there’s something about geometry + architecture

May 29, 2017

Zootopia: The Ideal City

Filed under: Uncategorized — hutaari @ 18:21

satisfying one’s conception of what is perfect; most suitable

adalah definisi dari kata “Ideal” yang tercantum di kamus Oxford. Merujuk kepada pengertian ini (perfect dan most suitable) teringat akan sebuah kota yang saya rasa cukup menggambarkan pengertian tersebut.

Apakah kalian familiar dengan Zootopia? Ya, Zootopia adalah kota yang menjadi setting film animasi garapan Disney dengan judul yang sama di tahun 2016 kemarin. Dalam film tersebut, Zootopia dikatakan sebagai kota terbesar di dunia yang dihuni oleh berbagai spesies hewan dari seluruh penjuru dunia. Anyone can be anything, demikian quotes yang beberapa kali diulang sepanjang film untuk mendeskripsikan kehidupan di Zootopia. Lalu apa yang membuat Zootopia adalah kota yang ideal?

Zootopia2

Gambar 1. Zootopia dengan berbagai ekosistem di dalamnya

Jika kita merujuk pada Ideal City yang digagas pada zaman modern yang begitu kental dengan prinsip order, Zootopia akan dapat dikatakan ideal apabila semua yang berada dan terjadi di dalamnya memiliki aturan dan mengikuti aturan tersebut.

a place for everything and everything in its place“,

demikian pendapat Lofland mengenai order. Seperti yang saya sebutkan, Zootopia dihuni oleh berbagai spesies hewan dari seluruh penjuru dunia. Berarti, tidak semua hewan yang hidup di Zootopia dapat hidup di satu jenis ekosistem yang sama. Dalam film ini, seperti yang tergambar pada gambar di atas, Zootopia memiliki beberapa distrik besar, yaitu Sahara Square yang berupa habitat padang pasir, Tundratown yang berupa habitat kutub yang dingin dan bersalju, Rainforest District yang berupa habitat hutan hujan, dan Savanna Central yang merupakan habitat padang rumput dengan suhu dan kondisi yang paling netral di antara semua distrik. Dalam dunia nyata, ekosistem-ekosistem yang sangat berbeda karakteristiknya ini tidak mungkin berada dalam satu kota yang sama karena karakteristik tersebut muncul dari kondisi geografis tempat-tempat tersebut terhadap bumi. Namun dalam Zootopia, teknologi sudah begitu maju sehingga memungkinkan untuk memanipulasi dan membuat habitat buatan yang sangat persis dengan aslinya. Dengan begitu, tiap spesies dapat hidup di ekosistemnya masing-masing dalam kota yang sama. Tiap spesies memiliki tempatnya sendiri, everything in its place.

zootopia.png

Gambar 2. Distrik-distrik di Zootopia

Tiap distrik tentu memiliki ciri khasnya masing-masing. Seperti Savanna Central yang memiliki City Hall, Tundratown dengan fasilitas olahraga musim dingin, Sahara Square dengan casino dan hotel termegah di Zootopia dan sebagainya. Meskipun begitu, tiap distrik tetap memiliki kawasan huniannya masing-masing yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan komersial seperti pertokoan, juga fasilitas umum dan sosial lainnya sehingga antarspesies yang berbeda tetap dapat berinteraksi satu sama lain. Hal ini ditunjukkan dengan jalan yang penuh dengan kendaraan yang memiliki ukuran yang berbeda-beda, juga berbagai jenis hewan yang berlalu-lalang dan beraktivitas di satu tempat yang sama. Contoh lain ditunjukkan oleh gambar berikut.

Zootopia1

Gambar 3. Zootopia Express

Gambar berikut adalah salah satu kereta yang akan berhenti di Zootopia. Kereta ini tidak hanya memiliki satu namun tiga jenis pintu dengan dimensi yang berbeda untuk menyesuaikan ukuran fisik penumpangnya. Dari posisi jendela juga dapat kita lihat bahwa kereta tersebut memiliki berbagai ukuran kursi untuk memaksimalkan kenyamanan penumpangnya selama perjalanan. Hal ini mengindikasikan bahwa tiap spesies hewan memiliki akses terhadap transportasi umum dan mendapatkan tingkat kenyamanan yang sama. Sepanjang film juga ditunjukkan bahwa terdapat berbagai macam transportasi umum yang dapat digunakan baik untuk berpindah distrik maupun di dalam distrik itu sendiri, seperti bis, potongan es yang menjadi perahu sampai gondola yang menggantung di antara pohon-pohon yang sangat tinggi di hutan hujan. Tiap fasilitas pun dapat digunakan oleh semua spesies tidak peduli besar atau kecil karena memiliki desain khusus yang saling menyesuaikan, a place for everything.

Saya rasa, Zootopia dapat dikatakan ideal tidak hanya karena terdapat order yang mengatur kota tersebut secara fisik maupun sosial, namun juga karena dengan adanya berbagai aturan tersebut Zootopia dapat memenuhi kebutuhan semua penduduknya dan tidak hanya mementingkan kebutuhan satu golongan atau spesies. Semua orang dapat hidup berdampingan dalam perbedaan, namun tetap merasa nyaman satu sama lain, bukankah hal tersebut yang paling ideal untuk sebuah kota? Namun tentunya, Zootopia hanyalah utopia, sebuah tempat yang tidak nyata dan terlihat mustahil untuk direalisasikan.

Nah, apakah menurut kalian Zootopia adalah kota yang ideal? Bagaimana kota yang ideal menurut kalian?

Hutari Maya Rianty – 1406530470

references:

4 Comments »

  1. Halo Hutari,

    Sangat menarik anda membahas tentang film Zootopia yang menurut saya memang sangat menggambarkan konsep Ideal City dimana sebuah kota dapat diperuntukkan bagi semua golongan. Namun yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah apakah dengan adanya segregasi masing-masing habitat tersebut dapat mengakibatkan efek yang lebih daripada sekedar adanya habitat sesuai dengan kondisi morfologi mereka? Pembagian segmen-segmen ini jika kita telaah seperti sebuah kota yang asli berarti adanya juga perbedaan ‘iklim’ bagi orang-orang tertentu berdasarkan konsep morfologinya (dan kemudian akan berdampak juga ke sektor sosial).

    Bagaimana menurut anda? Apakah konsep dalam film Zootopia ini memang cocok untuk diterapkan di kehidupan yang sebenarnya?

    Terimakasih telah berbagi pengetahuan!

    Comment by raynaldsantika — May 29, 2017 @ 19:57

  2. Halo Raynald,

    Terima kasih atas pendapatnya. Tentu saja, konsep kota Zootopia ini tidak bisa kita terapkan mentah-mentah di kehidupan nyata, apalagi karena subjek di film ini adalah hewan yang sangat jauh berbeda dengan manusia. Seperti yang saya sebutkan di post ini, konsep kota Zootopia tidak semerta-merta hanya memisahkan/membagi-bagi penduduknya dengan menyediakan habitat yang berbeda, namun juga menyediakan fasilitas (seperti transportasi) yang menghubungkan habitat-habitat tersebut sehingga seorang (atau seekor) penduduk Zootopia dapat berpindah-pindah dari satu habitat ke habitat lain dan memungkinkan interaksi dengan hewan-hewan lain dari habitat lainnya. Menurut saya konsep ini bisa saja kita terapkan di kehidupan nyata, namun tidak secara gamblang. Misalkan kita anggap “iklim” adalah “fasilitas umum/sosial”. Berarti dalam satu kota, terdapat banyak fasilitas umum/sosial dengan fungsi yang spesifik namun tidak membatasi siapa yang bisa menggunakannya dan kegiatan apa yang terjadi di dalamnya. Sebenarnya menurut saya konsep ini mirip dengan konsep “Mix-used Buildings/Space” yang termasuk dalam prinsip Sustainable and Livable City. Jadi, ya, menurut saya konsep Zootopia ini mungkin saja dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan kehidupan nyata.

    Comment by hutaari — May 30, 2017 @ 12:44

  3. hay Hutari, menarik sekali pembahasan kamu tentang Zootopia sebagai Ideal City. sebelumnya saya juga sudah menonton film Zootopia dan film nya sangat menarik. saya sependapat dengan kamu bahwa Zootopia adalah sebuah kota yang ideal bagi berbagai spesies hewan karena di dalam film, mereka hidup berdampingan dan memiliki fasilitas berdasarkan kebutuhan masing-masing. sangat menarik saat kamu memberikan cuplikan ulang dari film seperti gambaran City Hall, Sahara Square, dan Zootopia Express yang menunjukkan Zootopia adalah Ideal City. terimakasih sudah berbagi informasi 🙂

    Comment by nurulgumayputri — May 31, 2017 @ 10:46

  4. Halo, Hutari !

    Pembahasan ini menarik, apalagi karena saya pribadi menikmati film Zootopia ini c: Saya setuju dengan Zootopia sebagai kota yang ideal dalam film ini, karena menurut pandangan saya, Zootopia dapat diartikan menjadi “zoo” dan “utopia”, dunia utopia akan kota kebun binatang (?). Namun saya pribadi merasa Zootopia baru menjadi kota ideal setelah Judy menjadi petugas polisi yang diakui (sebelum diakui, Judy dikucilkan dan dipandang sebagai seekor kelinci yang tidak bisa apa-apa oleh masyarakat Zootopia) dan Nick yang awalnya licik kemudian mengubah stereotip yang ada untuk membantu Judy menghentikan tindakan asisten walikota (yang berspesies domba) dimana ternyata dibalik wajah tidak-bersalahnya, ia adalah sekor domba yang kejam dan haus kekuasaan, yang bersedia membunuh siapa saja yang menghalangi keinginan egoisnya. Barulah setelah hilangnya stereotip masing-masing spesies dan terhentinya rencana asisten walikota, Zootopia menjadi sebuah utopia.

    Terima kasih sudah berbagi informasi dan throwback film Zootopia! c:

    Comment by Rafi Mentari — June 2, 2017 @ 20:20


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: