there’s something about geometry + architecture

March 27, 2016

The Crisis Of Geometry

Filed under: Uncategorized — lisarahmadhaniutami @ 17:44

Seperti trend yang memiliki krisis pada umumnya, krisis pada geometri sendiri untungnya dapat dikenali. Tampaknya, dunia tak lagi menerima form geometri, baik sebagai transcendental order, detached signifier, atau sebagai basic gestalt of visual perception saja. Dari kondisi seperti ini, beberapa pertanyaan dasar kembali muncul : Sebenarnya apa tujuan geometric form digunakan pada kebudayaan kita? Mengapa lingkungan modern saat ini begitu terobsesi dengan geometric form sehingga terlihat sangat berusaha menciptakan bangunan dengan komplesitas dan ekslusivitas tinggi?

Kita dapat menemukan adanya great geometric orderings di lingkungan industri. Dimana-mana kita dapat menemukan struktur geometri baik itu di kota, industri, sekolah, rumah, transportasi dan rumah sakit. Dengan geometric form memungkinkan form untuk dapat di teruskan, diukur dan distandarisasi seperti zaman industrialisasi dimana semua dapat dikontrol dan diproduksi secara maksimum.

 Kemudian, kita dengan mudahnya dapat menemukan suatu obesesi masyarakat modern terhadap geometri dengan hanya melihat keluar. Masyarakat pada umumnya menganggap geometri sebagai suatu bentuk re-interpretasi akan form yang lebih maju dibanding bentukan minimalism dan ‘60s formalism.

9410ae177480bfe4f17932ff233db6cd

Ideal City Le Corbu

0fa319232d2a7cdc08fccc727dd1469d

Bentukan Geometry pada Housing

images-8

Similar base geometry in New York City

Bagaimana kalian melihat crisis of geometry saat ini? Mengapa seni geometri begitu mudah diterima di negara kita, dan mengapa image dari geometri sendiri menjadi sangat penting pada public iconography?

Lisa Rahmadhani Utami – 1306446300

Referensi

Published in Arts Magazine, New York Vol.58, No.10, June 1984 (http://www.peterhalley.com)

1 Comment »

  1. Saya tertarik dengan pembahasan anda mengenai the crisis of geometry. Memang benar bahwa banyak bangunan yang memiliki bentuk yang mirip karena bisa jadi memiliki fungsi yang sama namun menurut saya hal itu bisa jadi terjadi karena penerapan metode tipologi yang kurang mendalam. Proses pengeliminasian terjadi hanya sampai pada mencari persamaan, bukan mencari esensi dari apa yang akan dibangun sehingga bangunan yang tercipta menjadi mirip-mirip. Hal itulah yang seharusnya dihindari oleh seorang perancang karena dalam merancang harus ada konsep yang matang sehingga bangunan yang dihasilkan merupakan pengaplikasian dari pengembangan bentuk geometri pada umumnya. Namun tidak ada salahnya jika bangunan memiliki bentuk geometri dasar asalkan memang memiliki fungsi yang tidak bisa digantikan dengan bentuk lain.

    Comment by farahfadhilahiskandar — March 28, 2016 @ 10:02


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: