there’s something about geometry + architecture

June 3, 2015

Geometri dalam Perrtunjukan Gamelan Jawa

Filed under: Uncategorized — annisayoni @ 22:23

ssscPenyusunan tiap alat musik dalam suatu pertunjukan memiliki aturan khusus yang terkait dengan bagaimana musik itu di dengar dan bagaimana pertunjukan itu dilihat, termasuk dalam gamelan jawa.

Seni gamelan bagi orang jawa memiliki konsep yakni semakin halus ‘rasa’ dalam kita bermain, maka akan semakin baik.” titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lan legawaning ati, darbe sipat berbudi bawaleksana”  (Hadi Rukmana, 1896:35).

Analisis ini terbagi mejadi 3 pendekatan yakni fungsi, konteks tempat dan visual.

1. Fungsi

Setiap alat gamelan jawa memiliki peran masing masing, ada yang menjadi pemimpin, harmonisasi, pembuka, penutup, penyeimbang dan lainnya.

Berikut adalah diagram klasifikasi alat music berdasarkan fungsi dalam pertunjukan yang saya coba petakan dalam layout gamelan umumnya.

gm 1

Layout Gamelan Jawa

gm 3gm 2

cara penyusunan gamelan jawa yang menyebar, memberikan suatu irama yang tenang dan tidak menonjolkan karakter masing masing dan agar saling bisa menutupi apabila ada kesalahan nada. Dari komposisi yang menyebar ini membuat lagu yang terbentuk menjadi lagu yang tenang dan damai

  1. Konteks tempat

Prinsip bangunan sakaguru dengan empat diaplikasikan dalam Bangsal Manganti dan Keraton Yogyakarta secara keseluruhan, sehingga membentuk grid yang akhirnya menjadi salah satu pembatas dalam pembagian ruang. Sehingga prinsip ini memberikan bentuk ruang-ruang yang cenderung persegi/ persegi panjang. Dalam Bangsal Sri Manganti ini ruang yang digunakan untuk area penempatan gamelan pun berbentuk persegi panjang. Sehingga susunan gamelanpun memiliki susunan yang sama sebagai salah satu penyesuaian terhadap ruang.gm 5

Bangsal Sri Manganti, tempat pertunjukan gamelan

Sumber : http://abadtransport.com/kraton-museum-hidup-kebudayaan-jawa-dan-tempat-tinggal-raja-jogja/

gm 6

Prinsip Sakaguru yang digunakn pada rumah adat Jawa tengah, termasuk pada Bangsl Sri Manganti

Sumber:

gm 9Denah peletakan gamelan pada Bangsal Sri Manganti.

sumber: analisis penulis

  1. Visual

Gamelan jawa dari sudut penonton. Dari foto diatas dapat terlihat keharmonisan masing-masing elemen gamelan yang secara utuh terlihat tanpa saling egois menonjolkan masing-masing darinya.

gm 8

Foto menunjukkan pertunjukan gamelan

Sumber :

dengan analisis diagram oleh penulis

Gong yang lebih besar, yang perannya menjadi pemimpin dan sangat mempengaruhi suasana pertujukan diletakkan di belakang, untuk mengurangi dominasinya. Kenong yang cukup kuat juga untuk memotong lagu, dan ukurannya yang bsia dibilang lebih besar juga ditempatkan di belakang. Selanjutnya alat gamelan lainnya disusun rapi di depannya    . Untuk alat alat yang lebih rendah tingginya, karena berbentuk satuan yakni kendang, rebab dan suling diletakkan di depan tengah, dan jumlahnya hanya satu, karena kuat suaranya dna berfungsi untuk penghias lagu. Akhirnya dari susunan ini membentuk harmonisasi visual dalam susunan gamelan jawa.

Dari pembahasan tersebut dapat kita lihat bahwa antara penyusunan ruang gamelan, karakter suara yang tercipta dari gamelan jawa, bagaimana gamelan jawa dipertunjukkan dan prinsip hidup masyarakat jawa itu sendiri saling terintegrasi satu sama lain. Ruang yang ada dari awal perkembangannya mempengaruhi pola ruang dalam penyususnan gamelan, namun dari tatanan ruang yang ada tidak menjadi batasan dalam membuat susunan gamelan untuk menciptakan pertunjukan dengan suara dan visual yang harmonis.

Sumber

Hayati, Salma. 2012. Rumah Joglo: Sisi Fungsional dan Spiritual Arsitektur Jawa. Tersedia : http://jogjareview.net/seni/rumah-joglo-sisi-fungsional-dan-spiritual-arsitektur-jawa/. (5 Mei 2015)

Johannes Adiyanto, S.T.,(2012). Konsekuensi Filsafati Manunggaling Kawula Gusti Pada Arsitektur

Jawa. Disertasi doktor pada Program Doktor Bidang Keahlian Arsitektur Jurusan Arsitektur FTSP-ITS. digilib.its.ac.id/public/ITS-PhD-18005-3208301002-paperpdf.pdf

Panji Prasetyo, S.Hum.,(2012) Seni Gamelan Jawa sebagai representasi dari Tradisi Kehidupan Manusia Jawa : Suatu Telaah dari Pemikiran Collingwood. Skripsi Sarjana pada FIB UI : tidak diterbitkan.

Yuniarso, Agus. 2007. Bangunan Keraton Kasultanan Yogyakarta. Tersedia: http://agus.yuniarso.com/2007/10/bangunan-keraton-kasultanan-yogyakarta/#.VU_jXeTqGIU. (5 Mei 2015)

membuat susunan gamelan untuk menciptakan pertunjukan dengan suara dan visual yang harmonis.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: