there’s something about geometry + architecture

June 15, 2014

Arsitektur, Gestur dan Persepsi

Filed under: everyday geometry,perception — rousanilmy @ 13:47

Ketika kita sedang berjalan-jalan di kota, seringkali pandangan kita tertuju pada bentuk bangunan-bangunannya. Berbeda dengan ketika kita berada di pedesaan atau hamparan alam yang luas, di mana objek utama yang menjadi perhatian kita adalah bentuk lansekap dan kondisi geografisnya. Namun, ketika kita melihat ke arah bangunan-bangunan yang ada di kota ternyata bentuk bangunannya dapat menimbulkan persepsi kita akan gestur tubuh manusia. Seperti contohnya pada bangunan-bangunan di bawah ini.

Untitled-1

Gambar 1 : Gedung Petronas di Malaysia, memiliki komposisi bentuk seperti dua orang yang sedang berdiri dan bersalaman.

Untitled-4

Gambar 2 : Capital Gate atau Leaning Tower di Abu Dhabi dan Menara Pisa di Itali, berbentuk sebuah menara yang menjulang tinggi dan miring ke satu arah seolah akan jatuh ke tanah. Bentuknya yang miring tersebut mirip dengan seorang yang sedang berdiri miring, seolah persepsi kita mengingatkan kita pada gaya tarian seorang penyanyi pop terkenal Amerika.

Untitled-3

Gambar 3 : Walter Tower di Prague, Republik Ceko, walaupun bangunan ini belum selesai namun bentuknya yang miring dan seakan menari mengikuti irama ke kiri dan ke kanan. Bentuk tersebut dapat mengingatkan kita pada tarian yang sering dilakukan manusia dengan tubuhnya.

Untitled-2

Gambar 4 : CCTV Headquarters di Beijing, Cina, juga memiliki bentuk yang unik. Bentuknya yang melengkung dan membentuk lingkaran, dengan beban terbesar berada pada bagian paling atas bangunan yang menggantung. Bentuk seperti ini dapat terlihat seperti bentuk seorang yang sedang melakukan kayang. Selain dari kemiripan bentuknya, kedua hal tersebut juga memiliki prinsip struktur yang bisa dibilang sama, karena keduanya sama-sama menggunakan ‘tangan’ dan ‘kaki’nya dalam menahan beban tubuhnya.

Selain contoh di atas, masih banyak bentuk-bentuk bangunan yang bentuknya unik dan mirip dengan gerakan tubuh manusia. Salah satu contohnya lagi seperti karya yang dihasilkan oleh Grant Snider, dalam bentuk komik dia mengilustrasikan berbagai bentuk bangunan arsitektur dengan tarian yang sesuai dengan gaya arsitekturalnya.

Berdasarkan analisis gambar siluet gestur tubuh manusia di atas dan gerakan tarian berdasarkan kecocokannya dengan gaya arsitektur tertentu, ternyata dalam mengekspresikan karya arsitektur memiliki kesamaan bentuk dengan bentuk dan gerakan tubuh manusia. Dari pengamatan tersebut muncul sebuah pertanyaan, apakah ketika seorang arsitek merancang suatu bangunan, bentuk arsitektural yang dirancangnya menggunakan tipikal bentuk tubuh manusia dan gerakan tubuhnya ke dalam suatu karya arsitektur? Ataukah hal tersebut terjadi karena sang arsitek tidak sadar ketika mendesain bentuk seperti itu? Atau apakah hal itu hanya persepsi orang yang melihatnya saja, hingga bentuk bangunannya bisa terlihat menyerupai gestur manusia?

Terlepas dari sadar atau tidak sadarnya sang arsitek, lalu mengapa bentuk seperti itu yang pilih dalam desainnya? Apakah hal tersebut dikarenakan tubuh manusia beserta gerakan tubuhnya memiliki suatu kualitas yang dapat memberikan bentuk yang indah sekaligus kokoh? Bagaimana menurut anda mengenai ini? Apakah ada teori mengenai hal ini?

 

 

Referensi :

http://weburbanist.com/2009/09/22/10-peculiarly-precarious-buildings/

– http://mashable.com/2013/06/18/dancing-about-architecture/

 

Sumber Gambar :

– Gambar 1 : http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/85/Petronas_Panorama_II.jpg

– Gambar 2 : https://geometryarchitecture.files.wordpress.com/2014/06/fa662-capital-gate-in-abu-dhabi-02.jpg

– Gambar 3 : http://img.weburbanist.com/wp-content/uploads/2009/09/3-1Precarious.jpg

– Gambar 4 : http://blog.archpaper.com/wordpress/wp-content/uploads/2013/11/CCTV.jpg

– Gambar siluet gestur : Dokumentasi pribadi

4 Comments »

  1. pembahasan yg sangat menarik.. menurut saya, para arsitek menciptakan bentuk-bentuk bangunannya dengan metode mereka masing-masing yang tentunya berbeda. dan mengenai persepsi yang ditimbulkan oleh bangunan tersebut adalah tergantung dari sudut pandang yang melihatnya. mungkin yang membuat ilustrasi di atas adalah orang yang mengerti tentang seni tari atau semacamnya dan mencoba menafsirkan bentuk-bentuk bangunantersebut ke dalam gerakan-gerakan tari. karena kalau saya pribadi, jika melihat bentuk bangunan bauhaus tidak terpikirkan tentang gestur tubuh manusia yg menyerupainya, seperti pada ilustrasi diatas. mungkin orang lain akan menafsirkan atau mempersepsikan bangunan-bangunan tersebut dengan hal-hal yang lain juga.

    Comment by gittaraditya — June 15, 2014 @ 19:04

  2. cukup menarik pembahasan dari saudara rousan, saya ingin bertanya bagaimana dengan bangunan di indonesia? apakah ada yang menyerupai bentuk gerakan manusia juga? hehe, terima kasih sebelumnya

    Comment by maulanayogi — June 15, 2014 @ 19:26

  3. Sama seperti Gitta, awalnya saya juga tidak terpikirkan tentang gesture atau tarian, tapi setelah membaca postingan rousan, saya jadi terpikir, bagaimana jika dikaitkan dengan pemikiran struktur, bukankah banyak sistem struktur yang mengambil dari prinsip makhluk hidup dan alam? mungkin juga form yang menyerupai gesture manusia diambil karena menghasilkan form yang indah dan dari segi struktural dapat diimplementasikan langsung dari sumber form tersebut

    Comment by nadiadputranti — June 15, 2014 @ 19:49

  4. Pengamatan yang cukup menarik.
    Saya juga pernah membaca buku Individual imagination and cultural conservatism karya Frank Gehry. Di dalamnya terdapat beberapa arsitek dan kritikus arsitektur yang sama sama pernah merancang dan pernah berpendapat. Mereka berpendapat bahwa di awal perancangan terkadang konsep yang mereka pilih justru diterjemahkan lain imagenya oleh para kritikus atau pengguna. Seperti Charles Jenks yang cukup banyak berpendapat tentang visualisasi beberapa karya le corbu, yang padahal le corbu sendiri tidak “kepikiran sampe situ” saat dia merancang di awal. Saya kemudian bertanya lagi, apa baik dan buruknya rancangan juga tercermin dari aspek – aspek persepsi visual yang nantinya timbul? lantas haruskah kita sebagai arsitek memetakan persepsi – persepsi tersebut sebelum merancang?

    menjawab pertanyaan yogi, kemarin saat menulis blog tentang tarian, saya sempat mendapatkan artikel ttg ide fasad Museum Tsunami Aceh yang terinspirasi dari gerakan tari saman, yang diterjemahkan ke dalam kekompakan. Tapi masih sebatas fasad, belum keseluruhan bangunan.

    check it out! hehe..

    Comment by M. Naufal Fadhil — June 16, 2014 @ 07:41


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: