there’s something about geometry + architecture

June 4, 2017

Ideal City 2050

Filed under: Uncategorized — benitaariyani @ 03:55

Menurut Rosenau dan Thomas More, ‘Ideal City’ berartikan mengarah pada suatu ide yang memiliki keteraturan, bersih, dan indah.

Namun apabila kita melihat pada konteks saat ini, apakah konsep tersebut masih relevan?

450px-Fra_Carnevale_-_The_Ideal_City_-_Walters_37677

https://en.wikipedia.org/wiki/The_Ideal_City_(painting)

hachioji-electric-cables-2

http://www.gettyimages.com/event/electricity-consumption-in-japan

wigglesworth the layout.jpg

ca9218bb52b2ab1f9b3465d8e8860792.jpg

http://unit03-metamorphosis.blogspot.co.id/2012/11/table-manners-sara-wigglesworth-jeremy.html

Segala yang teratur, saat ini justru nampak membosankan, bukan?

Sehingga suatu konsep ‘Ideal City’ dalam pengaplikasiannya tidak dapat di samakan dari masa ke masa.

 

Secara umum ‘Ideal City’ merupakan suatu konsep perencanaan untuk sebuah kota yang mengandung tujuan ‘rasional’ atau ‘moral’ (https://en.wikipedia.org/wiki/Ideal_city).

Lalu bagaimana konsep ‘Ideal City’ yang tepat untuk dunia di tahun 2050?

Di mana populasi manusia semakin bertumbuh hingga 9 miliar (http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/10/ini-perkiraan-populasi-bumi-pada-2050), sehingga daratan yang hanya 30% dari bumi ini akan semakin penuh sesak, dan konsep ‘Ideal City’ yang awalnya mengenai keteraturan – menjadi keberagaman – di mana keberagaman tersebut merupakan sesuatu yang harmonis, lambat laun hingga pada tahun 2050 tidak dapat lagi dikatakan ‘Ideal’ melainkan justru menjadi suatu kekacauan.

asg

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/10/ini-perkiraan-populasi-bumi-pada-2050

edgelands_liam_young.jpg

http://www.archdaily.com/615649/corporate-dystopia-liam-young-imagines-a-world-in-which-tech-companies-own-our-cities

Konsep ‘Ideal City’ cenderung merupakan utopis – sesuatu yang bagus namun sulit untuk diwujudkan, dan gambar di atas merupakan gamabaran suatu kota yang dystopia – tidak didambakan atau menakutkan (https://id.wikipedia.org/wiki/Distopia).

Dengan kepadatan penduduk dan semakin sedikitnya kesempatan untuk memiliki lahan untuk tinggal di daratan bumi yang hanya 30% tersebut, mungkinkah dengan pergeseran dari darat ke laut, membangun kota dari darat ke wilayah perairan yang persentasenya lebih besar, yaitu 70% bagian dari bumi (https://id.wikipedia.org/wiki/Bumi), dapat menjadi suatu solusi ‘Ideal City’ di dunia untuk tahun 2050?

city-in-the-sea

https://tp2tp.files.wordpress.com/2011/01/city-in-the-sea

Fenomena saat ini sudah banyak pula terjadi pembangunan bangunan di dalam maupun di permukaan laut, di mana hal tersebut berhasil dilakukan dan justru menambah keuntungan. Salah satu bangunan terebut sebagai contoh ialah Water Discus Hotel, di Dubai. Namun apakah benar, untuk membangun tidak hanya satu atau dua bangunan melainkan satu kota di perairan laut memungkinkan untuk dilakukan, mengingat pembangunan tersebut dapat berdampak merusak ekosistem bawah laut?

z.jpg

http://www.archdaily.com/232686/underwater-hotel-planned-for-dubai

Atau dapat juga dengan dilakukannya reklamasi, seperti yang dilakukan oleh Pulau Cay di Vietnam. Namun tindakan reklamasi tersebut juga bukan berarti tidak menimbulkan persoalan lainnya. Karena selain keuntungan dapat menjadikan lahan daratan bertambah luas, proses perluasan daratan dari dasar laut tersebut juga dapat menimbulkan kerugian, yaitu permukaan air laut menjadi mengalami peninggian, dikarenakan sebelumnya berfungsi sebagai kolam manjadi daratan, yang kemudian berdampak pula peninggian muka air laut tersebut membuat daerah pantai lainnya menjadi rawan tenggelam. Reklamasi dapat dilakukan apabila pada wilayah kawasan berair yang telah rusak atau tidak berfungsi lagi sehingga dapat digunakan untuk menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat (https://id.wikipedia.org/wiki/Reklamasi_daratan#cite_note-2).

avv.jpg

https://www.nytimes.com/interactive/2015/07/30/world/asia/what-china-has-been-building-in-the-south-china-sea

Dan secara geometri untuk konsep ‘Ideal City’ di masa depan mungkin akan kembali lagi pada keteraturan, karena segala sesuatunya akan dimulai diatur kembali dari awal (apabila kota bergeser dari darat ke laut), juga pabila kota tetap di darat dengan reklamasi perluasan lahan maka akan dibutuhkan keteraturan pula. Di mana keteraturan tersebut dalam konteks lebih kepada demi mencapai efisiensi lahan.

“..I long to set foot where no man has trod before..” -Charles Darwin

Menurut kalian ‘Ideal City’ di masa depan, harus dicapai dengan cara yang seperti apa?

 

 

Benita Ariyani Putri – 1606841894

Sumber :

More, Thomas, 1515, Utopia

http://www.bbc.com/future/story/20161101-the-benefits-and-downsides-of-building-into-the-sea

 

 

Advertisements

1 Comment »

  1. Hi, Benita, terima kasih sudah berbagi!

    Pembahasan ideal city 2050 ini menarik sekali. Mungkin perpindahan penduduk dari darat ke laut menjadi solusi yang baik bila di darat sekiranya sudah tidak ada tempat lagi untuk manusia bertinggal dan melakukan pembangunan di darat, mengingan luas laut memenuhi bumi kurang lebih sebanyak 70%/ Namun memang harus didapatkan solusi terlebih dahulu mengenai bagaimana cara supaya pembangunan di perairan laut itu dapat dilakukan dengan tidak mengganggu ekosistem yang ada di laut.

    Comment by Rafi Mentari — June 6, 2017 @ 20:47


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: