there’s something about geometry + architecture

March 19, 2017

The ‘Beauty’ of Beaux Arts in Architecture

What Is Beaux Arts Architecture?

Di Perancis, istilah Beaux Arts (/ˌboʊˈzɑːr/) berarti seni rupa atau seni yang indah. Gaya arsitektur Beaux Arts ini berasal dari Perancis, berdasarkan ide-ide mengajar di sekolah seni legendaris di Paris, yaitu L’École des Beaux Arts, yang berasal dari Neoclassicism (menggabungkan arsitektur klasik dari Yunani kuno dan Roma dengan ide-ide Renaissance) yang juga menjadi bagian dari gerakan Renaissance Amerika antara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 (Draper, 1977). Karena ukuran dan kemegahan bangunan yang menjadi salah satu ciri dari gaya Beaux Arts, maka gaya ini paling sering digunakan untuk bangunan umum seperti museum, opera, stasiun kereta api, perpustakaan, bank, gedung pengadilan, dan gedung-gedung pemerintah (Fricker, 1998).

Geometri yang digunakan dalam arsitektur Beaux Arts berfokus pada lingkaran dan grid. Bentuk grid juga dapat diperluas menjadi persegi panjang yang proporsional agar sesuai dengan kebutuhan ruang fungsional dan sebagai sarana untuk mengembangkan hierarki dan kesatuan dalam komposisi (Drexler, 1977). Teknik untuk mengembangkan hierarki adalah penggunaan sumbu simetri yang dapat ditelusuri ke bacaan Vitruvius, The Ten Books on Architecture, dimana salah satu prinsip dasar arsitektur berada pada simetri dan harmoni. Sementara, komposisi diperlukan untuk keindahan, ‘beauty’, dari keseluruhan komposisi yang ada terhadap Beaux Arts. Disini, saya mengambil contoh terhadap dua bangunan yang sekiranya cukup dikenal akan gaya  Beaux Arts-nya dan memperlihatkan ‘beauty’ yang dimiliki:

  • Palais Garnier, Paris, Perancis.

Palais Garnier (/palɛ ɡaʁnje/) di Paris, Perancis adalah opera house dengan 1.979 kursi yang dibangun pada 1861-1875 untuk Paris Opera. Awalnya disebut sebagai Salle des Capucines, karena lokasinya di Boulevard des Capucines yang kemudian menjadi dikenal sebagai Palais Garnier sebagai pengakuan atas kemewahan bangunan dan arsiteknya sendiri, Charles Garnier. Bangunan ini memiliki popularitas yang sama dengan bangunan terkenal di Perancis lainnya, seperti  Notre Dame Cathedral, Louvre, atau Sacré Coeur Basilica. (https://en.wikipedia.org/wiki/Palais_Garnier)

1

https://en.wikipedia.org/wiki/File:Paris_Opera_full_frontal_architecture,_May_2009.jpg

2

https://en.wikipedia.org/wiki/File:Palais_Garnier_plan_d%27ensemble_-_Nuitter_1875_p196_-_Google_Books.jpg

4

https://en.wikipedia.org/wiki/File:Opera_Garnier_Grand_Escalier.jpg

5

https://en.wikipedia.org/wiki/File:Palais_Garnier_auditorium_and_stage.jpg

6

https://en.wikipedia.org/wiki/File:Op%C3%A9ra_Garnier_facade_with_sculpture_labels.jpg

  • Thomas Jefferson Building, Washington, D., Amerika Serikat.

Merupakan yang tertua dari tiga bangunan United States Library of Congress, Gedung Thomas Jefferson dibangun di tahun 1890 – 1897. Desain dan konstruksinya memiliki sejarah yang berliku-liku; arsitek utama bangunan ini adalah Paul J. Pelz, awalnya dalam kemitraan dengan John L. Smithmeyer, dan digantikan oleh Edward Pearce Casey selama beberapa tahun terakhir pembangunan. Bangunan bergaya Beaux Arts ini dikenal dengan fasad yang meniru gaya klasik dan interior dengan dekorasi rumitnya. (https://en.wikipedia.org/wiki/Thomas_Jefferson_Building)

a1

https://www.loc.gov/item/2007684215/

a3

https://www.aoc.gov/capitol-buildings/thomas-jefferson-building

a2

http://www.loc.gov/pictures/item/2002719567/

a4

https://librarymom12.wordpress.com/2013/04/24/happy-213th-birthday-library-of-congress/

a5

http://www.loc.gov/pictures/resource/highsm.03185/

Terlihat dari dua contoh yang ada, bahwa beberapa hal yang mendefinisikan karya arsitektur dengan gaya Beaux Arts terhadap ‘beauty’-nya adalah; fokus pada hirarki simetri ruang interior yang dirancang sedemikian rupa untuk menyampaikan adanya kesan monumental, detail klasik pada kolom (corinthian) dan pedimen, interior yang sangat dekoratif, patung-patung yang melekat pada façade, dan lantai pertama yang dinaikkan. Gaya ini terlihat sangat mempertimbangkan fungsi ruang; merincikan kebutuhan pengguna dan menerapkan prinsip-prinsip sirkulasi untuk berfungsi secara praktis dan efisien pada masanya.

Rafi Mentari

1606842000

Bibliografi:

Fricker, Jonathan; Fricker, Donna; Duncan, Patricia. Louisiana Architecture: A Handbook on Styles. Lafayette, Louisiana: Center for Louisiana Studies, University of Southwestern Louisiana, 1998.

Draper, Joan. The Ecole des Beaux-Arts and the Architectural Profession in the United States: The Case of John Galen Howard. Dalam: The Architect: Chapters in the History of the Profession, Spiro Kostof, ed., Oxford University Press, NY 1977.

Drexler, Arthur; Richard Chafee. The Architecture of the École des beaux-arts.  New York : Museum of Modern Art; Cambridge, Mass. Distributed by MIT Press, 1977.

Advertisements

5 Comments »

  1. dari penjabaran geometri yang diterapkan dalam denah denah diatas, dikatakan bahwa geometri itu menerapkan prinsip-prinsip sirkulasi. Bisa dijelaskan prinsip sirkulasi yang diterapkan itu yang seperti apa? Lalu apakah gaya Beaux-Art ini hanya diterapkan pada denah? bagaimana dengan fasadnya? apakah fasadnya juga menerapkan geometri?

    Comment by dindaayu6 — March 26, 2017 @ 19:02

  2. Halo Dinda! Yang saya maksud sebagai prinsip-prinsip sirkulasi disini berupa perpaduan antara ruang satu dengan lainnya yang dapat dihubungkan secara vertikal maupun horizontal. Kemudian, menurut pendapat saya, tidak hanya denah, fasadnya juga menerapkan geometri karena menunjukkan proporsi dalam pembagian secara vertikal maupun horizontal baik dalam segi bentuk, ukuran, dan posisi. Semoga menjawab pertanyaannya! c:

    Comment by Rafi Mentari — March 27, 2017 @ 08:40

  3. Halo rafii,
    saya tertarik dengan bangunan classic, dan seperti beaux arts yang dituliskan oleh rafi. Di sini saya ingin bertanya, apakah beaux arts itu berbeda dengan baroque? Ataupun kalau ada kesamaan, dapat dilihat kesamaannya dari segi apa ya? Apakah ada pola – pola atau mekanisme tertentu yang membuatnya berbeda ataupun sama? Terimakasih.. :>

    Comment by benitaariyani — March 27, 2017 @ 10:51

  4. Halo Benita! Saya coba jelaskan berdasarkan apa yang saya pahami mengenai arsitektur baroque dari kelas sejarah arsitektur semasa S1. Menurut saya, sepertinya beaux arts itu beda tipis dengan baroque. Bila dilihat secara interior, beaux arts terlihat monumental dipenuhi kolom dengan detail klasik (corinthian) dengan ukiran-ukiran dengan warna kolom yang senada. Sementara pada baroque, meskipun sama-sama memiliki kesan monumental, dia fokus kepada ornamen yang sangat detail dengan warna khas, yaitu emas, yang dipadukan dengan warna lain. Tapi, yang paling menonjol dari interior baroque adalah ukiran patung dan langit-langit yang dipenuhi dengan wall painting. Kontras cahaya juga dilakukan sedemikian rupa sehingga memiliki kesan dramatis. Kalau untuk eksteriornya sendiri, beaux arts khas dengan kolom (corinthian) dan pedimen serta patung-patung yang melekat pada fasad. Sementara baroque, adanya ukiran serta pahatan pada dinding, memiliki bagian yang melengkung (arch), dan adanya kubah. Mungkin untuk eksterior perlu pencarian serta pemahaman lebih lanjut, tapi semoga pertanyaan Benita sudah cukup terjawab disini ya c:

    Comment by Rafi Mentari — March 28, 2017 @ 05:06

  5. izin copas..

    Comment by Riswan. Saputra — August 5, 2017 @ 12:36


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: