there’s something about geometry + architecture

March 27, 2016

ARSITEKTUR YANG TERJERAT GEOMETRI

Filed under: Uncategorized — lisarahmadhaniutami @ 17:27

Lisa Rahmadhani Utami – 1306446300

 

Bagaimaan hubungan arsitektur dengan geometri? Bisakah arsitektur terlepas dari geometri?

Tidak ada batasan dalam geometri. Akan selalu ada momen dimana kita perlu memikirkan geometri dalam sebuah rancangan. Seluruhnya mempunyai aturan dalam geometri. Seluruhnya selalu saja ada alasan dan argumen mengapa sebuah bentuk memiliki bentuk yang demikian. Keseluruhannya memberikan penjabaran bahwa arsitektur memang tidak pernah bisa lepas dari geometri. Geometri benar-benar menjerat arsitektur.

Pernyataan pada paragraf diatas didasari oleh 3 poin pemikiran yang ditemukan guna menjawab hubungan arsitektur dengan geometri.

  1. Adanya kesamaan cakupan dimensi antara arsitektur dengan geometri
  2. Geometri merupakan asal mula berkembangnya arsitektur
  3. Cabang dari ilmu geometri yang telah berkembang, secara dan tidak sadar diimplementasikan juga didalam dunia perancangan arsitektur

Adanya kesamaan cakupan dimensi antara arsitektur dengan geometri. Seperti yang kita ketahui, pada mulanya manusia merancang dimulai dari sebuah bidang yang digambar. Perancang berkutat pada menciptakan denah, tampak dan potongan yang indah dimana kesemuanya itu berada dalam konteks 2dimensi. Seiring dengan berjalannya waktu, manusia mulai menggunakan model dalam merancang, dimana model itu sendiri berada dalam konteks 3dimensi. Dan output dari perancangan arsitektur itu sendiri juga berada dalam konteks 3dimensi. Bagaimana dengan geometri? Sudah sangat jelas bahwasannya geometri pasti memiliki keterkaitan dengan objek-objek berdimensi. Bahkan penjelasan geometri mendasar yang dikemukakan oleh Euclid dalam kelima postulat-nya pada 13 buku Euclid’s Elements-nya tidak melepaskan objek 2dimensi dan 3dimensi.

Geometri merupakan asal mula berkembangnya arsitektur. Mengutip Vitruvius, “Arsitektur adalah ilmu yang timbul dari ilmu-ilmu lainnya, dan dilengkapi dengan proses belajar: dibantu dengan penilaian terhadap karya tersebut sebagai karya seni”. 
Arsitektur terbentuk karena adanya kebutuhan misalnya kebutuhan kondisi lingkungan yang kondusif, keamanan, dan sebagainya. Kemudian manusia menjadi lebih maju dan pengetahuan manusia mulai terbentuk melalui tradisi lisan dan praktek-praktek dan saat itu arsitektur berkembang menjadi ketrampilan. Dan pada saat itu, Ilmu untuk mengukur bumi telah berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Jadi, arsitektur menggunakan ilmu geometri untuk mulai memahami konsep dasar bentuk yang nantinya akan diaplikasikan langsung di permukaan bumi.

Geometri terus berkembang sangat pesat sehingga dapat digunakan dalam proses perancangan arsitektur. Munculnya beberapa statemen yang menyatakan architecture as a representation of Cartesian coordinats (grid;axis), architecture as a geometric compotions of surface dan architecture as a composition of regular solids yang menunjukkan adanya pengimplementasian salah satu cabang ilmu geometri (Euclid) didalam ranah arsitektur.

Dari pemikiran di atas kita dapat melihat bahwasannya geometri dan arsitektur telah mengalami suatu perkembangan yang sangat pesat. Selalu ada keadaan dimana geometri digunakan sebagai alat untuk mencapai sebuah rancangan arsitektur. Dan selalu ada pula saat-saat dimana geometri digunakan untuk menjelaskan sebuah arsitektur untuk dipelajari proses merancangnya. Geometri sekarang ini sudah berkembang menjadi sebuah bidang keilmuan yang sangat luas dimana hal ini dapat terlihat bahwasannya hampir semua yang ada di dunia ini bisa dikaitkan dengan geometri. Dengan demikian, arsitektur pun tidak luput dari geometri. Arsitektur yang pada mulanya memiliki proses perancangan yang sederhana (hanya merupakan susunan komposisi, simetri dan proporsi) sampai arsitektur yang proses perancangannya sangat kompleks, semuanya memiliki unsur-unsur geometri yang harus dikaji dan dipelajari. Ide apa pun yang merupakan awal ide perancangan, bisa kita kaitkan ke geometri, bukan hanya bentuk, tetapi juga esensi dan sirkulasi yang ada dalam rancangan kita. Oleh karena itu, pemikiran ini mencoba untuk menunjukkan bahwa dalam merancang sebuah arsitektur secara tidak sadar kita pasti akan terjerat dengan geometri. Geometri dalam arsitektur memiliki sifat menjerat, karena sebagai perancang tidak bisa untuk tidak mempertimbangkan geometri.

Referensi :

Elam, Kimberly. (2001). Geometry Of Design. New York: Princeton Architectural Press.

Calter, P. (1998). Geometry in Art & Architecture. http://www.math.dartmouth. edu/ %7Ematc/math5.geometry/unit13/unit13.html

http://arsitektur.net/57/volume-1-no-1-geometri-dalam-arsitektur-membebaskan-atau-mengikat/

 

 

 

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: