there’s something about geometry + architecture

May 8, 2016

Audio City : sebuah gagasan bagi Kota Non-Visual (khususnya tuna netra)

Filed under: ideal cities — stevannyp @ 23:18

-Ketika sebuah kegiatan sehari-hari dan alat yang digunakan menentukan karakter instrumen yang tercipta-

“Humans have a multitude of senses. Sight (ophthalmoception), hearing (Audioception), taste (gustaoception), smell (olfacoception or olfacception), and touch (tactioception) are the five traditionally recognized” (Jones, 2013, p.20).

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah tuna netra, yang dalam menyerap informasi tidak didominasi oleh penglihatan namun indra lainnya. Namun, perencanaan sebuah kota seolah-olah hanya menggunakan penglihatan (secara visual) dalam membangun dan mengembangkan sebuah kota sehingga istilah kota layak huni mungkin tidak berlaku bagi sekelompok masyarakat tertentu.

  1. Bagaimana jika sebuah perencanaan kota melibatkan indra pendengaran? Apa yang terjadi jika sekumpulan karakter suara yang berbeda disusun sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah harmoni yang menjadi dasar perencanaan kota?
  2. Dapatkah dengan ketidakhadiran satu jenis suara akan merangsang manusia menjadi peka terhadap apa yang kurang atau apa yang terjadi di sekitarnya?

 

“It will concentrate especially on one particular visual quality: the apparent clarity or “Legibility” of the cityscape” (Lynch, 1960, p. 2).

Ada lima tipe elemen yang diklasifikasikan Lynch (1960) dalam sebuah kota berdasarkan physical form yaitu: paths, edges, districts, nodes, dan landmarks. Legibilitas atau sifat mudah dibaca – Lynch fokus pada aspek visual yang membuat sebuah kota menjadi jelas dimana batasnya, terdiri dari daerah apa saja berdasarkan kesamaan unsur di dalamnya, apa yang dapat dijadikan acuan dan apa yang menjadi daya tariknya. Dalam mengalami sebuah ruang kota, berdasarkan apa yang dikemukakan Lynch dapat dipahami bahwa kota hanya untuk memenuhi kebutuhan visual, bagaimana memahami sebuah kota dengan melihatnya.

Dengan melihat penyebab bagaimana manusia hanya melihat dan “tidak” mendengar maka ada beberapa poin yang saya kemukakan sebagai cara yang saya sebut Audio City dapat dilakukan:

  1. Minoritas : kendaraan

Posisi jalan bagi kendaraan berada di antara bangunan (pertokoan, tempat tinggal, dll) sehingga sumber suara berada di tengah dan dapat didengar dari kedua sisi bangunan di kiri dan kanannya. Saat ini, dominasi suara kendaraan akibat tingginya jumlah kendaraan membuat bising bagi sekitarnya dan suara-suara lain menjadi hilang karena tidak terdengar. Layer-layer suara yang saling overlap dengan salah satu intensitas yang lebih besar akan mendominasi bahkan meniadakan suara lainnya. Dalam sebuah harmoni, layer-layer suara dapat memiliki intensitas yang lebih besar namun tidak diperkenankan menghilangkan suara lainnya pada saat yang bersamaan, sehingga jika yang diinginkan adalah menghilangnya suara lain maka suara harus menghilang atau berhenti dengan sendirinya, tidak overlap hingga meniadakan suara lain. Oleh karena itu, saya berpikir bahwa akses bagi kendaraan berada di luar atau di pinggir, tidak mengkontaminasi dengan dilingkupi suara lain, membuatnya memiliki jarak lebih besar untuk mengurangi intensitas suaranya.

  1. Horizontal time : mapping kegiatan dan karakter suara

Kemudian, setiap kegiatan dipetakan (mapping) menurut karakter sumber suara yang dapat dihasilkan dari kegiatan tersebut. Prinsipnya hampir sama dengan musik instrumental sehingga susunannya akan dipengaruhi jenis instrumen dan jarak antar instrument tersebut. Misalnya saja toko daging dengan karakter suara yang dimilikinya berasal dari alat pemotong atau pisaunya yang bertumbukan dengan alasnya. Pada posisi relatif manusia di titik tertentu, suara tersebut akan menjadi lebih keras dan lebih lembut. Saya mencoba mengelompokkan karakter suara menjadi beberapa kategori yang dapat saya rasakan:

karakter Jenis instrumen unsur instrumen  volume
light instrumen keras sedikit instrument bermain (2 atau 3 instrumen) volume rendah
heavy instrumen lembut banyak instrumen bermain volume keras
stable semua instrumen pola berulang volume tidak berubah
motion suara seperti transportasi (mobil, kereta, dll) cepat berulang volume tidak berubah
dark bass woody dan mellow volume sangat rendah
dry senar drum atau balok-balok kayu dinding yang dilapisi kain volume tinggi tanpa resonansi
sweet suara wanita harmonis volume tinggi – tipis
clear tanpa suara, instrumen, dan melodi dipahami dengan cepat volume berubah

(jenis karakter diperoleh dari : www.composertools.com)

Dalam proses mendengar untuk menemukan tempat yang dituju maka akan terdengar harmoni yang telah disusun sehingga dalam perjalannya seperti berjalan dalam garis-garis nada. Suara yang dihasilkan setiap waktu tetap sama (karena jenis kegiatan yang sama di setiap posisinya) namun karena manusia yang bergerak maka susunan suara tersebut menjadi berbeda-beda kombinasi antar karakter suaranya. Jika selama ini ketika mendengarkan lagu yang terjadi adalah kita tetap dalam sebuah posisi dan nada-nada dalam lagu tetap berjalan, hubungan antara pendengar dan sumber suara tidak saling terkait. Namun dalam hal ini, manusia yang bermanuver di dalamnya sehingga posisi relatifnya terhadap posisi sumber suara yang lain akan mempengaruhi susunan instrumen yang akan terdengar – manusia dapat menentukan sendiri apa yang ingin didengarnya. Sebuah kota memiliki keberagaman yang lebih memungkinkan terjadinya susunan instrument yang lebih beragam juga sehingga dalam setiap waktu akan lebih konsisten harmoni yang dihasilkannya dibandingkan jika dilakukan dalam skala keberagaman yang lebih rendah.

  1. Vertikal layering

Pada titik statis tertentu, jika kita berhenti dan berarti meng-capture satu susunan instrument tertentu, akan menjadi lebih spesifik bukan hanya secara layer horizontal namun juga secara vertikal. Bangunan mix-use yang dipromosikan untuk memperoleh keberagaman, mengurangi penggunaan kendaraan, dan memperbesar interaksi dapat menambah layer instrument baru yang dapat didengar bukan hanya ketika bergerak namun ketika diam. Sehingga dalam keadaan bergerak atau keadaan diam, karakter sebuah daerah akan menjadi kuat karena susunan instrument yang tidak mungkin sama baik secara jenis, jumlah jenisnya, jarak antar jenis, dan lain-lain. Sama halnya dengan lagu yang hanya tercipta dari tujuh not namun jutaan lagu tetap dapat tercipta dengan karakternya masing-masing begitu pula jika jenis instrument kegiatan lebih dari tujuh.

  1. Menimbulkan distraksi : menghindari kejahatan

Kesepakatan atau order yang dilakukan akan mempermudah mengidentifikasi disorder yang terjadi. Maksudnya adalah susunan instrument tersebut, dengan menjauhkan sumber suara yang meniadakan suara lainnya, akan memperjelas terdengarnya suara-suara lain. Disorder yang dimaksud seperti kejahatan yang mungkin terjadi. Sumber suara dari teriakan manusia di antara harmoni suara lainnya akan mudah didengar orang lain karena menimbulkan ketidakteraturan di antara keteraturan harmoni yang lainnya. Hubungan antara order yang kaku (rigid order) dan disorder bukan sebuah hubungan anti tetapi lebih kepada bagaimana dikombinasikan sehingga dapat meminimalisir perbuatan negatif yang mungkin terjadi di sebuah kota.

 

Sebuah ruang tidak harus jelas dibayangkan dengan visual namun abstraksi yang diinterpretasikan berbeda oleh setiap orang dengan kemampuan indra yang berbeda pula bisa jadi lebih menarik dibandingkan sesuatu yang sudah jelas dipahami, lebih dapat berimajinasi, memahami sebuah ruang dengan mengoptimalkan indra lainnya. Skala perkotaan yang dimaksud disini adalah dengan karakter keberagamannya yang membuatnya berpotensi untuk menjadi kota yang ramah terhadap indra lainnya, salah satunya dengan apa yang saya sebut sebagai Audio City. Untuk skala yang lebih kecil seperti rumah juga dapat diterapkan namun karakter kota yang memiliki apapun di dalamnya baik pelaku dan peristiwa menjadi lebih mungkin dilakukan. Setiap titik tertentu atau dalam proses bergerak dari satu titik ke titik lainnya akan mendengarkan susunan instrument dari susunan kegiatan yang diatur sedemikian rupa berdasarkan karakter kegiatannya (dari alat yang digunakan, suara yang dihasilkan, waktu yang ramai dikunjungi, dan lain-lain). Manusia punya kendali penuh terhadap apa yang ingin dia dengar atau tidak dengar, berusaha memanusiakan manusia dengan mengembalikan manusia pada kemampuan dasar yang dimilikinya dan sedikit berusaha “meminggirkan” unsur suara yang selama ini mengisolasi kemampuan indra lainnya. Kepekaan manusia dalam lingkungannya (baik terhadap alam maupun sesama manusia) menjadi menurun dengan ketersediaan semua teknologi, dengan susunan elemen yang homogen sehingga menjadi sulit membedakan mana yang baik dan tidak, mana yang berbahaya dan tidak, akan dan sedang terjadi apa. Sehingga Audio city berusaha merangsang kepekaan manusia dengan mengoptimalkan indra yang kurang dioptimalkan, yang tentunya akan menjadi lebih waspada dan peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Referensi:

Jones, Alan. (2013). Personal and Psychic Development. (Online). Tersedia: https://books.google.co.id [8 Mei 2016]

Lynch, Kevin. (1960). The Image of The City. Cambridge: MIT Press.

 

Stevanny Putri

1306367095

2 Comments »

  1. gagasan ini menarik, penyusunan berdasarkan audio pada skala kota belum pernah saya temukan sebelumnya. Menurut saya akna lebih menarik jika anda dapat menemukan hubungan antara aktor manusia dengan penempatan ini. Bagaimana jika ada peruntukan daerah yang memang di rancang untuk menciptakan kuaitas suara tertentu?Bagaimana susunan ruang urbannya? terima kasih

    Comment by nadiamirra — May 12, 2016 @ 12:44

  2. @nadiamirra Terima kasih atas masukannya. Hubungan kegiatan akan berpengaruh pada siapa aktor yang bekerja dibaliknya, namun saya belum menganalisa lebih jauh lagi tentang penyusunan secara keseluruhan. Berdasarkan teori bunyi, maka ada beberapa aturan yang dapat ditetapkan seperti menghindari sudut 45 antara sumber bunyi dan pendengar, dan lain-lain. Saya juga tertarik untuk mengembangkan Audio City ke dalam eksperimen untuk mengetahui batasan dan kemungkinan yang bisa dilakukan Audio City, yang mungkin berguna ke depannya.

    Comment by stevannyp — June 10, 2016 @ 09:01


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: