there’s something about geometry + architecture

March 22, 2015

GEOMETRIC PERFECTION IN A VISUAL PERCEPTION

Filed under: Uncategorized — nashabahasoean2012 @ 15:50

Arsitektur akan selalu ada disemua cabang seni, maka tak menutup kemungkinan sebuah produksi yang memanfaatkan sudut pandang arsitektur akan dipandang lebih baik. Film Grand Budapest Hotel yang memenangkan kategori production design dan masuk nominasi dalam kategori cinematography benar-benar memanfaatkan hal ini.

Wes Anderson menggunakan teknik perspektif satu titik hilang untuk memberikan persepsi akan ruang dalam film tersebut, teknik perspektif ini juga dikuatkan dengan adanya komposisi warna dan bentuk/ penataan yang simetris. Permainan persepsi ini dibuat tanpa menggunakan efek CGI seperti pada film Hollywood pada umumnya, melainkan masih menggunakan teknik lama “The Old fashioned way of production design”. Semua produksi, rata-rata dibangun sendiri (hand-made) tanpa manipulasi komputer.

Sejak awal, film “Grand Budapest Hotel” sudah memainkan persepsi. Hotel yang menjadi sorot utama pada film sebenarnya merupakan model setinggi 9 kaki (sekitar 2.74 m). Sebagian properti hanya dibuat dengan cardboard dalam skala yang berbeda, namun dengan adanya permainan lensa dalam pengambilan gambar, hotel ini terlihat seolah nyata.

3042014-inline-s-14-wesandersoncollectionthegrandbudapesthotelpp043a

the-grand-budapest-hotel27the-grand-budapest-hotel25

Adam Stockhausen sebagai production designer menyatakan bahwa film ini menggunakan strategi pengambilan gambar dan set. “we design the movie frame by frame, shot by shot”. Apabila pada film-film lainnnya production designer hanya akan mendesain 50% dari seluruh shots, karena yang lainnya adalah set/ lokasi yang benar-benar ada, pada film ini semuanya benar-benar dibangun, baik dalam ukuran miniatur atau ukuran sebenarnya, karena seluruh cerita merupakan dunia fiksi.

Stockhausen dalam Architectural Digest, mengatakan bahwa “the goal was to get ‘the entire structure of the hotel’ to feel like an integrated whole with the storytelling.” sehingga semuanya sebenarnya hanyalah ilusi optical. Ilusi optical ini terjadi dengan adanya permainan ruang film (movie space), dalam film ini yang dilakukan adalah zooms, whip pans, dan tracking shots, sehingga serangkaian film akan terkoreografi secara baik.

Dapat dibilang “Grand Budapest Hotel” adalah architectural simulacra[1], hanya saja mereka tidak nyata. The Grand Budapest Hotel tidak didesain untuk dinikmati langsung oleh manusia, melainkan untuk kamera yang akan melahirkan ilusi optic yang dinikmati manusia. Sehingga ketika manusia melihat film tersebut, yang dirasakan adalah seperti berjalan meneusuri seluruh bagian dari hotel tersebut.

Seperti yang dijelaskan Stockhausen: ‘We worked on the right relationships of doors and hallways and spaces to get the action to move properly. Anderson likes to shoot in complex camera moves, so the physical space really had to line up.’

Wes Anderson’s menggunakan “planimetric” style dalam film ini. Kuncinya ada pada penyusunan antara aktor dan setting yang ada. Keduanya tidak dipandang dari sudut oblique. Jika latar belakang tegak lurus, Sang Aktor akan berdiri/ duduk di sudut 90 atau 180 derajat. Para aktor dan setting dapat dibuat kedalamannya, namun mereka harus ditumpuk (crowding them in layers) secara tegak lurus (perpendicular fashion), sehingga semuanya memang mengikuti aturan yang ketat. Adanya pengaturan sudut ini akan melahirkan sebuah simetri bilateral. Dengan menggunakan konsep planimetric akan timbul perasaan bahwa kita melihat dari kejauhan ke dunia tertutup yang kadang-kadang melihat kembali pada kita.

“A rigid perpendicular angle can endow action with an absurd geometry……Compass-point editing offers another possibility, that of cutting at 90-degree angles to the background plane or the figures’ position” kata Anderson.

Pada film The Grand Budapest Hotel, pengambilan gambar yang menghasilkan ilusi dapat dibagi menjadi beberapa cara:

  1. penglihatan 90 derajat kemudian 180 derajat secara zoom in

2-shot-3001Madame-D-300 M.-Gustave-3001

2. Penglihatan 180 derajat kemudian 90 derajat zoom in.

Limo-1-300 Limo-2-300

Dengan kedua cara ini, pemotongan aksial menunjukkan tata letak ruang yang sesungguhnya.

  1. Compass-point principle. Pemotongan, dari shot ke shot (contoh: kanan-tengah-kiri) yang menggunakan komposisi yang sama dalam satu frame. Sehingga mata penonton tidak akan berjalan jauh melihat sekeliling set.

lobby-1-300lobby-2-300lobby-3-300

  1. Penggunaan lensa wide-angle yang memberikan ‘tonjolan’ di garis horizontal. Cara lain yang ia lakukan adalah straight-on angles. Sehingga kita dapat melihat bagian atas dan bawah ruang dalam satu frame.

A-3001A1-300B-300

5. Pengambilan gambar dengan lensa jauh/ dekat dengan  penyusunan yang simetris

gr budap hotelitem2.rendition.slideshowWideHorizontal.grand-budapest-hotel-set-03-german-shop-jeff-goldblumgrand budapest hotel23

Dengan permainan komposisi warna yang serasi pada setiap frame, dan tidak adanya pengulangan set membuat seolah penonton telah menelusuri seluruh bagian dari Grand Budapest Hotel, karena adanya permainan dari lensa kamera pengambilan gambar dan penyusunan planimetric antara aktor dan set.

[1] Simulacra artinya 1) sebuah gambar/ image 2) kemiripan, representasi yang jelas. Istilah ini adalah salah satu istilah dalam teori idealisme Plato “The Ideal-copy distinction”

Sumber:

Antończyk, Kasia. 31 Maret 2014. “Grand Budapest Hotel Set Design” <online> 22 Maret 2015. http://www.littlemissarchitect.com/2014/03/grand-budapest-hotel-set-design-movie.html

Rose, Steve. 15 Maret 2014. “Wes Anderson: The Architectural Film-maker” <online> 22 Maret 2015. http://www.architectsjournal.co.uk/culture/wes-anderson-the-architectural-film-maker/8660096.article

Dunne, Carrey. 20 Februari 2015. “How Designers Built The World Of “The Grand Budapest Hotel” By Hand” <online> 22 Maret 2015. http://www.fastcodesign.com/3042014/how-designers-built-the-world-of-the-grand-budapest-hotel-by-hand

Parga, Monica. 30 Juni 2014. “The inspiration behind the sets and decoration of ‘The Grand Budapest Hotel’” <online> 22 Maret 2015.  http://www.missatlaplaya.com/2014/06/the-inspiration-behind-the-sets-and-decoration-of-the-grand-budapest-hotel/

Bordwell, David. 26 Maret 2014. “THE GRAND BUDAPEST HOTEL: Wes Anderson takes the 4:3 challenge” <online> 22 Maret 2015. http://www.davidbordwell.net/blog/2014/03/26/the-grand-budapest-hotel-wes-anderson-takes-the-43-challenge/

Chung, Becky. 9 Februari 2015. “We Talked to ‘The Grand Budapest Hotel’ Production Designer About Pastries, Postcards, and Taxidermy” <online> 22 Maret 2015. http://thecreatorsproject.vice.com/blog/the-grand-budapest-hotel-production-designer

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: