there’s something about geometry + architecture

May 9, 2016

CERITA DIBALIK LEMBARAN SAP PA4

Filed under: Uncategorized — lisarahmadhaniutami @ 16:48

apakah lipatan kerns SAP PA4yang telah terdeformasi pada seita lembrança ini ada kaitannya dengan konsep folding pada arsitektur ? Dan lebih jauhnya, bagaimana keterkaitannya dengan konsep topologi? Bagaimana benda sederhana ini mampu menjelaskan keterhubungan antara folding dengan topologi?

Screen Shot 2016-05-09 at 4.34.15 PM

Terdapat suatu makna yang mendalam dan rumit pada kertas-kertas tersebut dimana terdapat serangkaian perlakuan yang pada akhirnya akan menyebabkan adanya perubahan bentuk, permukaan dan lain-lain. Melihat lebih jauh kepada kertas-kertas tersebut, kita akan dapat menemukan banyak tektonik yang bekerja dibaliknya, baik itu berupa fold, compress, wrap, rotate, twist, press dan lain-lain sehingga konsep folding tidak bisa hanya direpresentasikan dengan “melipat” saja.

Dilihat secara eksterior (luar), jika kita melihat gambar kertas diatas no 5, kita akan melihat adanya fold yang mendominasi sedangkan untuk gambar kertas no 6, kita akan melihat lebih banyak tektonik wrap. Kita akan melihat gambar 5 sebagai makna akan ketidaksengajaan terlipat dan gambar 6 sebagai kesengajaan dilipat. Setiap tektonik yang bekerja pada proses folding itu sendiri akan meberikan representasi makna yang berbeda pula. Oleh karena itu, menurut saya, ada suatu sifat yang sangat spasial pada konsep folding kertas-kertas ini sendiri. Kemudian, konsep folding pada kertas ini mebuatnya menjadi suatu objek yang tidak dikenali sebelumnya (abstrak). Sehingga menurut saya, terdapat suatu nilai eksploratif pada konsep folding kertas-kertas ini yang menyebabkan terkadang sulit terdefiniskan.

Screen Shot 2016-05-09 at 4.34.21 PM

Jika kita mencoba membongkar untuk mengenali proses yang terjadi pada lipatan kertas SAP yang pertama, kita akan melihat garis-garis lekukan yang merepresentasikan proses folding kertas ini. Garis yang berwarna hijau menunjukkan adanya proses fold dan garis hitam putus-putus menunjukkan proses wrap. Melihat wujud akhir dari kertas, menurut saya proses diawali dengan proses wrap yang kemudian baru dilanjutkan dengan proses fold karena jika proses dibalik, maka akan menghasilkan wujud yang berbeda.

Dua buah proses folding yang memiliki tahap yang sama, tetapi dapat menghasilkan bentuk yang berbeda, bahkan jika proses yang sama tersebut berada pada langkah pertama hingga akhir sekalipun. Hal ini dikarenakan, dalam proses folding tidak memiliki rules yang mengikat pada proses tektoniknya. Sehingga bisa saja walaupun dengan proses folding yang sama, tetapi memiliki perbedaan terhadap orientasi, luasan tektoniknya dan lain-lain

Screen Shot 2016-05-09 at 4.34.26 PM

Lalu bagaimana keterkaitannya dengan topologi?

Screen Shot 2016-05-09 at 4.34.30 PM.png

Pada gambar diatas, dapat dilihat bahwa setiap halaman memiliki genus yang berbeda. Halaman pertama dan ketiga tidak memiliki genus. Halaman kedua memiliki 3 genus. Halaman keempat memiliki 2 genus. Halaman kelima dan keenam masing-masing memiliki 1 genus. Dalam pemikiran topologi, halaman pertama dan ketiga dapat saling menjadi. Halaman kelima dan keenam dapat saling menjadi dikarenakan masing masing halaman memiliki satu genus, walaupun ukuran genus berbeda dan posisinya juga, sehingga dalam proses saling menjadinya dapat digeneralisir dengan genus dilakukan stretching ataupun twisting dan tidak menambah genus baru. Halaman kedua dan keempat tidak dapat saling menjadi dikarenakan jumlah genus yang berbeda. Sehingga jika dilakukan stretching dan twisting sedemikian rupa tetap tidak akan dapat saling menjadi. Oleh karena itu, menurut saya topologi sangat berbeda dengan folding, dimana folding sangat memperhatikan proses dibandingkan hasil, sedangkan topologi lebih banyak melakukan generalisasi pada prosesnya. Tetapi, Walaupun berbeda, pada intinya folding dan topologi sama-sama mengangkat tahapan sekuensial dalam rangka mendeformasi sebuah benda.

Topologi pada dasarnya memperhatikan sifat dasar dari sebuah ruang dimana ia berada dalam ranah matematika dan geometri. Persamaan yang mungkin dapat ditarik dari keduanya adalah kemampuan mereka untuk memberikan perlakuan tertentu pada sebuah benda yang menyebabkan berubahnya (bentuk, permukaan, volume, makna dan lain-lain) benda itu yang sering dikenal dengan istilah deformasi.

Pada akhirnya, saya dapat melihat bahwasannya topologi ini sendiri membahas tentang keterhubungan yang dapat dikaitkan dengan folding. Sehingga dengan benda sesederhana kertas SAP PA4 dibaliknya terdapat cerita bagaimana langkah-langkah proses folding dan deformasi dalam topologi, keduanya menampakkan keterhubungan antara sebuah benda dengan benda lain. Lebih tepatnya, bagaimana sebuah benda menjadi benda lain dengan prosesnya masing-masing melalui sebuah benda sederhana dengan dua buah perspektif yang berbeda.

Referensi :

Vyzoviti, Sophia. (2003). Folding architecture: Spatial, structural and organizational diagrams. Amsterdam: BIS

Lisa Rahmadhani Utami

-1306446300-

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: