there’s something about geometry + architecture

March 26, 2016

Euclidean – Non Euclidean Geometry in fruits

Filed under: Uncategorized — dindaagithawuri @ 20:41

Geometri Euclidean merupakan geometri yang dikembangkan oleh Euclid, seorang matematikawan Yunani pada 300SM. Ia mengemukakan idenya tentang geometri pada bukunya yang berjudul the Elements.
Geometri Euclidean bangun datar dan bangun ruang merupakan jenis geometri Euclidian yang populer. Geometri Euclidean adalah geometri yang terdiri dari elemen titik, garis, sudut, paralel, yang diatur oleh postulat-postulat. Contohnya dalam bangun datar adalah persegi, persegi panjang, segitiga. Sedangkan pada bangun ruang adalaah kubus, tetrahedron, oktohedron, dsb. Sedangkan geometri non Euclidean adalah geometri yang berangkat dari pengembangan postulat-postulat dari Euclidean yang beranggapan bahwa bentuk tidak hanya sebatas persegi dan garis-garis saja.

Yang ingin saya bahas disini bagaimana dengan geometri Euclidean yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pada pengolahan bentuk buah sebagai bahan makanan. Mengapa buah? Buah merupakan benda yang berasal dari proses pembuatan yang berada langsung di alam. Bentuk buah sendiri merupakan bentuk alami yang berasal langsung dari pohonnya tanpa campur tangan manusia.Buah juga merupakan sumber makanan yang mudah didapatkan dan diolah untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia.

Terkait dengan geometri, beberapa buah memiliki bentuk-bentuk geometri dasar Euclidean, dan  ada juga yang non Euclidean. Lalu bagaimanakah bentuk-bentuk tersebut mempengaruhi cara pengolahannya maupun hasil akhir dari pengolahan buah tersebut?

 

Contoh kasus pada buah yang berbahan dasar non Euclidean. Apa saja yang dapat terjadi ketika buah tersebut di olah? Misalnya buah pisang. Buah pisang memiliki bentuk non Euclidean geomtetri, ketika ia di jus, buah pisang menjadi tidak berbentuk Euclidean maupun non-Euclidean, ia akan mengikuti bentuk wadah tempat jus pisang tersebut disimpan. Sedangkan ketika dipotong, buah pisang tersebut memiliki bentuk planar Euclidean, yaitu lingkaran.

Lalu pada buah blueberry. Buah blueberry memiliki bentuk Euclidean geometri, ketika ia dipotong, bentuk Euclidian masih ada. Ketika ia mulai disatukan kedalam adonan pancake, bentuknya telah berubah menjadi bentuk non Euclidean. Ketika dijadikan selai, ada bagian blueberry yang dilumatkan seutuhnya, ada juga yang masih dipertahankan bentuknya untuk menjaga eksistensi dari bentuk dan rasa bluberry tersebut. Ketika ia di jadikan smoothies, ia tidak menjadi bentuk Euclidean maupun non Euclidean geometri melainkan mengikuti bentuk cawan.

 

Pada buah belimbing, buah ini ketika sebelum dipotong memiliki bentuk non Euclidean secara samar-samar, ketika dipotong, buah ini berbentuk seperti bintang yang terdiri dari bentuk Euclidean segitiga-segitiga pada ujungnya, dan pentagon pada bagian tengahnya. Ketika ia dijadikan pie, ia akan menjadi bentuk Euclidean menyerupai pie tersebut, bagaimana pie tersebut dipotong. Dan ketika ia dijadikan smoothies, ia akan mengikuti cawannya.

Saat memperlakukan buah sebagai makanan, terkadang juga tidak hanya memperhatikan aspek enak atau tidaknya buah tersebut. Tetapi juga memperhatikan aspek estetika dari teknik pengolahan buah.

Contohnya pada gambar semangka, semangka tersebut berbentuk Euclidean pada awalnya, dan ketika dipotong sedemikian rupa ia menjadi bentuk non Euclidean. Ketika disatukan, semangka tersebut terlihat memiliki bentuk Euclidean persegi pada bagian dalamnya, dan non Euclidean pada bagian kulit-kulitnya.

Pada gambar kedua merupakan potongan buah-buah yang dibentuk menyerupai kubus-kubus Euclidean. Potongan bentuk tersebut tidak terlihat seperti identitas buah pada aslinya, namun pemotongan dilakukan pada bagian buah yang tetap memliki identitas buah tersebut. Misalnya pemotongan pada nanas yang permukaannya berlubang, pemotongan semangka dan kiwi pada permukaan yang memiliki biji, pemotongan pepaya pada serat-seratnya, dsb.

Pada gambar ketiga merupakan komposisi dari buah jeruk-jeruk yang memiliki warna dan jenis yang berbeda. Buah jeruk ini sebelum dipotong berbentuk Euclidean dan setelah dipotong memiliki bentuk Euclidean ketika dilihat dari potongannya, namun ketika melihat keseluruhannya, bentuk tersebut bukan merupakan bentu Euclidean melainkan non Euclidean.

 

Pengolahan bentuk-bentuk pada buah sebagai makanan diterapkan sesuai dengan interpretasi apa yang ingin dihasilkan oleh pembuat makanan tersebut. Misalnya, beberapa bentuk buah dipertahankan untuk menghasilkan makanan yang memang ingin dikenali dari buah tersebut. Dan biasanya proses pengolahannya tidak terlalu lama agar bentuk buah tidak terlalu banyak di proses dan tidak hilang. Misalnya pancake blueberry atau potongan buah yang langsung santap.

Sementara bentuk-bentuk yang dilumatkan biasanya untuk makanan dengan prospek agar lebih mudah dicerna, dan untuk membantu manusia yang memakannya tidak kesulitan dalam proses makannya. Atau bentuk buah tersebut biasanya dilumatkan namun biasanya ada sesuatu yang dapat teridentifikasi oleh indera manusia selain indera visual. Contohnya, buah yang dihancurkan dan dicampur dengan adonan lain namun baunya tetap teridentifikasi, misalnya pancake durian.

Terkait dengan bentuk Euclidean dan Non Euclidean, bentuk tersebut terkait dengan proses pengolahannya pula. Bisa jadi pada buah yang berbentuk Euclidean, hasil akhirnya dapat berupa non Euclidean, maupun tetap Euclidean itu sendiri. Begitu pula sebaliknya pada bentuk non Euclidean. Beberapa bentuk dipertahankan untuk menjaga identitas dari buah tersebut.

 

Dinda Agithawuri Widyakinanti

1306404771 – Arsitektur Interior

 

Daftar Referensi:

http://foodgeometry.weebly.com/  Theorem of food geometry

https://www.bc.edu/content/dam/files/offices/dining/pdf/THE%20NEW%20ENGLAND%20CLASSIC.pdf

Mata Kuliah Apresiasi Seni, Bab Teori Makanan

 

1 Comment »

  1. Artikel ini sangat menarik, Ketika benda padat maka ia memiliki geometri namun ketika cairan ia tidak memiliki Geometri. Saya melihat bahwa anda menjelaskan hanya ketika sekelompok buah diolah dan bagaimana geometri itu berkonversi menjadi geometri maupun non-geometri, Namun apakah ada pengaruh pelatakan juga? Maksudnya bagaimana suatu buah yang sudah hilang geometrinya digabungkan buah yang masih utuh geometrinya? Akankah buah itu menghasilkan suatu geometri baru, ataukah buah memiliki ‘key and lock’ tersendiri sehingga ia harus dicocokkan hanya dan hanya dengan buah berjenis yang memiliki mutualisme dengan jenis buah yang akan dicocokkan?

    Comment by bennychandra — March 28, 2016 @ 01:30


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: