there’s something about geometry + architecture

May 31, 2013

Permainan Visual Perception pada Horsemanning

Filed under: architecture and other arts,perception — anthyadwita @ 20:37
Tags: ,

Dunia fotografi memang sangat menyenangkan untuk diulik, dengan menggunakan teknik-teknik foto dalam mengatur komposisi dan proporsi dalam sebuah foto bisa dihasilkan sebuah karya yang unik dan brilian. Kali ini saya akan membahas tentang horsemanning, sebuah permainan ilusi dalam foto.  Walau fotonya terkesan agak menyeramkan, namun horsemanning justru menyenangkan dan lucu untuk dilihat dengan berbagai pose karena sebenarnya mudah untuk dilakukan siapa saja. Berikut contoh-contoh fotonya,

large Horsemanning

Horsemanning yang mulai populer pada tahun 1920-an ini namanya diambil dari Headless Horseman, seorang karakter tanpa kepala di “The Legend of Sleepy Hollow.”  lalu pada pertengahan tahun 2011, horsemanning kembali menjadi tren. Horsemanning menggunakan trik ilusi seolah-olah kepala sang model lepas dari badan, untuk menghasilkan foto ini harus dilakukan dalam sebuah teamwork dengan ketepatan angle yang tepat saat mengambil fotonya.

Horsemanning menggunakan permainan optical illusion dalam mengelabui persepsi orang yang melihatnya, sesuai dengan hukum Gestalt mengenai law of continuity. Dalam aplikasi law of continuity, pose horsemanning ini menggunakan tangan sebagai objek yang meneruskan atau menghubungkan antara satu objek sengan objek lainnya agar terlihat seakan masih dalam satu kesatuan objek (kontinu). Dengan begitu persepsi visual kita akan menangkap bahwa objek badan (A) dan kepala temannya (B) merupakan satu kesatuan karena secara refleks, pandangan kita akan bergerak mengikuti alur hubungan antara si badan (A) dan kepala (B) yang dihubungkan oleh tangan. Hal ini membuktikan bahwa hukum Gestalt ternyata bisa diterapkan dalam banyak hal, termasuk seni fotografi dan seni. Ingin mencoba horsemanning ini? Berikut step-step yang mudah dilakukan untuk mendapatkan pose horsemanning:

1. Duduk di sofa, taruh kepala kita ke belakang sampai tidak terlihat dari sudut pandang kamera.

2. Minta teman anda untuk duduk di belakang sofa dan hanya memperlihatkan kepalanya saja.

3. Pegang kepala teman anda solah-olah anda memegang kepala anda sendiri yang lepas dari leher anda.

4. Saatnya mengambil foto! Bisa menggunakan tripod atau self timer agar efek kamera tidak bergoyang-goyang.

Mudah bukan? Selamat mencoba!😀

Sumber referensi:

http://www.horsemanning.com/ (Diakses pada 31 Mei 2013, pukul 20.00)

Sani, Starin. “Creative photo techniques.” Gogirl Magazine, No. 93, Oktober 2012, h. 28.

http://en.wikipedia.org/wiki/Horsemaning (Diakses pada 31 Mei 2013, pukul 20.00)

http://en.wikipedia.org/wiki/Gestalt_psychology (Diakses pada 31 Mei 2013, pukul 20.00)

Sumber gambar:

http://www.horsemanning.com/ (Diakses pada 31 Mei 2013, pukul 20.00)

D’Arcy Thompson dan Doraemon

Filed under: architecture and other arts,nature and architecture — letalestari @ 11:31
Tags: ,

Berangkat dari pemikiran bahwa “force sebagai penentu form” yang diperkenalkan oleh D’Arcy Thompson, saya melihat adanya hubungan wacana ini dengan sebuah ekspresi. Ekspresi wajah seseorang merupakan sebuah komposisi yang terbentuk dari banyak hal yang akhirnya bisa menyampaikan sebuah pesan secara non-verbal. Bila ekspresi ini dianalogikan sebagai sebuah form, maka force yang kemudian mempengaruhi form tersebut tidak lain merupakan bagian tubuh yang mendukung ekspresi tersebut.

Image

Dalam bahasan ini saya menggunakan berbagai ekspresi doraemon sebagai media eksplorasi untuk melihat seberapa besar pengaruh force terhadap form. Bila dilihat dari berbagai ekspresi doraemon pada gambar di atas, kita bisa melihat berbagai perbedaan ekspresi tersebut datang dari berbagai perbedaan force yang terjadi pada elemen yang ada pada wajah dan tangan. Sederhananya, bentuk mulut pada saat doraemon merasa bangga, marah, dan takut tercipta dari force yang berbeda. 

Image

Namun, hal yang menarik dari sini adalah saat beberapa ekspresi memiliki bentuk mulut dan tangan yang sama tapi kemudian pesan dari ekspresi tersebut berbeda karena adanya force lain yang masuk, yaitu bentuk kumis dan mata, seperti pada ekspresi bahagia dan licik pada doraemon. 

Image

Disini kita bisa melihat bila suatu form X terbentuk dari force A-B-C-D, namun ketika force C dalam komposisi X dirubah menjadi force E, maka ekspresi tersebut bisa jauh berubah menjadi bukan ekspresi X. Perubahan ekspresi yang dipengaruhi oleh force inilah yang kemudian menjadi ide awal pencarian ekspresi (form) lain dari pengkomposisian elemen wajah (force) yang belum digambarkan sebelumnya.

Image

 

Setelah dilakukan komposisi force pada wajah doraemon, akhirnya saya menemukan stidaknya ada 3 ekspresi yang sebelumnya tidak tergambarkan dari kumpulan ekspresi pada gambar di atas. Dari sini bisa terlihat bahwa perbedaan sedikit force pun akan membentuk form yang berbeda.

May 30, 2013

Pareidolia

Filed under: architecture and other arts — tanjungandy @ 09:05

Ketika kita melihat sesuatu panorama, ataupun apapun yang kita lihat, kita sering mempersepsikan hal yang berbeda-beda pada bentuk-bentuk yang kita lihat, contohnya saja ketika kita melihat awan, kita sering sekali mempersepsikan bentuk-bentuk yang terbentuk oleh awan itu sebagai sesuatu yang lain (dapat dilihat contoh gambar pada di bawah ini).

 Image

Ternyata hal seperti ini diteliti oleh pada psikologis, dan ternyata ada suatu kasus dimana memang manusia cenderung mempersepsikan sesuatu bentuk abstrak sesuai dengan apa yang mereka ingat mendekati bentuk abstrak tersebut, istilah kasus ini adalah pareidolia. Sebenarnya apa sih yang disebut sebagai pareidolia itu? Pareidolia (dibaca par-i-doh-lee-a) adalah kecenderungan melihat wajah di tempat-tempat yang tidak biasa. Pareidolia secara umum bisa diterjemahkan sebagai sebuah fenomena ketika melihat pola dari objek-objek nan acak. Pareidolia menjadi penyebab seseorang melihat atau juga mendengar dari gambaran kabur atau suara kurang jelas, seakan-akan menyerupai sesuatu yang signifikan. Ada sejumlah dugaan bagaimana fenomena pareidolia bisa terjadi. Sebagian ahli mengatakan, pareidolia menghasilkan delusi yang melibatkan indra, dalam kebanyakan kasus adalah indra penglihatan dan selalu ditentukan oleh dorongan psikologis. Leonardo da Vinci sempat menulis mengenai pareidolia, yang disebutnya sebagai suatu peranti artistik. “Saat Anda menatap dinding yang ternoda atau terbuat dari gabungan banyak macam batu, Anda akan menciptakan sebuah situasi di mana Anda merasa dapat melihat kemiripan,” tulisnya dalam buku catatan. Berikut adalah contoh-contoh lain dari pareidolia ini.

 Image

            Gambar kiri terlihat seperti adanya wajah pada kain yang kusut, gambar kedua terlihat seperti wajah smiley, dan gambar ketiga terlihat seperti mulut sesuatu yang sedang terbuka. Semua hal ini kita persepsikan masing-masing dan sekarang kita mengetahui bahwa memang persepsi manusia cenderung berbeda-beda dan cenderung manusia selalu mempersepsikan sesuatu sebagai sesuatu yang lain, dan sekarang kita mengetahui bahwa hal ini memang ada, dan diteliti sebagai istilah pareidolia.

 

Sumber referensi : http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/12/bagaimana-fenomena-pareidolia-terjadi

Sumber gambar : http://www.geekosystem.com/things-that-look-like-faces-pareidolia/

May 28, 2013

Kartun dan Persepsi Kita dalam Memandang Diri Sendiri

Filed under: architecture and other arts,perception — thazageorly @ 03:04

Bawang merah bawang putih, jangan dengki dan iri hati.
Cinderella, pertolongan ada bagi mereka yang lembut hatinya.
Pinokio, Jangan berbohong.
Malin kundang, sayangi dan hormatilah orang  tua.
dsb…

Saya besar ditengah semua dongeng-dongeng tersebut. Baik dengan melihat buku-bukunya maupun filmnya. Yang tentu saja ada dalam versi kartun. Kesamaan dari semua dongeng kartun anak-anak tersebut adalah bagaimana makna dikemas secara manis didalamnya. Seperti yang ada pada list diatas, setiap film kartun biasa memberikan suatu pesan moral tertentu didalamnya. Dan saya, sebagai anak kecil bahkan sudah jadi remaja tua seperti sekarang, masih bisa menangkap dan menerima pesan tersebut.

Namun pernahkan kita sungguh-sungguh bertanya mengapa kartun jauh lebih mudah digunakan untuk menyampaikan suatu pesan dibandingkan dengan cerita realis?

Awalnya saya kira penggambaran secara kartun ini dilakukan karena keterbatasan anak kecil dalam mencerna dan memahami suatu realita dalam sebuah gambaran. Ya, mungkin hal ini salah satunya. Namun ternyata memang ada isu persepsi yang jauh lebih besar melatarbelakangi hal itu.

Hal ini mulai terbentuk dari ketidak mampuan kita untuk memandang diri sendiri. Mata kita digunakan untuk melihat sekitar, lingkungan, lawan bicara. Sehingga Pada saat memandang keluar, kita cenderung melihat dengan detail yang kuat dan tegas. Gambaran yang ada sangat jelas. Sebaliknya kita melihat diri kita sendiri dalam suatu gambar kabur. Gambaran kabur ini menghasilkan bentukan bentukan yang paling dasar dan sederhana. Seperti kartun.

“..but the face you see in your mind is not the same as others see. When two ppeople interact, they usually look directly at one another, seeing their partner’s features in vivid detail. Each one also substains a constant awareness of his or her own face, but this mind-picture is not nearly so vivid. Just a sketchy arrangement. A sense of shape.”  (McCloud, 1993 : 29)

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

Maka sebagai timbal baliknya adalah semakin jelas gambaran yang diberi, persepsi kita akan semakin terbentuk dan nyata. Kita semakin mempersepsikannya menjadi satu subjek spesifik. Dia adalah seseorang. Ketika kita melihat dia sebagai subjek lain, maka detail menjadi penting. Kita mulai bertanya “siapa orang ini?” “latar belakangnya seperti apa?” “apakah ini peran yang didesain atau memang kepribadian yang nyata?”, “apakah yang dia ceritakan semuanya benar?”.

 

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

 

Sedangkan dengan kartun, kita tidak merasa perlu untuk bertanya. Semakin sederhana kartun tersebut, semakin sedikit tuntutan detail yang ingin kita ketahui. Karena kesederhanaannya menciptakan persepsi bahwa ia bisa jadi siapa pun, bahkan diri kita sendiri. Ia berubah dari subjek eksternal menjadi subjek internal. Ia menjadi suara kecil yang eksis dibelakang pikiran kita. Ia adalah konsep.

 

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

sumber : Understanding Comics (Mcloud; 1993)

Mungkin ini alasan dibalik penggunaan kartun sebagai media penyampaian pesan. Karena kartun tidak terasa menggurui. Akan menjadi agak berbeda jika isi kartun tersebut dibawakan oleh sesosok yang (secara visual) jauh lebih realis. Isinya bisa jadi sama, tapi tingkat penerimaan kita menjadi berbeda. Jika pinokio berkata ‘jangan bolos sekolah dan membohongi orang tua’ kita bisa saja berkata ‘iya’ dengan mudah. Sedangkan jika ada sesosok gambaran manusia realis, sebut saja Mario Teguh misalnya, berkata hal yang sama, mungkin reaksi yang muncul akan lebih seperti “siapa dia, kaya ga pernah bolos aja”, dan berbagai komentar semacamnya yang menuntut detail.

“you would have been far too aware of the messenger than to fully receive the message..if who i am matter less, maybe what i say will matter more.” (McCloud, 1993; 37)

Karena kembali lagi kepada teori dari Mccloud, ketika bentuk menjadi detail, kita mulai mempersepsikan objek gambar tersebut sebagai subjek lain yang spesifik. Sedangkan ketika obejk gambar mengabur, kita bisa menerimanya sebagai bagian dari diri sendiri. Pesan yang didapat lebih murni dan tidak terkontaminasi dengan persepsi bawaan mengenai subjek tersebut (baik subjek real ataupun imajiner).

Jadi memang secara tidak sadar kita lebih mudah menerima sesuatu ketika hal itu disampaikan dalam bentuk visual yang lebih sederhana. Dalam bentuk kartun sebagai contohnya.

 

“Cartooning isn’t just a way of drawing, it’s a way of seeing” (McCloud, 1993; 31)

May 27, 2013

Pengaruh Musik Terhadap Persepsi Bentuk Ruang

Filed under: architecture and other arts,perception — ayuputrifadhilah @ 23:30

Saya adalah salah satu orang yang menyetujui bahwa musik dapat membawa saya kepada suatu emosi seperti senang, sedih, takut dan sebagainya. Contohnya ketika saya  mendengar lagu sendu, saya biasanya akan terbawa suasana hati yang sendu. Begitu pula ketika saya sedang membutuhkan suasana hati semangat maka saya akan mendengarkan lagu – lagu dengan irama yang menggebu – gebu yang terkadang hingga membuat saya menari. Hal ini pun disetujui oleh para peneliti dari Universitas Groningen yaitu musik mampu memengaruhi suasana hati kita, bahkan mengubah cara pandang kita tentang dunia sekitar.

Namun kemudian saya menyadari bahwa ternyata musik tidak hanya dapat mempengaruhi suasana hati saya, musik juga dapat membawa alam pikiran saya ke suatu tempat atau ruangan sesuai dengan musik tersebut. Di bawah ini adalah bagaimana musik mempengaruhi saya pada bentuk ruangan.

Kasus 1.

Judul : Simple Pleasures – Happy Ukulele Instrumental Background Music

Video: 

Gambaran ruang :

item10.rendition.slideshowWideHorizontal.four-seasons-resort-bora-bora-bora-bora-french-poly--110148-2

(http://nexustravelsolutions.com/nts/wp-content/uploads/2012/06/Four-Seasons-Resort-Bora-Bora-Otemanu-Over-Water-Bungalow-with-Plunge-Pool-31.jpeg)

7770626-traditional-beach-house-in-savaii-samoa

(http://us.123rf.com/400wm/400/400/shanin/shanin1009/shanin100900784/7770626-traditional-beach-house-in-savaii-samoa.jpg)

Bunyi ukulele yang ada membawa saya kepada suasana pantai,  dalam gambaran saya, saya sedang berada di teras rumah pinggir pantai. Bunyi yang terdengar tradisional juga membawa pikiran saya bahwa rumah tersebut bukanlah rumah yang sudah bergaya modern tetapi masih rumah trasdisional atau bahkan hanya sekedar saung.

Kasus 2.

Judul : 30 minutes of horror music – atmospheric soundtracks volume 1

Video:

Gambaran ruang :

dark

(http://3.bp.blogspot.com/-g_npO0ONXe4/TwJatVHCeyI/AAAAAAAAAH0/LxtEM6tg0oI/s1600/dark.jpg)

Tidak terlalu banyak bunyi suara yang ada pada lagu ini, membawa saya kepada ruangan yang kosong, berbentuk lorong yang panjang. Dengan nada-nada yang ada pada lagu ini pun membuat lagu ini terdengar begitu menyeramkan sehingga membawa saya kepada suasana gelap, ruangan yang gelap. Bunyi – bunyi yang sesekali terdengar membuat ruangan yang ada pada alam pikiran sayamenjadi sebuah lorong yang gelap dengan adanya sedikit-sedikit cahaya namun tidak mengurangi suasana menyeramkan yang ada pada ruangan tersebut.

Kasus 3.

Judul : Best Dance Music 2012 New Electro House House 2012 Music

Video:

Gambaran ruang :

Route 66 Casino Envy

(http://21horas.org/wp-content/uploads/2012/10/af68b_nightclub_6351448307_39aeeb70cf_o.jpg)

nightclubs

(http://www.nightclubsupplier.com/product_images/uploaded_images/nightclubs.jpg)

Lagu ini membawa saya kepada ruangan yang remang – remang (sebenarnya gelap dengan banyak permainan lampu namun lampu tersebut tidak mencukupi untuk melihat secara jernih).Musik pada lagu ini terdengar begitu ramai, banyak jenis efek alat musik yang mengahsilkan banyak jenis suara. Saya menggambarkan keragaman suara ini dengan adanya permainan warna dan efek cahaya lampu. Untuk mendukung permainan lampu tersebut maka ruangan yang ada haruslah gelap.

Kasus 4.

Judul : Bedtime Baby -Toddler Lullaby – Fisher Price song cd 1of 6

Video: 

Gambaran ruang

best-baby-boy-room-decorating-ideas-e1313702145129

(http://livinais.com/wp-content/uploads/2013/02/baby-nursery-room-interior-decorating-interior-decorating-670×447.jpg)

among-the-asleep-crib-and-baby-bedroom

(http://watchusplaygames.files.wordpress.com/2012/05/among-the-asleep-crib-and-baby-bedroom.jpg)

Pada lagu keempat ini membawa saya kepada dua jenis ruangan.

Yang pertama (sebagaimana digambarkan pada gambar atas) yaitu bagaikan tidur di ruang tidur anak umur bayi – kanak – kanak. Hal ini disebabkan lagu tersebut dihasilkan dari instrument dengan bunyi sederhana, nyaring, seperti mainan anak – anak

Tetapi ada perasaan seram yang timbul ketika saya mendengar lagu ini.  Masih berada ruangan bayi – kanak kanak, namun lagu ini terdengar begitu sepi dan kosong, hanyak terdengar 1 instrumen yang menghidupkan. Hal ini membawa saya pada ruang tidur yang gelap dan hanya terdapat sedikit cahaya. Ruangan seperti ini cukup membuat saya merasa takut.

Dari kasus- kasus ini,membuat saya memiliki kesimpulan dan keyakinan baru terhadap musik, bahwa musik dapat membawa saya ke beberapa suasana tempat. Mungkin saya dapat mempergunakannya ketika saya sedang ingin pergi ke suatu tempat namun  keadaan tidak memungkinkan, untuk sedikit mengobati rasa sedih maka saya bisa mendegarkan lagu tertentu yang dapat membawa saya ke suasana tempat yang saya ingin tuju tersebut.

Namun, ini hanyalah bagaimana persepsi saya bekerja, persepsi masing-masing orang bisa saja berbeda. Bagaimana dengan Anda? Adakah musik – musik tertentu yang membuat Anda merasa berada pada suatu tempat?

Tape Art

Filed under: architecture and other arts — naditaamalia @ 20:11
Tags:

Ketika mendengar istilah street art biasanya hal yang pertama kali teringat adalah kaleng semprot, tembok, dan grafiti, tapi tidak dengan yang satu ini. Andi Rharharha, seorang seniman street art Indonesia tidak menggunakan cat sebagai senjata pilihannya. Ia adalah seorang seniman lakban (tape artist). Karyanya geometris, cerah dan interaktif. Andi Rharharha menantang penggunaan ruang publik melalui penggunaan inovatif dari lakban. Tapi tape art lebih dari estetika, tetapi lebih kepada apa yang direpresentasikan dalam karyanya yang membuat karyanya menjadi lebih menarik dari karya street art lainnya. Selain itu, karya-karya tape art dari Rharharha juga memainkan persepsi visual penikmat karyanya, yaitu dengan membuat sebuah bidang 2 dimensi terlihat seperti objek 3 dimensi.  Untuk melihat lebih lanjut tentang karya-karya Andi Rharharha, mari kita lihat gambar-gambar dibawah ini.

Image

SS851341.JPG

Image

Karya Andi Rharharha pada acara Bandung Public Furniture 2013
Image

Yang satu ini adalah karya tape art nya pada acara Pekan Kreatif Indonesia 2013.Image

Image

Hal lain yang juga menarik dan khas dari karya tape art Andi Rharharha adalah bagaimana ia menciptakan sebuah karya yang interaktif, dengan mengajak penikmat karyanya untuk bermain di ruang publik. Menyenangkan bukan? Ruang publik yang biasanya diacuhkan penduduknya menjadi lebih fun dan lebih segar. Tertarik membuat karya street art inovatif seperti yang dilakukan Andi Rharharha? Selamat berkarya!😀

 

Sumber:
http://super-rharharha.blogspot.com/2010/02/art-tape-lakban-rharharha.html

http://respectastreetartgallery.com/home/berita/tape-art-rharharha/

May 19, 2013

Topological Movie Idea

Filed under: architecture and other arts,perception — titasarasvati @ 14:35
Tags: , , ,

Setelah saya mengetahui konsep topologi, hal pertama yang saya pikirkan adalah kehidupan di masa mendatang. Saat-saat waktu menjadi sesuatu yang paling berharga. Konektivitas dan kontinuitas menjadi hal terpenting karena dengan keduanya sesuatu akan bergerak secara terus menerus dengan mudah, cepat, dan tepat sasaran. Semakin majunya teknologi, semakin mempermudah mobilitas manusia. waktu jaman kerajaan dulu dibutuhkan seorang kurir untuk mengantarkan pesan antar kerajaan, untuk mengkoneksikan kedua kerajaan membutuhkan fisik (si kurir) dan waktu yang cukup lama. lalu makin modern konektivitas menjadi lebih mudah, mulai dari telegraf, telfon, televisi, hingga internet. Mari kita berangan-angan apa yang akan muncul setelah internet😀

Ada yang pernah nonton The Matrix? pada post kali ini saya akan membahas tentang film The Matrix, mengenai kehidupan di masa mendatang menurut film tersebut. post ini akan menceritakan spoiler The Matrix. Jika anda belum menonton dan tidak suka spoiler, sebaiknya melewatkan tulisan post yang italic😀

Thomas Anderson (Keanu Reeves) adalah seorang computer hacker bernama samaran Neo. Suatu saat, Neo dihubungi oleh seseorang bernama Morpheus. Dia menjelaskan kepada Neo bahwa mereka sedang berada di Matrix, realita palsu yang telah dibangun bagi manusia untuk menyembunyikan kebenaran. Pada kehidupan sebenarnya manusia hanya menjadi budak energi. Ada sebuah power plant yang menyerap energi manusia. Banyak sekali tower-tower power plant manusia, setiap manusia di dalamnya hidup dalam pikirannya saja tetapi secara fisik mereka terperangkap dalam power plant. Kontrol perceptual manusia-manusia sepenuhnya diambil alih oleh the matrix. 

 Image

Neo saat bangun dari power plant, untuk pertama kalinya melihat dunia nyata

Setelah Neo mengetahui kehidupannya terbalik, bahwa Realita yang selama ini dia tempati hanyalah fiksi dan realita sebenernya seperti fiksi (seperti klein bottle saja: luarnya adalah dalamnya dan dalamnya dalah luarnya), Neo dan team akan mengajak manusia yang terhubung power plant untuk mulai hidup di dunia nyata lagi. Tentu saja usaha mereka mengalami rintangan banyak dari pihak matrix😛

Image

Semua space yang terjadi dalam matrix hanyalah hasil perhitungan komputer

Dalam matrix, topologi sangat bekerja. karena matrix hanyalah dunia buatan, matrix bisa berada pada dimensi keempat. Pada dimensi keempat, spacetime bisa strectch dan strain sesuai dengan apa yang mau dibuat, tergantung kebutuhan konektivitas mereka. Secara fisik mereka hanya seperti manusia yang sedang tidur tetapi tersambung dengan kabel plug-in dunia matrix lalu mereka bisa terkoneksi kemana saja yang mereka kehendaki. Saat manusia sudah mengetahui kebenarannya seperti apa, mereka bisa mempermainkan spacetime, matrix akan mengkoneksikan apa yang ingin kita lihat.

Image

dengan mengambil kendali spacetime, Neo dan Agent yang mengejarnya bisa melakukan banyak kemungkinan. seperti menggandakan diri. Dengan mengandalkan kontinuitas dan kelenturan spacetime, agent bisa menggandakan diri saat mengejar Neo. tetapi Neo juga sudah bisa melenturkan spacetime sehingga sama-sama jago di matrix😀

sekian post saya, maaf jika ada salah informasi. Maklum film lama, waktu SD saya menontonnya hahaha:)

referensi:

http://www.imdb.com/title/tt0133093/synopsis 19 Mei 2013, 2:10 PM

Jauh Dekat Tak Sama di Mata

Filed under: architecture and other arts,perception — ditanadyaa @ 00:22

Sebelum mulai membahas judul di atas, yuk sama-sama kita lihat beberapa karya berikut ini😀

3-CONSTELLATIONCY-36Kumi Yashita: sculptures

 

Coba tebak, dua karya tersebut adalah karya 2 dimensi atau 3 dimensi?

Yak, jawabannya adalah 3 dimensi! Mengapa begitu?

Kedua karya tersebut adalah milik Kumi Yamashita, seorang seniman Jepang yang saat ini tinggal di New York. Jika dilihat dari jauh, kedua karya tersebut terlihat bagai lukisan yang memiliki deskripsi tekstur serta gelap terang yang sangat baik; seolah dihasilkan dan disusun pada media yang benar-benar datar secara keseluruhan. Namun, jika dilihat dari dekat, ternyata penampakannya seperti ini:

 

Constellation-por-Kumi-Yamashita-6

 

Karya tersebut dibuat di atas panel kayu dan menggunakan paku serta benang jahit sebagai media seninya. Terlihat jelas bahwa paku dijadikan patok-patok utama sebagai tempat melilitkan benang dan mengait-ngaitkan benang tersebut. Paku yang tersebar menjadi titik-titik yang kemudian dipersepsikan sebagai penyusun bentuk elemen pada karya, seperti mata, hidung, dan garis wajah. Bentuk tersebut tersusun oleh paku sebagai hasil dari law of proximity, yaitu paku-paku yang diletakkan berdekatan akan membentuk elemen yang sama, sementara paku yang diletakkan berjauhan akan membentuk elemen yang berbeda.

Bentuk yang dihasilkan tersebut diperjelas dengan permainan gelap-terang (karena karya ini monokromatik, tidak ada permainan warna yang muncul). Permainan gelap-terang ini muncul akibat law of continuity pada benang yang dililitkan mengikuti paku secara menerus, mengikuti pola paku yang disusun berdekatan. Pola paku yang disusun menjadi acuan kapan benang yang dililitkan cenderung padat dan kapan benang yang dililitkan menjadi lebih renggang. Kerapatan dan kerenggangan lilitan benang menentukan gelap-terangnya karya tersebut.

Selain itu, bisa jadi benang bertindak sesuai dengan law of closure, yaitu lilitan benang berfungsi untuk mengisi kekosongan yang terdapat di antara pola-pola paku yang berjajar sehingga terlihat tertutup sebagai satu kesatuan ‘lukisan’. Jika benang tersebut tidak ada dan karya tersebut hanya terdiri atas paku-paku yang dipolakan, saya rasa karya tersebut tidak akan menjadi seindah ini. Keberadaan benang menjadi penjelas yang menegaskan ‘pesan’ yang sebenarnya ingin seniman sampaikan melalui karya ini.

Jarak pandang ternyata turut andil dalam menikmati karya ini. Ada baiknya kita tanamkan dalam diri: jangan hanya melihat sesuatu dari jarak jauh saja. Coba kenali lebih dekat, maka kita akan menemukan hal yang berbeda😀

 

 

Sumber Referensi:

Yamashita, Kumi. (2011). Constellation – CY. [Online]. Tersedia: http://www.kumiyamashita.com/portfolio/constellation-cy/ [19 Mei 2013]

Yamashita, Kumi. (2012). Constellation. [Online]. Tersedia: http://www.kumiyamashita.com/constellation/ [19 Mei 2013]

Yamashita, Kumi. (2013). Constellation – Mana No. 2. [Online]. Tersedia: http://www.kumiyamashita.com/portfolio/constellation-mana-no-2/ [19 Mei 2013]

http://www.mundoflaneur.com [19 Mei 2013]

May 12, 2013

Musik Pop & Tempat Dwelling; Kesamaan Dalam Konteks yang Berbeda

Filed under: architecture and other arts — ayupratitha @ 21:36

Pada pembahasan kali ini, saya akan coba menganalisa adakah hubungan antara musik, dengan hal-hal yang berhubungan dengan ruang personal sekitar kita; dimana ia membentuk pemahaman diri, persepsi, emosi, dan spritual; merujuk kepada hal-hal yang bersifat psikologis.

Musik, sebagai komposisi suara, merupakan hal yang sifatnya struktural, dimana satu unit dengan unit lain saling tersinergisasi membentuk ambience. Ambience tak akan lepas pula dari unsur arsitektural; dimana struktur, warna, bentuk; merujuk kepada persepsi orang yang berhubungan dengan kondisi psikologisnya.

Adakah hal-hal yang terkait secara struktural dan eksplisit berkenaan dengan musik dan ruang arsitektural di kehidupan kita sehari-hari?

Saya mengambil unsur yang sangat dekat dengan kehidupan kita; yaitu musik pop; musik yang easy-listening; dinikmati banyak orang dari berbagai kalangan. Sedangkan untuk ruang arsitektural, saya mengambil rumah; sebagai ruang personal & tempat dwelling terdekat, dimana pengalaman personal banyak terjadi di dalamnya.

Menurut struktur lagu pop, urutan elemen pada musik pop yang banyak dipakai adalah verse – chorus (refrain) – bridge – chorus. Verse merupakan bagian musik pop yang berperan sebagai pembuka; yaitu statements yang menceritakan tentang apa, dimana, kapan, dan bagaimana cerita mengawali sebuah lagu.  Pada bagian ini, irama musik cenderung datar dengan dinamika yang tidak begitu banyak dimainkan. Sedangkan chorus merupakan bagian lagu yang memiliki dinamika dan intensitas yang lebih dibandingkan dengan bagian verse.  Ini merupakan bagian yang menjadi inti dari lagu, dan dianggap sebagai bagian yang paling ‘memorable’.  Bagian bridge menjadi penghubung antara chorus dengan chorus lain yang akan menjadi akhir sebuah lagu. Dengan kata lain, bridge merupakan ‘semi penutup’, yang berperan sebagai penghubung antara inti lagu. Bridge menjadi semacam rangkaian pelengkap yang menghubungkan antar chorus; pengiring penutup lagu. Ia memiliki irama, melodi, dan lirik yang berbeda dengan verse dan chorus.

Dan ternyata, urutan struktur lagu pada lagu pop tersebut juga saya temukan pada struktur penataan rumah secara horizontal pada umumnya; ditarik garis lurus mulai dari pintu masuk. Pada bagian depan sebuah rumah, terdapat intro layaknya verse pada lagu; yaitu bagian fasad, pagar, beserta halaman rumah. Kesemua bagian tersebut mencirikan image dari sebuah rumah, menjadi cerita ‘apa’ yang ingin disampaikan oleh rumah tersebut yang mencirikan penghuninya atau rumah itu sendiri.  Begitu melewati bagian depan rumah, setelah pintu masuk, akan ditemukan chorus dari rumah itu sendiri, yaitu inti dimana seluruh kegiatan dwelling dilaksanakan; dimana memori tercipta. Chorus rumah terdiri dari rangkaian ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, kamar tidur, dan ruang-ruang lain yang memfasilitasi seluruh kebutuhan penghuninya. Kemudian tiba di bagian bridge, yang menjadi penghubung bagian inti; merangkai keseluruhan ceritanya, yaitu halaman belakang rumah (backyard). Ia menjadi bagian tak terpisahkan dari chorus, sekaligus menjadi unit yang dapat berdiri sendiri. Halaman belakang (bridge) menjadi pelengkap aktivitas utama; yaitu sarana refreshing, berkumpul bersama keluarga besar, dan hal-hal lain, yang sifatnya melengkapi & tak terpisahkan. Ia menjadi pelengkap kegiatan dwelling utama, sekaligus penghubung antar chorus, yang kemudian mengiringi menuju ke bagian akhir sebuah ‘lagu’.

Begitulah saya menemukan secara sederhana, struktur pengaturan yang sama antara musik pop dengan pengaturan pada rumah tinggal, yaitu ruang arsitektural terdekat yang menjadi tempat dwelling individu😀

Verse

Image

 

Chorus

Image

 

Bridge

Image

 

 

 

VISUAL PERCEPTION: PERMAINAN BAHASA

Filed under: architecture and other arts,perception — vaniadwi @ 10:53

Cobalah jawab beberapa pertanyaan di bawah ini, tenang ini bukan pertanyaan yang susah..:)

1. Apa warna bunga di bawah ini?

2. Apa warna tas di bawah ini?

3. Paru-paru memompa apa?

Bagaimana, bisakah anda menjawab pertanyaan tersebut? Untuk pertanyaan pertama dan kedua, pasti semuanya dapat menjawab dengan benar yaitu warna merah, Bagaimana dengan pertanyaan ketiga? Apakah jawaban anda? Darahkah? Udarakah? Oksigen dan Karbondioksidakah? Mungkin kebanyakan orang akan menjawab darah walaupun sebenarnya jawaban yang benar adalah oksigen dan karbondioksida.

Benar atau salah tidak menjadi hal penting dalam menjawab pertanyaan ini, karena tujuan dari pertanyaan ini adalah permainan bahasa untuk memberikan jawaban yang diinginkan oleh penanya bukan kebenaran dari pertanyaan itu sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa permainan bahasa dan kata-kata dapat membentuk visual persepsi yang sama pada setiap orang. Untuk pertanyaan di atas, visualisasi warna juga menjadi faktor pendukung dalam terbentuknya visual persepsi. Ketika melihat warna merah, otak akan mempersepsikan bahwa warna merah identik dengan darah sehingga pada pertanyaan ketiga kebanyakan kita atau mungkin hampir semua akan menjawab darah. Hal tersebut didukung dengan penggunaan kata ‘memompa’ pada pertanyaan ketiga, sama halnya dengan warna merah, otak akan mempersepsikan bahwa memompa identik dengan jantung yang memompa darah, sehingga kata paru-paru sebagai pertanyaan utama menjadi terabaikan.

Jadi permainan bahasa ini dapat membentuk visual persepsi tertentu tergantung dari pemilihan kata-kata yang digunakan dan faktor pendukung visual lainnya, untuk kasus diatas warna sebagai faktor pendukung visualisasinya. Adakah permainan bahasa dan kata-kata lainnya yang dapat membentuk visual persepsi pada kita? Jika anda punya silahkan berbagi dan kita lihat visual persepsi apa yang terbentuk..:)

Sumber:

Dialog antara Sintya Arsitektur 2012 dan Fidyani Interior 2010 (8 Mei 2013)

wiwikpurba.blogspot.com (diakses 12 Mei 2013, 10.15 WIB)

mawarmelur.blogspot.com (diakses 12 Mei 2013, 10.20 WIB)

May 5, 2013

Music’s Geometrical Structure

Filed under: architecture and other arts — karlinasatrioputri @ 15:20

Saat melihat orang memainkan piano, apakah ada pertanyaan yang melintas di pikiran Anda? Seperti bagaimana orang itu bisa memainkan piano dengan lancar tanpa melihat partitur? Bagaimana orang itu bisa bermain melodi dengan genre yang berbeda dengan masing-masing kekhasan dari genre itu? Atau bertanya kepada diri Anda sendiri kapan Anda bisa bermain seperti pianis itu?

Saat membicarakan musik pernahkah terlintas di pikiran Anda bahwa musik berbicara tidak hanya melodi yang dapat didengar namun dapat membuat bentuk visual atau form bahkan suatu ruang? Kita tahu bahwa pada lebih dari 2000 tahun yang lalu, Phytagoras mengatakan bahwa musik dapat diuraikan dengan matematika. Ternyata tidak sebatas dari hitungan dasar, namun ia berlanjut kepada pembentukan suatu geometri dari musik.

Clifton Callender dari Universitas Florida, Ian Quinn dari Universtias Yale dan Dmitri Tymoczko dari Universtias Princeton membuat suatu penelitian dalam menganalisa dan mengkatagorisasikan musik dengan ilmu matematika yang kompleks. Terkesan sulit? Saya akan jabarkan dengan singkat dan sederhana saja.

Suatu metode bernama geometrical music theory difungsikan dapat menerjemahkan teori musik sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk geometri kontemporer. Semua unsur dari musik dapat diterjemahkan secara bertahap yaitu mulai dari nada, seperti chords, ritme dan skala nada dan menggolongkan mereka menjadi suatu beberapa ‘famili’. Setelah sistem memahami bagaimana wujud struktur matematika dari famili ini, mereka dapat menciptakan bentuk geometris yang kompleks.

 

 

Gambar ini merepresentasikan 4 macam chords yang diterjemahkan dalam bentuk ruang geometris, sebuah piramid.(oleh Tymoczko,  Princeton University)

Sebenarnya apa fungsi dari penelitian ini? Metode ini dapat menganalisa dan membandingkan berbagai macam musik baik musik barat dan non-musik barat, dilihat dari struktur musiknya, kita dapat memahami bahwa musik dapat dimengerti tidak hanya dari suara namun dari struktur ruang geometris. Kita dapat memahami konsep musik secara logis, bahkan dapat membuka kesempatan untuk menciptakan suatu instrumen musik baru yang belum pernah diciptakan sebelumnya melalui pemahaman ini, kata Tymoczko.

Selain teori musik dapat diterjemahkan menjadi bentuk 3 dimensi, kita dapat melihat suatu bentuk jaringan 2 dimensi dari musik dapat dilihat dari harmonisphere. Satu oktaf musik dapat dibagi menjadi 12 semitones, kemudian keduabelas semitones itu diurutkan secara melingkar, karena secara teknis jika dianalogikan dengan jam, keduabelas semitones itu bergerak memutar searah dengan jarum jam.

                          CLOCK                                HARMONISPHERE

“The harmonisphere measures musical intervals clockwise up in pitch and counterclockwise down in pitch. The lines on the harmonisphere each measure the harmony (and the interval) between the two notes that it joins”.

-The Sacred Geometry of Music by Andrew Lorimer

Hubungan antara matematika dan harmonisphere sangat erat, dibuktikan dengan adanya unsur simetris dari tiap pasang. Setiap garis dari harmonisphere berjumlah 2 interval. Pasangan chord di bawah ini adalah:

“Minor 2nd – Major 7th
Major 2nd – Minor 7th
Minor 3rd – Major 6th
Major 3rd – Minor 6th
Perfect 4th – Perfect 5th
The diminished 5th is it’s own mirrored image. In fact, the dim 5th is the mirror.

 

Gambar di atas menunjukkan bahwa dari bentuk harmonisphere dipertegaskan garis-garis yang dapat membagi, membentuk simetris dari akar kutub lingkaran ini. Diminish 5th menjadi garis simetris yang membagi kedua belah lingkaran yang sama.

Dalam harmonisphere ternyata dapat terlihat garis-garis yang membentuk pola yang sama antara satu chord dengan chord lain. Dapat terlihat di beberapa chord di bawah ini dari kesamaannya.

                            C Major (I Chord)                                                 A Minor (VI Chord)

                            G Major (V Chord)                                                  D Major (II Chord)

Mungkin memperhatikan musik tidak lebih dari sekedar mendengarkan melodinya. Untuk memahami musik kita dapat melakukan berbagai macam hal dengan cara menelitinya, begitu juga dengan memahami ruang, dapat dibantu dengan musik. Maka sebelum membuat komposisi musik, kita sebaiknya memikirkan bagaimana dapat menciptakan bentuk ruangnya. Atau terlalu kurang kerjaan ya? Hehe

Sumber:

http://www.harmonisphere.com/SacredGeometryOfMusic.htm

http://www.sciencedaily.com/releases/2008/04/080417142454.htm


May 2, 2013

Melengkungkan yang Lurus; Tidak Meluruskan yang Lengkung

Filed under: architecture and other arts,perception — tasyae @ 11:47
Tags: ,

Tahukah Anda segala hal yang lurus dapat dilengkungkan? Bahkan bangunan-bangunan arsitektural yang biasanya berdiri tegak juga dapat dilengkungkan loh. Tidak percaya? Coba Anda lihat foto-foto berikut ini.

Untuk pecinta dan penikmat fotografi pasti sudah familiar dengan hasil foto seperti di atas yang menggunakan lensa fisheye. Ya, seperti namanya, efek yang dihasilkan layaknya bagaimana cara pandang ikan dari dalam air, biasa dikenal dengan fenomena Snell’s Window. Lensa fisheye berupa lensa dengan sudut cakupan yang lebih lebar dari biasanya dengan disertai distorsi. Sudut cakupan pada lensa biasa tidak lebih dari 60o, sedangkan pada lensa fisheye dapat mencapai 100o-180o. Oleh karena itu, umumnya lensa ini digunakan untuk menangkap panorama. Penggunaannya pertama kali di bidang meteorologi untuk menangkap panorama langit. Kemudian dapat juga digunakan untuk pertunjukan di planetarium, simulasi di bidang penerbangan, penelitian oleh ilmuwan, pendataan awan dan polusi cahaya oleh astronot, dll.

Lensa fisheye yang berada di pasaran beragam, tergantung rumus pengolahan gambarnya dan perbandingan ukuran lingkaran efek fisheye terhadap sensor gambarnya.

fisheye lens image circles over sensor sizesBerdasarkan gambar di samping, ketika lingkaran efek fisheye berada di dalam sensor gambarnya (4,5mm, 8mm, dan 10mm), maka efek fisheye akan lebih terlihat.

Ide ‘melihat dengan mata ikan’ inilah yang membuat semua lensa fisheye menarik. Foto-foto yang dihasilkannya dapat mempengaruhi persepsi kita secara visual. Objek foto terlihat lentur karena terlihat meliuk ke kanan/ke kiri atau bahkan terlihat mengembang seakan ingin meledak.

Selain fisheye ini, terdapat juga bentukan-bentukan lain dari format panorama (full spherical format: equirectangular, cubic, “little planet”; partial format: cylindrical, arc formed, rectilinier, partial spherical) yang dapat Anda lihat selengkapnya pada link http://wiki.panotools.org/Panorama_formats.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Fisheye_lens

http://forums.steves-digicams.com/sony-alpha-dslr-konica-minolta-dslr-sony-slt/150335-fisheye-would-work-best-my-a100.html

March 27, 2013

Kopi, nikmat dan indah

Filed under: architecture and other arts — asiyahrohmatun @ 23:08

Sebagai mahasiswa arsitektur, tentu kita sangat mengenal apa itu kopi. Kehidupan mahasiswa arsitektur seringkali tidak bisa terlepas dari kopi. Bahkan ada beberapa diantara kita yang memang sangat menyukai kopi. Sebagai pecinta kopi, Anda pasti tahu bahwa sekarang ini kopi tidak hanya dapat dinikmati rasanya saja, tetapi ada hal lain yang dapat kita nikmati dari secangkir kopi panas, yaitu seni menghias kopi atau lebih dikenal dengan Latte Art.

Latte Art

Anda pasti seringkali melihat kopi pesanan Anda disajikan dengan dekorasi unik seperti gambar-gambar diatas. Tidak diragukan bahwa cara penyajian seperti ini membuat kopi tersebut memiliki nilai tambah. Selain pada kopi, hal ini juga memberikan nilai tambah kepada barista yang membuat dan menyajikan kopi tersebut. Gambar-gambar diatas menunjukkan bagaimana bentuk indah yang dihasilkan pada secangkir kopi yang dibuat oleh barista.

Tahukah Anda bahwa “menggambar” diatas kopi ini bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan? Memang tidak semudah itu, butuh latihan agar keterampilan diatas kopi menjadi terasah dan akan semakin lihai dalam membuat bentuk-bentuk yang diinginkan. Tetapi, untuk membentuknya, tidak dibutuhkan banyak peralatan.

Jika diperhatikan dengan lebih seksama, terlihat bahwa sebenarnya bentuk-bentuk yang dihasilkan pada secangkir kopi ini bukanlah bentuk-bentuk yang sulit untuk dibuat. Bentuk dasar dari semua bentuk ini merupakan bentuk-bentuk geometri seperti bulat dan oval, dari bentuk-bentuk tersebut barulah nanti akan ditarik garis-garis dengan menggunakan sebuah batangan kecil, sehingga akan terbentuklah gambar-gambar tersebut.

Berikut ini saya sertakan beberapa video yang memperlihatkan bahwa Latte Art bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Selamat menikmati😀

BRICK BENDING, Sebuah Legometri (Lego dan Geometri)

Filed under: architecture and other arts — stellaajeng @ 22:46
Tags: ,

Tentu kita semua mengetahui permainan menyusun balok-balok kecil menjadi berbagai macam bentuk yang bernama LEGO. Hampir setiap orang pernah memainkan permainan ini atau paling tidak pernah mendengar dan melihatnya. Nah, ketika bermain LEGO, bentuk apakah yang kita buat? Rumah, bangunan tinggi, menara, dinosaurus, benteng, kastil, dan masih banyak lagi tentunya. Akan tetapi semua bentuk-bentuk yang kita buat ini pasti masih memiliki sudut-sudut 90 yang dimiliki oleh karakteristik bentuk dasar LEGO, yaitu balok.

 

Bagaimana jika LEGO yang berbentuk balok tadi menjadi sebuah lingkaran sempurna yang tidak bersudut? Mungkinkah? Mari kita berkenalan dengan Jeff Sanders, seorang ayah dua anak yang menjadi pencetus dari BRICK BENDING.

I just started putting pieces together and found that they had a little bit of flex. And then I thought, ‘That’s really awesome.’” demikian dikutip hasil wawancara Sanders dari website Discovery News. Sanders memanfaatkan fleksibilitas yang didapat dari LEGO yang disusun membentuk selapis ‘dinding’ dengan panjang yang memadai, dan kemudian ditekuk untuk membentuk sebuah lingkaran yang sempurna. Tidak perlu lem, tidak perlu proses pemanasan dan pelengkungan, ia hanya membutuhkan balok LEGO dalam jumlah yang banyak agar cukup membuat panjang ‘dinding’ yang diperlukan. Menakjubkan bukan? Hal ini seperti sifat garis lurus pada spherical geometry dimana apa yang kita lihat sebagai sesuatu yang lurus (sebuah balok LEGO) ternyata saat diteruskan lagi membentuk sebuah lingkaran (lingkaran yang terbuat dari balok-balok LEGO tersebut.)

Gambar 2. LEGO yang berbentuk lingkaran
Sumber: http://www.brickbending.com/

Akan tetapi bukan hanya sifat non-Euclidean saja yang bisa ditemukan pada balok LEGO ini. Hal baru muncul ketika Sanders berusaha membuat bentuk kurva lain dari balok-balok LEGO, yaitu spiral. Ketika Sanders mengalami masalah dalam membuat spiral dari balok-balok LEGO-nya, ia berhenti sesaat untuk menggambar di kertas. Ia berusaha menjabarkan apa yang sedang ia buat  dan ternyata ia menemukan sesuatu.

When I mapped out what it was and I saw the proportions grow at a very specific ratio: 1, 2, 3, 5, 8, the Fibonacci sequence — it all just kind of clicked,” kata Sanders (website Discovery News). Ternyata pembuatan bentuk spiral dari LEGO pun mengikuti deret Fibonacci yang sebelumnya tak disangka-sangka.

Gambar 3. LEGO bunga matahari dengan lebih dari 1800 balok
Sumber: http://www.brickbending.com/2012/04/10000-pageviews-in-30-days.html

Sampai saat ini, Sanders sudah membuat lebih dari 25 variasi bentuk kurva yang dikombinasikan dengan bentuk lain, dan bentuk terbesar yang dibuatnya adalah bunga matahari yang dibuat dengan lebih dari 1800 balok LEGO. Mulai dari bentuk bunga, triquetracolosseum, quad annulus, bentuk non-Euclidean, dan masih banyak lagi bentuk-bentuk yang bisa didapatkan dari imajinasi yang tiada habisnya. “It’s a children’s toy; it’s something a lot of people really love, and this is a way to smuggle in math and science that’s really engaging,” kata Sanders kepada website Discovery News.

Gambar 4. Macam-macam bentuk yang dibuat Sanders
Sumber: http://www.brickbending.com/2011/06/project-of-day.html

Berikut adalah video pembuatan lingkaran dari balok-balok LEGO bila Anda tertarik untuk mempelajari cara membuatnya.

http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=nb5YWz5KM-M

Apakah hal sederhana yang bisa menjadi pembelajaran menarik melalui balok LEGO ini bisa menjadi langkah awal dalam perkembangan sains dan matematika, dan terutama arsitektur? Kita lihat saja nanti.

 

SUMBER:

http://thebrickblogger.com/2013/03/brick-bending-making-lego-circles-more/

http://www.howtogeek.com/100232/brick-bending-create-curvilinear-forms-with-lego-bricks/

http://news.discovery.com/tech/bend-lego-bricks-learn-non-euclidean-geometry-110715.htm

http://www.wired.com/geekdad/2011/06/brick-bending-a-new-twist-on-lego-building

http://www.brickbending.com/

http://www.geekosystem.com/bendable-lego-geometry/

KOMPOSISI GARIS PADA SENI MELIPAT KERTAS

Filed under: architecture and other arts — ruthconnie @ 22:30

Origami, seni melipat kertas yang berasal dari Jepang ini sudah pasti tidak asing lagi bagi kita. Kita dapat menemukan seni ini dari bangku taman kanak-kanak dan bangku sekolah dasar. Semua orang dimulai dari anak kecil hingga orang dewasa tentu dapat bermain dengan melipat kertas dan kemudian dapat menghasilkan bentuk yang unik.
Seni melipat ini memiliki tingkat kesulitan yang bervariasi, dimulai dari melipat kertas dengan mudah hingga sampai tingkat kesulitan yang tinggi. Melipat kertas memang hal yang menyenangkan, tetapi kadang ketika kita membuka kembali lipatan kertas yang telah kita bentuk dan melihat hasil lipatan yang terkesan sudah rusak kadang kia hanya melihat kertas tersebut sebagai sebuah kertas yang sudah tidak berguna, karena tidak menghasilkan bentuk utuh yang cantik, tapi kalau kita perhatikan lagi mungkin hal ini kadang terlewat dari penglihatan kita, atau pernah kita lihat tetapi hal tersebut tidak begitu menarik perhatian dan dilewatkan begitu saja.
Perhatikan bahwa garis-garis lipatan tersebut pasti akan menghasilkan bentuk-bentuk geometri yang indah dan bervariasi. Seni melipat memanfaatkan bentuk geometri dan akan menghasilkan suatu komposisi bentuk yang bermacam-macam di dalamnya, contohnya seperti seni melipat sebuah kubus yang ada di bawah ini.

hh

Gambar 1 : lipatan kubus
sumberhttp://12381321.blogspot.com/2011_03_01_archive.html

Seni melipat kertas menjadi sangat menarik, karena semua kertas yang telah dilipat dan bertujuan untuk menghasilkan bentuk akan menghasilkan bentuk-bentuk geometri di dalamnya secara tidak sengaja.
Yang mengesankan adalah, hasil lipatan akan mengalami pengulangan bentuk di berbagai sisi, seakan-akan ia melakukan refleksi kepada bagiannya yang lain dan menurut saya hal tersebut merupakan fenomena pembentukan komposisi yang menarik.
Mencoba beberapa bentuk untuk melihat kembali komposisi seperti apa yang diciptakan oleh lipatan-lipatan kertas ini, dan ukuran masing-masing garis yang dihasilkan oleh kertas ini juga ternyata memiliki proporsi yang berbeda-beda namun tetap dalam satu kesatuan yang utuh.
Kemunculan komposisi dan proporsi pada garis di atas bidang datar ini tidak dibuat dengan sengaja. Tapi ini adalah hasil dari proses berfikir untuk mewujudkan benda tiga dimensi yang lain. Yang menakjubkan bagi saya adalah, ternyata dari sesuatu yang tidak direncanakan (tanpa harus mengukur dan menghitung proporsi satu sama lain) kita dapat menghadirkan komposisi indah yang tidak terduga, dalam kasus ini adalah hanya dengan cara melipat kertas.

bb
Gambar 3 : hasil lipatan burung Gambar 4 : hasil lipatan kapal

Yang menjadi bahan yang dapat didiskusikan selanjutnya adalah apakah masih perlu kesadaran penuh bagi seorang desainer atau perancang untuk membuat komposisi yang indah, atau jangan-jangan sebenarnya komposisi dan proporsi yang bagus itu sudah ada disekitar kita, tanpa kita harus bersusah payah memutar otak untuk membuat komposisi yang baik dan indah.
Bahan yang dapat diperbincangkan selanjutnya adalah, kita dapat melihat, garis-garis lipatan untuk membentuk suatu benda memiliki simetri dan proporsi yang bagus dan membentuk suatu pola yang teratur. Apakah dengan begitu, artinya setiap bentuk pasti merupakan gabungan dari garis-garis dan proporsi?

Sumber :
http://en.wikipedia.org/wiki/Origami. (diakses tanggal 27 Maret 2013)
http://www.scribd.com/doc/15807037/Origami-Geometry. (diakses tanggal 27 Maret 2013)<a
http://12381321.blogspot.com/2011_03_01_archive.html . (diakses tanggal 27 Maret 2013)

Fashion and Geometry: Flawless or Disaster?

Filed under: architecture and other arts — aninditarahmadhanisa @ 22:22
Tags: ,

Bagi sebagian besar perempuan, kegiatan berbelanja itu sangat menyenangkan. Apalagi bila sudah tiba saatnya sale, semua orang pasti menyerbu pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta. Bila kalian sering berbelanja atau membaca majalah, tentu sering melihat pakaian dengan motif geometri seperti kotak, segitiga, atau polka dot bukan? Motif geometric ini memang sering muncul di beberapa koleksi desainer.

Seperti dalam pembahasan euclidean geometry, terdapat euclid’s postulates antara lain; point, curved line, straight line, right angle, perpendicular angle, dan juga parallel straight line. Itu semua memberikan dampak tersendiri ketika menjadi motif dalam pakaian, dan mempengaruhi persepsi orang yang melihatnya.

  • Point

Point atau titik seringkali dijumpai dalam motif pakaian, yang sering disebut polka dot. Motif polka dot bisa membuat orang terlihat gemuk, namun juga dapat membuat orang terlihat kurus.

ImageImage

Kedua perempuan diatas kurang lebih memiliki ukuran badan yang sama, namun mana yang terlihat lebih gemuk? Tentu yang mengenakan motif polka dot besar, karena motif tersebut memiliki efek menggemukkan dibandingkan dengan motif polka dot kecil. Bandingan dengan foto dibawah ini.

ImageImage

Kedua wanita plus size ini masing – masing menggunakan jenis polka dot yang berbeda, yang berukuran besar dan kecil. Seperti pada gambar sebelumnya, motif ini berdampak pada bagaimana tubuh kita terlihat. Berarti, dapat disimpulkan bahwa motif polka dot kecil berfungsi untuk merampingkan, dan motif polka dot besar berfungsi untuk menggemukkan.

  • Straight line

Straight line memiliki 3 arah, horizontal, vertikal, dan diagonal. Motif horizontal membuat orang terlihat lebih lebar. Motif vertikal membuat orang terlihat lebih “kurus”. Kemudian bagaimana dengan motif diagonal? Motif diagonal biasanya untuk memperjelas bentuk tubuh seseorang, sehingga terlihat lebih langsing juga.

ImageImage

Horizontal lined dress

ImageDiagonal lined dress

Image

Vertical lined dress

  • Curved line 

Bagaimana dengan garis lengkung? Garis lengkung dapat memberikan efek melangsingkan jika diletakkan dengan benar, seperti pada contoh dibawah, garis lengkung yang terletak sejajar dengan lekuk tubuh memberikan kesan ramping bagi penggunanya.

Image

Image

  • Cube, triangle, etc

Lalu, bagaimana dengan motif campuran dari segitiga, kotak, yang berada dalam satu “kanvas” pakaian? Mungkin untuk plus size, motif ini dapat dihindari karena dapat terlihat menggemukkan.

ImageImage

Namun, kembali lagi kepada pemakainya, bila anda merasa nyaman, dan pede untuk menggunakannya, buat apa memusingkan pemikiran orang lain?😉

 

Sumber referensi:

http://www.guardian.co.uk/fashion/video/2011/sep/16/how-to-dress-geometric-prints-video

http://www.collegefashion.net/fashion-tips/class-to-night-out-geometric-print-dress/

Sense of Order dalam Gambar Tangan Anak-Anak

Filed under: architecture and other arts — christieayu @ 21:54

Pernahkah Anda melihat gambar tangan anak-anak? Apa pendapat Anda ketika melihatnya? Berantakankah? Anehkah? Lucukah? Indahkah? Kalau saya, saya merasa gambar-gambar tersebut sangat menyenangkan. Sungguh menarik melihat gambar tangan anak-anak. Gambar-gambar tersebut memiliki ragam ekspresi yang sering kali membuat saya tersenyum, mengingat bagaimana dulu saya pun pernah membuat hal yang serupa. Saya mengingat bagaimana dulu saya membuat pemandangan dengan dua gunung bersebelahan dengan matahari di antaranya, lalu ada sawah terbentang, jalanan aspal yang berkelok-kelok, dan burung-burung terbang di udara, terkadang saya tambahkan pula saung pak tani di tengah-tengah sawah tersebut. Kadang, ketika tidak ada kertas atau media apapun untuk menggambar, dinding-dinding rumah sering saya jadikan tempat berkarya alias tempat mencoret-coret.

Menggambar adalah suatu aktivitas mental, bukan hanya aktivitas motorik. Gambar tangan anak-anak yang sering kali terlihat seperti corat-coret belaka ternyata mengandung berbagai makna di dalamnya. Mungkin memang terlihat berantakan, namun gambar-gambar ini sangat kaya akan ekspresi dan emosi. Bahkan dari apa yang terlihat berantakan dan tidak beraturan ini, dapat kita lihat adanya sense of order yang dimiliki oleh si anak yang menggambar. Misalnya dalam gambar manusia, bagaimana si anak menempatkan mata, hidung, dan mulut, rambut, leher, dan badannya, menunjukkan bagaimana kemampuan anak tersebut memahami konsep komposisi, meskipun ia melakukannya tidak secara sadar.

6417678-children-s-drawing-colour-pencils-on-a-white-paper 6417676-children-s-drawing-colour-pencils-on-a-white-paper

  ag1ichildren

Untuk gambar pemandangan misalnya, kemampuan anak dalam memahami jarak dan proporsi 3 dimensi pun dapat terlihat. Dalam proses menggambar ini kemampuan anak untuk merekam suatu objek dan mengkomposisi warna pun mulai dilatih. Kadang imajinasi sang anak pun cukup mengagetkan kita yang melihatnya. Emosi sang anak pun terasa mengalir jujur lewat gambar yang dihasilkannya -saya sangat menyukai bagaimana anak-anak kecil menggambar wajah orang dengan senyum yang sangat mengembang-. Oleh sebab itu, proses menggambar bagi anak-anak perlu dikembangkan karena menggambar adalah proses pembelajaran yang penting dan menunjukkan juga sejauh mana anak-anak belajar.

dessin-dep images

Berdasarkan suatu sumber, ternyata sense of order memang diasah dan dibangun sejak lahir, namun masa keemasannya berlangsung ketika berusia 18 bulan sampai 2 tahun, dan terus berlangsung sampai usia 5 tahun. Montessori berpendapat bahwa pada masa ini manusia memiliki sense of order yang sangat kuat, di mana mereka belajar banyak tentang dunia mereka dan menghimpun segala informasi yang mereka dapatkan tersebut melalui order, yang kemudian muncul ketika mereka menggambar. Jadi jangan pernah remehkan gambar anak-anak. Gambar mereka lahir dari kejujuran akan apa yang mereka ketahui dan rasakan.

childs drawing children_rights_image

Maestro lukis dunia Pablo Picaso pernah berujar, “Kita tidak perlu mengajari seorang anak bagaimana caranya melukis, tetapi pada hakikatnya justru kitalah yang harus belajar atau mengambil pelajaran darinya”. Nah mungkin kita bisa kembali melihat gambar-gambar kita sewaktu kanak-kanak dahulu. Adakah sense of order yang baik dari gambar-gambar tersebut? Adakah yang bisa kita pelajari dari gambar-gambar tersebut? Mungkin gambar-gambar itu bisa menginspirasi kita dalam berarsitektur😀

 

Sumber:

http://www.mpiwg-berlin.mpg.de/en/news/features/feature11. (diakses 27 Maret 2013)

http://gmc-bekasi.blogspot.com/2011/04/mengapa-anak-perlu-belajar-menggambar.html. (diakses 27 Maret 2013)

http://montessorimotherload.wordpress.com/tag/sense-of-order-in-children/. (diakses 27 Maret 2013)

http://www.dailymontessori.com/sensitive-periods/sensitive-period-for-order/. (diakses 27 Maret 2013)

http://www.satulingkar.com/detail/read/8/1819/. (diakses 27 Maret 2013)

http://www.ohio.edu/visualliteracy/JVL_ISSUE_ARCHIVES/JVL22%282%29/JVL22%282%29_pp.107-128.pdf. (diakses 27 Maret 2013)

golden section and heels??

Filed under: architecture and other arts — ratihnirmalasari @ 21:24

                “Give a girl the right shoes, and she can conquer the world.” Marilyn Monroe

Heels sering digunakan oleh kaum wanita untuk menunjang penampilan mereka. Selain dapat memanipulasi tinggi badan seseorang, heels juga dianggap dapat meningkatkan kepercayaan diri sehingga penampilan seseorang dapat terlihat lebih sempuna. Namun keinginan untuk menggunakannya tergantung dari tiap-tiap individu. Ada satu alasan yang membuat wanita ragu untuk menggunakannya. Ya, rasa sakit yang akan timbul bila menggunakan heels sering kali menjadi alasan utama wanita memilih untuk tidak menggunakannya.

Secara pribadi, saya sangat mengagumi heels dan merasa nyaman menggunakannya untuk aktifitas sehari-hari baik di kampus maupun diluar kampus dibandingkan menggunakan flat shoes. Timbul suatu pertanyaan bagi saya.. Apakah ada hubungannya antara golden section dan heels? Bagaimana dengan keindahannya??

Untuk menjawab pertanyaan tersebut saya mulai menerapkan dan mengotakatik proporsi golden section pada beberapa sepatu yang saya miliki. Ternyata saya menemukan suatu komposisi perbandingan antara tinggi heels dengan panjang pengalas pada suatu sepatu berhak tinggi. Sepatu-sepatu yang sering saya gunakan karena nyaman memiliki hasil perhitungan yang hampir mendekati golden ratio. Tidak percaya? coba teman-teman hitung sendiri sepatu heels yang teman-teman miliki? apakah nyaman? sesuaikah dengan golden ratio?? saya telah mebuktikannya. bagaimana denganmu??😀

black3 black4

referensi :

  1.  http://www.fyiliving.com/health-news/how-to-find-the-perfect-shoe-fit
  2. http://id.she.yahoo.com/foto/12-sepatu-unik-yang-dipakai-selebritas-slideshowhttp://vikisecrets.com/news/the-perfect-shoes-and-the-golden-ratio
  3. http://www.google.com/imgres?imgurl=http://www.completebodycare.ca/wp-content/uploads/2013/01/Effects-of-heels2.jpg&imgrefurl=http://www.completebodycare.cahigh_heeled_shoes.htm High-Heeled Shoes Definition by apparelsearch
  4. Maribeth Keane and Bonnie Monte, Sex, Power, and High Heels: An Interview with Shoe Curator Elizabeth Semmelhack, Collectors Weekly
  5. http://www.bbc.co.uk/news/magazine-21151350
  6. http://vikisecrets.com/news/the-perfect-shoes-and-the-golden-ratio

GOLDEN SECTION PADA SENI ORIGAMI

Filed under: architecture and other arts — irininterior09 @ 19:25

You don’t have to be ‘creative’ to be a crafter. Origami is structured, geometrical and logical.

-Janet William

 

Siapa yang tidak mengenal origami? Hampir semua orang pada saat duduk di taman kanak-kanak dulu, diajarkan origami-origami sederhana seperti membuat hewan, tumbuhan, rumah, atatupun objek-objek sederhana lainnya. Origami yang paling sering kita lihat dan kita kenal adalah origami burung atau crane. Origami merupakan seni melipat kertas tradisional dari Jepang, ori berarti melipat dan kami yang berarti kertas.

Untuk membuat sebuah model origami, kita harus melakukan beberapa lipatan untuk menghasilkan sebuah model origami yang diingikan. Dilakukan dengan mengikuti instruksi langkah demi langkah untuk menghasilkan bentuk yang sesuai. Hal ini mungkin dapat dilakukan jika model origami yang akan kita buat cukup sederhana, metode ini cukup mudah dipelajari, dan biasa digunakan oleh mereka yang pertama kali belajar melipat origami, misalnya anak-anak.

Image

sumber: http://mayleechai.files.wordpress.com/2010/04/origami-crane-base.jpg

Lihatlah diagram diatas, lipatan-lipatan yang terjadi pada setiap langkahnya membentuk suatu bidang geometri dasar seperti segitiga dan persegi panjang, proses melipat dan bagaimana pertemuan dari satu titik ke titik lainnya, yang kemudian membagi suatu garis atau bidang menjadi beberapa bagian yang simetris dan berukuran sama. Dari hasil lipatan-lipatan ini lah yang akhirnya akan membuat suatu diagram pola lipatan yang jika dilipat-lipat lagi akan menghasilkan model tiga dimensi origami yang diingikan, metode ini dikenal dengan sequence crease pattern (SCP) atau progressive crease pattern (PCP).

Bagi mereka yang sudah akrab dan mahir dengan seni origami, mereka akan mencoba membuat berbagai macam model baru tentunya dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Teknik tersebut dikenal dengan crease pattern, sebelum membuat model origami tiga dimensi, terlebih dahulu mereka menggambarkan diagramnya pada selembar kertas. Dari diagram inilah akan terbentuk model origami akhir yang diinginkan, metode origami dengan menggunakan crease pattern diagram ini biasa dilakukan untuk membuat model-model yang kompleks dan super-kompleks.

Image

Sumber : Architecture Origami by Tomohiro Tachi

Dari gambar diatas, diagram-diagram yang dibentuk membentuk suatu pola yang terbentuk dari bidang-bidang datar dengan perbandingan-perbandingan tertentu, ada yang simetris, ada juga yang tidak simetris. Dalam membuat perbandingan-perbandingan tersebut, tentunya desainer origami memperhatikan rasio-rasio tertentu agar dapat terbentuk model akhir yang diinginkan sehingga mendapatkan proporsi model yang baik.

Pertanyaannya adalah, apakah seorang desainer origami menggunakan golden ratio dalam membuat diagram yang kompleks tersebut? Ataukah mereka memiliki “golden ratio” mereka sendiri untuk menciptakan proporsi model origami yang baik? Jadi apakah golden ratio merupakan cara satu-satunya untuk menentukan baik tidaknya proporsi suatu benda. Jawabannya bisa IYA, bisa juga TIDAK:)

Unconscious Beauty: Ombre Hair

Filed under: architecture and other arts,classical aesthetics — yohanasilitonga @ 11:23
Tags: , , ,

Melihat fenomena gaya rambut yang sedang in akhir-akhir ini saat sedang mempelajari geometri membuat saya berfikir, mengapa gaya rambut seperti itu bisa sangat disukai orang ya? Padahal tidak simetris, terlihat tidak rapi, dan boro-boro bicara mengenai golden section disana. Tentu ada sesuatu yang membuat gaya rambut ini menarik, yang membuatnya indah tanpa mengenal prinsip-prinsip mengenai keindahan yang sering kita dengar.

Ombre1 Hal yang sangat saya sadari ialah: Kontemporer; tidak ikut aturan, beda, itu bagus. Kini orang-orang selalu berusaha untuk menjadi berbeda dengan yang lain, tidak ingin disamakan, ingin terlihat unik, ingin menjadi pencetus, terutama anak muda. Keinginan untuk tampil berbeda dan lebih baik dari yang lainnya membuat seseorang mencoba-coba tanpa menghiraukan apa yang lumrah di sekitarnya.

Gaya rambut Ombre dimana dilakukan pewarnaan bergradasi di bagian bawah rambut merupakan salah satu gaya yang saya coba, tanpa pergi ke salon karena takut hasilnya tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Memangnya apa yang saya inginkan? Saya ingin gradasinya tepat, tidak terlihat freak, warnanya tidak norak, proporsinya dengan rambut saya tepat, dsb. Apa yang saya lakukan sama sekali tidak melibatkan pemikiran mengenai golden section atau teori lainnya, yang saya lakukan hanya sekadar meraba-raba, mengira-ngira apakah sudah cukup perbedaan gradasi yang saya buat, apakah tidak terlalu naik, dsb. Secara tidak saya sadari saya telah melakukan pengukuran proporsi demi mencapai proporsi ideal dan keindahan.

Dengan pencarian ke berbagai sumber di internet saya menyukai jenis ombre ketika ia memiliki perbandingan 1/8 dengan keseluruhan panjang rambut, sehingga benar-benar hanya pada bagian ujung rambut saja terjadi gradasi. Sehingga ketika melakukan bleaching rambut saya terus berusaha bagaimana caranya agar terbentuk 1/8 bagian rambut yang sangat terang di bagian bawah.

Ombre4

BleachProgress

Dimulai dengan bleach ½ bagian rambut, lalu ¼ bagian rambut, lalu 1/8 bagian rambut. Demikian saya memperoleh warna yang saya harapkan.

Mencoba menghubung-hubungkan dengan golden ratio dan fibonacci numbers, saya melakukan pengukuran kecil-kecilan..

zi zu za ze

Saya menemukan bahwa gaya rambut ombre tidak perlu dihubungkan dengan prinsip-prinsip proporsi sempurna seperti golden ratio, fibonacci numbers. Keindahan dapat diperoleh melalui perasaan, sehingga keindahan yang terbentuk merupakan unconscious beauty, meski tidak ada salahnya juga jika melakukan ombre dengan menggunakan prinsip-prinsip tadi. Segalanya kembali lagi kepada selera masing-masing:)

Menentukan Ukuran Celana dengan Menggunakan Proporsi Leher dan pinggang

Filed under: architecture and other arts — alhafizi @ 04:00
Tags: ,

Image

Dewasa ini sudah begitu banyak literatur dan media yang memaparkan tentang proporsi tubuh manusia dengan geometri dan golden ratio atau golden mean. Namun terbersit pertanyaan di dalam benak kita bagaimana kita memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari?  Mungkin saja kita pernah berniat untuk membeli celana tetapi tidak tersedia tempat mencoba atau fitting room di tempat tersebut, misalnya saja di toko pakaian bekas, garage sale, atau penjual pakaian di tengah atrium mall. lantas kita bingung bagaimanakah menentukan ukuran tanpa mencoba celana yang akan dibeli terlebih kita tidak ingat apa ukuran celana kita saat ini. Ada satu fenomena yang sampai saat ini dipercaya oleh beberapa orang terutama ibu-ibu yang gemar berbelanja pakaian, yaitu membandingkan lingkar pinggang dengan lingkar leher dimana pinggang adalah dua kalinya lingkar leher.

Image

Secara logika sederhana proporsi pinggan dan leher memiliki keterkaitan. Pada orang yang berpinggang kurus leher cenderung kurus dan pada orang yang gemuk leher pun cenderung gemuk. Berikut terdapat gambaran perbandingannya.

Image

Gambar diatas adalah perbandingan leher dan pinggul dari 3 jenis berat badan. Terlihat lingkar leher yang sesuai dengan klasifikasi beratnya.

langit langit indah

Sebenarnya selain fenomena pengukuran tersebut terdapat satu lagi fenomena mengukur celana yang lain, Yaitu dengan membandingkan panjang hasta (dari kepalan tangan hingga siku) sama dengan setengah lingkar pinggang.

Image

Hanya saja ada sedikit masalah penalaran pada metode ini. Mungkin untuk beberapa orang teknik perbandingan hasta ini berfungis.Tetapi, secara logika sederhana relevansi antara panjang hasta dengan lebar pinggul kurang cocok. Karena , bila pinggang melebar dikarenakan penggemukan atau penggunungan lemak lengan tidak lantas menjadi ikut panjang.

Begitulah bagaimana proporsi tubuh kita dapat kita manfaatkan dalam kehidupan sehari hari sebagai sarana pembanding pakaian yang akan kita gunakan. Mungkin kedepannya akan ada teknik-teknik pengukuran dengan metode yang mirip seperti ini untuk berbagai macam outfit seperti sepatu, kaos kaki, kemeja, rok dan lain sebagainya. Apakah memang proporsi tubuh dapat menjadi patokan yang sebenarnya? ataukah ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi? atau mungkin bahkan hanya sekedar mitos belaka?

sumber :

http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Obesity-waist_circumference.PNG (diakses 26 Maret 2013)

http://owbegitu.blogspot.com/2011/07/mengukur-celana-tanpa-harus-mencoba.html (diakses 26 Maret 2013)

http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=4318 (diakses 26 Maret 2013)

http://www.goldennumber.net/human-body/ (DIAKSES 27 Maret 2013)

Golden Ratio dan Deret Fibonacci Pada Musik

Filed under: architecture and other arts — audentya @ 02:14

Selama ini golden ratio lebih banyak diterapkan antara lain pada sebuah lukisan, fotografi, arsitektur. Bagaimana dengan seni musik? Sebuah tulisan dengan judul “Did Mozart Use the Golden Section?” muncul saat saya mencari topik mengenai golden ratio, dari tulisan tersebut kemudian saya ikut berpikir bagaimana golden ratio dapat diterapkan dalam suatu komposisi musik.

Sebelumnya, secara singkat isi tulisan tersebut mengenai sebuah penelitian apakah Mozart melakukan penerapan golden section pada karyanya. Hal ini diungkapkan oleh John F. Putt, seorang ahli matematika dari Alma College. Sonata No. 1 in C Major karya Mozart terbagi menjadi dua bagian, yaitu the Exposition yang mana merupakan perkenalan dari tema musikalnya dan yang kedua adalah the Development and Recapitulation, dimana tema musikal itu dikembangkan.

Bagian pertama dalam karya ini terdapat 100 bar yang kemudian terbagi menjadi dua bagian, 38 bar di bagian pertama dan 62 bar di bagian kedua. Bila di rasiokan menjadi 38/62 (0,613). Rasio ini mendekati phi (0,618). Namun pada akhirnya penelitian mengenai karya Mozart masih menjadi perbincangan karena beberapa karyanya tidak memunculkan golden ratio ini, sehingga muncul anggapan bahwa golden ratio yang sudah ditemukan mungkin merupakan suatu kebetulan.

Lepas dari perbincangan apakah komposisi dari Mozart menggunakan golden ratio atau tidak, bukan merupakan hal yang mustahil sebuah musik dapat diciptakan melalu golden ratio. Rasio pada sebuah musik dapat terlihat dari interval antara satu nada dengan nada lainnya. Nada yang terdapat pada suatu scale terbentuk dari rasio frekuensi dan dari sumber yang saya dapat rasio tersebut muncul dari 7 deret pertama Fibonacci (0, 1, 1, 2, 3, 5, 8).

fibonacci ratio

Selain itu hubungan antara golden ratio, deret fibonacci dan musik dapat dibahas melalui tuts piano. Setiap oktaf-nya (C-C’) piano memiliki 13 tuts, terdiri dari 8 tuts hitam dan 5 tuts putih. Pada gambar di bawah dapat terlihat nada ke-8 apabila dibandingkan dengan semua nada pada satu oktaf (yang berjumlah 13) akan memunculkan rasio 8/13 (0,615), rasio ini mendekati phi.

tuts piano

music-golden-section(2)Sumber: http://isaacstearns.files.wordpress.com/2012/09/music-golden-section.jpg

Golden ratio biasanya dikaitkan dengan hasil karya yang indah. Tapi apakah suatu komposisi musik akan terdengar indah dan menarik apabila dibuat dengan cara menerapkan golden ratio? Dan jika iya, apakah hanya dengan cara menerapkan golden ratio ini maka kita bisa menciptakan suatu komposisi musik yang indah?

Sumber:

http://www.science-frontiers.com/sf107/sf107p14.htm (diakses 26 Maret 2013)

http://www.americanscientist.org/issues/pub/did-mozart-use-the-golden-section (diakses 26 Maret 2013)

http://www.goldennumber.net/music/(diakses 26 Maret 2013)

 

 

Prinsip-Prinsip Classic Beauty

Filed under: architecture and other arts,classical aesthetics — martinaratna @ 00:41

Sebenarnya post saya kali ini banyak berisi pertanyaan yang baru terpikirkan pada saat kelas geometri minggu lalu, saat pembahasan mengenai ideal cities. 

Yang menjadi trigger bagi saya adalah pernyataan bahwa semua yang jelek tidak boleh ada di kota tersebut. Saat itu juga disebutkan di kelas, bahwa gelandangan dan pemukiman kumuh adalah termasuk kejelekan yang disembunyikan, atau bahkan tidak boleh terlihat di suatu kota. Seketika itu juga saya berpikir, bahwa orang-orang yang cacat juga termasuk dalah kategori “jelek” dan “tersingkirkan”.

Hal ini tentunya membawa saya kembali ke minggu-minggu awal pertemuan kelas geometri, yaitu menyangkut prinsip-prinsip suatu hal yang dianggap beautiful. Dari pembahasan beberapa minggu, saya merasa bahwa prinsip-prinsip tersebut (ritme, simetri, proporsi, komposisi, dsb) hanya bisa dinikmati secara visual.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak dapat melihat / tuna netra? Apakah memang ada kaitan yang jelas pada sejarah masa itu, bahwa mereka yang tuna netra termasuk dalam kategori “ugly”, sehingga desain-desain yang ada tidak memperhatikan mereka sebagai penikmat? Atau bahkan memang kaum tuna netra ini dirasa tidak pantas untuk menikmati desain tersebut?

Selain itu, saya juga mempertanyakan tentang aspek kualitas ruang yang terbentuk. Apakah ini berarti bahwa metode desain yang berprinsip pada classic beauty mendahulukan penampilan / appearance dibandingkan experience & spatial quality pada suatu desain? Ataukah justru jika kita mengikuti prinsip-prinsip classic beauty, kualitas ruang tertentu dengan sendirinya akan terbentuk?

Saya rasa cukup seru untuk memahami classic beauty pada suatu desain, mengingat hal tersebut bisa membantu menjawab berbagai pertanyaan yang terkait dengan beauty itu sendiri. Tentunya saya sangat terbuka dengan pendapat teman-teman terkait pertanyaan yang saya post kali ini.

March 25, 2013

BIOLA : KEINDAHAN YANG TERINDAH

Filed under: architecture and other arts — annasresaldi @ 13:14
Tags: , ,

Biola, atau biasa juga disebut violin, adalah alat musik yang lahir dari perkembangan alat musik gesek  sebelumnya, yaitu : Ravanastron dan Rebab. Kedua alat musik ini memiliki dua elemen penting, yaitu busur dan dawai, dengan cara memainkan yang sama, yakni dengan cara di gesek.

Bagian dasar dari Ravanastron dan Rebab antara lain terdapat kotak resonansi (bagian bawah) dan tiang (sebagai tempat dawai).

Biola sendiri lahir +/- 15 Abad setelah pendahulunya ada (sekitar tahun 1520) di Eropa. Seperti yang telah diketahui bahwa pada masa itu sedang masa gemilangnya Renaissance. Karena pengaruh masa itu, maka bentuk biola terlihat lebih modern, dibuat dengan halus, proses pembuatannya dengan teknologi tinggi, designnya sesuai dengan prinsip estetika dan tidak bertolak belakang dengan keindahan suaranya, terlebih lagi suaranya yang indah dan nyaring, kuat serta lincah.

Tiga clan pembuat biola yang paling terkenal : Amati, Stradivari, dan Guarneri.

Meskipun saat ini para pembuat biola semakin banyak yang mengupayakan pembaruan atau perombakan dari tiga clan tersebut, namun  mereka tidak bisa lepas dari pola atau bentukan biola yang dibuat oleh tiga clan tersebut (para ahli menganggap biola buatan tiga clan tersebut adalah biola terbaik di dunia).

Bagaimanakah bentuk biola terbaik di dunia tersebut? Apakah sekedar indah saja? Atau memang ia yang “terindah” diantara yang paling indah?

Image

Sumber gambar : http://www.goldennumber.net/music/

keterangan gambar :

a)      proporsi keseluruhan

b)      Proporsi dawai

c)       Proporsi resonansi

 

Gambar diatas adalah perbandingan antar bagian biola.

Bagaimana penggunaan angka fibonacci dan phi dalam mendesain bentuk biola.

Perbandingan biola dengan neck atau tanpa neck menghasilkan suatu proporsi.

 

Image

Sumber gambar : http://zoomine.tumblr.com/image/31405644537

Gambar di atas adalah biola Stradivari yang di selimuti oleh garis segi lima (pentagon). Terlihat bagaimana proporsi dari biola tersebut mulai dari bagian atas sampai bawah.

Secara khusus memang biola disamping terkenal sebagai biola stradivari, namun secara umum biola disamping adalah biola yang dimiliki masyarakat banyak.

 

ImageSumber gambar : http://4.bp.blogspot.com/–Ebounyp1RY/T4gBJlVIwtI/AAAAAAAAAAM/h_DeUiN2GZM/s1600/Sk%C3%A6rmbillede

Perbedaan yang terdapat diantara biola Amati, Stradivari, dan Guarneri adalah penamanaan model, harga, kualitas permainan (penguasaan alat), serta kebiasaan violinis.

Namun hal itu tidak mengubah proporsi dan bentuk biola secara mendasar, secara halus mungkin bisa disebut sebagai penambahan komponen kecil (custom).

Semua garis-garis dari gambar-gambar di atas tak lain adalah untuk menjelaskan hubungan bentuk (dalam hal ini proporsi) yang dapat dinilai dengan sensor visual, dan suara yang dihasilkan (kualitas tone yang dihasilkan) yang dapat dinilai dengan sensor auditori.

Disini ada hubungan yang terjadi (atau kebetulan saja?) antara : Bentuk, kualitas suara, dan Matematika.

“Mathematics is the music of reason.” –  James Joseph Sylvester

 

Image

Sumber gambar: http://4sbccfaculty.sbcc.edu/lecture/2000s/images/georgakis_images/PowerPointImages/Slide77.jpg

Dari penyataan pada gambar di atas, diperoleh pengertian bahwa Golden Ratio, dalam penciptaan sebuah biola dapat memengaruhi keindahan dari segi suara dan bentuk. Seberapapun majunya perkembangan teknologi, bilangan golden ratio tidak pernah lepas dari keindahan biola, benarkah?

Apakah benar biola yang telah tercipta ini adalah biola terbaik yang telah diciptakan manusia? Atau memang teknologi belum sanggup meciptakan yang lebih baik?

 

 

Referensi :

http://4sbccfaculty.sbcc.edu/lecture/2000s/lectures/Peter_Georgakis.htmlss (diakses 25 maret 2013)

http://www.goldennumber.net/acoustics/ (diakses 25 maret 2013)

http://zoomine.tumblr.com/post/31405644537/stradivarius-violin-encased-in-a-pentagon (diakses 25 maret 2013)

http://www.violinist.com/discussion/response.cfm?ID=13014 (diakses 25 maret 2013)

Putaran yang Mengikat, Memperkuat, dan Membentuk Koordinat Cartesian pada Balloon-Twisting

Filed under: architecture and other arts — annisadienfitriah @ 00:30

Siapa sih, yang tidak tahu balon? Ya, benda berbahan karet ini memiliki keunikan tersendiri, bentuk awalnya yang pipih ternyata dapat mengembang dan berongga. Bentuknya kini sangat bervariasi. Bentuk bulat yang sedikit menyudut di bawah adalah bentuk yang paling sering kita temukan. Beberapa balon juga memiliki fungsi dan dimensi yang berbeda, bahkan ada yang menjadi alat transportasi, yaitu balon udara, yang sudah kita ketahui ukurannya memang besar.

Dari banyaknya jenis balon, mekanisme yang dilakukan terhadap benda karet itu kurang lebih sama, yaitu mengembangkan karet pipih yang ringan itu menjadi sesuatu yang mengembang dan berongga. Tapi, itu sajakah? Mmm… Ternyata setelah dikembangkan (ditiup)  pun benda ini dapat berubah menjadi bentuk lainnya. Bentuk yang dihasilkan dapat berupa bentuk dasar hingga bentuk yang lebih kompleks selama elastisitas balon masih memadai.

 Image
Tetrahedron (2 balon) , cube (4 balon), dan octahedron (1 balon) yang terbentuk dari balon yang sudah mengembang
ImageImage
icosahedro (6 balon) dan dodecahedron (10 balon)
Sumber: http://vihart.com/papers/balloon/cccg_long.pdf

Juga bentuk yang lebih kompleks, salah satu contohnya yaitu bentuk kumbang di bawah ini:

Image
Langkah pembuatan bentuk kumbang
Sumber: http://balloonotherapy.blogspot.com/2013/02/ladybug-balloon-twisting-instruction.html

Balloon twisting merupakan seni  membentuk balon hingga menjadi bentuk yang diinginkan. Balloon twisting dilakukan tanpa menggunakan alat perekat, alat pemotong, alat pengikat, ataupun alat lainnya. Hanya dengan tangan dan teknik pemutarannya saja. Bagaimana hal itu dapat terjadi? Dasar apa yang membuat putaran-putaran itu dapat mengikat satu sama lain? Dan apakah sebenarnya hal itu dikarenakan penerapan terbentuknya titik-titik yang bersifat radial dan menjadi poros?

Pada balloon twisting ini, ternyata terdapat beberapa jenis putaran yang mengikat, baik putaran sederhana, hingga dua jenis putaran yang disilangkan, mengadu pada satu titik.

Image
Image
Sumber: http://www.balloonhq.com/faq/twists_101.html#pop

Yang menarik adalah ternyata titik-titik yang dihasilkan putaran balon dapat terikat, menumpuk, dan memperkuat satu sama lain. Titik-titik ini juga mengarah ke beberapa sumbu, yang tentunya berada pada sumbu Cartesian x, y, z dengan koordinat titik yang bervariasi.

Image
Putaran yang menimbulkan titik-titik poros dan menghasilkan sumbu dengan arah tertentu. Balon yang pipih dapat menjadi bentuk 3D yang menyebar.
sumber: analisis pribadi

Image
Titik-titik putaran yang menjadi poros, seperti tuas yang dapat diputar ke segala arah.
Sumber: analisis pribadi

Putaran-putaran ini, secara tidak langsung juga menjadi pengencang untuk udara yang sengaja tidak terisikan secara penuh pada keseluruhan balon, sehingga bentuk 3D dari balloon twisting ini dapat mengencang.

Saya rasa, di balik bentuk-bentuk balloon twisting yang bervariatif dan unik ini memang terdapat kekuatan utama pada titik-titik yang dihasilkan oleh putaran-putaran balon tersebut yang tadinya hanya seperti seutas tali (balon kempes) hingga dapat hadir bentuk tiga dimensi yang lebih besar dan kuat.

Referensi:
http://www.balloonhq.com/faq/twists_101.html
http://vihart.com/papers/balloon/cccg_long.pdf
http://en.wikipedia.org/wiki/Balloon_modelling
http://balloonotherapy.blogspot.com/2013/02/ladybug-balloon-twisting-instruction.html

March 24, 2013

Video Mapping Projection: Mengubah Persepsi Visual pada Arsitektur

Filed under: architecture and other arts,perception — ditanadyaa @ 17:54

Video mapping projection adalah sebuah teknik untuk memproyeksikan video pada permukaan datar. Permukaan datar yang menjadi area proyeksi dari video mapping ini biasanya berupa dinding, layar, struktur, fasad bangunan serta objek-objek tiga dimensi lainnya. Video mapping ini memadukan seni, teknologi, dan juga elemen-elemen geometri dalam proses pembuatannya.

Kata kunci dari video mapping ini adalah projection, yaitu suatu transformasi dari suatu bentuk ke bentuk lainnya. Pada konteks video mapping ini yang diproyeksikan adalah scene pada video. Untuk membuat video mapping semakin menarik dan nyata, teknologi 3D projection diterapkan untuk memunculkan ilusi kedalaman (depth).

Perasaan akan kedalaman dan jarak yang muncul pada proyeksi tersebut merupakan hasil pengubahan persepsi visual dengan menggunakan permainan cahaya dan bayangan. Bahkan tidak jarang pula pembuat video menggunakan sumber cahaya dan bayangan yang artifisial demi mendapatkan efek dan ilusi optik yang sesuai dengan ekspektasi mereka.

Objek yang diproyeksikan dapat berupa motion graphic atau animasi 3D yang terdiri atas bidang-bidang berbentuk geometris, garis, maupun ruang. Proyektor kemudian mentransformasikan input-input tersebut menjadi lebih eksploratif dan menarik, seperti membengkokkan, merotasikan, serta memberikan penekanan (highlight) yang menjadikan objek proyeksi sebagai titik fokus yang diamati oleh penonton.

Secara singkat, proses yang terjadi dalam video mapping projection adalah seperti berikut ini:

(SHAPE, LINE, SPACE) + (LIGHT & SHADOW) -> OPTICAL ILLUSION -> CHANGING PERCEPTION OF FORM

Dapat dikatakan bahwa ilusi optik yang kemudian mengubah persepsi kita terhadap bentuk dan perspektif ini turut mempengaruhi persepsi kita terhadap suatu bangunan sebagai karya arsitektur. Fasad bangunan yang cenderung datar dan monoton menjadi terasa lebih hidup dengan bantuan teknologi proyeksi video ini.

Nah, daripada saya terlalu banyak bercerita, langsung saja saya sajikan video berikut ini ya😀

Memang butuh ketelitian yang tinggi dan juga biaya yang tidak murah untuk menghasilkan video mapping projection ini. Akan tetapi, dengan memelajarinya kita jadi tahu kalau geometri dan matematika dapat diaplikasikan menjadi bentuk-bentuk yang indah dan artistik. Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk membuatnya?:)

Sumber:

http://www.creativebloq.com/video/projection-mapping-912849 (diakses 24 Maret 2013)

http://videomapping.org/?page_id=42 (diakses 24 Maret 2013)

http://videomapping.tumblr.com/ (diakses 24 Maret 2013)

http://en.wikipedia.org/wiki/Projection_mapping (diakses 24 Maret 2013)

http://www.mappingaround.com/category/categories/arquitectural/ (diakses 24 Maret 2013)

http://www.youtube.com/watch?v=O3uOhXOCMOs (diakses 24 Maret 2013)

‘Sacred Geometry’ dibalik fenomena Crop Circle

Filed under: architecture and other arts — faradikaayu @ 17:03
Tags: , , ,

“The crop circle phenomena are not just ordinary accidents of nature in the countryside, but may -indeed probably do- have serious implications for us all in terms of what may lie behind them.” –Michael Green, Archaeologist, Architectural Historian, dan pendiri Centre of Crop Circle Studies.

Pada setiap kemunculannya crop circle seringkali menjadi sorotan yang menghebohkan bagi setiap masyarakat, tak terkecuali di bumi pertiwi ini. Kehadirannya selalu dikaitkan dengan keberadaan makhluk luar angkasa yang membuat simbol akan eksistensinya di muka bumi. Yang menarik bagi saya adalah, bagaimana bentuk-bentuk yang terdapat pada crop circle mampu menjadi sebuah konstruksi yang terdiri dari prinsip euclidean geometri.

ImageCrop circle pada awal kemunculannya hanya berupa lingkaran sederhana, dimana bentuk ini dianggap sebagai ‘sacred geometry’ yang mewakili alam semesta, sehingga kemudian pada kemunculan selanjutnya bentuk ini menjadi unsur utama yang dipadukan dan disusun tumpang tindih dengan unsur euclid geometri lainnya.

Image Image Image

Sedangkan pada perkembangannya, crop circle muncul dengan komposisi bentuk geometri lain seperti segitiga yang merupakan simbolik dari suatu penciptaan, hingga membentuk ‘principal element‘ seperti yang ditunjukan pada gambar, dengan masing-masing bernama: vesica piscis, equilateral triangel, dan hexagon.

Lalu, bagaimana ‘principal element‘ tersebut berkembang menjadi pola-pola yang tidak hanya terbentuk dari komposisi geometri lingkaran, segitiga, dan persegi?

Sebenarnya semua itu bukan berarti lepas dari susunan komponen geometri yang telah disebutkan di atas, dengan bantuan grid, kita dapat membedah proses terbentuknya pola ‘crop circle‘ seperti yang sering kita lihat saat ini.

Image

Pola crop circle di atas merupakan pola yang berkembang dari vesica piscis, dimana bentuk geometri lingkaran yang saling bersinggungan masih menjadi unsur utama pembentuk komposisi hingga menghasilkan pola simetri.

Image

ImageImageImage

Kemudian bentuk swallow crop circle yang muncul di UK ini juga mengadopsi bentuk dasar vesica piscis, yang didalamnya terdapat 3 kali pengulangan bentuk dasar dengan perbandingan skala di tiap vesica adalah 3 : 2 : 1 menghasilkan kurva dengan pola seperti burung swallow. Sedangkan lingkaran yang berada di ujung-ujung kurva menyimbolkan kesan siap landas.

 

ImageImage

ImageImage

Bahkan, ditemukan pula penggunaan golden ratio dalam proses pengaturan proporsi dari dominasi bentuk lingkaran, seperti crop circle seperti pada gambar di atas yang menghasilkan sebuah pola harmonisasi visual.

Dari semua contoh pola crop circle yang telah dipaparkan, meskipun tidak pernah diketahui siapa yang membuat, saya dapat menemukan sebuah hal baru, bahwa keindahan pola-pola tersebut tidaklah lepas dari pengkomposisian bentuk-bentuk geometri yang diatur dalam suatu grid maupun golden ratio.

Crop circles are one of the most spectacular phenomena of our present time. They exhibit beauty, proportion and form. To many individuals they speak in ancient languages of our early ancestors’ universal quest for understanding symbolic sacred form, creative personal insight towards the vastness of our being and the geometric matrix that binds us all.” -Dr. Colette M. Dowell , N.D.

Sumber:

  • Hypermath, http://www.hypermaths.org/ (diakses tanggal 16 Maret 2013)
  • The Sacred Geometry of Crop Circle, http://www.cropcirclesecrets.org/ (diakses tanggal 16 Maret 2013)
  • Perception of Sacred Geometry Contained in Crop Circle Formations, http://www.greatdreams.com/crop/colette/crop_circles_and_sacred_geometry.html  (diakses tanggal 24 Maret 2013)
  • Gambar diambil dari: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.405159296197079.88999.151685648211113&type= (diakses tanggal 24 Maret 2013)

Ada Apa di Balik Bento?

Filed under: architecture and other arts — valencia93 @ 15:01
Tags: , ,

Pernahkah Anda makan bento? Bento sudah cukup populer di Indonesia sebagai makanan cepat saji asal Jepang. Di Indonesia sendiri, kita memang mengenal bekal makanan yang dibawakan oleh ibu saat kita pergi ke sekolah. Bekal makanan berisi nasi dan lauk-pauk juga memang dikemas dalam kotak makanan. Toh, apa bedanya Bento ala Jepang dengan bekal makanan yang pernah kita nikmati saat sekolah dulu?

Image
Sumber: http://images1.friendseat.com/2009/10/Bento-Box-Lunch-Image-via-Donald-Clark-Flickr.jpg

Kualitas bento dapat dilihat dari tekstur dan warna makanan. Hal ini disesuaikan dengan jenis kelamin, tinggi badan, aktivitas harian, dan usia masing-masing. Jumlah kebutuhan kalori setiap harinya dapat dihitung dengan menemukan berat badan ideal terlebih dahulu. Kemudian, dikalikan dengan 25 kkal untuk wanita dan 30 kkal untuk pria.

Berat Badan Ideal = 0.9 (tinggi badan – 100)

Jumlah kalori = Berat Badan Ideal x 25/30 kkal

Image

Image

Sumber: http://item.rakuten.co.jp/yellowstudio/c/0000000352

Ada 3 hal yang menjadi panduan dalam mengatur komposisi bento. Perbandingan 3:2:1 dalam bento digunakan untuk mengatur jumlah makanan. 50% terdiri dari karbohidrat, 33 % merupakan porsi untuk buah dan sayuran, sedangkan 17 % porsi protein. Yang kedua adalah tidak ada permen, makanan berlemak dan cepat saji. Panduan lainnya adalah tidak ada ruang kosong. Ruang kosong dalam kotak dapat diisi dengan aksesoris makanan lainnya, seperti wortel, mentimun, dan lainnya.

Selain memanjakan lidah kita, bento memiliki syarat lainnya, yaitu keindahan visual. Untuk mendapatkan keseimbangan makanan, setiap bento harus menyatukan 5 (lima) elemen yang menjadi aturan tidak tertulis merangkai bento. Hal tersebut melingkupi warna, metode, rasa, pengindraan, dan sudut pandang. Seperti pada gambar di samping, salmon teriyaki bento mengikuti lima panduan tersebut. Warna merah didapat dari jahe jepang (jinjya) dengan rasa sedikit pedas, warna kuning dari renyahnya tempura goreng yang asin, warna hijau dari sayuran yang direbus, warna hitam dari saos soya dan salmon yang dipanggang, dan warna putih dari potongan sushi dan nasi.

“… and beauty, when the appearance of

the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion…” (Vitruvius, Morgan’s Translation, 1960)

“The concept of proportion is in composition the most important one, whether it is used consciously or unconsciously.” (Matila Ghyka, 1952)

Image
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-DucACVJrINA/TlDlXTJ-rvI/AAAAAAAAAMg/aSeoWZW6c2E/s1600/salmon%2Bteriyaki%2Bbento-box.jpg
Image
Sumber: http://www.allthingsforsale.com/img/bento/bentobox.jpg

Menurut Vitruvius dan Ghyka, proporsi merupakan hal terpenting dalam komposisi yang menciptakan keindahan itu sendiri. Makanan bento dikelompokkan dalam tempat-tempat kecil dan disatukan kotak bento. Desain geometri segi empat bento mengemas makanan dengan perbandingan 3:2:1 yang telah disebutkan di atas. Bentuk dan besaran kotak bento pun beragam. Dalam analisa bentuk di samping, persegi panjang ABCD mempunyai proporsi sama dengan DCEF. Image

Pengaturan komposisi bahan, warna dan tekstur makanan memberi keindahan visual pada beno. Dibalik keindahan tersebut justru didukung oleh proporsi bentuk dasar kotak bento. Desain kotak bento juga memiliki pengaruh besar dalam menampung makanan tersebut. Proporsi kotak bento bukan hanya menimbulkan keindahan, namun juga sesuai dengan kebutuhan kalori tubuh setiap kali makan. Bekal makanan yang satu ini berbeda dengan bekal lainnya menjadi lebih menarik, bukan? Dalam pikiran kita, yang jelas setelah makan kita akan merasa kenyang. Sekarang manakah yang lebih penting, keindahan makanan atau mengisi perut agar kenyang?

Sumber: (Diakses pada 22 Maret 2013)

Vitruvius, Terjemahan Morgan, 2006, Ten Books on ArchitectureeBook Version, [Online], (www.gutenberg.org)

http://desxripsi.blogspot.com/2012/11/bento-seni-merangkai-bekal-ala.html#axzz2OMS37zL7

http://health.okezone.com/read/2012/10/05/486/699722/redirect

http://lunchinabox.net/2007/03/07/guide-to-choosing-the-right-size-bento-box/

http://www.okefood.com/read/2012/06/09/299/644279/large

http://www.pangaeashop.com/Choosing_A_Box.html

http://www.pangaeashop.com/Packing_bento.html

http://www.pangaeashop.com/What_is_Bento.html

Desain Pewarnaan Rambut yang Terinspirasi dari ‘Golden Ratio’

Filed under: architecture and other arts — fadilaliqa @ 13:38
Tags:

Selama ini yang kita tahu ‘golden ratio’ sering dipergunakan dalam seni visual dan arsitektur. Namun yang saya temukan kali ini cukup menarik, karena seorang penata rambut yang bernama Tanya Ramirez dari Amerika Serikat, menggunakan ‘golden ratio’ untuk desain pewarnaan rambut.

165629_182311375123544_7727444_n 168931_182311435123538_220363_n167376_182311328456882_59841_n

“Through sacred geometry, we can discover the inherent proportion, balance and harmony in any situation. I used the Golden Ratio in many ways, from sectioning and color placement to the ratios in my formulations.” Ramirez menjelaskan konsepnya tentang ‘golden ratio’ pada desain pewarnaan rambutnya.

PHOTO-A-Fibonacci1

170357_182310985123583_5185055_o 171263_182310925123589_7214192_o 171323_182310965123585_3292334_o

170068_182310945123587_4985961_o 170105_182310785123603_4953488_o

 

 

 

‘Golden ratio’ dijadikan sebagai acuan keindahan. Hal-hal yang, baik disengaja maupun tidak disengaja, menggunakan ‘golden ratio’ dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang indah. Desain pewarnaan rambut ini yang menggunakan ‘golden ratio’ ini apakah dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang indah?

 

Referensi:

http://io9.com/5985588/15-uncanny-examples-of-the-golden-ratio-in-nature

http://www.modernsalon.com/features/hair-beauty/the_golden_ratio_in_hair_color_125334838.html

http://untamedinstincts.com/news.html

http://www.youtube.com/watch?v=8Vk_m2vo-cI

[diakses 23 Maret 2013]

Deret Fibonacci, Golden Ratio, dan Web Design

Filed under: architecture and other arts — adinibrahim @ 11:47

Deret Fibonacci adalah sebuah deret angka dengan pola yang terjadi melalui penjumlahan dua angka sebelumnya.

0,1,1,2,3,5,8,13,21,34,55,89,144,…

Bagaimana hubungan deret fibonacci dengan golden ratio?

Deret Fibonacci sangat dekat hubungannya dengan golden ratio. Golden ratio sendiri adalah sebuah konsep desain yang mencoba menciptakan keindahan visual dalam seni, arsitektur, desain, tubuh manusia, dan sebagainya melalui sebuah hitungan.

Berikut contoh golden ratio pada bangunan dan alam:

ImageImage

Berikut hitungan pada golden ratio:

Image

Angka ini berlaku pula pada deret fibonacci, apabila kita membagi satu bilangan pada deret fibonacci dengan satu angka dibelakangnya, maka akan diperoleh angka golden ratio. Ini tidak terlalu tampak pada permulaan deret fibonacci. namun, hasil pembagian semakin mendekati angkat golden ratio pada bilangan-bilangan yang besar.

2/1 = 2

3/2 = 1.5

5/3 = 1.6667

8/5 = 1.6

13/8 = 1.625

21/13 = 1.6154

34/21 = 1.6190

55/34 = 1.6175

89/55 = 1.6182

144/89 = 1.6180

233/144 = 1.6180

377/233 = 1.6180

610/377 = 1.6180

Dengan eratnya hubungan fibonacci dengan golden ratio, ini berarti angka pada deret fibonacci dapat digunakan sebagai pegangan dalam menciptakan keindahan visual.

Lalu bagaimana hubungna deret fibonacci dengan web design?

Pada web design, pengaturan spasial pada bidang dua dimensi, yaitu jendela tampilan menjadi elemen utama. Spacing dan space menjadi hal penting untuk menjadikan tampilan web menarik dan indah dilihat. Segala sesuatu Tinggi dan lebar Presisi dan pengaturan spasial ini yang membedakan mana desain yang biasa saja dengan yang luar biasa.

Dengan menggunakan deret fibonacci sebagai dasar desain, dapat ditentukan proporsi dalam tampilan web. Seperti bagaimana ukuran Header terhadap navigation bar, bagaimana lebar foto terhadap sidebar, dll. Proporsi dari elemen-elemen ini yang membuat tampilan web menjadi indah atau malah hancur lebur.

Berikut contoh pengaturan spasial dengan deret fibonacci:

Image

Pengaturan ini juga dapat dijelaskan dengan golden ratio:

Image

Saat melihat deret fibonacci dan melihatnya sebagai sebuah pengaturan ruang, pengaturan margin dan ukuran huruf dapat menciptakan struktur dasar dari keseluruhan desain. Bilangan-bilangan kecil (8,13,21,34,55), dapat digunakan untuk menentukan margin, ukuran huruf, dan tebal garis. Sedangkan bilangan besar (144,233,377,610,987), dapat digunakan untuk lebar kolom dan dimensi bagian yang lain.

Menggunakan bilangan-bilangan tersebut secara sederhana, dapat menciptakan keselarasan, ritme, dan harmoni visual. Bilangan deret fibonacci dapat digunakan untuk menentukan apa pun, mulai dari ukuran bagaian utama (header, kolom, footer, dll) hingga margin dan ukuran teks.

Seperti contoh berikut:

Image    Image

Image

sumber:

http://mindblowingscience.com/brain-food/fibbonacci-and-the-golden-ratio/

http://3.7designs.co/blog/2010/10/how-to-design-using-the-fibonacci-sequence/

« Previous PageNext Page »

The Rubric Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.