there’s something about geometry + architecture

June 15, 2014

4 abad lebih dan kriteria kota ideal yang terus bertahan

Filed under: Uncategorized — chandrawatihasanah @ 17:34

Ketika senggang pasti kita seringkali mengisi waktu untuk refreshing, salah satu kegiatan itu adalah berjalan-jalan ke mal. Bukan, kali ini saya tidak membahas mengenai malnya, melainkan menyinggung sedikit suatu kejadian yang memberi saya inspirasi untuk membahas mata kuliah geometri ini. fufufu…

Siang itu, di margo city, terlihat begitu ramai sekali. Maklum, akhir minggu. Tetapi mata dan telinga saya tidak terganggu dengan kehirukpikukan orang yang berlalu lalang sambil tertawa dengan hebohnya. Hanya menatap dalam pada suatu spot di dalam mall tersebut. Melihat dan memperhatikan sesuatu yang tersembunyi di dalam box kaca. Maket perumahan. Sekilas saya tertarik sekaligus tergelitik dengan maket tersebut karena yang langsung terbayang di dalam benak saya adalah cara membuatnya dan jenis material yang digunakan untuk membuatnya. Tetapi pemikiran ajaib itu langsung terputus ketika saya diberi brosur mengenai perumahan itu (yang sayangnya sudah entah dimana keberadaannya sehingga tidak bisa saya tunjukkan disini L ).

Pemikiran lain langsung muncul dalam benak saya ketika melihat brosur perumahan itu. Ideal city!! Itulah kata pertama yang terlintas ketika melihat brosur tersebut. Bebas banjir, akses kemana-mana mudah hanya dalam hitungan menit, beserta gambar-gambar yang menunjukkan kehidupan sosial masyarakat madani dengan lifestylenya. Tak lupa juga penyuguhan view di komplek dengan renderan yang presentatif.

1

“The island of Utopia is in the middle two hundred miles broad, and holds almost at the same breadth over a great part of it, but it grows narrower towards both ends. Its figure is not unlike a crescent. Between its horns the sea comes in eleven miles broad, and spreads itself into a great bay, which is environed with land to the compass of about five hundred miles, and is well secured from winds.” (Utopia; page 61-62)

Poin yang saya ambil dari pernyataan om Thomas More di atas adalah kota ideal terhindar (atau mungkin ‘terselamatkan’) dari bencana alam, salah satu yang ‘katanya’ bencana alam yang sering ngehits belakangan ini di kota adalah banjir.

Tetapi kalo kita mau melihat lebih dalam dari pernyataan itu, inti dari pernyataan tersebut sebenarnya menyatakan bahwa kota ideal itu ‘aman’.

“The town is compassed with a high and thick wall, in which there are many towers and forts …” (Utopia; page 68)

Itulah mengapa ‘siperumahandeveloper’ dikelilingi oleh tembok. Ketika ada pernyataan ‘aman’, definisi aman bisa berbeda-beda,tetapi kurang lebih definisi aman memiliki sudut pandang bahwa bagian luar merupakan bagian asing yang tidak diketahui sehingga apa yang di dalam harus di lindungi dari luar. Dan keberadaan tembok itu, secara arsitektural, melindungi keberadaan perumahan yang terletak di dalamnya.

They breed an infinite multitude of chickens in a very curious manner; for the

hens do not sit and hatch them, but a vast number of eggs are laid in a gentle and equal heat in order to be hatched,and they are no sooner out of the shell, and able to stir

about, but they seem to consider those that feed them as their mothers, and follow them as other chickens do the hen that hatched them. They breed very few horses, but

those they have are full of mettle, and are kept only for exercising their youth in the art of sitting and riding them; for they do not put them to any work, either of ploughing

or carriage, in which they employ oxen. For though their horses are stronger, yet they find oxen can hold out longer;” (utopia;page 65)

 

Their buildings are good, and are so uniform that a whole side of a street looks like one house … there lie gardens behind all their houses. These are large, but enclosed with buildings, that on all hands face the streets, so that every house has both a door to the street and a back door to the garden…” (Utopia; page 69)

 

kutipan di atas merupakan gambaran kecil dari gaya hidup masyarakat utopia. bagaimana mereka memanfaatkan teknologi dan keadaan yang ada. ada gaya hidup khusus yang dibentuk disini. Gaya hidup yang berbeda.

 

 

Begitupula dengan gambaran gaya hidup yang disuguhkan ‘siperumahandeveloper’.

2

fitnessà biar sehat.

punya mobilà status ekonomi menengah ke atas

ada tamanà estetika

ada gaya hidup yang dibentuk

selain itu, gaya hidup, yang terlihat jelas di ‘siperumahandeveloper’ adalah adanya keseragaman bentuk hunian.

 “Their buildings are good, and are so uniform that a whole side of a street looks like one house … there lie gardens behind all their houses.” (Utopia; page 69)

Keseragaman rumah yang kurang lebih sama satu sama lain. Walaupun ada penyesuaian besaran dan jenis ( dalam satu perumahan developer terkadang ada beberapa tipe rumah yg dibedakan berdasarkan ukurannya.)

Nah, gambaran singkat di atas merupakan gambaran kota ideal menurut Thomas More (abad 16), dan salah satu developer yang ada di Indonesia (abad 21) . sudah lewat 4 abad lebih, tapi tidak jauh berbeda. Bagaimana ya kriteria kota ideal di masa mendatang?? Atau bagaimana sih kriteria kota ideal menurut kamu?share dong :D~~…

 

 

Referensi:

More, Thomas. 1885. Utopia (Translated by Gilbert Burner). London: George Routledge & Sons

 

Sumber gambar:

http://utopianworlds.pbworks.com/f/1213220180/More%20v2.jpg

http://rusunamisubsidi.files.wordpress.com/2009/04/080630-mb-flyer-01-gold-b.jpg

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: