there’s something about geometry + architecture

June 15, 2014

Tarian, Cerminan hidup yang penuh dengan topologi?

Filed under: everyday geometry,locality and tradition — M. Naufal Fadhil @ 12:37

Pernah menonton pertunjukan Tari Tarek Pukat? Tarian dari Aceh ini mungkin belum sepopuler Tari Saman di Indonesia. Dalam Bahasa Indonesia, Tarek Pukat berarti menjala ikan. Tarek Pukat menggambarkan semangat teamwork nelayan saat bekerja.

229597_1665578257702_4938016_n

Keseharian nelayan menarik pukat (menjala ikan)

Uniknya, tarian ini menghasilkan suatu produk yang menggambarkan maksud dan urutan gerak. Dalam merangkai produk yaitu ikatan tali yang berbentuk jaring, penggunaan prinsip topologi sangat menentukan, seperti mobius strip ketika merangkai tali menjadi jaring. Sebelum membaca opini saya, lebih baik anda menonton terlebih dahulu Tari Tarek Pukat berikut.

Dalam Tarian Tarek Pukat, awalnya penari wanita yang berjumlah 9 orang membawa 8 utas tali, perhatikan penari paling kiri tidak memegang apapun (hanya memposisikan tangan seperti memegang tali). Seiring dengan pergantian irama musik, gerakan berubah menjadi mengarahkan gulungan tali di tangan kanan ke belakang penari sebelah kanan, dan penari disebelah kanan memasukkan badannya ke dalam gulungan tali tersebut.

 

Ketika gerakan tersebut mencapai penari ke 9, gerakan diputar balik, dan disini terjadi proses penyilangan tali, membentuk mobius strip, sehingga tali satu dengan lainnya saling mengikat. Gerakan terus berulang tergantung berapa ruas jaring yang ingin dibuat. Jika ingin memperbanyak ruas horizontal jaring, maka jumlah putaran tarian harus lebih banyak. Sedangkan jika ingin memperbanyak ruas vertikal jaring, maka yang diperbanyak adalah jumlah penari.

tarek pukat posisi 1

posisi kedua

posisi ketiga

 posisi keempat

 hasil akhir

Pola topologi dan mobius strip memang cukup mudah dilihat pada tarian ini, sebab ia memiliki produk. Dan penggunaan topologi tersebut tentunya bertujuan untuk membentuk produk akhir yang menjadi klimaks dari tarian. Pola akhir yang ditunjukkan tersebut membuat penonton mengerti berbagai tujuan gerakan sebelumnya, sehingga semua gerakan berhubungan satu sama lain. Karena tarian ini menggambarkan kehidupan nelayan, ada kemungkinan kehidupan mereka dipenuhi dengan topologi dan mobius strip yang tercermin dalam gerakan tali ini. Bagaimana dengan tarian – tarian lainnya? Apakah ternyata semua tarian baik yang menghasilkan produk ataupun tidak memiliki topologi dari bagian awal hingga klimaks dan penyelesaiannya? Lantas, dapat disimpulkan kegiatan dari satu titik ke titik lain dan kembali ke titik sebelumnya sangat sering kita lakukan yang juga sudah diturunkan dari nenek moyang kita melalui budaya tarian. Bagaimana pendapat anda?

Referensi :

Kuliah Geometri Arsitektur 30 April 2014 tentang Topologi

http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2683/meusare-saree-tari-tradisional-banda-aceh-nanggroe-aceh-darussalam

2 Comments »

  1. wah postingan yang sangat menarik sekali menurut saya, mungkin karena postingan ini mengangkat kearifan lokal budaya indonesia sebagai topik utamanya. (belakangan ini saya sedang menggemari kearifan lokal soalnya. hehe). oke, kembali lagi ke topik topologi yang diangkat pada postingan ini, saya tentunya belum berkapasitas untuk menjawab pertanyaan yang naufal munculkan, tetapi terbersit dipikiran saya bahwa sebenarnya hasil atau produk dari tarian ini menunjukkan konektivitas yang tertuang pada ruang nyata disekitar kita. mungkin jaring ikan memang sebenarnya berbentuk grid. tetapi materialnya yang berupa tali memungkinkan ketidakteraturan dari grid tersebut..sehingga grid yang terbentuk tidak berbentuk persegi sempurna melainkan agak meletat meletot..kemeletat meletotan tali ini menyebabkan perubahan bentuk grid, tetapi tidak mengubah konektivitasnya.yang mungkin saja, sifat ini juga tertuang dalam membentuk konektivitas di kota-kota indonesia, yang lebih bisa menunjukkan arah bukan berdasarkan koordinat, melainkan lebih kepada apa yang berada didekatnya, seperti sebuah patokan misalnya warung berwarna merah.
    Terlepas dari hal itu, saya juga merasa bahwa topologi pada tarian ini bukan hanya tertuang secara arsitektural, melainkan juga tertuang dalam nilai sosial. kekeluargaan contohnya, jika seseorang memiliki darah yang sama, meskipun berada di daerah antah berantah, ataupun tertimpa musibah, hubungan dengan orang itu pun tetap dilabeli ‘saudara’ karena adanya konektivitas darah tersebut. atau jika orang tersebut memiliki hubungan darah, tetapi melakukan hal yang memalukan dan diputus kekerabatannya (secara lisan), tetapi di kehidupan masyarakatnya kemungkinan besar masih disangkut pautkan dengan saudaranya.

    wah, rasanya saya sudah berbicara panjang lebar..entah masih dalam cakupan yang naufal bahas atau tidak.hehe
    tapi satu hal yang saya percaya, bahwa, apapun hasil dari pemikiran orang zaman dulu itu pasti memiliki makna tersirat yang memang kita harus berpikir dahulu untuk mengetahui maknanya. begitu juga dengan tarian, bukan hanya berupa komposisi gerakan semata yang menghibur, tetapi ada makna lain yang terekam disitu secara disengaja ataupun tidak disengaja. yuk mari yang mau komentar atau menanggapi.🙂

    Comment by chandrawatihasanah — June 15, 2014 @ 19:10

  2. Great comment chan, dan panjang juga hehe… Saya sependapat dengan anda. benar memang kearifan lokal yang diturunkan oleh orang terdahulu tentu memiliki makna dan tujuan yang tentu saja mengapa hal – hal tersebut akhirnya dilestarikan. Terkait konektivitas yang anda sebut, mungkin akan menjadi hal yang menarik ketika kita berfikiran bahwa konektivitas yang diajarkan dalam kearifan lokal ternyata tidak hanya konektivitas (hubungan) antara manusia dengan manusia saja, tapi juga manusia dengan alam.Banyak yang bilang kan orang dahulu lebih mengenal alam dan lebih mengerti bagaimana hubungannya dengan alam dan bagaimana pula ia berperilaku dan menempatkan dirinya di muka bumi. nah, bisa jadi pula tarian dan bentuk kearifan lokal lainnya merupakan informasi bagaimana dan informasi lainnya yang ingin ia turunkan di masa mendatang.

    Itu kenapa budaya berbeda, salah satunya mungkin karena geografis yang berbeda, yang membentuk kekayaan geometris dunia yang berbeda – beda pula. Membahas kearifan lokal memang ga ada habisnya, soalnya mereka menyimpan banyak nilai tapi dewasa ini mereka cenderung terlupakan.

    Comment by M. Naufal Fadhil — June 17, 2014 @ 05:24


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: