there’s something about geometry + architecture

June 9, 2014

Melihat Keterhubungan (Topologi) dalam Film

Filed under: Uncategorized — ninditovirnantio @ 13:07

Contunious editing adalah teknik memotong (mengedit) film yang bertujuan untuk menjaga keberlangsungan adegan dan memberikan narasi yang baik. Teknik ini umum digunakan para sineas perfilman untuk menciptakan sebuah film yang menarik untuk ditonton. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat dengan contoh berikut, mengambil cuplikan adegan film Toy Story 3 :

  41 20 41 21

41:20                                                                                  41:21  

Pada 41:20 Buzz berbicara pada seseorang yang belum diperlihatkan, kemudian sedetik setelahnya diperlihatkan siapa penjahat yang telah mengikat Buzz Lightyear. Metode yang dipakai adalah reverse shot, dengan aturan eyeline match. Pergantian adegan dari Buzz hingga penjahat memperlihatkan apa yang buzz lakukan dan dengan siapa buzz berbicara. Secara tidak langsung kita pun menyadari bahwa buzz adalah pemeran utama dalam adegan tersebut.

  41 26 41 30 41 32

41:26                                                                                       41:30                                                       41:32  

Yang terjadi pada 41:26 kemudian adalah establishing shot dan reverse shot. Disini kita bisa melihat dimana buzz ditangkap, siapa sajakah penjahatnya, dan kegiatan apa yang terjadi. Selain establishing shot, adegan ini juga menjadi sudut pandang dari Lotso (bos penjahat) yang kemudian muncul pada 41:30 dengan reverse shot. dalam aturan ini yang dipakai adalah 180 degrees rule, dimana kamera diputar kebelakang ken (penjahat) dan buzz.   Hubungannya dengan topologi adalah, topologi mementingkan keterhubungan, bukan bentuk. Gambar-gambar tersebut memperlihatkan keterhubungan antara adegan yang terjadi, yang berlangsung dalam suatu kurun waktu. Sebagaimana yang terlihat dalam diagram :

Untitled-4  

Keterhubungan adegan ini terjadi karena masing-masing memiliki tiap adegan memiliki informasi yang sama, keterhubungan time dan space dalam film juga saling terkait tidak dapat dipisahkan, oleh karena itu saya berpendapat bahwa dalam film terdapat kajian topologi yang digunakan dan dapat dikembangkan lebih lanjut lagi.  

Referensi :

Anderson, Darla K. , Unkrich, Lee. 2010. Toy Story 3 [Motion picture]. California: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios.

Stewedveg. “Continuity editing”. 2 Juni 2014. http://www.slideshare.net/stewedveg/continuity-editing-10739140

2 Comments »

  1. artikel yang anda tulis cukup menarik, pada awalnya saya butuh menerka-nerka dulu maksud artikel diatas, seperti dengan tulisan bagaimana buzz menjadi tokoh utama, atau keterhubungan yang berkaitan dengan informasi yang sama bukan dengan bentuk. mungkin informasi yang sama itu adalah makna dari suatu rangkaian adegan atau “babak”, misalnya seperti informasi pada adegan diatas adalah buzz yang tertangkap, dengan shootingan gambar yang berubah-ubah, sehingga “buzz yang menjadi central point” dan yang lain sebagai “pendukung”. saya menangkap bahwa topologi dalam film trsebut berkaitan dalam penyusunan alur cerita dari awal hingga akhir dengan pengambilan gambar yang sesuai dan saling berhubungan dengan alur tersebut, yang berguna untuk menyampaikan informasi yang ada dalam setiap adegan atau “babak”?

    Comment by dindanadira09 — June 9, 2014 @ 19:48

  2. Pada saat membaca artikel ini, pada awal saya diyakinkan bahwa yang akan menjadi fokus bahasan adalah Buzz yang ditahan. Perkembangan cerita yang akan terjadi pun tetap teguh dengan kondis Buzz yang tertangkap. Tapi pada saat kemunculan Lotso, entah mengapa saya merasa bahwa fokusnya berpindah dari Buzz menjadi Lotso dan posisi Buzz yang tertangkap malah menjadi tidak tersorot. Saya jadi merasa bahwa kefokusan bahasan, yaitu Buzz yang tertangkap, menjadi tidak dipertahankan karena pada saat kemunculan Lotso Buzz sama sekali tidak tersorot. Padahal saat menunjukkan Ken dan komplotannya kehadiran Buzz masih ada meski hanya sebagian. Apakah keterhubungan time dan space pada film tidak mempertimbangkan kekonsistenan fokus yang di bahas? Atau pemahaman saya akan artikel ini yang salah?

    Comment by budiantiayumumpuni — June 15, 2014 @ 22:50


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: