memainkan Icon Pop Quiz ialah dengan menebak gambar-gambar icon yang tersedia dengan cara mengetiknya. Game ini terdiri dari 3 kategori, yaitu Famous People, TV & Films, dan Characters.

Sebagaimana yang kita ketahui, setiap public figure pasti memiliki ciri khas masing-masing, begitupun dengan film dan karakter. Seperti Adolf Hitler dengan kumisnya, Harry Potter dengan tanda petir di dahinya, ataupun Elmo dengan warna merahnya. Game ini berusaha menunjukkan ciri khusus tersebut dalam sebuah icon. Sehingga ketika kita melihat sebuah icon, meskipun tidak ditampilkan secara utuh, kita tetap dapat menebak icon tersebut.

Konsep ini mengingatkan saya akan ide dibalik prinsip Gestalt:

“The sum of the whole is greater than its parts”

 

Teori Gestalt membahas prinsip persepsi dari komposisi sebagai satu keutuhan. Saat tiap bagian individual memiliki makna masing-masing, namun ketika digabungkan, dapat memiliki makna yang berbeda. Pada Icon Pop Quiz, saya melihat adanya penerapan salah satu konsep Gestalt, yakni Closure (ketertutupan).

 

The Principle of Closure:

“When looking at a complex arrangement of individual elements, humans tend to first look for a single, recognizable pattern.”

 

Ketika otak memproses sebuah bentuk yang tidak utuh, otak akan mengisi bagian informasi yang hilang untuk membentuh satu keutuhan. Law of Closure bekerja di otak secara kompulsif dan dibawah kesadaran manusia.

Image

Seperti misal pada contoh di atas, icon ini terdapat dalam kategori Famous People pada level 2. Awalnya hanya terdapat 2 objek berwarna hitam yang terpisah di dalam background berwarna merah. Otak secara tidak sadar akan berusaha mencari korelasi antar bagian-bagian tersebut dan menghubungkannya menjadi sebuah gambar yang utuh. Sehingga didapatkanlah image sebuah wajah, dengan rambut berponi miring, dan kumis berbentuk trapesium. Melihat ciri khas tersebut, ditambah warna merah pada background, membentuk persepsi kita bahwa icon tersebut ialah Adolf Hitler. Namun selain law of closure, diperlukan pula memori pada otak yang sebelumnya telah merekam pengetahuan mengenai Adolf Hitler.

Begitupula pada contoh-contoh icon lain pada game ini:

Image

 Dari contoh lain juga dapat kita lihat bahwa icon pada game hanya berupa bagian-bagian yang secara khusus menggambarkan tokoh. Meskipun begitu, pemikiran kita masih dapat menyadari shape dan melihatnya sebagai satu keutuhan objek.

 Demikian bagaimana Law of Closure dalam teori Gestalt dan memori dalam otak dapat berkombinasi membentuk sebuah persepsi. Selain dapat menambah wawasan, game ini dapat melatih otak dalam memunculkan persepsi dari visual sebagai pemicunya. Bagaimana? Merasa tertarik untuk mencobanya?

 

Sumber:

Rutledge, Andy. (2009).  Gestalt Principles of Perception No.5: Closure. Diakses pada 2 Juni 2014. (http://www.andyrutledge.com/closure.php)

Bristow, Ben. (2008). Closure. Wikispaces. Diakses pada 2 Juni 2014. (http://605.wikispaces.com/Closure)

Hampton-Smith, Sam. The Designer’s Guide to Gestalt Theory. Creative Bloq. Diakses pada 2 Juni 2014. (http://www.creativebloq.com/graphic-design/designer-s-guide-gestalt-theory-10134960)

 

 

 

 

2 Comments »

  1. Posting yang menarik. Bisa saja ketika meng-coding game ini, programmer nya juga mengambil esensi dari logo/ objek yang bersangkutan. Dan esensi tersebut adalah hal yang membuat objek tersebut diingat/ menjadi kekhasan objek tersebut. Seperti Hitler yang identik dengan kumis sempit di bawah hidung. Ketika membicarakan kumis tersebut atau melihat orang yang mempunyai kumis tersebut, pikiran pengamat akan langsung terhubung ke Hitler dan mungkin kita akan berkomentar, “Kums Hitler nya keren/ tidak cocok dengan lu. ” ..

    Comment by albertchandra93 — June 6, 2014 @ 16:16

  2. Yaa.. saya setuju dengan Albert, Posting yang sungguh menarik. Memang dalam setiap logo atau objek yang bersangkutan memiliki esensi yang berbeda dan dibuat menjadi suatu kekhasan akan objek tersebut, Namun terkadang kekhasan yang dimiliki setiap objek memiliki persamaan dengan objek lain. Setiap orang memiliki pengalaman visual yang berbeda sehingga persepsi yang mereka miliki pun berbeda. Oleh karena itu, ketika melihat suatu kekhasan pada suatu objek misalnya, Hitler yang memiliki kumis sempit dibawah hidungnya sebenarnya ada pula “famous people” lain yang memiliki kekhasan kumis sempit dibawah hidung nya yaitu Charlin Chaplin, atau di Indonesia justru ada Alm. Jojon yang memiliki kekhasan yang serupa. Jadi, setiap orang sebenarnya tidak langsung mengenali logo kumis sempit dibawah hidung tersebut sebagai Hitler saja, Begitu besar peran akan pengalaman akan visualisasi setiap orang untuk melihat dan mengingat esensi setiap objek, sehingga setiap logo atau objek tidak selalu memberikan persepsi yang sama pada setiap orang.

    Comment by brigittamartha — June 15, 2014 @ 04:48


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: