there’s something about geometry + architecture

March 22, 2015

‘Realitas’ yang Disajikan Golden Ratio untuk Penikmat Film

Filed under: Uncategorized — farizadear @ 20:36

Film merupakan gambar bergerak yang memiliki alur cerita dan dinikmati oleh penonton. Terkadang film mampu membuat penontonnya merasa ikut andil dalam film yang sedang ditontonnya karena sutradara dan kru film telah menciptakan alur cerita dan penggambaran ekspresi yang terlihat nyata. Sinematografer—perekam film—pun ikut berperan penting di dalam penciptaan tersebut karena keharusan menciptakan sinematografi yang baik.

Sinematografi berasal dari gabungan bahasa Yunani yakni kinema dan graphien. Kinema berarti gerakan dan graphien berarti merekam. Di dalam film, sinematografi berhubungan dengan perekaman dari film itu sendiri. Gambar yang sering kita dapatkan dalam layar kaca sangat mudah dimengerti dan dirasakan karena dalam perekaman gambar ternyata terdapat aturan komposisi.

image001

Komposisi yang dimaksud dalam pengambilan gambar adalah susunan (yang tepat) dari subjek dan objek in-frame. Dalam dunia perfilman terdapat pengomposisian pusat. Banyak direktur dari Stanley Kubrick sampai Wes Andersen telah menciptakan visual yang kuat dengan komposisi pusat. Namun, komposisi ini bisa saja terlalu kuat dan mendominasi ketika meletakkan segala subjek di pusat frame. Untuk keluar dari hal tersebut di dalam dunia perfilman telah menggunakan aturan Golden Ratio.

Golden Ratio adalah sebuah perbandingan. Disebut dengan Golden karena segala hal yang indah di alam semesta ini memakai perbandingan ini.

image005

Pict.1 Perhitungan Golden Ratio: perbandingan antara Panjang garis A berbanding garis B sama dengan panjang dari jumlah keduanya berbanding panjang A, dengan syarat A lebih panjang daripada B.

Pict.2 Golden Rule of Thirds merupakan bentuk penyederhanaan dari Golden Ratio yang terdapat dalam kamera (sebuah fitur) untuk mempermudah pengambilan gambar yang selaras

Pict.2 Golden Rule of Thirds merupakan bentuk penyederhanaan dari Golden Ratio yang terdapat dalam kamera (sebuah fitur) untuk mempermudah pengambilan gambar yang selaras

Komposisi yang didasari oleh Golden Ratio dirasa dapat menciptakan sebuah scene yang menarik, yakni sesuatu yang dapat menangkap perhatian orang dan menceritakan kisah di balik pengambilan gambar. Trik dari fotografer adalah untuk mengatur unsur-unsur untuk memungkinkan foto tersebut untuk menceritakan kisah yang ingin diberitahu. Komposisi juga bergantung kepada banyak faktor, termsuk lensa, ukuran gambar yang diambil, dan angle kamera.

pic3

Contoh pada pengambilan gambar film diatas, tokoh tersebut akan lebih baik bila dikomposisikan dengan subjek lain yaitu bunga dan foto dinding. Penonton akan mengetahui latar dari cerita yang disajikan. Dan ketika tokoh mengekspresikan sesuatu, raut muka yang diatur menggunakan Golden Ratio (Fibonacci) akan lebih terlihat karena terfokus diantara alis sampai dagu.

Apabila pengambilan gambar dilakukan menggunakan komposisi terpusat, tokoh tersebutlah yang akan memenuhi gambar dan membuat bingung. Terdapat keambiguitasan cerita dan penonton tidak dapat menerka pekerjaan, latar, dll dari tokoh dan juga adegan yang disajikan.

pic4

Di dalam mengisi frame yang lebar, pengambilan gambar pada film biasa menggunakan latar depan dan latar belakang. Hal ini tentunya tetap diatur menggunakan Golden Ratio agar komposisi dapat dipahami dengan baik oleh penikmat.

Pengambilan gambar adegan berkelanjutan diatas merupakan salah satu contohnya. Ketika wanita pada gambar pertama telah diambil menggunakan Golden Ratio, dan dia menunjukkan ekspresi melihat sesuatu, pada pengambilan gambar berikutnya wanita tersebut menjadi latar depan dan diisi oleh figuran yang ekspresi dan kefokusannya dikurangi agar pria yang terdapat dapat golden section terlihat jelas. Hal ini juga ditunjang oleh adanya pencahayaan yang diberikan di area Golden Section.

pic56

Contoh film lainnya adalah Laforets. Dalam film ini, pada pict.5, kita dapat melihat bagaimana sepasang kekasih yang menjadi titik pusat komposisi. Dengan menempatkan Jembatan Brooklyn sebagai latar belakang dalam keseimbangan. Jika pengambilan gambar ini disusun tidak demikian, belum tentu komposisi yang terpilih akan sekuat ini. Pada akhirnya Golden Ratio dapat digunakan sebagai alat pembantu pemberian komposisi adegan beserta lokasi kejadian.

Serupa dengan adegan yang sama pada pict.6, wanita yang sedang menunggu. Adegan kuat karena pengambilan gambar dengan menggunakan teknik low shoot sehingga lampu yang ditempatkan dibelakangnya jatuh di tanah tepat di sebrang garis Golden Ratio yang menambah kesan dramatis pada saat wanita ini menunggu.

Kedua foto ini diyakini telah membuat penikmat terhanyut kedalam kedua moment tersebut. Hal inilah yang terpenting dalam pembuatan film, membuat penonton percaya dan ikut andil kedalam film tersebut.

Berlatih dengan kedalaman, cahaya, dan penempatan subjek adalah cara terbaik untuk melatih diri mengatur komposisi yang baik. Namun saya sebenarnya masih meyakini di dalam pengambilan gambar suatu film, tidak semua frame menggunakan aturan ini. Mungkin akhirnya tidak ada aturan, hanya apa yang tampak dan terasa tepat untuk alur cerita dalam film. Tapi pemahaman tentang dimana dan mengapa aturan Golden Ratio harus menjadi penguasaan penting untuk menghasilkan gambar dan cerita yang kuat di berbagai frame.

 

SOURCE

What is Cinematography in Film?

On Website: http://www.steves-digicams.com/knowledge-center/how-tos/film-and-video-production/what-is-cinematography-in-film.html

Composition Techniques for Widescreen Aspect Ratios

On Website: http://filmmakeriq.com/lessons/composition-techniques-for-widescreen-aspect-ratios/

Kurt Lancaster. 2012. Composition – The Golden Mean

On Website: http://masteringfilm.com/composition-the-golden-mean/

ILLUSTRATION

Pict.1 : http://filmmakeriq.com/

Pict.2 : http://cjpowersonline.com/

Pict.3 : http://filmmakeriq.com/ – edited by me

Pict.4 : http://filmmakeriq.com/

Pict.5 : http://masteringfilm.com/ – edited by me

Pict.6 : http://masteringfilm.com/

-Fariza Dear Gharinda-

1 Comment »

  1. jadi, dalam pembuatan film apakah golden ratio compotition itu dihadirkan dengan sengaja atau tidak sengaja?
    apakah si Sinematografer itu sudah merencanakan komposisi dalam setiap scene atau komposisi tersebut muncul dengan sendirinya?

    Comment by rezqivebra — March 28, 2015 @ 13:47


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: