there’s something about geometry + architecture

March 27, 2016

Rasio Emas sebagai Mitos Desain

Filed under: classical aesthetics — lissachristielopessurya @ 11:06
Tags: , , , , ,
Marquardt-Beauty-Mask-Photoshop-Revision
Silakan klik link berikut ! Rasio Emas pada Wajah Manusia yang Indah
Namun, seiring bertambahnya waktu, banyak kritik yang dilontarkan oleh para akademisi berkaitan dengan status dari Rasio Emas. Salah satunya oleh Markowsky  dalam tulisannya Misconceptions about the Golden Ratio pada tahun 1992 :
Generally, its mathematical properties are correctly stated, but much of what is presented about it in art, architecture, literature and aesthetics is false or seriously misleading. Unfortunately, these statements about the golden ratio have achieved the status of common knowledge and are widely repeated. Even current high school geometry textbooks . . . make many incorrect statements about the golden ratio. It would take a large book to document all the misinformation about the golden ratio, much of which is simply repetition of the same errors by different authors.
sehingga menurutnya, tidak ada parameter yang pasti untuk mendeskripsikan keindahan dari sebuah karya seni.  John Brownlee-penulis Artikel The Golden Section: Design’s Biggest Myth- beranggapan bahwa seniman atau desainer yang masih mempraktekkan aturan Rasio Emas dalam karyanya adalah manusia yang masih terjebak dalam ilusi keindahan di masa lampau.
” It’s bullshit. The golden ratio’s aesthetic bona fides are an urban legend, a myth, a design unicorn. Many designers don’t use it, and if they do, they vastly discount its importance. There’s also no science to really back it up. Those who believe the golden ratio is the hidden math behind beauty are falling for a 150-year-old scam”, tulisnya
Screen Shot 2016-03-27 at 11.41.25

Rasio Emas dideskripsikan pertama kali sekitar 2.300 tahun yang lalu dalam buku Euclid’s Elements. Kasus dari penggunaan Rasio Emas pada dasarnya mirip dengan Pi.”Strictly speaking, it’s impossible for anything in the real-world to fall into the golden ratio, because it’s an irrational number,” ungkap Keith Devlin, seorang profesor matematika di Universitas Stanford. Jika prinsip penggunaan Rasio Emas dilakukan, maka akan didapatkan angka 1,618…Hal ini justru yang menjadi masalah karena tidak mungkin ditemukannya hasil yang spesifik seperti lingkaran, tidak mungkin untuk menemukan lingkaran yang sempurna. Kemungkinan besar tidak ada dua benda yang secara tepat berada pada kondisi “emas” yang dianggap sebagai keindahan murni. Yang dapat dilakukan hanyalah memberikan rasio-rasio yang mendekati jangkauan “keemasan”. Dan, kemudian, apakah mendekati itu sudah cukup untuk mendeskripsikan keindahan?

Bisa saja hal itu terjadi. Namun, menurut Devlin, ide bahwa Rasio Emas memiliki kaitan dengan estetika adalah sebuah kekeliruan yang berkaitan dengan Luca Pacioli, yang salah disitasi oleh Mario Livio yang merupakan seorang penulis buku tentang Rasio Emas, dan Adolf Zeising, yang hanya berbual tentang Rasio Emas.
Pertama ia mengatakan bahwa ada kekeliruan dalam pemahaman terhadap Rasio Emas yang dimuat dalam Buku De Divina Proportione karangan Luca Pacioli.  Luca justru tidak menyebutkan sebuah teori proporsi Rasio Emas yang berkaitan dengan estetika yang harus diaplikasikan pada seni, arsitektur dan desain, melainkan teori Vitruvius mengenai proporsi yang rasional. Rasio Emas yang ditemukan pada lukisan Leonardo Da Vinci juga merupakan asumsi dari hasil asosiasi dengan teori Luca Pacioli, di mana Luca Pacioli dan Da Vinci berteman baik di masa itu.
Kedua, Zeising yang dipertanyakan sistematika analisisnya sehingga Devlin skeptis terhadap konsepsi yang dikeluarkan oleh Zeising. Namun, Devlin tidak heran apabila Rasio Emas kemudian menjamur dan sulit untuk hilang karena adanya Mozart Effect yang terjadi dan juga karakter alamiah manusia. “We’re creatures who are genetically programmed to see patterns and to seek meaning,” ujarnya. Manusia cenderung tidak tahan terhadap hal-hal yang sulit dijelaskan sistematikanya, sehingga ada kecenderungan untuk mengungkapkan sebuah keteraturan di alam semesta.

Gunting yang Berdasarkan Rasio Emas. Bagaimana menurut Anda? Apakah indah? -Ian Yen via Yanko Design

Devlin juga menambahkah bahwa ada preferensi  proporsi lain yang lebih diminati oleh manusia berdasarkan eksperimen yang dilakukannya. Begitu pula Richard Meier yang mengganggap bahwa ada angka-angka lain yang lebih penting untuk bekerja dalam desain sehingga mampu meghasilkan sebuah desain yang baik dan lebih bekerja untuk kenikmatan inderawi.

Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah popularitas dari Rasio Emas itu sendiri. Banyak terjadi pro dan kontra terhadap teori tersebut. Beberapa pihak merasa bahwa teori tersebut adalah sesuatu yang sangat membantu dalam membuat sebuah karya yang baik, di lain pihak terdapat berbagai pendapat yang belum bisa menerima cara Rasio Emas bekerja.  Saya cukup setuju dengan pendapat Markowsky bahwa tidak ada parameter eksak yang pasti untuk dapat mengukur keindahan suatu karya seni. Bagi beberapa aspek inderawi yang bersifat kualitatif, akan sangat sulit untuk menjelaskannya secara kuantitatif. Mungkin persepsi inderawi yang diterima bisa dimanifestasikan dalam kata-kata yang identik seperti, indah, harum, dan enak. Namun, apakah kemudian persepsi inderawi yang diterima oleh satu subjek dapat secara sama bekerja pada subjek lain? Dalam mempersepsikan sesuatu, manusia menggunakan pengalamannya sebagai indikator penyeleksi untuk merefleksikan persepsi apa yang kemudian akan hadir. Jadi, akan sulit untuk merangkum seperti apa itu keindahan yang sesungguhnya walaupun kita sudah mampu mendekati tahapan yang sesungguhnya itu.  Bagaimana menurut Anda? Apakah “mendekati” sudah cukup? Apakah yang kita butuhkan sebenarnya keteraturan, bukanlah keindahan?

Referensi :

 

Lissa Christie Lopes Surya                                                                                                                     Arsitektur Interior                                                                                                                                       1306412994

 

3 Comments »

  1. tidak dapat dipungkiri bahwa golden ratio menjadi kontroversi diberbagai belahan dunia. saya setuju dengan pendapat bahwa ” Manusia cenderung tidak tahan terhadap hal-hal yang sulit dijelaskan sistematikanya, sehingga ada kecenderungan untuk mengungkapkan sebuah keteraturan di alam semesta” dan menurut saya sebenarnya Golden ratio itu sendiri hanya menjadi “pembelaan” bagi perancang agar karyanya diakui “indah”. namun apakah keindahan hanya terukur oleh proporsi, simetri, ritme, dan teori2 itu? apa makna keindahan yang sesungguhnya menurut anda pribadi? terima kasih

    Comment by priscawinata — March 27, 2016 @ 21:47

  2. Halo Prisca, sebenarnya akan menjadi menarik apabila Anda juga dapat menyertakan argumentasi Anda mengenai “pembelaan” yang dikemukakan. Mengapa kemudian Anda dapat menyatakan pernyataan tersebut? Saya sebenarnya juga memiliki pertanyaan yang mirip dengan Anda. Apakah keindahan dapat dijelaskan secara sederhana oleh prinsip-prinsip tersebut? Apakah keindahan merupakan sesuatu yang sangat mudah untuk dikuantifikasikan? Apakah keindahan sesederhana itu? Bagaimana kemudian persepsi indah secara spesifik bekerja di dalam diri manusia? Bagaimana pendapat Anda? Berdasarkan apa yang saya pahami, masalah proporsi, simetri, ritme, yang dianggap sebagai indikator keindahan pada dasarnya merupakan anggapan yang sangat bersifat kontekstual. Jika kita boleh sedikit melihat sejarah di masa lampau, Vitruvius memaparkan tentang kaitan antara proporsi tubuh manusia dengan proporsi bentukan jenis-jenis kolom yang dianggap indah di dalam bukunya. Manusia di masa itu dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang paling sempurna, tidak boleh kita lupakan konteks sosiokultural yang terjadi dimana agama, kepercayaan dan Gereja masih sangat bersifat absolut dalam menentukan rasio dan cara berpikir dari masyarakat yang ada. Oleh karena itu, keindahan yang berasal dari manusia dianggap sebagai keindahan yang agung sehingga proporsi dan simetri yang ditemukan pada anggota tubuh manusia menjadi tolok ukur keindahan. Namun, berbeda di masa Revolusi Industri Eropa. Durand mengatakan bahwa keindahan itu merupakan sebuah hasil dari sifat ekonomis. Di era arsitektur modern pun juga dijelaskan bahwa sesuatu yang tidak bersifat ornamental dan sederhana justru yang lebih digemari karena dianggap lebih indah. Jadi, menurut saya pribadi, makna dari sebuah keindahan yang sejati adalah kesesuaian. Kesesuaian terhadap konteks yang menjadi perhatiannya. Pas pada porsinya. Tepat pada perannya Tidak ada yang pasti dari keindahan itu sendiri, karena pengertian dan juga persepsi masyarakat terhadap indah itu cenderung berubah dan sangat mudah dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya. Terima kasih🙂

    Comment by lissachristielopessurya — March 27, 2016 @ 23:53

  3. Terima kasih lissa🙂 saya sependapat dengan anda karena menurut saya keindahan juga lebih dari sekedar memenuhi kriteria2 kesimetrisan ataupun proporsi dr aturan2 yang ada. Keindahan bersifat relatif. Namun bukan relatif terkait selera semata, namun juga terkait fungsi dan makna di setiap ruang dan waktu yang spesifik

    Comment by priscawinata — March 28, 2016 @ 00:03


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: