there’s something about geometry + architecture

May 23, 2015

Fleksibilitas Ruang Terhadap Mobius Strip Aktivitas

Filed under: everyday geometry,process — ignatiusadrian @ 00:05
Tags:

Dalam satu minggu, seorang manusia memiliki pola kegiatan yang berbeda setiap harinya. Hal ini menimbulkan pola yang berbeda di dalam tempat tinggal individu yang bersangkutan. Pola inilah yang membentuk suatu aliran seperti mobius strip karena selalu berputar dan tidak terputus, tetapi memiliki peredaan karakter di dalamnya. Dalam situasi aktivitas di dalam suatu rumah tinggal, tentu saja terjadi suatu saling silang antara ‘mobius strip’ seseorang penghuni terhadap ‘mobius strip’ orang lainnya. Dengan adanya saling-silang antara aktivitas seorang individu dengan individu lainnya, apakah susunan ruang dengan posisi yang tetap sesuai dengan kebutuhan dalam memenuhi aktivitas seluruh penghuni rumah? Selain itu juga bagaimanakah cara agar keberagaman aktivitas di dalam suatu rumah dapat tetap memiliki kekerabatan antar satu aktivitas dengan aktivitas lainnya?

Terdapat beberapa contoh rumah yang menerapkan fleksibilitas ruang untuk mengakomodir pola yang muncul dari aliran rutinitas manusia, salah satunya adalah Naked House oleh Shigeru Ban. Dalam perancangan rumah ini, arsitek menerapkan susunan ruang yang dapat disusun sesuai dengan kegiatan masing-masing anggota keluarga yang tinggal di dalam rumah ini. Rumah ini dihuni oleh keluarga yang terdiri dari suami-istri dengan dua orang anak dan nenek berusia 75 tahun. Pada awalnya penghuni sebagai klien menginginkan suatu rumah yang di mana seluruh penghuninya mendapatkan kebebasan melakukan aktivitasnya masing-masing di dalam satu ruang bersama dengan anggota keluarga lainnya. Tetapi dalam melakukan aktivitasnya tersebut, setiap anggota keluarga tetap mendapatkan privasi tetapi tidak merasa terpisah satu sama lain. Untuk itulah arsitek mencoba untuk mendapatkan susunan ruang yang dapat menyesuaikan dengan aktivitas para penghuninya [Ban, 2000].

1

Rumah ini berada di Kawagoe, Jepang dan kawasan ini memiliki aliran sungai dan padang serta terdapat rumah kaca. Untuk memaksimalkan efektifitas penggunaan ruang, arsitek merancang tapak bangunan dengan bentuk persegi panjang dengan ketinggian dua lantai tanpa dinding dalam. Untuk mendukung kebebasan dalam beraktivitas masing-masing individu di dalam rumah ini, di dalamnya terdapat empat buah ruangan privat yang dapat dipindahkan bagi penghuninya, dengan bagian atas yang dapat digunakan sebagai ruang tambahan. Empat ruangan privat di dalam rumah ini diletakan di dalam sebuah kubus dengan dua sisi yang terbuka dan memiliki roda di bawahnya yang berfungsi sebagai penggerak ruangan. Isi ruangan  disusun dengan material yang ringan seperti lantai tatami (lantai jerami Jepang) dan memiliki sedikit mebel dengan tujuan untuk mendapatkan beban ruangan yang ringan dan dapat dengan mudah digerakan ke berbagai arah sesuai dengan kebutuhan. Selain empat ruang privat yang dapat dipindah, terdapat pula ruang yang tidak dapat digerakan seperti dapur (berada di tengah-tengah rumah dan menempel pada dinding) dan kamar mandi (berada si salah satu sudut rumah). Dengan komposisi ruang yang tetap dan bergerak ini, diharapkan penghuni dapat mengatur ruang sesuai dengan aktivitas masing-masing tetapi dapat tetap menjalin kebersamaan seperti pada saat makan bersama [Ban, 2000].

3

Dari layout di atas, pergerakan ruang di dalam rumah memiliki tujuan agar penghuni rumah dapat mengatur susunan ruang privat masing-masing yang sesuai dengan komposisi aktivitasnya. Tetapi pada suatu titik terdapat ruang yang digunakan sebagai pertemuan antar beberapa/seluruh anggota keluarga di satu ruangan. Ruangan yang digunakan sebagai pertemuan antar anggota keluarga tersebut diletakan pada posisi yang permanen. Selain karena pengaruh sambungan utilitas, dapur berperan sebagai titik tengah dari seluruh aktivitas yang ada di sekitarnya, karena dapur merupakan ruang tempat berkumpulnya seluruh anggota keluarga pada saat makan pagi dan makan malam setiap harinya. Walaupun seluruh anggota keluarga memiliki aktivitas yang beragam, masih terdapat sebuah ruang yang berperan sebagai pusat dan titik pengikat utama alur kegiatan di dalam rumah ini.

4

Diagram di atas mencoba untuk menggambarkan kebutuhan akan adanya area poros tengah sebagai pengikat dari berbagai karakter alur kegiatan yang beragam. Dalam hal Naked House ini, poros tengah berguna sebagai pengikat alur kegiatan antar penghuninya agar selalu terbentuk suatu kekerabatan walaupun memiliki ruang privat yang dapat bergerak dan aktivitas yang berbeda. Dan juga dengan cara perancangan tanpa menerapkan letak ruangan yang tetap seperti Naked House ini, penghuni dapat menerjemahkan kebutuhuan ruang masing-masing sesuai dengan aktivitas dan kebutuhan.

Arsitek menyatakan ini merupakan gambaran akhir tentang bagaimana suatu rumah yang dapat mengakomodir gaya hidup yang fleksibel dan tanpa dibatasi oleh batasan-batasan dinding tanpa menghilangkan keterikatan antar anggota keluarga yang tinggal di dalamnya [Ban, 2000]. Dalam hal keterhubungan antar ruang, rumah ini memiliki bahasa yang baru dalam penyusunan ruang interior. Ruang di dalam rumah ini bukanlah sesuatu yang dibentuk oleh dinding, tetapi dibentuk oleh kebutuhan dan pengalaman setiap individu yang tinggal di dalamrumah tersebut. Arsitek tidak menjadi pihak yang menentukan ruang bagi penghuni rumah, tetapi arsitek sebagai pihak yang mendorong penghuni rumah untuk membentuk ruang dan keterhubungan antar ruang sesuai dengan karakter individu dan relasinya di dalam suatu hunian.

Referensi:

Ban, S. (2000). Naked House. Retrieved Mei 1, 2015, from Shigeru Ban Architect: http://www.shigerubanarchitects.com/works/2000_naked-house/

2 Comments »

  1. pembahasannya menarik. Menghubungkan mobius stripe dengan penggunaan ruang di dalam suatu bangunan. Tapi setelah membaca artikel ini, saya malah banyak melihat sisi topologi yang tampil, di mana anda banyak menjelaskan tentang hubungan aktivitas yang terjadi secara rutin dengan pembentukan ruang yang terjadi di dalamnya. Hal ini tentu saja berhubungan dengan pemahaman terhadap ruang yang dihadirkan, diiringi dengan dimensi waktu di dalamnya.. Bagaimana menurut anda? thx b4 yaa…..:)

    Comment by ranynasir — June 12, 2015 @ 11:01

  2. Dalam tulisan ini memang cukup sulit untuk memberi batasan antara topologi yang diwakili oleh bentuk fisik ruang dan kegiatan manusia yang tidak memiliki bentuk fisik. Bagi saya, hal tersebut terjadi karena pada masa kini manusia memiliki kecenderungan untuk menghubungkan suatu kegiatan dengan ruangan tertentu. Sebagai contoh, kegiatan makan dilakukan di ruang makan; memang itu tidak salah, tetapi apakah kegiatan makan (selalu) dilakukan di ruang makan? Beberapa orang ada yang makan di kamar tidur, ada yang di teras, ruang keluarga, atau ruangan lainnya. Oleh karena itu, apabila topologi dipisahkan dari keterhubungan antar ruang, maka akan muncul suatu situasi di mana hanya ada 1 ruang yang ada. Terlepas dari kebutuhan manusia akan ruang privat, memang manusia akan membentuk ‘ruangan-ruangan’ nya sendiri berdasarkan kebutuhan dan pengalaman dari masing-masing individu, meskipun ‘ruangan’ yang muncul tidak memiliki batasan fisik.
    Seperti manusia yang baru terlahir ke dunia, pangkuan sang ibu-lah yang menjadi ‘ruangan’ pertama baginya. Terima Kasih.

    Comment by ignatiusadrian — June 14, 2015 @ 22:55


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: