there’s something about geometry + architecture

March 17, 2015

Geometri Non-Eucledian dalam Arsitektur BMW Welt

Filed under: architecture and other arts — ignatiusadrian @ 23:21
Tags: ,

BMW Welt adalah sebuah karya arsitektur yang berada di kota Munich, Jerman dan dirancang oleh firma arsitektur Austria Coop Himme(l)blau. Arsitektur ini berfungsi sebagai tempat pertemuan, pameran, museum, dan fungsi publik lainnya. Konsep bentuk diambil oleh tim perancang berdasarkan permintaan dari klien yang menginginkan sebuah tempat pertemuan untuk konsumen, rekan kerja, dan masyarakat umum dan menyelaraskan bentuk arsitektur dengan landmark sekitar yaitu Olimpiapark dan bangunan eksisting BMW [BMW, 2015].

Gambar 1 BMW Welt Sumber: http://www.bmw-welt.com/

5

Gambar 2: Sketsa Arsitek Sumber: http://www.coop-himmelblau.at/

Sang arsitek sendiri kemudian membentuk sebuah ide bentuk yang terinspirasi oleh awan dan tiang angin. Dari ide awal itulah muncul bentuk double cone untuk membentuk ide tiang angin yang berfungsi sebagai salah satu penopang utama dan pada bagian interiornya sebagai ruang pameran dan pertemuan khusus. Pada bentuk tiang angin inilah sang arsitek meletakan bentuk kurva negative (negative curvature), sebuah bentuk yang digunakan untuk menjelaskan tentang prinsip bentuk geometri non-eucledian. Selain itu, bentuk langit-langit pada interior arsitektur ini yang bergelombang juga merupakan salah satu pernyataan lain dari sang arsitek dalam penggunaan bentuk non-eucledian.

Gambar 3: Kurva Negatif Konstan Salah satu bentuk yang terdapat pada fisik BMW Welt Sumber: http://holzsager.info/square/ConstNeg_files/cnchysurfrev.gif

3

Gambar 4: Dinamika Bentuk Langit-langit pada Atap Utama Sumber: http://www.kgs.ku.edu/PRS/publication/2006/2006-14/gif/p3-13.png

4

Gambar 5: Potongan Perspektif Dalam potongan ini terlihat penggunaan kurva nergatif pada bagian kiri bangunan, dan dinamika positif dan negatif pada langit-langit utama Sumber: http://www-1.bmw-welt.com/web_rb/bmw-welt/en/bmw_welt/architecture/_shared/img/gebaudetech_flash.jpg

Mungkin, dengan karyanya ini, sang arsitek sedang mencoba menyatakan BMW Welt (di mana ‘Welt’ dalam bahasa Jerman berarti ‘Dunia’) sebagai ‘dunia kecil yang bulat’ dari BMW, di mana seluruh orang dari seluruh dunia yang berhubungan dan ingin lebih mengetahui tentang BMW dapat bertemu dan berinteraksi satu sama lain.

-Ignatius Adrian-

Referensi:

“BMW Welt / Coop Himmelb(l)au” 22 Jul 2009. ArchDaily. Accessed 13 Mar 2015. <http://www.archdaily.com/?p=29664>

“BMW Welt “. coop-himmelblau. Accessed 13 Mar 2015. <http://www.coop-himmelblau.at/architecture/projects/bmw-welt/>

2 Comments »

  1. pengaplikasian non-euclid pada proses perancangan arsitektur menjadi sangat menarik untuk “kita” diskusikan karena kekiniannya terkait teknologi dan pengaplikasiannya, akan tetapi terkait apa yang saya tanyakan pada kelas beberapa minggu yang lalu tentang “apa yang bisa diberikan oleh non-euclid pada proses perancangan?” apabila dilihat dari contohnya pada preseden ini. apa yang bisa diberikan oleh non-euclid?

    “Selain itu, bentuk langit-langit pada interior arsitektur ini yang bergelombang juga merupakan salah satu pernyataan lain dari sang arsitek dalam penggunaan bentuk non-eucledian.” tulisan ini berkata demikian. yang menurut pengertian saya hanya sebagian kecil dari proses mendesain. mungkin jika dilihat dari denah(plan) pengaplikasian grid-grid euclidian yang menyajikan efisiensi ruang maupun struktural masih lebih dominan dipakai?
    jadi apa yang bisa disajikan oleh pengetahuan non euclid pada proses perancangan? bentuk? pengaplikasian teknologi? fasad bangunan? kulit? dan kebanyakan prosesnya diaplikasikan pada proyek-proyek yang skalanya besar bagaimana dengan yang berskala kecil?
    seperti pada tulisan Rem Koolhas “In Bigness, the distance between core and the envelope increases to the point where the facade can no longer reveal what happens inside” koolhas(1994:308)

    pertanyaan selanjutnya setelah mengetahui potensi apa yang bisa diberikan non-euclid? apakah betul arsitektur dalam hal ini proses perancangannya harus “moveon” ataukah saat ini prosesnya hanya berupa pemenuhan kewajiban arsitektur sebagai ilmu yang berdasar pada matematika untuk berkembang mengikuti perubahan ilmu dasarnya? atau mungkin kedangkalan pikiran penulis komentar ini yang butuh untuk segera diperbaharui pengetahuannya. hahaha.

    bukan pandangan skeptis terhadap perubahan tapi justru membuka diri kepada keraguan agar perubahan bisa lebih dipertanggung jawabkan.

    Comment by kevinadityagiovanni — March 22, 2015 @ 19:56

  2. Di dalam artikel terdapat pernyataan “Sang arsitek sendiri kemudian membentuk sebuah ide bentuk yang terinspirasi oleh awan dan tiang angin”
    apabila tiang angin yang dimaksud adalah berupa double cone, saya setuju apabila sang perancang menggunakan pendekatan bentuk non-euclid, namun ide awal bangunan tersebut adalah terinspirasi oleh ‘awan’, sehingga saya mempertanyakan bagian mana dari ‘awan’ atau bentukan seperti apa sehingga sang perancang dapat mendesain dengan pendekatan non-euclid?

    Apakah memang secara sengaja si perancang menggunakan pendekatan tersebut ataukah hanya sekedar intuisi belaka yang kemudian secara teknis hanya teraplikasikan melalui tiang sebagai main structure? karena saya tidak melihat secara utuh pengaplikasian desain dari bangunan tersebut menggunakan pendekatan non-euclid..

    Comment by bimantya — March 30, 2015 @ 03:56


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: