there’s something about geometry + architecture

June 15, 2014

Vertikal Lebih Ideal Daripada Horizontal?

Filed under: ideal cities — amaliaputriayuichlasiaty @ 06:31

Saat ini, kita mungkin sadar bahwa di sekitar kita, di lingkungan kita, mulai banyak bermunculan adanya pemukiman-pemukiman bertajuk kota vertikal. Ya, seperti apartemen-apartemen mulai dari harga terjangkau sampai merogoh kocek hingga tetes terakhir, mulai dari tipe studio sampai tipe bawa-temen-sekampung-cukup pun ada. katanya, kota vertikal adalah solusi yang tepat untuk mencapai sebuah konsep kota ideal di masa mendatang. Sebagai jalan keluar atas masalah kepadatan itu tadi. Tapi pertanyaannya, apakah si ‘kota vertikal’ ini sebenarnya sudah dapat dikatakan kota ideal?

“…the right size for a city – large enough to be self-sufficient for the purpose of living the good life but small enough to allow the citizens to know one another’s personal charcters. Some modern city planners refer to this size as ‘ideal’.” (Kevin Lynch, 1954)


Merujuk pada kutipan Lynch, saya mencoba menafsirkan bahwa kota yang ideal terdefinisikan dalam dua hal, kehidupan individu yang baik, dan kehidupan sosial yang baik. Untuk mencapai kehidupan sosial yang baik, dapat diukur dengan seberapa jauh sebuah individu dapat berkomunikasi dengan individu lain. Nah, kalau misalnya sebuah kota dapat disusun secara vertikal, apakah kota tersebut dapat mendorong kehidupan bersosialisasi?

 

Image

Gambar Apartemen Kalibata.  Sumber: pribadi

saya mengambil salah satu contoh kota vertikal yang dibangun di era abad 21-an. mungkin kalian sudah tahu akan keberadaannya, karena tak butuh usaha yang keras untuk dapat memandangnya. namanya superblok Kalibata City. Komplek hunian vertikal lintas penghuni lintas harga ini berlokasi di tepi jalan Pahlawan Kalibata, Jakarta. Letaknya yang berada di tepi jalan, yang merupakan titik berkumpulnya aneka transportasi umum, ditambah lagi adanya stasiun dengan jarak yang cukup dekat, Stasiun Duren Kalibata. Dalam satu komplek, terdiri dari 18 menara yang masing-masing terdiri dari 18 lantai. Pada lantai pertama seluruhnya digunakan untuk area publik, servis gedung dan sirkulasi. Terdapat dua area publik, yaitu kios-kios dan area bermain anak.

 

Image

Gambar Area Bermain. Sumber: Pribadi

 

Pertama. Area bermain anak merupakan area yang memfasilitasi penghuni anak-anak agar tetap dapat bermain biarpun mereka tidak lagi tinggal di rumah tipe landed house. Tempat ini (mungkin) diskenariokan sebagai tempat untuk si ‘dewasa’ berkomunikasi dengan yang lain karena terdapat tempat duduk-duduk di sekeliling area bermain anak.

 

Image

Gambar Salah Satu Kios Lantai Dasar. Sumber: Pribadi

 

Kedua. Kios yang berada di lantai dasar ini berfungsi sebagai tempat berjualan aneka ragam barang dan jasa. Mulai dari kios penjual makanan, minuman, buah, cuci baju, hingga warnet dan rental computer pun ada di masing-masing menara. Menurut salah satu penjual di salah satu kios, kios ini memang ampuh bila difungsikan sebagai area bersosialisasi. Karena kios-kios ini tidak sepenuhnya berbatas masif sehingga dapat berbaur.

 

5Gambar Salah Satu Area dalm Mall. Sumber: Pribadi

 

Ketiga. Mall yang terdapat di basemen kalibata city. Mall yang sebagian besar terfungsikan sebagai tempat makan ini mungkin hampir sama tujuannya dengan kios. Terdapat berbagai kebutuhan yang disediakan di mall ini dengan maksud penghuni tidak perlu kemana-mana lagi untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

Dari sebuah review singkat tentang area publik (area publik terbatas seperti masjid dan ruang serbaguna tidak ditampilkan) di atas, adanya segala kebutuhan yang ditawarkan bagi si penghuni untuk mendapatkan kehidupan individu dan sosial yang baik, mungkin akan menghasilkan kualitas yang juga baik. Tapi, bila dilihat pada skala yang lebih jauh, bukankah adanya segala fasilitas yang terdapat di komplek ini akan menciptakan blocked connectivity dengan lingkungan sekitar? Lalu, bukankah hal yang demikian akan menciptakan golongan-golongan tersendiri, anak komplek apartemen kalibata dan anak rumahan kalibata?

 

Apakah hal tersebut merupakan kondisi ideal yang diinginkan di masa mendatang?

 

 

 

Referensi:

Kuliah Geometri dan Arsitektur: Ideal City. 2014.

Amin, Ash. Thrift, Nigel. 2002. Cities: Reimagining the Urban. Polity Press. UK.

Lynch, Peter. Catherine. David. Laura. 1996. City Sende and City Design: Writings and Projects of Kevin Lynch. MIT Press. USA.

2 Comments »

  1. Pengamatan yang cukup menarik dan sudah menjadi keseharian kita di Indonesia khususnya kota – kota besar, fenomena komunitas – komunitas yang tinggal di lingkungan tertutup.

    Saya kemudian berpendapat, bisa saja hal yang seperti ini menjadi ideal dimasa mendatang. Jika anda mengamati cakupan kota, mungkin komunitas seperti ini terlihat anti sosial dengan sekitarannya, namun bayangkan jika dilihat sesuai cakupan kecil di dalam komplek apartemen mereka. Apakah mereka ternyata membentuk struktur sosial? apakah anak – anak, pemuda dan lainnya bermain bersama? Bukankah kebutuhan sosial mereka akhirnya juga terpenuhi. Bayangkan jika di masa mendatang akan ada sebuah komunitas berpagar seperti ini yang dirancang benar – benar besar, dalam hal jumlah penduduk dan fasilitasnya, bukankah ia sudah bisa menjadi ideal? bukankah apa yang disangkal oleh post modern sebelumnya bahwa komunitas berpagar cenderung anti sosial dan mengalami gangguan sosial bisa saja tidak berlaku pada komunitas ini… Karena mereka memiliki kekuatan sosial dan kehidupan yang cenderung baik di dalamnya…
    bagaimana tanggapan anda?

    Comment by M. Naufal Fadhil — June 15, 2014 @ 13:16

  2. Pengamatan yang menarik, tetapi menurut saya kasus seperti ini tidak hanya bermula di kompleks hunian vertikal namun, sudah dimulai di lingkungan masyarakat pada umumnya. Pada kehidupan sosial anak misalnya, tidak seperti dulu, permainan anak-anak sudah tidak sesimpel apa yang terjadi paling tidak 10 tahun yang lalu. Saat ini gadget, internet dan acara televisi lebih menarik perhatian mereka sehingga pelatihan kemampuan sosial mereka telah terganggu sejak kecil. Sekarang semakin muda anak-anak untuk fasih di dunia gadget. Bisa jadi, masih 5 tahun sudah main ipad.
    Pada kasus diatas misalnya, sekalipun sudah disediakan area bermain di lingkup apartemen, seberapa sering area itu benar-benar dipakai untuk bermain, atau hanya sebagai “penghias” belaka. Menurut saya, jangankan membangun hubungan sosial dengan lingkungan sekitar “superblock” melainkan gagasan untuk membangun hubungan sosial dengan penghuni di lantai yang sama atau di tower yang sama harus digagas terlebih dahulu untuk tidak memperparah fenomena ‘anti sosial’ ini.

    Comment by myrnaivana — June 15, 2014 @ 23:36


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: