there’s something about geometry + architecture

March 29, 2015

Peran Geometri pada Masa Modernisme dan Post-Modernisme

Filed under: perception — nisrinameidiani @ 20:55
Tags: , , ,

Less is more” yang dibanggakan oleh Ludwig Mies van der Rohe, merupakan jargon yang sering kita dengar berkaitan dengan masa modernism. Para arsitek pada masanya menganggap bahwa rancangan yang bersih dan tertata rapih menandakan keindahan yang dimiliki oleh sebuah arsitektur.
Namun, pada tahun 1960an, terjadi suatu perubahan di dunia arsitektur. Para arsitek mulai berpikir bahwa keberadaan modernism berarti membatasi kreativitas seseorang, menghilangkan identitas dengan menyederhanakan semua rancangan dan menyamaratakannya. Masa ini kemudian dikenal dengan nama post-modernisme, dengan buku yang diterbitkan oleh arsitek Robert Venturi yang mengatakan “less is a bore

Kedua masa tersebut memiliki perbedaan dalam pembentukan form masing-masing. Namun keduanya tidak luput dari permainan geometri di dalamnya.

Pada masa modernism, pembentukan forma arsitektur didasarkan selalu pada fungsi dan efisiensi dari bangunan itu sendiri tanpa elemen-elemen penghias. Hal ini salah satunya disebabkan oleh keadaan para arsitek pada masa itu yang harus menghadapi keadaan paska perang dunia dan revolusi industri yang terjadi di berbagai macam tempat, karena itu bentuk-bentuk dasar geometri digunakan untuk menjawab tantangan design tersebut.

Dengan adanya bentuk-bentuk yang sederhana dan mudah diproduksi massal, hal ini menjadi salah satu nilai unggul bagi negara yang mampu membangun kembali negara mereka setelah terjadi keruntuhan. Kemudahan dalam membangun dan fungsi dari geometri dasar merupakan nilai yang diangkat oleh para arsitek pada zaman tersebut.

cid_2465382.250
Unite d’Habitation, Le Corbusier

cid_1136145405_3_32.250
Bauhaus, Walter Gropius

Sisi keindahan bagi para arsitek modernis ini bergantung pada kesederhanaan rancangan itu sendiri. Masing-masing arsitek memiliki rulesnya sendiri, seperti Walter Gropius dengan rasionality, functionalism and simplicity, Le Corbusier dengan 5 points of architecture, Mies van der Rohe dengan honest architecture, dan lain-lain.

cid_2507331.250
Villa Savoye, Le Corbusier

cid_1160283473_Crown_Hall_06.250
Crown Hall, Mies van der Rohe

 

Pada tahun 1960, terjadi sebuah revolusi di negara-negara Eropa dan Amerika. Revolusi ini dinamakan counterculture. Pada masa ini penyamarataan sesuatu merupakan hal yang tidak diinginkan, masing-masing ingin diakui keberadaan dan identitasnya. Hal ini juga mempengaruhi perkembangan arsitektur pada masanya.

Post-modernisme merupakan gerakan yang menentang modernism, bagi para arsitek post-modernis, elemen-elemen yang tidak dianggap pada saat itu justru merupakan poin penting. Forma-forma bangunan pun mulai berubah.

Keberadaan geometri dasar berubah dengan bentuk geometri yang lebih bervariasi. Bentuk-bentuknya justru digunakan sebagai media komunikasi dan penanda bagi bangunan-bangunan yang ada.

Sisi estetika yang tadinya memiliki pengertian sebagai simplifikasi dari sebuah bentuk berubah menjadi hal yang menjadi tanda dari bangunan itu sendiri. Masa Post-modernisme pada akhirnya menggunakan geometri juga sebagai jawaban atas tantangan tentang identitas yang dimiliki oleh sebuah komunitas.

PlazadeCastillaMadrid
Gate of Europe, Philip Johnson

MilwaukeeArtMuseum
The Milwaukee Art Museum, Santiago Calatrava

References:
http://www.wttw.com/main.taf?p=88,5
http://www.historiasztuki.com.pl/kodowane/003-02-02-ARCHWSP-POSTMODERNIZM-eng.php
http://www.metropolismag.com/Point-of-View/April-2013/Toward-Resilient-Architectures-3-How-Modernism-Got-Square/
http://www.cliffsnotes.com/more-subjects/history/us-history-ii/the-new-frontier-and-the-great-society/the-counterculture-of-the-1960s
http://www.greatbuildings.com

3 Comments »

  1. halo muthi😀 saya sangat tertarik dengan statement “less is more” yang diperdebatkan karena dianggap membosankan, menurut saya fungsional dan efficiency sangatlah menjadi alasan mengapa karya-karya seperti Walter Gropius dengan rasionality, functionalism and simplicity, Le Corbusier dengan 5 points of architecture, Mies van der Rohe dengan honest architecture, dan lain-lain masih banyak diterapkan oleh masyarakat saat ini dan tidak “termakan” oleh waktu jika dikaitkan dengan teori geometri lainnya misalnya golden ratio, golden ratio menyederhanakan setiap designnya dengan menggunakan proporsi 2 :1 yang merupakan bentuk penerapan less is more yang dibutuhkan user.

    Comment by nadyaazalia — March 30, 2015 @ 00:00

  2. bagaimana menurut muthi? apakah muthi menemukan teori geometri lainnya yang mendukung statement tersebut? terima kasih yaa muthi😀

    Comment by nadyaazalia — March 30, 2015 @ 00:02

  3. Halo nadia! Terima kasih atas komennya, kalau menurut saya pribadi sebenarnya memang fungsionalisme memang metode klasik yg bisa digunakan pada masa apapun, namun pada saat itu arsitektur modern dianggap membosankan karena adanya revolusi kultur yg terjadi di daerah barat, saat itu semua orang menginginkan suatu aktualisasi terhadap identitas, sehingga arsitektur modern yg “bersih” dianggap tidak dapat mewakili sebuah identitas, bahkan dia dikatakan sebagai “international style” sehingga dianggap menyamaratakan. Seperti yang saya jelaskan di atas, setiap masa arsitektur terjadi menurut dengan perkembangan tantangan zamannya, dan yg terjadi pada tahun 60an adalah krisis aktualisasi identitas. Jadi sebenarnya yg dianggap membosankan–menurut saya hehe–bukan fungsionalismenya, namun ketidakadaannya identitas dari sebuah arsitektur, itulah yang dipermasalahkan, untuk lebih jelasnya tentang background keadaan tersebut mungkin nadia bisa membaca tentang counterculture dan buku On The Rise chapter Postmodern Architecture and Its Origin😀
    Bagaimana nadia? Apakah cukup menjelaskan? Hehe😀

    Comment by nisrinameidiani — April 1, 2015 @ 21:30


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: