there’s something about geometry + architecture

March 25, 2016

Golden Ratio and Typography

Filed under: Uncategorized — priscawinata @ 16:08
Tags: , , , ,
Typography 
(noun)
1. the art or process of printing with type.
2. the work of setting and arranging types and of printing from them.
3. the general character or appearance of printed matter.
Typography adalah teknik membuat dan menyusun huruf atau kata agar mudah dibaca dan jelas penyampaiannya.  Dalam dunia digital, banyak sekali font style yang digunakan untuk berbagai macam penulisan, mulai dari yang sederhana (basic font) sampai jenis font yang memiliki ornamen-ornamen tambahan yang bervariatif. Namun apakah semua jenis font itu mudah dibaca? bagaimana parameter suatu “font style” dapat dikatakan baik atau indah atau jelas untuk dibaca?
berikut adalah elemen-elemen yang ada dalam suatu teks:
typography
Perbandingan antar elemen dalam suatu teks sangat menentukan bagaimana teks dapat dibaca dengan jelas.
Dalam matematika, Golden Ratio dianggap sebagai perbandingan yang paling ideal dan sudah dipakai dari sekitar abad 400 SM untuk dijadikan patokan berbagai macam bentuk geometri. termasuk dalam menciptakan huruf-huruf alfabet yang berlaku secara universal sampai sekarang.
golden-ratio-roman-letters
800px-Fibonacci_spiral_34.svg
berbicara mengenai Golden Ratio tak lepas dari The Fibonacci spiral yang merupakan penggambaran proporsi tersebut. mari kita lihat bagaimana penggunaan golden ratio pada font style yang paling dasar dan paling sering digunakan untuk penulisan formal; Times New Roman
a

terbukti dari eksplorasi diatas, font Times New Roman menggunakan Golden Ratio dalam membuat huruf-hurufnya.

Golden Ratio dalam paragraf

Typography bukan hanya berbicara mengenai huruf ataupun kata tetapi juga mengatur bagaimana kumpulan kata-kata itu tersusun dalam paragraf yang dapat dibaca dengan baik.  indikator suatu paragraf dikatakan mudah dibaca tergatung dari lebar baris dan jarak antar baris dalam paragraf tersebut.

line-height-line-width.png

berikut adalah contoh dari dua paragraf yang memiliki ukuran font berbeda namun jarak antar baris yang sama.

sample-1-font-size.png

dari ilustrasi diatas terlihat bahwa semakin besar ukuran hurufnya, semakin besar juga jarak antar baris yang diperlukan. Disinilah Golden Ratio dapat terbuktu diaplikasikan dalam penulisan. dan dibawah ini terdapat grafik perbandingan antara lebar paragraf dan jarak antar baris yang ideal untuk beberapa jenis ukuran font.

line-height-vs-line-width.png

Prisca Winata
1306409223

 

Referensi:

http://www.dictionary.com/browse/typography

http://graphiceyedea.co.uk/11/typography-for-the-web/

http://www.pearsonified.com/2011/12/golden-ratio-typography.php

https://hamiltonianofdesign.wordpress.com/2014/01/28/the-science-behind-fonts-and-typefaces-geometrical-perfection-and-optical-illusions/

http://retinart.net/typography/typographicscale/

4 Comments »

  1. Haii pris, saya sangat tertarik melihat bagaimana golden ratio digunakan dalam typography. Berhubung saya sendiri juga belum terlalu paham cara kerja golden ratio, oleh karena itu di sini saya memiliki beberapa pertanyaan:
    1) Dalam eksplorasi golden ratio terhadap huruf-huruf diatas, saya tertarik untuk mengetahui bagaimana cara anda menentukan golden ratio pada suatu huruf? “Acuan titik/garis/bagian tertentu ‘apa’ dari golden ratio yang akhirnya bisa menentukan implikasi garis/titik/bagian tertentu ‘apa’ dari suatu huruf?” Karena di sini saya menemukan beberapa kejanggalan, contohnya: huruf O, P, dan Q memiliki komposisi golden ratio yang sama persis tapi huruf yang direpresentasikan jelas berbeda karena perbedaan eksistensi garis di bagian bawahnya. Hal yang sama juga terjadi pada huruf C yang salah satu sisi kurvanya terputus, serta huruf X dan Z. Kasus lain yaitu huruf Y yang memiliki 2 antena diatasnya seperti huruf V tetapi mendapat perlakuan golden ratio yang berbeda, yang mana pada huruf Y, pusat lingkaran terkecil dari golden ratio nya tidak diperlakukan secara spesial/unik di bagian itu, melainkan diperlakukan secara sama/balance di kedua sisi nya sementara penerapan golden sectionnya tidak menunjukkan demikian. Sehingga, pada kasus ini, peran ke-spesifikan golden ratio di sini apa? Apakah sekedar untuk membuktikan proporsi huruf saja secara whole atau sebenarnya dia dapat juga digunakan untuk mendefinisikan karakter unik setiap huruf secara part? Karena menurut saya, akan lebih menarik jika penggunaan golden ratio di sini tidak hanya untuk menentukan proporsi secara keseluruhan (whole) melainkan juga dapat menentukan karakter/keunikan setiap hurufnya secara part.
    2) Terlihat di atas bahwa dalam suatu huruf bisa terdapat beberapa kombinasi/dekomposisi golden ratio dan bisa juga tidak, apakah hal ini berpengaruh terhadap aspek keindahan yang dicapai? Apa perbedaan paling signifikan dari huruf yang memakai kombinasi golden ratio dan yang tidak (single golden ratio)?
    3) Adakah pattern/rule/kesimpulan tertentu yang bisa kita dapat dari eksplorasi golden ratio terhadap huruf di atas?
    Terima kasih

    Comment by tafiasabilaa — March 27, 2016 @ 17:42

  2. Halo Prisca, saya sangat tertarik dengan ilmu typography, dan memang sudah sempat mempraktekkan dan mempelajarinya. Sepengetahuan saya di dalam typography sendiri ada turunan ilmu yang bercabang dari typography. Jika typography dijelaskan sebagai “the art or proccess of printing type”, yang berarti semua huruf yang digunakan sama dan yang dimanipulasi dari tulisannya adalah layout dari huruf-hurufnya, di bawah typography ada yang bernama calligraphy, dan juga lettering. Kaligrafi adalah “the art of expressing a text beautifully” dan di dalamnya seorang pelaku caligraphy tersebut menggunakan gaya tulisan (font) yang sama berulang-ulang dengan elemen desain yang diubah ubah untuk meningkatkan keindahannya. Hal itu dapat disamakan dengan typography yang Prisca uraikan di atas, dan dapat diterapkan juga prinsip Golden Ratio yang sudah diuraikan di atas juga. Namun, di ilmu lanjutannya lagi, yaitu Lettering “the art of drawing letters” Seorang Letterer tidak hanya menulis dengan satu font, ia bisa bereksperimen dengan lebih dari satu font dan meletakkan tulisan-tulisannya sesuai dengan yang ia mau.

    Dengan penjelasan di atas, saya ingin menanyakan apakah Golden Ratio dapat diterapkan dalam segala jenis typography dan dalam segala level? Jika tidak, mengapa tidak? karena sesungguhnya dalam membuat suatu karya lettering, butuh juga pengaturan komposisi, dan menurut penjelasan di atas, penggunaan golden ratio dalam typography adalah dalam menentukan proporsi dari sebuah layout yang berarti juga menyangkut terhadap komposisi sebuah hasil typography tersebut.

    Jika iya golden ratio dapat digunakan di segala jenis dan level, maka apakah semua hasil lettering, calligraphy bergantung pada golden ratio agar memiliki komposisi yang baik? Karena salah satu kesulitan saya sebagai salah satu yang mempraktekan ilmu typography ini adalah proporsi sebuah kata atau kalimat yang ingin disampaikan dengan keseimbangan antar tiap elemen, dan terkadang yang akhirnya dilakukan adalah mengada-ngada peletakan / layouting dari sebuah hasil typography

    Dan yang saya ingin tahu juga, bagaimana menentukan pembentukan suatu huruf dari Golden Ratio, berdasarkan analisis huruf diatas, sepertinya Golden Ratio ditemukan di dalam huruf tersebut, namun bukan digunakan dalam pembentukan hurufnya itu sendiri. Apakah pembentukan suatu huruf paling efektif jika menggunakan Konsep Golden Ratio ini?

    Terima Kasiiih..😀

    Comment by luthfieryando — March 27, 2016 @ 21:28

  3. terima kasih tafia atas pendapat dan pertanyaannya:) dari eksplorasi saya pribadi mengenai hubungan golden ratio pada huruf-huruf diatas awalnya memang hanya ingin mebuktikan proporsi secara keseluruhan dari sebuah huruf. setiap jenis font tentunya memiliki keunikan yang berbeda namun memiliki proporsi yang mayoritas sama. contohnya proporsi pada huruf y dimana lingkaran dan ekornya memiliki proporsi sekian sehingga orang lain dapat mengenali itu sebagai huruf Y. disini saya sempat mencari tahu darimana alfabet ini muncul atau siapa kah penciptanya. saya mendapati bahwa huruf-huruf yang kita kenal sekarang (abcd…) itu merupakan hasil perkembangan dari simbol-simbol yunani kuno. nah untuk penggunaan golden ratio di setiap keunikan karakter per part itu saya temukan di beberapa jenis font yang berbeda.namun disini maksud saya adalah membuktikan bahwa beberapa jenis font yang dianggap “basic” (times new roman, calibri, arial) atau paling mudah dibaca atau dijadikan sebagai dasar dari style2 font yang beragam memiliki pattern proporsi tertentu yang saya dapatkan ternyata ada peran golden ratio didalamnya.
    apakah ada perbedaan signifikan dari huruf yang memakai kombinasi golden ratio dan yang tidak biasanya hanya pada kompleksitas atau variasi huruf itu sendiri yang menghasilkan “font style” yang berbeda2 (biasanya para thypographer suka menciptakan jenis font yang bermacam2 sesuai tema tertentu dll)
    banyak jenis font yang karena terlalu “kreatif” jadi tidak jelas dibaca karena proporsi huruf2nya tidak beraturan. misal a sering disalah artikan sebagai o dsb..

    saya memang belum menemukan data yang valid mengenai asal usul keunikan dari setiap huruf , apakah benar golden section digunakan untuk menentukan keunikan masing2 huruf. mungkin selanjutnya akan diperdalam studi saya mengenai hubungan goldens section dengan typography.

    Comment by priscawinata — March 27, 2016 @ 21:37

  4. halo luthfi, terima kasih atas tanggapan dan pertanyaan diskusinya. sebenarnya sedikit sama dengan tanggapan saya kepada tafia diatas (boleh dibaca dan didiskusikan lebih lanjut juga), yang saya lakukan masih sebatas membandingkan proporsi suatu komponen dalam sebuah huruf.
    jika dalam lettering yang anda jelaskan diatas, dimana letterer menggunakan lebih dari satu jenis font dan bereksperimen dalam kombinasi tersebut, golden ratio bisa saja diterapkan. namun apakah perlu selalu menggunakan golden ratio dalam segala jenis dan level dalam typography? saya pribadi masih bertanya-tanya apakah parameter indah hanya sebatas “sesuai golden ratio” saja?.. menurut saya pribadi, indah tidak seharusnya hanya masalah visual. indah tidak juga hanya tergantung pada selera. indah dapat dicapai ketika setiap unsur keindahan itu memiliki makna/fungsi/tujuan.. bukan hanya sekedar “enak dilihat” tetapi dalam konteks ini, style yang seperti apa yang diperlukan? tentunya style untuk tulisan yang ditujukan untuk kepentingan formal akan berbeda dengan style untuk keperluan lain. yang jelas, jangan sampai variasi pada huruf2 yang dilakukan pada teknik calligraphy maupun lettering merusak makna dari huruf2 itu sendiri sehingga malah membuatnya menjadi sulit dibaca. terima kasih luthfi🙂

    Comment by priscawinata — March 27, 2016 @ 22:09


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: