there’s something about geometry + architecture

March 28, 2016

Komposisi Ruang Euclidean Dalam Karya Katarzyna Kobro

Filed under: architecture and other arts,classical aesthetics — kevinromariodharmasena @ 02:21
Tags: , ,
spatial-composition-4-1928
Spatial Composition 4 (1928)

Komposisi di atas nampaknya sudah tidak asing lagi, terutama bagi mereka yang berkutat dengan desain, ruang, dan seni. Katarzyna Kobro adalah seorang perupa asal Rusia yang lahir tahun 1898. Karya-karyanya, seperti di atas, adalah karya yang dipengaruhi gerakan Konstruktivisme yang berkembang di Rusia. Kobro mencoba membuat komposisi sedemikian rupa sehingga tidak ada ruang yang terbentuk karena enclosure, sehingga karyanya terlihat seperti susunan bidang planar dalam ruang tiga-dimensional. Namun yang unik di sini adalah bagaimana dia mengkonstruksikan karyanya dalam ruang.

spatial-composition-ii-1928.jpg!Blog
Spatial Composition 2 (1928)

Pada era itu tentunya sudah banyak gerakan seni yang mencoba mengaplikasikan geometri non-Euclidean seperti pada Kubisme. Kobro memiliki kekhasan dalam menggunakan ruang sebagai wadah untuk menyelipkan bidang-bidang planar, walau tidak semua karyanya seperti demikian (contohnya Rzeźba Abstrakcyjna II di bawah). Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, bidang planar seperti adalah bidang yang ada dalam model ruang Euclidean. Dapat dilihat bahwa Kobro mencoba membuat ruang tanpa batasan bidang, namun masih dalam batasan model ruang Euclidean (perlu diingat bahwa model ruang non-Euclidean sudah banyak dipakai dalam karya-karya seni sejak awal abad 20).

rze-ba-abstrakcyjna-ii-1924.jpg!Blog
Rzeźba Abstrakcyjna (Abstract Sculpture) II (1924)
rze-ba-przestrzenna-1925.jpg!Blog
Rzeźba Przestrzenna (Spatial Sculpture) (1925)
spatial-composition-nr-6-1931.jpg!Blog
Spatial Composition 6 (1928)

Penyusunan bidang-bidang di ruang tiga dimensional memang berpotensi memunculkan ruang-ruang, namun Kobro memilih untuk melakukan komposisi murni menggunakan bidang-bidang planar. Tetapi justru batasan yang ia pakai dalam konteks karyanya menjadi representasi yang ikonik dalam Konstruktivisme. Karyanya tergolong influental di era di mana representasi tiga-dimensional masih terbatas dan belum ada representasi digital yang membuat orang bisa membuat objek tiga-dimensional dengan mudah. Influensi karyanya, sebagaimana karya Konstruktivis lain juga dapat dilihat pada Bauhaus, dan penggunaan warnanya yang mengingatkan kita pada karya-karya Piet Mondrian.

tumblr_nsj07tRxR51s3v5i1o4_500
Spatial Composition 9 (1933)

Namun pada karyanya Spatial Composition 9 di atas, terlihat juga usahanya untuk lepas dari constraint Euclidean, walaupun masih ada paralelitas pada bagian di mana ruang itu bertemu dengan tapak, dan basis bidang datar yang dipelintir di ruang tiga-dimensional. Dalam konteks ini dapat dilhat kalau constraint Euclidean mungkin lebih dikarenakan tools yang tersedia pada waktu itu belum mampu merangkai ruang yang terlalu kompleks.

Salah satu tulisannya yang menarik, tentang spatio-temporal rhythm, menjadi basis merangkai bentuk-bentuk geometri planar menjadi satu kesatuan yang uniform. Kobro menjelaskan, banyaknya kemungkinan bidang dalam ruang adalah tidak terbatas, dan bidang yang satu pasti berbeda dengan bidang yang lain. Uniformity dicapai saat ia memproyeksikan bidang-bidang itu menggunakan ritme-ritme potensial yang dimiliki tiap bidang. Hal ini dapat menjelaskan mengapa karya-karyanya kebanyakan berbentuk seperti ruang yang “tidak selesai” karena yang coba ia bangkitkan adalah ruang yang potensial, bukan ruang yang sesungguhnya/ruang yang tampak. Gagasan spatio-temporal rhythm Kobro tertuang dalam tulisan Sculpture and Solid yang dimuat di majalah Europa tahun 1929, dengan delapan poin kesimpulan yang ia tarik:

  1. a sculpture is a part of space; its organic quality depends on its incorporation into space,
  2. a sculpture is not a formal composition in its own right; it is a composition within space,
  3. dynamic qualities of a succession of shapes add up to produce a uniform rhythm within time and space,
  4. a harmonious rhythm derives from measure which is based on numbers,
  5. architecture helps to organize man’s movements in space, hence its character of a spatial composition ,
  6. architecture is meant not only to design comfortable and functional dwellings,
  7. architecture has to combine everything: distribution of everyday utilities, structural inventions and colour qualities, as well as to give direction to shapes which will then determine the rhythm of man’s life within architecture,
  8. a printed page consists of successively arranged (so as to match the content of the text), spatial units (printed planes); that is why its lay-out should follow numerical measure.

Tampak jelas penekanan Kobro tentang “ritme” spasial temporal yang menurutnya penting untuk dijadikan basis dalam menyusun bidang-bidang menjadi satu bentuk yang uniform.

(Source: http://culture.pl/en/artist/katarzyna-kobro; http://www.ddg.art.pl/kobro/documentation.html; http://www.wikiart.org/en/katarzyna-kobro)

2 Comments »

  1. Karya Katarzyna Kobro ini memang unik, karya konstruktivismenya jika dilihat dari bagaimana komposisinya terbentuk, disusun sedemikian rupa berdasarkan bidang-bidang planar dalam ruang 3 dimensi sehingga tidak ada ruang yang terbentuk dari enclosure. Apakah hanya spatio-temporal rhythm yang diperhatikan dalam mencapai uniformity pada penyusunan dan komposisi karya Katarzyna Kobro? Atau ternyata masih banyak pendekatan dalam membuat karyanya.

    Comment by rifqipratamap — March 28, 2016 @ 11:23

  2. Dalam berbagai kesempatan, Kobro sering menggunakan spatio-temporal rhythm untuk menjelaskan ide sculpture karyanya. Namun, Kobro juga tentunya menggunakan traits lain dalam mensintesis forma akhirnya. Salah satunya yang dapat dilihat mungkin adalah warna. Warna bagi Kobro adalah sarana untuk memberikan penekanan dan kontras antar bidang sehingga intensi spatio-temporal rhythm dapat terlihat oleh orang awam sekalipun. Uniformity pada karyanya juga dapat tercipta karena pemikiran penggunaan material cukup tipis dan memberikan kesan planar tanpa adanya dimensi ketiga yang menonjol.

    Comment by kevinromariodharmasena — April 8, 2016 @ 22:07


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: