there’s something about geometry + architecture

March 29, 2015

HOW AFFORDANCE & GEOMETRY RELATES AND AFFECTS DESIGNS

Filed under: Uncategorized — amandaalarissa @ 22:22

Geometry dan Affordance. Apakah relasi antara kedua hal ini?

Kedua istilah di atas merupakan dua istilah yang sangat berpengaruh dalam dunia desain dan arsitektur. Secara terpisah keduanya memiliki hubungannya tersendiri dengan arsitektur dan desain. Namun menurut saya  hal yang membuatnya menarik adalah relasi yang membuat keduanya berpengaruh dalam arsitektur dan desain. Relasi di antara keduanya akan saya paparkan melalui pemahaman akan kedua istilah ini terlebih dahulu.

Affordance

Teori mengenai affordance dikemukakan oleh J.J Gibson (1966). Afffordance Theory is an extended view on the ecology of visual perception 1/3 invariant or variant objects, berikut yang dikemukakan oleh Gibson (1966).

“An affordance is often taken as a relation between an object or an environment and an organism, that affords the opportunity for that organism to perform an action” (Leo Van Lier, 2004)

Melihat kedua pernyataan berikut dapat kita mengerti bahwa affordance merupakan sebuah relasi antara environment (lingkungan) dan perceiver (manusia/hewan) yang memiliki cara pandang berbeda terhadap bagaimana sebuah objek dalam lingkungan dimanfaatkan secara ergonomis olehnya.

Ilustrasi Affordance

Gambar di atas mengilustrasikan bagaimana sebuah objek (batu) yang berada dalam lingkup lingkungan perceiver (manusia / hewan) menciptakan affordance yang berbeda. Seorang manusia mungkin melihat batu sebagai obstacles atau hambatan saat berjalan, sedangkan seekor tikus memandang batu sebagai objek yang mampu menyembunyikan dirinya dari seekor kucing. Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena adanya perbedaan-perbedaan antara perceiver, dalam ilustrasi di atas yakni tikus dan manusia. Salah satu perbedaan yang sangat terlihat ialah perbedaan proporsi tubuh antara keduanya.

Perbedaan inilah yang mengawali pemikiran saya akan relasi antara affordance dengan geometri.

Geometry

“For without symmetry and proportion no temple can have a regular plan,” adalah hal yang dituliskan Vitruvius dalam buku De Architectura, or Ten Books on Architecture 

Toeri simetri dan proporsi yang dikatakan oleh Vitruvius didasari oleh obesrvasinya terhadap tubuh manusia yang terbentuk oleh rasio yang tepat dan serasi. Seperti temuannya bahwa ukuran wajah manusia adalah 1/10 dari total ukuran tinggi tubuh, lalu ukuran panjang kaki yang merupakan 1/6 dari total tinggi tubuh manusia. Hal ini kemudian diilustrasikan oleh Leonardo Da Vinci dalam gambarnya yang terkenal yaitu “Viruvian Man”

Leonardo Da Vinci "Canon"

Dengan melihat bahwa tubuh manusia memiliki proporsi yang tepat maka dalam kacamata seorang arsitek yang bertugas untuk mendesain bagi manusia, teori mengenai geometri tubuh manusia dan affordance menjadi sangat relevan. Dengan melihat proprosi geometri tubuh dan melihat affordance yang mungkin tercipta, kemungkinan memunculkan berbagai posibilitas dalam desain mengeliminasi kemungkinan terjadinya ‘gagal desain’. Contohnya adalah seperti gambar yang terlampir di bawah ini.

mouse designs

Gambar di atas menunjukkan posibilitas atau kemungkinan  yang terjadi pada sebuah desain mouse komputer sangatlah banyak karena melihat geometrri yang berbeda dari telapak tangan orang dan bagaimana telapak tangan bergerak untuk menggenggam sebuah mouse. Bentuk geometri yang berbeda dari desain mouse memberikan affordance yang berbeda pula. Banyaknya kemungkinan dapat membantu menentukan desain terbaik yang nyaman untuk pengguna.

swiftpoint_7imagesstock-footage-hand-holding-and-moving-a-computer-mouse-against-a-white-background

Salah satu contoh desain arsitektur yang memanfaatkan relasi teori geometri dan affordance dalam arsitektur adalah RAAAF [Rietveld Architecture-Art Affordances].

5-cropped-800x320 (1)raaaf-rietveld-architecture-art-affordances-the-end-of-sitting-000952image

Sekilas saja melihatnya, kita dapat melihat bahwa desain itu terbentuk dari geometri sederhana yang membentuk sebuah objek geometri lagi. Elemen segitiga, kotak, persegi panjang yang membentuk geometri ruang sebagai penyokong tubuh manusia dalam berbagai posisi.

Dengan demikian relasi antara geometri dan affordance dapat dimanfaatkan dalam mendesain.

References:

Leo van Lier (2004). “Relations”. e-Study Guide for: Handbook of Psychology, Volume 6: Developmental Psychology: Psychology, Human development

James J. Gibson (1979), The Ecological Approach to Visual Perception

http://architecture.about.com/od/ideasapproaches/a/geometry.html

http://www.themeasuringsystemofthegods.com/Sacred%20Geometry.pdf

https://erikrietveld.wordpress.com/

http://www.themeasuringsystemofthegods.com/Sacred%20Geometry.pdf

2 Comments »

  1. Hai manda, menurut kamu apakah keterhubungan dari kedua konsep di atas muncul dengan kesadaran sang designer atau tidak? Atau sebenarnya di dalam konsep bentuk geometri sendiri sudah ada pemikiran tentang affordancenya?😀

    Comment by nisrinameidiani — March 29, 2015 @ 22:37

  2. Halo Muthi! Terima kasih atas commentnya🙂 Menjawab pertanyaan Muthi, menurut saya kedua konsep di atas dapat secara sadar dimunculkan oleh designer maupun secara tidak sadar. Mengapa demikian? Seperti yang sudah dipaparkan di atas, di awal saya menyebutkan bahwa secara teori masing-masingnya baik affordance dan geometri memiliki kaitannya masing-masing dalam design. Geometri seperti yang kita ketahui memang dapat ditemui dalam setiap unsur duniawi termasuk di dalamnya manusia yang clearly menjadi objek design. Sedangkan affordance merupakan teori persepsi bagaimana sebuah subjek (manusia) memahami objek (lingkungan). Secara tidak sadar apabila sang designer mengawali designnya dengan teori affordance, terciptalah design yang secara geometris cocok dengan geometris tubuh manusia. Begitu juga sebaliknya bila design diawali dari teori geometri, maka secara tidak langsung akan menimbulkan affordance bagi manusia. Melalui postingan saya, sebenarnya saya “meng-encourage” designer untuk secara sadar memahami relasi kedua konsep ini agar design yang tercipta dapat secara bolak-balik disempurnakan. Dengan secara sadar memahami keduanya maka diharapkan design semakin sempurna secara geometrikal dan akan sesuai dengan affordance penggunanya.
    Semoga jawabannya cukup menjawab haha kalau belum maafkan boleh ditanyakan lagi🙂

    Comment by amandaalarissa — March 29, 2015 @ 23:20


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: