there’s something about geometry + architecture

March 27, 2013

GOLDEN SECTION PADA SENI ORIGAMI

Filed under: architecture and other arts — irininterior09 @ 19:25

You don’t have to be ‘creative’ to be a crafter. Origami is structured, geometrical and logical.

-Janet William

 

Siapa yang tidak mengenal origami? Hampir semua orang pada saat duduk di taman kanak-kanak dulu, diajarkan origami-origami sederhana seperti membuat hewan, tumbuhan, rumah, atatupun objek-objek sederhana lainnya. Origami yang paling sering kita lihat dan kita kenal adalah origami burung atau crane. Origami merupakan seni melipat kertas tradisional dari Jepang, ori berarti melipat dan kami yang berarti kertas.

Untuk membuat sebuah model origami, kita harus melakukan beberapa lipatan untuk menghasilkan sebuah model origami yang diingikan. Dilakukan dengan mengikuti instruksi langkah demi langkah untuk menghasilkan bentuk yang sesuai. Hal ini mungkin dapat dilakukan jika model origami yang akan kita buat cukup sederhana, metode ini cukup mudah dipelajari, dan biasa digunakan oleh mereka yang pertama kali belajar melipat origami, misalnya anak-anak.

Image

sumber: http://mayleechai.files.wordpress.com/2010/04/origami-crane-base.jpg

Lihatlah diagram diatas, lipatan-lipatan yang terjadi pada setiap langkahnya membentuk suatu bidang geometri dasar seperti segitiga dan persegi panjang, proses melipat dan bagaimana pertemuan dari satu titik ke titik lainnya, yang kemudian membagi suatu garis atau bidang menjadi beberapa bagian yang simetris dan berukuran sama. Dari hasil lipatan-lipatan ini lah yang akhirnya akan membuat suatu diagram pola lipatan yang jika dilipat-lipat lagi akan menghasilkan model tiga dimensi origami yang diingikan, metode ini dikenal dengan sequence crease pattern (SCP) atau progressive crease pattern (PCP).

Bagi mereka yang sudah akrab dan mahir dengan seni origami, mereka akan mencoba membuat berbagai macam model baru tentunya dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Teknik tersebut dikenal dengan crease pattern, sebelum membuat model origami tiga dimensi, terlebih dahulu mereka menggambarkan diagramnya pada selembar kertas. Dari diagram inilah akan terbentuk model origami akhir yang diinginkan, metode origami dengan menggunakan crease pattern diagram ini biasa dilakukan untuk membuat model-model yang kompleks dan super-kompleks.

Image

Sumber : Architecture Origami by Tomohiro Tachi

Dari gambar diatas, diagram-diagram yang dibentuk membentuk suatu pola yang terbentuk dari bidang-bidang datar dengan perbandingan-perbandingan tertentu, ada yang simetris, ada juga yang tidak simetris. Dalam membuat perbandingan-perbandingan tersebut, tentunya desainer origami memperhatikan rasio-rasio tertentu agar dapat terbentuk model akhir yang diinginkan sehingga mendapatkan proporsi model yang baik.

Pertanyaannya adalah, apakah seorang desainer origami menggunakan golden ratio dalam membuat diagram yang kompleks tersebut? Ataukah mereka memiliki “golden ratio” mereka sendiri untuk menciptakan proporsi model origami yang baik? Jadi apakah golden ratio merupakan cara satu-satunya untuk menentukan baik tidaknya proporsi suatu benda. Jawabannya bisa IYA, bisa juga TIDAK :)

Unconscious Beauty: Ombre Hair

Filed under: architecture and other arts,classical aesthetics — yohanasilitonga @ 11:23
Tags: , , ,

Melihat fenomena gaya rambut yang sedang in akhir-akhir ini saat sedang mempelajari geometri membuat saya berfikir, mengapa gaya rambut seperti itu bisa sangat disukai orang ya? Padahal tidak simetris, terlihat tidak rapi, dan boro-boro bicara mengenai golden section disana. Tentu ada sesuatu yang membuat gaya rambut ini menarik, yang membuatnya indah tanpa mengenal prinsip-prinsip mengenai keindahan yang sering kita dengar.

Ombre1 Hal yang sangat saya sadari ialah: Kontemporer; tidak ikut aturan, beda, itu bagus. Kini orang-orang selalu berusaha untuk menjadi berbeda dengan yang lain, tidak ingin disamakan, ingin terlihat unik, ingin menjadi pencetus, terutama anak muda. Keinginan untuk tampil berbeda dan lebih baik dari yang lainnya membuat seseorang mencoba-coba tanpa menghiraukan apa yang lumrah di sekitarnya.

Gaya rambut Ombre dimana dilakukan pewarnaan bergradasi di bagian bawah rambut merupakan salah satu gaya yang saya coba, tanpa pergi ke salon karena takut hasilnya tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Memangnya apa yang saya inginkan? Saya ingin gradasinya tepat, tidak terlihat freak, warnanya tidak norak, proporsinya dengan rambut saya tepat, dsb. Apa yang saya lakukan sama sekali tidak melibatkan pemikiran mengenai golden section atau teori lainnya, yang saya lakukan hanya sekadar meraba-raba, mengira-ngira apakah sudah cukup perbedaan gradasi yang saya buat, apakah tidak terlalu naik, dsb. Secara tidak saya sadari saya telah melakukan pengukuran proporsi demi mencapai proporsi ideal dan keindahan.

Dengan pencarian ke berbagai sumber di internet saya menyukai jenis ombre ketika ia memiliki perbandingan 1/8 dengan keseluruhan panjang rambut, sehingga benar-benar hanya pada bagian ujung rambut saja terjadi gradasi. Sehingga ketika melakukan bleaching rambut saya terus berusaha bagaimana caranya agar terbentuk 1/8 bagian rambut yang sangat terang di bagian bawah.

Ombre4

BleachProgress

Dimulai dengan bleach ½ bagian rambut, lalu ¼ bagian rambut, lalu 1/8 bagian rambut. Demikian saya memperoleh warna yang saya harapkan.

Mencoba menghubung-hubungkan dengan golden ratio dan fibonacci numbers, saya melakukan pengukuran kecil-kecilan..

zi zu za ze

Saya menemukan bahwa gaya rambut ombre tidak perlu dihubungkan dengan prinsip-prinsip proporsi sempurna seperti golden ratio, fibonacci numbers. Keindahan dapat diperoleh melalui perasaan, sehingga keindahan yang terbentuk merupakan unconscious beauty, meski tidak ada salahnya juga jika melakukan ombre dengan menggunakan prinsip-prinsip tadi. Segalanya kembali lagi kepada selera masing-masing :)

Menentukan Ukuran Celana dengan Menggunakan Proporsi Leher dan pinggang

Filed under: architecture and other arts — alhafizi @ 04:00
Tags: ,

Image

Dewasa ini sudah begitu banyak literatur dan media yang memaparkan tentang proporsi tubuh manusia dengan geometri dan golden ratio atau golden mean. Namun terbersit pertanyaan di dalam benak kita bagaimana kita memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari?  Mungkin saja kita pernah berniat untuk membeli celana tetapi tidak tersedia tempat mencoba atau fitting room di tempat tersebut, misalnya saja di toko pakaian bekas, garage sale, atau penjual pakaian di tengah atrium mall. lantas kita bingung bagaimanakah menentukan ukuran tanpa mencoba celana yang akan dibeli terlebih kita tidak ingat apa ukuran celana kita saat ini. Ada satu fenomena yang sampai saat ini dipercaya oleh beberapa orang terutama ibu-ibu yang gemar berbelanja pakaian, yaitu membandingkan lingkar pinggang dengan lingkar leher dimana pinggang adalah dua kalinya lingkar leher.

Image

Secara logika sederhana proporsi pinggan dan leher memiliki keterkaitan. Pada orang yang berpinggang kurus leher cenderung kurus dan pada orang yang gemuk leher pun cenderung gemuk. Berikut terdapat gambaran perbandingannya.

Image

Gambar diatas adalah perbandingan leher dan pinggul dari 3 jenis berat badan. Terlihat lingkar leher yang sesuai dengan klasifikasi beratnya.

langit langit indah

Sebenarnya selain fenomena pengukuran tersebut terdapat satu lagi fenomena mengukur celana yang lain, Yaitu dengan membandingkan panjang hasta (dari kepalan tangan hingga siku) sama dengan setengah lingkar pinggang.

Image

Hanya saja ada sedikit masalah penalaran pada metode ini. Mungkin untuk beberapa orang teknik perbandingan hasta ini berfungis.Tetapi, secara logika sederhana relevansi antara panjang hasta dengan lebar pinggul kurang cocok. Karena , bila pinggang melebar dikarenakan penggemukan atau penggunungan lemak lengan tidak lantas menjadi ikut panjang.

Begitulah bagaimana proporsi tubuh kita dapat kita manfaatkan dalam kehidupan sehari hari sebagai sarana pembanding pakaian yang akan kita gunakan. Mungkin kedepannya akan ada teknik-teknik pengukuran dengan metode yang mirip seperti ini untuk berbagai macam outfit seperti sepatu, kaos kaki, kemeja, rok dan lain sebagainya. Apakah memang proporsi tubuh dapat menjadi patokan yang sebenarnya? ataukah ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi? atau mungkin bahkan hanya sekedar mitos belaka?

sumber :

http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Obesity-waist_circumference.PNG (diakses 26 Maret 2013)

http://owbegitu.blogspot.com/2011/07/mengukur-celana-tanpa-harus-mencoba.html (diakses 26 Maret 2013)

http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=4318 (diakses 26 Maret 2013)

http://www.goldennumber.net/human-body/ (DIAKSES 27 Maret 2013)

Golden Ratio dan Deret Fibonacci Pada Musik

Filed under: architecture and other arts — audentya @ 02:14

Selama ini golden ratio lebih banyak diterapkan antara lain pada sebuah lukisan, fotografi, arsitektur. Bagaimana dengan seni musik? Sebuah tulisan dengan judul “Did Mozart Use the Golden Section?” muncul saat saya mencari topik mengenai golden ratio, dari tulisan tersebut kemudian saya ikut berpikir bagaimana golden ratio dapat diterapkan dalam suatu komposisi musik.

Sebelumnya, secara singkat isi tulisan tersebut mengenai sebuah penelitian apakah Mozart melakukan penerapan golden section pada karyanya. Hal ini diungkapkan oleh John F. Putt, seorang ahli matematika dari Alma College. Sonata No. 1 in C Major karya Mozart terbagi menjadi dua bagian, yaitu the Exposition yang mana merupakan perkenalan dari tema musikalnya dan yang kedua adalah the Development and Recapitulation, dimana tema musikal itu dikembangkan.

Bagian pertama dalam karya ini terdapat 100 bar yang kemudian terbagi menjadi dua bagian, 38 bar di bagian pertama dan 62 bar di bagian kedua. Bila di rasiokan menjadi 38/62 (0,613). Rasio ini mendekati phi (0,618). Namun pada akhirnya penelitian mengenai karya Mozart masih menjadi perbincangan karena beberapa karyanya tidak memunculkan golden ratio ini, sehingga muncul anggapan bahwa golden ratio yang sudah ditemukan mungkin merupakan suatu kebetulan.

Lepas dari perbincangan apakah komposisi dari Mozart menggunakan golden ratio atau tidak, bukan merupakan hal yang mustahil sebuah musik dapat diciptakan melalu golden ratio. Rasio pada sebuah musik dapat terlihat dari interval antara satu nada dengan nada lainnya. Nada yang terdapat pada suatu scale terbentuk dari rasio frekuensi dan dari sumber yang saya dapat rasio tersebut muncul dari 7 deret pertama Fibonacci (0, 1, 1, 2, 3, 5, 8).

fibonacci ratio

Selain itu hubungan antara golden ratio, deret fibonacci dan musik dapat dibahas melalui tuts piano. Setiap oktaf-nya (C-C’) piano memiliki 13 tuts, terdiri dari 8 tuts hitam dan 5 tuts putih. Pada gambar di bawah dapat terlihat nada ke-8 apabila dibandingkan dengan semua nada pada satu oktaf (yang berjumlah 13) akan memunculkan rasio 8/13 (0,615), rasio ini mendekati phi.

tuts piano

music-golden-section(2)Sumber: http://isaacstearns.files.wordpress.com/2012/09/music-golden-section.jpg

Golden ratio biasanya dikaitkan dengan hasil karya yang indah. Tapi apakah suatu komposisi musik akan terdengar indah dan menarik apabila dibuat dengan cara menerapkan golden ratio? Dan jika iya, apakah hanya dengan cara menerapkan golden ratio ini maka kita bisa menciptakan suatu komposisi musik yang indah?

Sumber:

http://www.science-frontiers.com/sf107/sf107p14.htm (diakses 26 Maret 2013)

http://www.americanscientist.org/issues/pub/did-mozart-use-the-golden-section (diakses 26 Maret 2013)

http://www.goldennumber.net/music/(diakses 26 Maret 2013)

 

 

Prinsip-Prinsip Classic Beauty

Filed under: architecture and other arts,classical aesthetics — martinaratna @ 00:41

Sebenarnya post saya kali ini banyak berisi pertanyaan yang baru terpikirkan pada saat kelas geometri minggu lalu, saat pembahasan mengenai ideal cities. 

Yang menjadi trigger bagi saya adalah pernyataan bahwa semua yang jelek tidak boleh ada di kota tersebut. Saat itu juga disebutkan di kelas, bahwa gelandangan dan pemukiman kumuh adalah termasuk kejelekan yang disembunyikan, atau bahkan tidak boleh terlihat di suatu kota. Seketika itu juga saya berpikir, bahwa orang-orang yang cacat juga termasuk dalah kategori “jelek” dan “tersingkirkan”.

Hal ini tentunya membawa saya kembali ke minggu-minggu awal pertemuan kelas geometri, yaitu menyangkut prinsip-prinsip suatu hal yang dianggap beautiful. Dari pembahasan beberapa minggu, saya merasa bahwa prinsip-prinsip tersebut (ritme, simetri, proporsi, komposisi, dsb) hanya bisa dinikmati secara visual.

Lalu, bagaimana dengan mereka yang tidak dapat melihat / tuna netra? Apakah memang ada kaitan yang jelas pada sejarah masa itu, bahwa mereka yang tuna netra termasuk dalam kategori “ugly”, sehingga desain-desain yang ada tidak memperhatikan mereka sebagai penikmat? Atau bahkan memang kaum tuna netra ini dirasa tidak pantas untuk menikmati desain tersebut?

Selain itu, saya juga mempertanyakan tentang aspek kualitas ruang yang terbentuk. Apakah ini berarti bahwa metode desain yang berprinsip pada classic beauty mendahulukan penampilan / appearance dibandingkan experience & spatial quality pada suatu desain? Ataukah justru jika kita mengikuti prinsip-prinsip classic beauty, kualitas ruang tertentu dengan sendirinya akan terbentuk?

Saya rasa cukup seru untuk memahami classic beauty pada suatu desain, mengingat hal tersebut bisa membantu menjawab berbagai pertanyaan yang terkait dengan beauty itu sendiri. Tentunya saya sangat terbuka dengan pendapat teman-teman terkait pertanyaan yang saya post kali ini.

March 25, 2013

BIOLA : KEINDAHAN YANG TERINDAH

Filed under: architecture and other arts — annasresaldi @ 13:14
Tags: , ,

Biola, atau biasa juga disebut violin, adalah alat musik yang lahir dari perkembangan alat musik gesek  sebelumnya, yaitu : Ravanastron dan Rebab. Kedua alat musik ini memiliki dua elemen penting, yaitu busur dan dawai, dengan cara memainkan yang sama, yakni dengan cara di gesek.

Bagian dasar dari Ravanastron dan Rebab antara lain terdapat kotak resonansi (bagian bawah) dan tiang (sebagai tempat dawai).

Biola sendiri lahir +/- 15 Abad setelah pendahulunya ada (sekitar tahun 1520) di Eropa. Seperti yang telah diketahui bahwa pada masa itu sedang masa gemilangnya Renaissance. Karena pengaruh masa itu, maka bentuk biola terlihat lebih modern, dibuat dengan halus, proses pembuatannya dengan teknologi tinggi, designnya sesuai dengan prinsip estetika dan tidak bertolak belakang dengan keindahan suaranya, terlebih lagi suaranya yang indah dan nyaring, kuat serta lincah.

Tiga clan pembuat biola yang paling terkenal : Amati, Stradivari, dan Guarneri.

Meskipun saat ini para pembuat biola semakin banyak yang mengupayakan pembaruan atau perombakan dari tiga clan tersebut, namun  mereka tidak bisa lepas dari pola atau bentukan biola yang dibuat oleh tiga clan tersebut (para ahli menganggap biola buatan tiga clan tersebut adalah biola terbaik di dunia).

Bagaimanakah bentuk biola terbaik di dunia tersebut? Apakah sekedar indah saja? Atau memang ia yang “terindah” diantara yang paling indah?

Image

Sumber gambar : http://www.goldennumber.net/music/

keterangan gambar :

a)      proporsi keseluruhan

b)      Proporsi dawai

c)       Proporsi resonansi

 

Gambar diatas adalah perbandingan antar bagian biola.

Bagaimana penggunaan angka fibonacci dan phi dalam mendesain bentuk biola.

Perbandingan biola dengan neck atau tanpa neck menghasilkan suatu proporsi.

 

Image

Sumber gambar : http://zoomine.tumblr.com/image/31405644537

Gambar di atas adalah biola Stradivari yang di selimuti oleh garis segi lima (pentagon). Terlihat bagaimana proporsi dari biola tersebut mulai dari bagian atas sampai bawah.

Secara khusus memang biola disamping terkenal sebagai biola stradivari, namun secara umum biola disamping adalah biola yang dimiliki masyarakat banyak.

 

ImageSumber gambar : http://4.bp.blogspot.com/–Ebounyp1RY/T4gBJlVIwtI/AAAAAAAAAAM/h_DeUiN2GZM/s1600/Sk%C3%A6rmbillede

Perbedaan yang terdapat diantara biola Amati, Stradivari, dan Guarneri adalah penamanaan model, harga, kualitas permainan (penguasaan alat), serta kebiasaan violinis.

Namun hal itu tidak mengubah proporsi dan bentuk biola secara mendasar, secara halus mungkin bisa disebut sebagai penambahan komponen kecil (custom).

Semua garis-garis dari gambar-gambar di atas tak lain adalah untuk menjelaskan hubungan bentuk (dalam hal ini proporsi) yang dapat dinilai dengan sensor visual, dan suara yang dihasilkan (kualitas tone yang dihasilkan) yang dapat dinilai dengan sensor auditori.

Disini ada hubungan yang terjadi (atau kebetulan saja?) antara : Bentuk, kualitas suara, dan Matematika.

“Mathematics is the music of reason.” -  James Joseph Sylvester

 

Image

Sumber gambar: http://4sbccfaculty.sbcc.edu/lecture/2000s/images/georgakis_images/PowerPointImages/Slide77.jpg

Dari penyataan pada gambar di atas, diperoleh pengertian bahwa Golden Ratio, dalam penciptaan sebuah biola dapat memengaruhi keindahan dari segi suara dan bentuk. Seberapapun majunya perkembangan teknologi, bilangan golden ratio tidak pernah lepas dari keindahan biola, benarkah?

Apakah benar biola yang telah tercipta ini adalah biola terbaik yang telah diciptakan manusia? Atau memang teknologi belum sanggup meciptakan yang lebih baik?

 

 

Referensi :

http://4sbccfaculty.sbcc.edu/lecture/2000s/lectures/Peter_Georgakis.htmlss (diakses 25 maret 2013)

http://www.goldennumber.net/acoustics/ (diakses 25 maret 2013)

http://zoomine.tumblr.com/post/31405644537/stradivarius-violin-encased-in-a-pentagon (diakses 25 maret 2013)

http://www.violinist.com/discussion/response.cfm?ID=13014 (diakses 25 maret 2013)

Putaran yang Mengikat, Memperkuat, dan Membentuk Koordinat Cartesian pada Balloon-Twisting

Filed under: architecture and other arts — annisadienfitriah @ 00:30

Siapa sih, yang tidak tahu balon? Ya, benda berbahan karet ini memiliki keunikan tersendiri, bentuk awalnya yang pipih ternyata dapat mengembang dan berongga. Bentuknya kini sangat bervariasi. Bentuk bulat yang sedikit menyudut di bawah adalah bentuk yang paling sering kita temukan. Beberapa balon juga memiliki fungsi dan dimensi yang berbeda, bahkan ada yang menjadi alat transportasi, yaitu balon udara, yang sudah kita ketahui ukurannya memang besar.

Dari banyaknya jenis balon, mekanisme yang dilakukan terhadap benda karet itu kurang lebih sama, yaitu mengembangkan karet pipih yang ringan itu menjadi sesuatu yang mengembang dan berongga. Tapi, itu sajakah? Mmm… Ternyata setelah dikembangkan (ditiup)  pun benda ini dapat berubah menjadi bentuk lainnya. Bentuk yang dihasilkan dapat berupa bentuk dasar hingga bentuk yang lebih kompleks selama elastisitas balon masih memadai.

 Image
Tetrahedron (2 balon) , cube (4 balon), dan octahedron (1 balon) yang terbentuk dari balon yang sudah mengembang
ImageImage
icosahedro (6 balon) dan dodecahedron (10 balon)
Sumber: http://vihart.com/papers/balloon/cccg_long.pdf

Juga bentuk yang lebih kompleks, salah satu contohnya yaitu bentuk kumbang di bawah ini:

Image
Langkah pembuatan bentuk kumbang
Sumber: http://balloonotherapy.blogspot.com/2013/02/ladybug-balloon-twisting-instruction.html

Balloon twisting merupakan seni  membentuk balon hingga menjadi bentuk yang diinginkan. Balloon twisting dilakukan tanpa menggunakan alat perekat, alat pemotong, alat pengikat, ataupun alat lainnya. Hanya dengan tangan dan teknik pemutarannya saja. Bagaimana hal itu dapat terjadi? Dasar apa yang membuat putaran-putaran itu dapat mengikat satu sama lain? Dan apakah sebenarnya hal itu dikarenakan penerapan terbentuknya titik-titik yang bersifat radial dan menjadi poros?

Pada balloon twisting ini, ternyata terdapat beberapa jenis putaran yang mengikat, baik putaran sederhana, hingga dua jenis putaran yang disilangkan, mengadu pada satu titik.

Image
Image
Sumber: http://www.balloonhq.com/faq/twists_101.html#pop

Yang menarik adalah ternyata titik-titik yang dihasilkan putaran balon dapat terikat, menumpuk, dan memperkuat satu sama lain. Titik-titik ini juga mengarah ke beberapa sumbu, yang tentunya berada pada sumbu Cartesian x, y, z dengan koordinat titik yang bervariasi.

Image
Putaran yang menimbulkan titik-titik poros dan menghasilkan sumbu dengan arah tertentu. Balon yang pipih dapat menjadi bentuk 3D yang menyebar.
sumber: analisis pribadi

Image
Titik-titik putaran yang menjadi poros, seperti tuas yang dapat diputar ke segala arah.
Sumber: analisis pribadi

Putaran-putaran ini, secara tidak langsung juga menjadi pengencang untuk udara yang sengaja tidak terisikan secara penuh pada keseluruhan balon, sehingga bentuk 3D dari balloon twisting ini dapat mengencang.

Saya rasa, di balik bentuk-bentuk balloon twisting yang bervariatif dan unik ini memang terdapat kekuatan utama pada titik-titik yang dihasilkan oleh putaran-putaran balon tersebut yang tadinya hanya seperti seutas tali (balon kempes) hingga dapat hadir bentuk tiga dimensi yang lebih besar dan kuat.

Referensi:
http://www.balloonhq.com/faq/twists_101.html
http://vihart.com/papers/balloon/cccg_long.pdf
http://en.wikipedia.org/wiki/Balloon_modelling
http://balloonotherapy.blogspot.com/2013/02/ladybug-balloon-twisting-instruction.html

March 24, 2013

Video Mapping Projection: Mengubah Persepsi Visual pada Arsitektur

Filed under: architecture and other arts,perception — ditanadyaa @ 17:54

Video mapping projection adalah sebuah teknik untuk memproyeksikan video pada permukaan datar. Permukaan datar yang menjadi area proyeksi dari video mapping ini biasanya berupa dinding, layar, struktur, fasad bangunan serta objek-objek tiga dimensi lainnya. Video mapping ini memadukan seni, teknologi, dan juga elemen-elemen geometri dalam proses pembuatannya.

Kata kunci dari video mapping ini adalah projection, yaitu suatu transformasi dari suatu bentuk ke bentuk lainnya. Pada konteks video mapping ini yang diproyeksikan adalah scene pada video. Untuk membuat video mapping semakin menarik dan nyata, teknologi 3D projection diterapkan untuk memunculkan ilusi kedalaman (depth).

Perasaan akan kedalaman dan jarak yang muncul pada proyeksi tersebut merupakan hasil pengubahan persepsi visual dengan menggunakan permainan cahaya dan bayangan. Bahkan tidak jarang pula pembuat video menggunakan sumber cahaya dan bayangan yang artifisial demi mendapatkan efek dan ilusi optik yang sesuai dengan ekspektasi mereka.

Objek yang diproyeksikan dapat berupa motion graphic atau animasi 3D yang terdiri atas bidang-bidang berbentuk geometris, garis, maupun ruang. Proyektor kemudian mentransformasikan input-input tersebut menjadi lebih eksploratif dan menarik, seperti membengkokkan, merotasikan, serta memberikan penekanan (highlight) yang menjadikan objek proyeksi sebagai titik fokus yang diamati oleh penonton.

Secara singkat, proses yang terjadi dalam video mapping projection adalah seperti berikut ini:

(SHAPE, LINE, SPACE) + (LIGHT & SHADOW) -> OPTICAL ILLUSION -> CHANGING PERCEPTION OF FORM

Dapat dikatakan bahwa ilusi optik yang kemudian mengubah persepsi kita terhadap bentuk dan perspektif ini turut mempengaruhi persepsi kita terhadap suatu bangunan sebagai karya arsitektur. Fasad bangunan yang cenderung datar dan monoton menjadi terasa lebih hidup dengan bantuan teknologi proyeksi video ini.

Nah, daripada saya terlalu banyak bercerita, langsung saja saya sajikan video berikut ini ya :D

Memang butuh ketelitian yang tinggi dan juga biaya yang tidak murah untuk menghasilkan video mapping projection ini. Akan tetapi, dengan memelajarinya kita jadi tahu kalau geometri dan matematika dapat diaplikasikan menjadi bentuk-bentuk yang indah dan artistik. Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk membuatnya? :)

Sumber:

http://www.creativebloq.com/video/projection-mapping-912849 (diakses 24 Maret 2013)

http://videomapping.org/?page_id=42 (diakses 24 Maret 2013)

http://videomapping.tumblr.com/ (diakses 24 Maret 2013)

http://en.wikipedia.org/wiki/Projection_mapping (diakses 24 Maret 2013)

http://www.mappingaround.com/category/categories/arquitectural/ (diakses 24 Maret 2013)

http://www.youtube.com/watch?v=O3uOhXOCMOs (diakses 24 Maret 2013)

‘Sacred Geometry’ dibalik fenomena Crop Circle

Filed under: architecture and other arts — faradikaayu @ 17:03
Tags: , , ,

“The crop circle phenomena are not just ordinary accidents of nature in the countryside, but may -indeed probably do- have serious implications for us all in terms of what may lie behind them.” -Michael Green, Archaeologist, Architectural Historian, dan pendiri Centre of Crop Circle Studies.

Pada setiap kemunculannya crop circle seringkali menjadi sorotan yang menghebohkan bagi setiap masyarakat, tak terkecuali di bumi pertiwi ini. Kehadirannya selalu dikaitkan dengan keberadaan makhluk luar angkasa yang membuat simbol akan eksistensinya di muka bumi. Yang menarik bagi saya adalah, bagaimana bentuk-bentuk yang terdapat pada crop circle mampu menjadi sebuah konstruksi yang terdiri dari prinsip euclidean geometri.

ImageCrop circle pada awal kemunculannya hanya berupa lingkaran sederhana, dimana bentuk ini dianggap sebagai ‘sacred geometry’ yang mewakili alam semesta, sehingga kemudian pada kemunculan selanjutnya bentuk ini menjadi unsur utama yang dipadukan dan disusun tumpang tindih dengan unsur euclid geometri lainnya.

Image Image Image

Sedangkan pada perkembangannya, crop circle muncul dengan komposisi bentuk geometri lain seperti segitiga yang merupakan simbolik dari suatu penciptaan, hingga membentuk ‘principal element‘ seperti yang ditunjukan pada gambar, dengan masing-masing bernama: vesica piscis, equilateral triangel, dan hexagon.

Lalu, bagaimana ‘principal element‘ tersebut berkembang menjadi pola-pola yang tidak hanya terbentuk dari komposisi geometri lingkaran, segitiga, dan persegi?

Sebenarnya semua itu bukan berarti lepas dari susunan komponen geometri yang telah disebutkan di atas, dengan bantuan grid, kita dapat membedah proses terbentuknya pola ‘crop circle‘ seperti yang sering kita lihat saat ini.

Image

Pola crop circle di atas merupakan pola yang berkembang dari vesica piscis, dimana bentuk geometri lingkaran yang saling bersinggungan masih menjadi unsur utama pembentuk komposisi hingga menghasilkan pola simetri.

Image

ImageImageImage

Kemudian bentuk swallow crop circle yang muncul di UK ini juga mengadopsi bentuk dasar vesica piscis, yang didalamnya terdapat 3 kali pengulangan bentuk dasar dengan perbandingan skala di tiap vesica adalah 3 : 2 : 1 menghasilkan kurva dengan pola seperti burung swallow. Sedangkan lingkaran yang berada di ujung-ujung kurva menyimbolkan kesan siap landas.

 

ImageImage

ImageImage

Bahkan, ditemukan pula penggunaan golden ratio dalam proses pengaturan proporsi dari dominasi bentuk lingkaran, seperti crop circle seperti pada gambar di atas yang menghasilkan sebuah pola harmonisasi visual.

Dari semua contoh pola crop circle yang telah dipaparkan, meskipun tidak pernah diketahui siapa yang membuat, saya dapat menemukan sebuah hal baru, bahwa keindahan pola-pola tersebut tidaklah lepas dari pengkomposisian bentuk-bentuk geometri yang diatur dalam suatu grid maupun golden ratio.

Crop circles are one of the most spectacular phenomena of our present time. They exhibit beauty, proportion and form. To many individuals they speak in ancient languages of our early ancestors’ universal quest for understanding symbolic sacred form, creative personal insight towards the vastness of our being and the geometric matrix that binds us all.” -Dr. Colette M. Dowell , N.D.

Sumber:

  • Hypermath, http://www.hypermaths.org/ (diakses tanggal 16 Maret 2013)
  • The Sacred Geometry of Crop Circle, http://www.cropcirclesecrets.org/ (diakses tanggal 16 Maret 2013)
  • Perception of Sacred Geometry Contained in Crop Circle Formations, http://www.greatdreams.com/crop/colette/crop_circles_and_sacred_geometry.html  (diakses tanggal 24 Maret 2013)
  • Gambar diambil dari: https://www.facebook.com/media/set/?set=a.405159296197079.88999.151685648211113&type= (diakses tanggal 24 Maret 2013)

Ada Apa di Balik Bento?

Filed under: architecture and other arts — valencia93 @ 15:01
Tags: , ,

Pernahkah Anda makan bento? Bento sudah cukup populer di Indonesia sebagai makanan cepat saji asal Jepang. Di Indonesia sendiri, kita memang mengenal bekal makanan yang dibawakan oleh ibu saat kita pergi ke sekolah. Bekal makanan berisi nasi dan lauk-pauk juga memang dikemas dalam kotak makanan. Toh, apa bedanya Bento ala Jepang dengan bekal makanan yang pernah kita nikmati saat sekolah dulu?

Image
Sumber: http://images1.friendseat.com/2009/10/Bento-Box-Lunch-Image-via-Donald-Clark-Flickr.jpg

Kualitas bento dapat dilihat dari tekstur dan warna makanan. Hal ini disesuaikan dengan jenis kelamin, tinggi badan, aktivitas harian, dan usia masing-masing. Jumlah kebutuhan kalori setiap harinya dapat dihitung dengan menemukan berat badan ideal terlebih dahulu. Kemudian, dikalikan dengan 25 kkal untuk wanita dan 30 kkal untuk pria.

Berat Badan Ideal = 0.9 (tinggi badan – 100)

Jumlah kalori = Berat Badan Ideal x 25/30 kkal

Image

Image

Sumber: http://item.rakuten.co.jp/yellowstudio/c/0000000352

Ada 3 hal yang menjadi panduan dalam mengatur komposisi bento. Perbandingan 3:2:1 dalam bento digunakan untuk mengatur jumlah makanan. 50% terdiri dari karbohidrat, 33 % merupakan porsi untuk buah dan sayuran, sedangkan 17 % porsi protein. Yang kedua adalah tidak ada permen, makanan berlemak dan cepat saji. Panduan lainnya adalah tidak ada ruang kosong. Ruang kosong dalam kotak dapat diisi dengan aksesoris makanan lainnya, seperti wortel, mentimun, dan lainnya.

Selain memanjakan lidah kita, bento memiliki syarat lainnya, yaitu keindahan visual. Untuk mendapatkan keseimbangan makanan, setiap bento harus menyatukan 5 (lima) elemen yang menjadi aturan tidak tertulis merangkai bento. Hal tersebut melingkupi warna, metode, rasa, pengindraan, dan sudut pandang. Seperti pada gambar di samping, salmon teriyaki bento mengikuti lima panduan tersebut. Warna merah didapat dari jahe jepang (jinjya) dengan rasa sedikit pedas, warna kuning dari renyahnya tempura goreng yang asin, warna hijau dari sayuran yang direbus, warna hitam dari saos soya dan salmon yang dipanggang, dan warna putih dari potongan sushi dan nasi.

“… and beauty, when the appearance of

the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion…” (Vitruvius, Morgan’s Translation, 1960)

“The concept of proportion is in composition the most important one, whether it is used consciously or unconsciously.” (Matila Ghyka, 1952)

Image
Sumber: http://2.bp.blogspot.com/-DucACVJrINA/TlDlXTJ-rvI/AAAAAAAAAMg/aSeoWZW6c2E/s1600/salmon%2Bteriyaki%2Bbento-box.jpg
Image
Sumber: http://www.allthingsforsale.com/img/bento/bentobox.jpg

Menurut Vitruvius dan Ghyka, proporsi merupakan hal terpenting dalam komposisi yang menciptakan keindahan itu sendiri. Makanan bento dikelompokkan dalam tempat-tempat kecil dan disatukan kotak bento. Desain geometri segi empat bento mengemas makanan dengan perbandingan 3:2:1 yang telah disebutkan di atas. Bentuk dan besaran kotak bento pun beragam. Dalam analisa bentuk di samping, persegi panjang ABCD mempunyai proporsi sama dengan DCEF. Image

Pengaturan komposisi bahan, warna dan tekstur makanan memberi keindahan visual pada beno. Dibalik keindahan tersebut justru didukung oleh proporsi bentuk dasar kotak bento. Desain kotak bento juga memiliki pengaruh besar dalam menampung makanan tersebut. Proporsi kotak bento bukan hanya menimbulkan keindahan, namun juga sesuai dengan kebutuhan kalori tubuh setiap kali makan. Bekal makanan yang satu ini berbeda dengan bekal lainnya menjadi lebih menarik, bukan? Dalam pikiran kita, yang jelas setelah makan kita akan merasa kenyang. Sekarang manakah yang lebih penting, keindahan makanan atau mengisi perut agar kenyang?

Sumber: (Diakses pada 22 Maret 2013)

Vitruvius, Terjemahan Morgan, 2006, Ten Books on ArchitectureeBook Version, [Online], (www.gutenberg.org)

http://desxripsi.blogspot.com/2012/11/bento-seni-merangkai-bekal-ala.html#axzz2OMS37zL7

http://health.okezone.com/read/2012/10/05/486/699722/redirect

http://lunchinabox.net/2007/03/07/guide-to-choosing-the-right-size-bento-box/

http://www.okefood.com/read/2012/06/09/299/644279/large

http://www.pangaeashop.com/Choosing_A_Box.html

http://www.pangaeashop.com/Packing_bento.html

http://www.pangaeashop.com/What_is_Bento.html

Desain Pewarnaan Rambut yang Terinspirasi dari ‘Golden Ratio’

Filed under: architecture and other arts — fadilaliqa @ 13:38
Tags:

Selama ini yang kita tahu ‘golden ratio’ sering dipergunakan dalam seni visual dan arsitektur. Namun yang saya temukan kali ini cukup menarik, karena seorang penata rambut yang bernama Tanya Ramirez dari Amerika Serikat, menggunakan ‘golden ratio’ untuk desain pewarnaan rambut.

165629_182311375123544_7727444_n 168931_182311435123538_220363_n167376_182311328456882_59841_n

“Through sacred geometry, we can discover the inherent proportion, balance and harmony in any situation. I used the Golden Ratio in many ways, from sectioning and color placement to the ratios in my formulations.” Ramirez menjelaskan konsepnya tentang ‘golden ratio’ pada desain pewarnaan rambutnya.

PHOTO-A-Fibonacci1

170357_182310985123583_5185055_o 171263_182310925123589_7214192_o 171323_182310965123585_3292334_o

170068_182310945123587_4985961_o 170105_182310785123603_4953488_o

 

 

 

‘Golden ratio’ dijadikan sebagai acuan keindahan. Hal-hal yang, baik disengaja maupun tidak disengaja, menggunakan ‘golden ratio’ dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang indah. Desain pewarnaan rambut ini yang menggunakan ‘golden ratio’ ini apakah dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang indah?

 

Referensi:

http://io9.com/5985588/15-uncanny-examples-of-the-golden-ratio-in-nature

http://www.modernsalon.com/features/hair-beauty/the_golden_ratio_in_hair_color_125334838.html

http://untamedinstincts.com/news.html

http://www.youtube.com/watch?v=8Vk_m2vo-cI

[diakses 23 Maret 2013]

Deret Fibonacci, Golden Ratio, dan Web Design

Filed under: architecture and other arts — adinibrahim @ 11:47

Deret Fibonacci adalah sebuah deret angka dengan pola yang terjadi melalui penjumlahan dua angka sebelumnya.

0,1,1,2,3,5,8,13,21,34,55,89,144,…

Bagaimana hubungan deret fibonacci dengan golden ratio?

Deret Fibonacci sangat dekat hubungannya dengan golden ratio. Golden ratio sendiri adalah sebuah konsep desain yang mencoba menciptakan keindahan visual dalam seni, arsitektur, desain, tubuh manusia, dan sebagainya melalui sebuah hitungan.

Berikut contoh golden ratio pada bangunan dan alam:

ImageImage

Berikut hitungan pada golden ratio:

Image

Angka ini berlaku pula pada deret fibonacci, apabila kita membagi satu bilangan pada deret fibonacci dengan satu angka dibelakangnya, maka akan diperoleh angka golden ratio. Ini tidak terlalu tampak pada permulaan deret fibonacci. namun, hasil pembagian semakin mendekati angkat golden ratio pada bilangan-bilangan yang besar.

2/1 = 2

3/2 = 1.5

5/3 = 1.6667

8/5 = 1.6

13/8 = 1.625

21/13 = 1.6154

34/21 = 1.6190

55/34 = 1.6175

89/55 = 1.6182

144/89 = 1.6180

233/144 = 1.6180

377/233 = 1.6180

610/377 = 1.6180

Dengan eratnya hubungan fibonacci dengan golden ratio, ini berarti angka pada deret fibonacci dapat digunakan sebagai pegangan dalam menciptakan keindahan visual.

Lalu bagaimana hubungna deret fibonacci dengan web design?

Pada web design, pengaturan spasial pada bidang dua dimensi, yaitu jendela tampilan menjadi elemen utama. Spacing dan space menjadi hal penting untuk menjadikan tampilan web menarik dan indah dilihat. Segala sesuatu Tinggi dan lebar Presisi dan pengaturan spasial ini yang membedakan mana desain yang biasa saja dengan yang luar biasa.

Dengan menggunakan deret fibonacci sebagai dasar desain, dapat ditentukan proporsi dalam tampilan web. Seperti bagaimana ukuran Header terhadap navigation bar, bagaimana lebar foto terhadap sidebar, dll. Proporsi dari elemen-elemen ini yang membuat tampilan web menjadi indah atau malah hancur lebur.

Berikut contoh pengaturan spasial dengan deret fibonacci:

Image

Pengaturan ini juga dapat dijelaskan dengan golden ratio:

Image

Saat melihat deret fibonacci dan melihatnya sebagai sebuah pengaturan ruang, pengaturan margin dan ukuran huruf dapat menciptakan struktur dasar dari keseluruhan desain. Bilangan-bilangan kecil (8,13,21,34,55), dapat digunakan untuk menentukan margin, ukuran huruf, dan tebal garis. Sedangkan bilangan besar (144,233,377,610,987), dapat digunakan untuk lebar kolom dan dimensi bagian yang lain.

Menggunakan bilangan-bilangan tersebut secara sederhana, dapat menciptakan keselarasan, ritme, dan harmoni visual. Bilangan deret fibonacci dapat digunakan untuk menentukan apa pun, mulai dari ukuran bagaian utama (header, kolom, footer, dll) hingga margin dan ukuran teks.

Seperti contoh berikut:

Image    Image

Image

sumber:

http://mindblowingscience.com/brain-food/fibbonacci-and-the-golden-ratio/

http://3.7designs.co/blog/2010/10/how-to-design-using-the-fibonacci-sequence/

Golden Rules: Kemungkinan Acuan Baru dalam Fotografi (Pre-Wedding)?

Filed under: architecture and other arts — kusumaerlina @ 10:02

Dalam dunia fotografi, acuan mengenai golden rules sudahlah menjadi hal yang biasa. Muncul opini-opini yang meyakni bahwa untuk mendapatkan hasil pemotretan yang baik, sang fotografer harus mempertimbangkan golden rules saat proses pengambilan gambar. Golden Rules tersebut meliputi Golden Ratio, Golden Triangles dan Golden Spiral atau Golden Rectangle. (Sumber: http://photoinf.com/Golden_Mean/Eugene_Ilchenko/GoldenSection.html)

the first “golden” rule is the “Rule of Thirds” or “Golden Ratio”. It affects the ratio (1:1.618) of a picture size, as well as the placement of the main subjects in the photo.”

Image

Another rule is the “Golden Triangles”. It’more convenient for photos with diagonal lines. There are three triangles with corresponding shapes. Just roughly place three subjects with approximate equal sizes in these triangles and this rule will be kept.”

Image

And one more rule is a “Golden Spiral” or “Golden Rectangle” (you’ll see why it’s a rectangle in the tools section). There should be something, leading the eye to the center of the composition. It could be a line or several subjects. This “something” could just be there without leading the eyes, but it will fulfill its purpose anyway.”

Image

Bagi sebagian orang, pernikahan tidaklah lengkap tanpa foto-foto pre-wedding. Foto-foto tersebut telah menjadi suatu keharusan bagi setiap pasangan pengantin sebelum menyambut hari bahagia mereka. Foto-foto di bawah ini merupakan beberapa foto pre-wedding yang dipilih secara acak dari website www.prayasa.com.

Image

Seringkali kita merasa terpukau melihat foto-foto tersebut sekaligus mempertanyakan bagaimana sang fotografer dapat mengabadikan momen seindah itu baik dari bahasa tubuh sang pengantin maupun komposisi gambar antara sang pengantin dengan latar. Hasil foto-foto pre-wedding yang dipublikasi merupakan hasil pemilihan foto-foto terbaik dari puluhan bahkan ratusan foto yang diambil selama proses pemotretan. Jika melihat kembali opini mengenai foto yang baik merupakan foto yang menerapkan acuan golden rules, lantas apakah semua foto-foto pre-wedding yang dipilih tersebut sudah merepresentasikan golden rules? Secara personal, saya tidak begitu meyakini bahwa dengan mengikuti golden rules dapat membuat sebuah foto terlihat baik dan untuk membuktikannya saya mencoba menganalisis foto-foto pre-wedding tersebut menggunakan golden rules seperti pada gambar di bawah ini.

Image

Hasilnya, dari tiga foto pre-wedding tersebut hanya satu yang mengacu pada golden rules. Hal ini membuktikan bahwa golden rules bukan satu-satunya acuan suatu foto dapat dikatakan baik. Di sisi lain, saya mempertanyakan untuk apa kita tetap menyakini acuan golden rules jika hasil foto tetap dapat terlihat tanpa harus mengikuti acuan tersebut. Terlintas sebuah pemikiran jika acuan ini (golden rules) bisa dikritisi dan tidak sepenuhnya diterapkan maka pasti ada kemungkinan acuan-acuan lain yang lebih tepat dibanding golden rules namun belum terungkap hingga saat ini.

Image

 Ketiga foto di atas terlihat serupa namun dari ketiga foto tersebut tidak ada satupun yang mengikuti acuan golden rules. Lantas acuan apa yang membuat ketiga foto yang berbeda ini terlihat serupa? Menurut saya, ini yang lebih menarik untuk diungkap dibanding harus terus berkutat dengan golden rules.

Sumber:

http://photoinf.com/Golden_Mean/Eugene_Ilchenko/GoldenSection.html

Sumber Gambar:

http://www.prayasa.com/
http://mudahmenikah.wordpress.com/fotografi/
http://www.newlifeimage.com/portfolio/pre-wedding-frank-eunice/prewedding-outdoor-banten-8/
http://peluang-usaha.pelapak.com/portrait-pre-wedding-bali-portrait.html

GRID DALAM LUKISAN PIET MONDRIAN

Filed under: architecture and other arts — nadiaalmiraa @ 09:33

Piet Mondrian adalah sebuah nama yang tidak asing lagi. Ia sendiri adalah salah satu seniman yang sering mempraktekan neoplasticism dalam lukisan-lukisannya. Neoplasticism adalah aliran seni yang fokus terhadap dasar-dasar seni rupa, yaitu garis, bentuk, warna, keseimbangan, dan kesatuan. Hasil yang dihasikan dari aliran cenderung sederhana dan abstrak.

Lukisan-lukisan yang dihasilkan oleh Piet Mondrian memiliki ciri khas. Ia menggunakan warna primer, merah, biru, dan kuning, serta warna hitam dan putih. Terkadang ia menambahkan warna sekunder, seperti abu-abu. Warna-warna ini disusun dalam bentuk geometri. Di dalam lukisannya juga terdapat gari vertikal ataupun horizontal yang berwarna hitam. Bentuk geometri serta garis-garis ini tentu tidak ditempatkan secara sembarangan untuk menemukan sebuah komposisi.

            a composition            composition N.1 with red and blue            composition with yellow blue and red

Kiri: A composition (1923), tengah: Composition N.1 with Red and Blue (1931) , dan kanan: Composition with Yellow, Blue, and Red (1939-1942)

Tiga gambar diatas adalah contoh lukisan karya Piet Mondrian. Seperti yang telah disebutkan diatas, terdapat permainan komposisi dengan bentuk, warna, dan garis. Ketika garis-garis yang ada, baik vertikal maupun horizontal, diteruskan lukisan-lukisan tersebut akan terlihat seperti ini.

           a composition1           composition N.1 with red and blue1              composition with yellow blue and red1

Ketika garis-garis yang ada ditarik akan terlihat beberapa kotak kecil. Kemudian jika kita menarik garis vertikal dan horizontal, menyesuaikan dengan lebar dan tinggi kotak kecil tersebut, akan terlihat lukisan seperti dibawah ini.

a composition2         composition N.1 with red and blue2             composition with yellow blue and red2

Persegi yang terbentuk dari penerusan garis ini memang tidak bisa disebut persegi karena tidak sama sisi dan tidak semuanya memiliki ukuran yang sama, tetapi tetap dapat dilihat sebagai sebuah grid. Dari gambar diatas dapat dibilang bahwa komposisi yang dilakukan oleh Piet Mondrian tidak hanya permainan warna, bentuk, dan garis, tetapi juga permainan grid.

Gambar diatas juga memperlihatkan perkembangan Mondrian. A Composition (kiri) yang dilukis Mondrian pada tahun 1923, memiliki banyak perbedaan jika dibandingkan dengan Composition N.1 with Red and Blue (tengah) yang dilukis pada tahun 1931 dan Composition with Yellow, Blue, and Red (kanan) yang dilukis pada tahun 1939-1942. A Composition memiliki garis yang lebih tipis dan permainan warna yang lebih bervariasi jika dibandingkan dengan karya-karyanya selanjutnya yang didominasi warna putih. Selain itu grid yang terlihat pada A Compisition lebih teratur. Lebih teratur disini disebabkan oleh variasi ukuran kotak dalam grid yang lebih sedikit sehingga tidak terlihat terlalu mencolok.

Sumber referensi:

http://designfestival.com/grid-theory/ (diakses tanggal 24 Maret 2013)

http://www.wisegeek.com/what-is-neoplasticism.htm (diakses tanggal 24 Maret 2013)

March 23, 2013

TIPOGRAFI : DARI TULISAN HINGGA BANGUNAN

Filed under: architecture and other arts,classical aesthetics — tasyae @ 16:27
Tags:

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa lepas dari komunikasi karena manusia merupakan makhluk sosial. Sejak zaman purba, komunikasi terus berkembang mulai dari lisan hingga tulisan dalam berbagai wujud seperti guratan, ukiran, gambar, tulisan tangan, percetakan. Penemuan percetakan pada pertengahan abad ke-15 mempengaruhi perkembangan tipografi dengan Johan Gutenberg sebagai pelopor pembaharu tipografi yang menemukan huruf cetak timah tepatnya pada tahun 1455. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), tipografi merupakan ilmu cetak atau seni percetakan. Adapun hal-hal yang menjadi perhatian utama dalam tipografi adalah typefaces, x-height, baseline, leading, kerning, tracking, point size, ascenders, descenders.

Glosarium:

  • Typeface : tipe huruf, saat ini biasanya orang menyebutnya font
  • X-height : tinggi huruf dasar, tidak termasuk ascenders dan descenders
  • Set width : lebar huruf secara keseluruhan
  • Baseline : garis pembatas dasar untuk x-height
  • Leading : jarak vertikal antarbaris tulisan
  • Kerning : jarak horizontal antara 2 huruf yang saling berdekatan dalam 1 kata
  • Tracking : jarak horizontal antarhuruf secara keseluruhan dalam 1 kata
  • Point size/pixel size : ukuran huruf dalam satuan points/pt atau pixels/px
  • Ascenders : bagian dari huruf kecil (bukan kapital) yang berada di atas x-height, seperti pada b, d, f, h, i, j, k, l, dan t
  • Descenders : bagian dari huruf kecil (bukan kapital) yang berada di bawah x-height, seperti pada g, j, p, q, dan y

Ukuran-ukuran yang digunakan pada tulisan mempengaruhi cara membacanya. Terlalu kecil ruang yang terbentuk antarhuruf, antarkata, ataupun antarbaris, maka tulisan tersebut akan menjadi lebih sulit dibaca. Begitu pula jika ruang yang terbentuk terlalu besar sehingga sebaiknya terdapat ruang yang cukup dan tiap hurufnya menggunakan proporsi. Namun, karena tipografi ini berkaitan dengan seni, tidak adanya batasan-batasan yang melarang tujuan penggunaan ukuran-ukuran tersebut, misalnya jika memang tujuannya ingin menghadirkan efek padat pada tulisan, penggunaan tracking dan leading yang ketat dapat menjadi pilihan.

Sebelumnya telah disinggung mengenai proporsi huruf, tetapi taukah Anda proporsi huruf itu sendiri? Secara umum proporsi huruf dapat digolongkan berdasarkan bentuk dasar yang membungkusnya menjadi seperti berikut.

Sedangkan jika berdasarkan elemen-elemen penyusunnya yang dominan, huruf dapat dikelompokkan menjadi seperti berikut.

  • Garis tegak : E F H I L T
  • Garis tegak dan diagonal : A K M N V W X Y Z
  • Garis tegak dan lengkung : B D G J P R U
  • Garis lengkung : C O Q S

Namun, tidak selamanya hal ini berlaku karena saat ini typeface sudah banyak dan beragam. Ada typeface yang bentuk dasar tiap hurufnya merupakan persegi, ada typeface yang tiap hurufnya tersusun dari garis lengkung, ada typeface yang elemen penyusun tiap hurufnya berupa titik, dsb. Walaupun demikian, dengan mengetahui geometri huruf-huruf tersebut, kita dapat lebih mudah dalam menyusunnya, misalnya huruf H dapat dikolaborasikan dengan bentuk-bentuk dasar yang menyiku atau huruf S dengan bentuk lingkaran dan kurva.

Geometri huruf-huruf ini pun tidak terjadi begitu saja. Terdapat beragam pendekatan dengan menggunakan jangka dan penggaris yang telah dilakukan tokoh-tokoh pada zaman renaissance, seperti seorang ahli matematika Italia Luca Pacioli dengan bukunya De Divina Proportione (1509), seniman Jerman Albrecht Dürer dengan bukunya Underweysung der Messung (1525), dan “men of the book” dari Perancis Geoffroy Tory dengan bukunya Champ Fleury (1529). Di dalam Champ Fleury dengan subjudul “The Art and Science of the Proportion of the Attic or Ancient Roman Letters, According to the Human Body and Face”, Geoffroy Tory menulis “The crossstroke covers the man’s organ of generation, to signify that Modesty and Chastity are required, before all else, in those who seek acquaintance with well-shaped letters.”

Perkembangan penggunaan tipografi ini sudah meluas mulai dari yang paling dasar yaitu pada media massa ( koran, buku, flyer, poster, dll.), media elektronik (televisi, online broadcast, dll.), hingga arsitektur. Pada awalnya, penerapan tipografi pada arsitektur berupa denah bangunan yang dirancang oleh arsitek Johann Steingruber yang kemudian dibukukan dalam bukunya berjudul Architectonisches Alphabeth (1773). Tiap bangunan memiliki karakteristiknya masing-masing yang diakibatkan oleh penyusunan program ruang di dalamnya dan tentunya bentuk denahnya itu sendiri.

Selain denah, di bawah ini terdapat contoh-contoh penerapan tipografi pada eksterior (fasad) maupun interior. Penerapannya dapat berupa estetika visual secara langsung, yaitu sekadar tulisan-tulisan yang menempel pada permukaan. Jika lebih kompleks lagi, penerapan tipografi dapat mempengaruhi penghawaan dan kualitas ruang di dalamnya. Saat ini banyak dijumpai karya arsitektural yang kulitnya menggunakan susunan huruf secara acak dengan leading dan tracking/kerning yang ketat. Penerapan tipografi juga merambah ke aspek struktural walaupun biasanya bukan sebagai struktur utama, kecuali untuk produk-produk furnitur yang ukurannya tidak terlalu besar dapat mengadopsi bentuk huruf secara utuh sebagai struktur utamanya. Lalu, bagaimana perancang memasukkan unsur tipografi dalam karyanya? Apakah sama seperti yang dilakukan Luca Pacioli, Albrecht Dürer, Geoffroy Tory dengan membentuknya dari garis-garis lurus dan lengkung yang terhitung ataukah sesuka hatinya? Jika dilihat sekilas, menurut saya perancang tetap menggunakan perhitungan yang lebih fokus kepada x-height, leading, tracking, dan set width. Kebanyakan untuk tiap hurufnya menggunakan typeface yang sudah ada sehingga tidak perlu membentuk huruf dari awal. Khusus untuk masjid Al-Irshad, tiap hurufnya terbentuk oleh  grid-grid yang kemudian disesuaikan dengan luas permukaan dindingnya.

(baris atas dari kiri ke kanan: The South Korea Pavilion, Fougères Biblioteque, Marzahn Recreational Park, Fukutake House, Wales Millennium Centre, Masjid Al-Irshad Bandung; baris bawah dari kiri ke kanan: House of Terror, New Jersey Performing Arts Center, The Minnaert Building (University of Utrecht), The Number House, The Marion Cultural Centre, Barbara Kruger, typographic furniture)

Sumber:

June 13, 2012

Golden Rasio dan Poster Film

Filed under: architecture and other arts — nadiafzna @ 21:58

Poster film merupakan suatu keharusan bagi sebuah film. Sebelum film dipasarkan, poster film pasti muncul terlebih dahulu sebagai salah satu media promosi dalam majalah, artikel maupun bioskop. Untuk itu, poster film haruslah dapat memberi gambaran tentang film, memberikan pesan singkat tentang film tersebut.Selain memperhatikan isi dari poster tersebut,  bagaimana penataan latar dan komposisi didalam poster tentulah juga harus diperhatikan agar poster itu terlihat menarik, terlebih lagi agar pesan dari poster itu juga dapat tersampaikan.

Dalam analisis ini saya menggunakan bantuan software komputer Phimatrix. Software ini adalah suatu grafis analisis atau alat desain yang memungkinkan kita untuk melihat dan menerapkan proporsi phi pada gambar. Pembagian proporsi pada software ini telah menerapkan sistem GridPhi dan turunannya.

Berikut ini temuan saya dari berbagai poster film yang ternyata dapat dijabarkan dengan golden rasio,

Pada gambar ke dua terlihat pembagian gambar lubang kunci yang seimbang antara bagian kiri dan kanan, juga terlihat bahwa kata last tepat terbagi dua. Dari gambar ketiga semakin terlihat bahwa subjudul mengikuti kisi-kisi secara seimbang, jika kisi disebalah kiri hanya terisi oleh satu huruf, maka sisi dikanan juga hanya akan terisi satu huruf, dst.

Dari gambar kedua terlihat kisi-kis membagi tiga bagian gambar para pemain menjadi tiga pasang. Namun pada gambar ketiga pembagian semakin jelas dari ujung kiri satu kisi mewakili satu orang dan pada kisi dikanan satu kisi menjadi untuk dua orang, walaupun sebenarnya kisi memiliki ukuran sama namun ternyata dapat sesuai dengan layout dari poster. Selain itu ternyata titik-titik pada tulisan Friends pas dengan garis kisi horizontal.

Jika melihat dari gambar kedua terlihat garis kisi horizontal melewati nama pemain dengan jarak yang sama pada nama Amy Adams dan Alan Artkin. Tulisan pada bagian atas ternyata terbagi dua oleh garis kisi horizontal. Garis-garis kisi horizontal ini memang tidak selalu sama dalam membagi tulisan yang ada, namun ia selalu berada di tiap kata baik itu dibagian bawahnya (contoh amy adams) atau atasnya (contoh par les producteurs…) maupun dibagian tengahnya (contoh surreal distribution…).Pada Gambar ketiga terlihat pembagian kemiringan garis kuning bertulisan crime scene do not cross tidak seimbang, dibagian kiri lebih dekat jaraknya dengan garis kisi horizontal terdekatnya dibandingkan yang sebelah kanan. Ternyata jika kita bagi lagi dengan GridPhi sebenarnya batas-batas dari garis kuning ini terbagi jaraknya sesuai dengan kisi kisi horizontal, bagian yang kanan berjarak lebih jauh namun diimbangi dengan bagian huruf g dari tulisan cleaning, sedangkan bagian kiri berjarak lebih dekat diimbangi dengan bagian atasnya yang kosong. Hal ini mungkin dimaksudkan sebagai penyeimbang antara bagian kiri dan kanan. Selain itu jika kita perhatikan tangan pemain dengan seksama terlihat pemisahan jari, telapak dan pergelangan tangan oleh garis kisi horizontal.

Dari contoh-contoh diatas saya banyak menemukan manfaat dari golden rasio dalam penataan latar  poster film. Golden rasio dapat digunakan untuk menentukan posisi judul,subjudul dan pemposisian gambar. Bukan hanya itu saja tapi juga proporsi dan ukurannya.Selain itu golden rasio dapat dimanfaatkan untuk membagi pemfokusan pada poster.Apa yang paling ingin ditonjolkan pada poster, pada poster Friends terlihat bahwa hal yang paling ingin ditonjolkan adalah bagian muka dari pemainnya yang diletakkan tepat pada kisi terbesar.Golden rasio juga digunakan dalam menentukan keseimbangan dalam  poster. Pada poster Sunshine Cleaning dimana tulisan dibuat miring tapi dengan kemiringan yang berbeda antara bagian kiri dan kanan, tapi ternyata jika dianalisis dengan golden rasio terlihat bahwa pembuatan kemiringan itu bukanlah hal yang dibuat secara asal namun terukur sehingga masih terasa seimbang dan tetapmenarik untuk dilihat.

Daftar Pustaka

http://www.phimatrix.com/concepts.htm

http://www.phimatrix.com/userguide.htm

http://www.filmindustrynetwork.biz/why-movie-poster-art-is-so-important/11530

http://prayudi.wordpress.com/2008/08/31/golden-ratio/

http://math.ipb.ac.id/index.php?option=com_content&task=view&id=162&Itemid=1

Gambar poster bersumber dari : http://www.impawards.com/

koreografi boyband girlband

Filed under: architecture and other arts — aronaditio @ 20:07

Boy band dan girl band terdiri banyak orang, ada yang 7 orang hingga 9 orang bahkan lebih. Kemampuan mereka dalam membangun atmosfer pertunjukan sangat luar biasa Mereka menikmati saat-saat menari dan menyanyi di atas panggung. Mereka juga mampu mendefinisikan warna unik grup pada penikmatnya, mereka dapat mengontrol kekuatan dan kelemahan gerakannya menjadi yang terbaik.Mereka juga mengeluarkan emosi ketika menari, dan yang terpenting ialah menikmati saat-saat menari dan menyanyi di atas panggung. Dan penonton pun merasakan kepuasan dan kebahagiaan yang ideal dialami. Lalu saya mencoba melihat bagaimana pola-pola aturan dari koreografi para boyband dan girlband yang terjadi. Saya mengambil beberapa scene dari penampilan beberapa boyband dan girlband tersebut. Lalu saya mencoba melakukan tracing pola posisi dan orientasi yang terjadi antara anggota dengan penglihatnya(penikmatnya). Di sini ternyata saya menemukan pola-pola berulang yang memiliki sifat yang mirip. Karena itu berangkat dari pengamatan pola gerakan dan orientasi para anggota boyband girlband yang terjadi, saya menemukan aturan pola yang berupa gabungan grid-grid, jadi saya melihat adanya kombinasi orientasi grid yang saling melewati, bertumpu, menempel, maupun satu sifat.Dan ternyata tiap fenomena ini harus berlangsung bersama yang lain, jadi tidak dapat berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan membentuk keharmonisan visual dan komposisi yang ideal. Saya menemukan metode koreografi mereka berupa permainan posisi yang diikuti orientasi para personilnya, yang disesuaikan sequence yang diciptakan. Kualitas gerakan dan posisi yang berpotensi dari bagian paling atas hingga bawah dan kiri hingga kanan, yang dapat menciptakan berbagai kombinasi. Semuanya itu menjadi sesuatu yang bersambung dalam berbagai ritme yang saling bertumpukan dan terpadu, yang pada akhirnya kesemuanya itu membentuk suatu kesatuan yang ideal dengan sendirinya. Menemukan adanya konsep yang selalu terjadi, berulang, dan menjadi pedoman gerakan. Posisi yang berada di atas, kanan, kiri, bawah, maupun serong. Orientasi yang merupakan arah para personil yang bisa menuju berbagai arah. Sequence yang menjadi pola kesatuan para personil yang menjadi elemen-elemen menuju kesatuan. Bentuk gerakan dapat ditimbulkan dari bagian mana pun baik dari yang paling atas hingga bawah dan juga kiri ke kanan. Kombinasi ini disempurnakan dengan adanya bentuk berbagai posisi personil. Lalu adanya ketersambungan bentuk gerakan dan posisi, seperti membentuk ritme tersendiri yang dapat saling bertumpukan atau pun berlawanan, yang membentuk kesatuan tema. Saya juga menemukan pola-pola berulang yang memiliki sifat yang mirip. Karena itu berangkat dari pengamatan pola gerakan dan orientasi para anggota boyband girlband yang terjadi, saya menemukan aturan pola yang berupa gabungan grid-grid, jadi saya melihat adanya kombinasi orientasi grid yang saling melewati, bertumpu, menempel, maupun satu sifat.Dan ternyata tiap fenomena ini harus berlangsung bersama yang lain, jadi tidak dapat berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan membentuk keharmonisan visual dan komposisi yang ideal. Saya menemukan metode koreografi mereka berupa permainan posisi yang diikuti orientasi para personilnya yang disesuaikan sequence yang diciptakan. Kualitas gerakan dan posisi yang berpotensi dari bagian paling atas hingga bawah dan kiri hingga kanan, yang dapat menciptakan berbagai kombinasi. Semuanya itu menjadi sesuatu yang bersambung dalam berbagai ritme yang saling bertumpukan dan terpadu, yang pada akhirnya kesemuanya itu membentuk suatu kesatuan yang ideal dengan sendirinya. Akhirnya  saya mencoba membuat sequence-sequence gerakan dan mencoba mengkombinasikannya dengan permainan orientasi, posisi, jarak, penyesuaian ritme, dan urutan sequence. Pada akhirnya saya menghasilkan susunan formasi bentuk yang beragam dan terlihat menarik. Saya menemukan dengan mengikuti rule aturan dasar yang ditemukan tadi, bagaimana pun akan dapat tetap menghasilkan prosuk yang ideal dan dinikmati penikmatnya yang menjadikannya spesial dan membahagiakan kaum pengkonsumsinya.

Papercraft

Filed under: architecture and other arts — andiwibowo128 @ 03:31

Papercraft adalah suatu seni yang membentuk suatu objek dengan menggunakan kertas sebagai medianya, ada berbagai macam kertas yang dapat digunakan untuk menciptakan suatu objek dengan kualitas apa yang kita mau tampilkan. Dalam kerajinan ini, suatu kertas telah memiliki pola yang terbentuk sedimikian rupa sehingga pada saat dibentuk sesuai dengan pola tersebut objek tersebut akan tercipta dan dapat menjadi objek 3d

Pembentukan suatu objek yang dijadikan suatu pola menjadi salah satu tantangan di papercraft ini, karena beberapa objek seperti bola yang memiliki sisi yang dapat dibilang sangat halus sehingga sangat sulit untuk direalisasikan dalam pembentukan dengan teknik ini menggunakan media kertas

Tetapi bagaimanapun kita mengenal objek seperti bola itu pun kita dapat asumsikan seperti sebuah garis, kita dapat menciptakan sebuah garis dengan berbagai macam cara, termasuk dengan membuat garis dengan sekumpulan titik-titik, dan titik-titik yang tersusun akan membentuk sebuah garis, dengan mengenal cara seperti itu kita dapat menyederhanakan suatu bentuk menjadi objek 3d dengan memberikan suatu pengkakuan pada objek tersebut

Akan tetapi untuk teknik tersebut kita dapat mengakalinya dengan cara bagaimana proses pembentukan objek tersebut sehingga dapat mengurangi sifat kaku, yaitu dengan cara mengurangi lipatan-lipatan yang ada dengan cara melipatnya dengan halus, karena dengan menggunakan teknik tersebut sifat dari objek papercraft tersebut akan memiliki perbedaan yang signifikan

Dari sekedar lipatan tersebut dapat memberikan perbedaan sifat dari objek tersebut karena pada saat objek tersebut memiliki suatu patahan sudut yang tegas memberikan objek tersebut kaku dan keras, sedangkan pada saat suatu pertemuan sudut tersebut memiliki sudut yang halus akan memberikan sifat dari objek tersebut halus

Dari perbedaan beberapa sifat inilah papercraft memberikan berbagai macam alternative yang dapat digunakan dalam menciptakan suatu objek 3d dengan bagaimana sifat yang kita ingin masuk kan dalam objek tersebut

Melipat T-shirt

Kali ini saya ingin mengambil contoh penerapan geometri dari kehidupan sehari-hari. Hal ini mungkin bukan sesuatu yang kompleks dan mungkin bisa membantu mereka, terutama yang malas melipat baju seperti saya.

T-shirt, sebuah jenis pakaian yang membentuk seperti huruf T antara lubang leher dan lubang tangan. Diperkenalkan pertama kali untuk menghadapi musim panas yang menguras keringat ketika harus menggunakan pakaian lengan panjang, namun sejarahnya jauh melebihi hal tersebut. Awalnya, untuk mengatasi penggunaan bahan pakaian yang mahal sebelum masa revolusi industri, beberapa jenis pakaian menghilangkan sebagian dari lengannya yang pada saat itu pakaian pada umumnya mempunyai lengan panjang. Jenis pakaian ini jarang dipakai di luar, bahkan dianggap tidak sopan dan hanya digunakan sebagai pakaian dalam. T-shirt kemudian menjadi terkenal ketika panas yang tidak tertahankan harus dihadapi dengan baju lengan panjang. Selain itu t-shirt juga menawarkan kemudahan sambil tetap menutupi bagian tubuh.

Selama ini saya hanya mengenal cara melipat baju seperti di bawah:

Teknik melipat yang sering saya gunakan

sumber : http://i-cdn.apartmenttherapy.com/uimages/ny/7-15-folding-shirt.jpg

Dengan teknik melipat di atas, t-shirt dianggap sebagai sebuah bidang yang simetris sehingga terdapat garis khayal di tengah yang menjadi pusat pertemuan lipatan pada nomor 2. Besar lipatan bervariasi tergantung panjangnya. Namun ada batas yaitu daerah simetris antar bagian tersebut. Cara melipat pun diulang kembali hingga mencapai bentuk akhir. Melelahkan dan terlalu banyak lipatan dan lipatan.

Teknik lainnya adalah sebuah teknik yang layak diangkat karena teknik ini melihat bagaimana sebuah benda dapat diproyeksikan dan diselesaikan secara geometris. Berikut ini cara melipatnya:

Pertama dari teknik tersebut, t-shirt dibentangkan di permukaan yang rata. Hal ini untuk memudahkan pengambilan sudut dan menghindari salah ambil nantinya.

Seperti cara yang awal, t-shirt dilihat sebagai permukaan yang memungkinkan pembagian dengan garis khayal berdasarkan lipatan simetris antar kedua lengan nantinya (seperti contoh pada nomor 3&4 dalam teknik sebelumnya). Yang membedakan adalah, ketimbang melipat dalam dalam satu bidang datar pada contoh pertama, teknik kedua merotasi t-shirt untuk menimbulkan efek yang sama. Tentu saja tidak sembarang merotasi.

Hal yang terjadi adalah seperti di bawah ini:

Teknik melipat dengan skema pembagian

sumber : http://tickledbylife.com/site/wp-content/uploads/2008/09/t-shirt-fold-1.jpg

Langkah awal yaitu mencubit di daerah R1 & L1. Hal ini untuk menciptakan garis L1-L2 tanpa harus melipatnya dan lipatan yang terjadi adalah secara vertikal. Kemudian masuk ke dalam tahap rotasi. Rotasi memastikan lipatan yang terjadi sama besar, secara horizontal sehingga titik R1 menjadi poros untuk pelipatan vertikal dan horizontal.

 L1 & L2 merupakan garis yang terjadi seperti pada teknik pertama di bagian 3 & 2. Garis ini memiliki perhitungan 1/3 dari panjang t-shirt. Sama saat teknik 1 dipergunakan untuk mencapai lipatan yang simetris dan panjang ini merupakan hasil terbesar untuk mendapatkan lipatan yang sesuai (tidak terlalu besar maupun kecil).

R1 merupakan sumbu lipatan yang juga terjadi pada tahap 7 teknik pertama. Di sini t-shirt dilipat untuk memperkecil bentuknya. Letak R1 merupakan sumbu simetris antara jarak atas t-shirt dengan bawah.

Langkah akhir adalah kembali menemukan titik simetris, namun kali ini hanya mengikuti besar yang sudah ada. Baju dapat dilipat tanpa teknik yang rumit seperti pertama.

Teknik melipat akhir

sumber : http://tickledbylife.com/site/wp-content/uploads/2008/09/t-shirt-fold-2.jpg

Hal yang membedakan antara teknik pertama dan kedua adalah rotasi serta hasil akhir. Dalam teknik pertama tidak ada rotasi sama sekali. Semua hanya teknik melipat biasa, seperti bermain origami. Dalam teknik kedua, ketika kita bisa melihat t-shirt dengan pola tertentu, kita dapat menentukan bagian yang penting dalam melipat sehingga menyederhanakan proses melipat.

Bagi mereka yang mengincar presisi teknik pertama dan kedua menghasilkan lipatan yang berbeda dan mungkin akan lebih senang dengan teknik pertama.

Jika dikaitkan dengan arsitektur, banyak hal yang sebenarnya tidak kalah menarik. Saat kita berangkat dari pemikiran dua dimensi ke tiga dimensi. Contoh saja membuat maket eksplorasi dengan bentuk-bentuk aneh:

Bentuk dan pola serta penerapannya dalam 3D

sumber : http://www.todayandtomorrow.net/wp-content/uploads/2009/03/fold.jpg

Perlakuan yang sama seperti rotasi terjadi ketika memahami bentuk-bentuk dasar yang sudah ada. Hal ini akan membawa kita ke dalam pemahaman yang lebih dalam akan cara kerja sebuah bentuk sehingga kita dapat menghasilkan bentuk dan ilusi seperti di bawah:

Di internet masih banyak cara melipat t-shirt dan variasi melipat yang bermacam. Hampir semua benda yang mempunyai bentuk dasar sebuah bangun dua dimensi yang simetris di satu sumbu dapat dilipat. Teknik melipat sendiri memainkan dua permukaan antara atas dan bawah yang juga berlaku bagi teknik rotasi. Tahap selanjutnya ketika kita melipat-lipat adalah bagaimana ketika kita bisa menimbulkan kesan yang sama dengan merotasi meski menghasilkan bagian yang berbeda. Ketika kita bisa melihat pola dasar secara dua dimensi, kita bisa menemukan pola lainnya yang membuka pikiran kita untuk bergerak dalam bidang tiga dimensi tanpa meninggalkan prinsip dasar dua dimensi (melipat kemudian beranjak ke melipat dan merotasi serta perlakuan lainnya hingga menghasilkan ilusi seperti pada contoh maket eksplorasi).

Selamat melipat dan menghemat waktu :D

Sumber

http://akuaku.org/archives/2004/05/art_of_tshirt_f.shtml

http://en.wikipedia.org/wiki/T-shirt

http://tickledbylife.com/index.php/folding-a-t-shirt-in-15-seconds/

http://www.neoegm.com/blog/techniques/how-to-fold-a-t-shirt-in-2-seconds/

http://www.todayandtomorrow.net/2009/03/25/deployabletransformable-structures/

Video :
http://www.youtube.com/watch?v=BAxhr0j0thY
vimeo.com/2840704

Sebuah Metode Penggubahan Lagu

Filed under: architecture and other arts — rizqierpriatna @ 01:22

Pembuatan sebuah Lagu berdasarkan dari Kebiasaan masing” individu untuk merancang sebuah lagu. bagi masing” individu tersebut untuk menggubah sebuah lagu hal yang biasanya menjadi masalah adalah kemampuan untuk mengolah lirik lagu dan juga menentukan nada yang akan digunakan untuk lagu tersebut. Sebagai contoh ada beberapa orang yang kemudian menciptakan sebuah lirik lagu dari kebiasaannya. Dia ini merupakan  seorang penyanyi dan penulis lagu yang sangat menyukai kerupuk dan kebiasaannya yang sangat sering ia lakukan adalah memakan kerupuk. Dari kecintaannya tersebut akan kerupuk ia pernah mendapatkan sebuah pengalaman ketika ia makan siang dan ia tidak mendapatkan satu kerupuk pun dimanapun sehingga dari kekesalan tersebut kemudian ia mencoba manfaatkan untuk diolah menjadi sebuah lirik lagu.

Adhitia Sofyan – Don’t You Dare Touch My Kerupuk

Dont you dare touch my kerupuk

Dont you even put the thought of your mind

I”m gonna cut your chest open feed your heart to the lion at the zoo

Dont you even touch my kerupuk

Dont you even have the thought of your heart

Im gonna cut your head open take your brain out shove it back to your behind

I’m gonna cut your head open take your brain out shove it back down to your ass

I love my kerupuk

You’re like my flesh and blood

Stay of my kerupuk

You wont sleep so well at night

You’ll have nightmares for as long as you’re alive

Stay out of it, Stay out of it, Stay out of it..

 

Untuk mendengarkannya :  http://www.youtube.com/watch?v=6dM9rDTGs8c

Kemudian ada juga seorang penyanyi yang memiliki seorang anak yang masih sangat kecil dan sebagai orang tuanya (sang ayah) kemudian dia ingin memberikan suatu nasihat untuk anaknya kelak kemudian dia menggubahnya menjadi sebuah lagu yang akan digunakan nantinya untuk dijadikan pesan ketika dia dewasa nanti.

 

 

Bonita and the Husband – Pesan Untuk Pram

kau lukis indah
hidupmu yang sedang kaujalani
‘ku bahagia

kau pilih langkah dan cara
kau beri bunga
kau bahagia
‘ku berdoa

ingat hari lalu
hidup hari ini
cipta masa nanti
s’moga kau bahagia

esok bukanlah milikku
hanya harapan
kau bahagia
‘ku berdoa

ingat hari lalu
hidup hari ini
cipta masa nanti
pasti kan bahagia

s’moga kau bahagia

untuk melihat : http://vimeo.com/38717928

Sebenarnya 2 hal utama yang krusial yang katanya sulit untuk dilakukan ketika menciptakan sebuah lagu. Hal itu adalah menentukan lirik dan menemukan nada untuk lagunya. Kondisi masalah untuk menyelesaikan sebuah lirik bisa dicoba untuk diselesaikan dengan metode seperti diatas sedangkan untuk mencari nada yang tepat untuk lirik lagu yang sudah dibuat biasanya mereka memainkan nada” yang mereka kenal kemudian dimainkan sampai menemukan sebuah irama yang menurut mereka pas untuk lirik yang sudah mereka ciptakan.

Hal yang kemudian menarik untuk dicobakan adalah untuk mengaplikasikan sebuah pengalaman biasa, kebiasaan, dan keinginan kita kedalam  suatu form yang sesuai dengan kebiasaan, pengalaman dan keinginan kita tersebut, yang sudah biasa kita lakukan sebagai mahasiswa arsitektur adalah baru mencoba untuk melihat pattern, atau pola” yang terjadi pada lingkungan dan seringkali kita secara mentah” membuat form dari hanya pola atau pattern tersebut tanpa adanya tambahan apapun sehingga hasilnya memberikan suatu kesan yang kurang maksimal. Tambahan yang saya maksud disini adalah nada” yang biasanya ketika lirik sudah dapat ditemukan namun nada yang akan digunakan tidak pas atau sangat berbeda sehingga kemudian menjadi suatu hal yang terasa kurang pada lagu tersebut. Ataupun ketika kita sudah menemukan suatu nada yang kita sukai namun kita akan kesulitan untuk memberikan lirik lagu yang pas untuk lagu tersebut. Hal ini kemudian akan membuat kita kesulitan untuk memberikan suatu kesan yang kita inginkan pada suatu lagu/ bangunan yang akan dibuat nantinya.

Penggambaran aliran music pada sebuah ruang interior

Filed under: architecture and other arts — rarainterior09 @ 01:04

Seperti dalam bahasan kelas geometri bahwa musik dan arsitektur dapat memiliki hubungan untuk menggambarkannya. Begitu pula halnya dengan interior. Kesamaan terjadi karena keduanya menimbulkan persepsi tersendiri. Bagaimana keduanya seringkali dapat mempengaruhi suasana atau perasaan manusia. Perbedaannya hanya melalui penggunaan indera. Pada musik tentu saja indera yang digunakan ialah telinga kita. Bagaimana dari alunan nada-nada bisa dapat terciptanya mood pada manusia. Misalnya pada musik jazz yang mana alunan nadanya mengalir dan tenang atau sebaliknya pada musik hiphop yang nadanya memiliki beat yang membuat pendengarnya menjadi semangat. Begitupula halnya dengan interior yang pada hal ini kemampuan visual manusialah yang digunakan dimana menciptakan kualitas ruang yang mempengaruhi persepsi manusia. Pada ruang-ruang tertentu seperti sudah melekat di pikiran kita bagaimana seharusnya kualitas sebuah ruang sesuai kebutuhannya. Misalnya pada ruang tidur, seringkali divisualisasikan dengan pemilihan warna-warna yang kalem, lampu yang tidak terlalu terang (remang) sebaliknya dengan ruang kerja yang mana membutuhkan perasaan semangat di aplikasikan dengan ruang yang terang. Disini saya akan mencoba menggambarkan beberapa aliran musik yang digambarkan dalam sebuah ruang interior.

 

1. Musik Klasik

Musik klasik dianggap sebagi cikal bakal berbagai jenis music yang ada sekarang ini. Musik klasik bisa berupa musik klasik bisa berupa alunan satu jenis alat musik tertentu hingga berupa panduan berbagai alat musik. Nada-nadanya keras dan tajam menandakan luapan emosi dari para seniman kala itu. Musik ini sering dimainkan dalam bentuk orchestra yang membuatnya terasa mewah dan megah. Dalam interior dikenal juga isrilah klasik dimana berarti kelas Jika music klasik diadaptasi kedalam ruang Interior klasik biasanya memiliki banya kerumitan pada motifnya yang khas dan melambangkan kemewahan.

Image

 

 2. Musik jazz

Musik jazz merupakan musik yang tumbuh dari rakyat.musik ini kadang tidak memiliki harmonisasi, hanya hentakan ritmenya saja yang mendominasi komposisinya. Musik ini terdengar mengayun dan tenang. Dalam interior persepsi saya akan sebuah music jazz alah ruangan yang tenang, dan terkesan lebih intim.

Image 

 

3. Musik rock

Musik rock adalah suatu perwujudan dari jenis musik yang mengutamakan salah satu dominasi alat musik tertentu pada permainan ansambelnya. Harmonisasi nada-nadanya cukup keras dan tajam. Musik rock memiliki 3 chords, backbeat yang konsisten dan mencolok yang menghasilkan melodi yang menarik. Dalam perwujudan interior persepsi saya ialah ruang yang sangat maskulin. Dimana dapat diaplikasikan dari bentuk ruang hingga penggunaan warna yang cenderung agak gelap.

Image

 

4. Musik pop

Musik pop dianggap musik yang paling ringan untuk dinikmati. biasanya lirik lagunya relatif singkat dan sederhana. Musik ini sering di mix dengan genre musiknya untuk membuat genre lain terasa lebih ringan.Dalam persepsi saya interior ruangan ini akan menjadi sederhana namun sangat nyaman untuk ditempati.

Image

 

Dari hasil diatas menunjukkan bahwa aliran music ataupun ruang interior memiliki gaya masing-masing yang menimbulkan kualitas yang mempengaruhi perasaan manusia. Semuanya memiliki keunikan tersendiri sesuai dengan kebutuhan manusianya. Ulasan diatas hanya persepsi pribadi semata akan pengaplikasian aliran music pada sebuah ruang interior. Jadi, bagaimana menurut anda? 

 

 

Sumber:

 

http://kaskusartikel.com/pengetahuan-umum/pengertian-genre-musik-dan-jenis-jenisnya.html

 

http://www.anneahira.com/music.htm

Logo Band Terkenal?

Filed under: architecture and other arts — bambangutoro @ 00:30

Makna dari “logo band terkenal” bisa dibilang memiliki makna ganda, yang pertama yakni logo dari suatu band yang kini mereka sudah ternama dan yang kedua adalah kebanyakan masyarakat mengenali logo tersebut secara tidak sadar. Hal yang saya maksud di sini adalah makna yang kedua, bukan karena bandnya, namun karena logonya.

Hal yang membuat saya tertarik untuk membahas masalah logo band ini adalah, apakah ada hubungannya logo dari suatu band dalam mendukung ketenaran, ataukah kemampuan dari band tersebut yang berhasil membuat lambang mereka menjadi terkenal? Selain itu dapatkah ditarik kesimpulan bahwa bentuk logo suatu band menjadi panduan seperti apa musik yang mereka bawakan?

Dari hasil googling untuk mendapat referensi logo-logo band terkenal di dunia saya rasa deretan logo band berikut dapat merepresentasikan logo yang saya maksud. Paling tidak Anda dapat mengenali sebagian besar lambang yang ditampilkan di bawah ini, walau belum tentu Anda tahu siapa band pemilik lambang tersebut.

Dari deretan logo band terkenal di atas hal yang dapat saya simpulkan bahwa logo-logo tersebut:

  1. memiliki bentuk-bentuk yang simpel baik dari segi garis dan pemilihan warna
  2. memodifikasi bentuk dari hal-hal yang sering dijumpai sehari-hari
  3. permainan komposisi seperti bentuk geometris, simetris, repetisi, bisa menjadi pertimbangan dalam pembentukan lambang
  4. membuat font tersendiri dengan bentuk yang unik bisa menjadi ciri khas pada logo
  5. unsur dalam logo mengadaptasi hal-hal yang ingin dicitrakan, misal: band metal memiliki lambang dengan unsur tajam
  6. logo belum tentu merupakan sesuatu yang memiliki filosofi dibalik lambang yang ditampilkan

Menurut Anda poin-poin apa lagi yang dapat menjadi acuan untuk membuat logo yang “everlasting”?

Invers dalam Karya Stensil

Filed under: architecture and other arts — fariddinattar @ 00:20

ABOVE’s Paris stencil

Stensil merupakan sebuah karya seni yang memiliki keterkaitan dengan ide menjiplak ataupun tracing terhadap sebuah objek. Objek yang biasa digunnakan dapat berupa karya 2 dimensi seperti gambar, ilustrasi, dan lain-lain. Objek yang digunakan dapat berupa benda 2d yang diolah terlebih dahulu dengan cara digital.  Bahan yang biasanya digunakan untuk melakukan stensil adalah kertas/plastik sebagai pola jiplakan dan alat pewarna biasanya menggunaan cat semprot dan atau cat lainnya. Ide dari stensil ini bisa terbilang unik karena pada saat melakukan prosesnya terdapat langkah dimana kita akan melakukan invert untuk mendapatkan gambar/ilustrasi dalam bentuk stensil. Saat kita mencoba untuk menyemprot kebagian yang sebelumnya telah diberi layer untuk dipotong, terdapat bagian yang terkena semprotan dan tidak karena tertutupi. Bagian yang menutupi gambar dibelakangnya menjadi invers dari pola yang sebelumnya telah kita buat. Invers ini yang menjadi bentuk lain yang kita dapatkan saat melakukan stensil. Pada dasarnya terdapat dua kali penggambaran karya dalam metode stensil ini dan salah satunya adalah inversnya.

Berikut ini adalah langkah-langkah dasar dalam membuat stensil :

1. Make a Illustration

Membuat gambar, coretan, lukisan, dsb dengan “ide” didalamnya. Dapat dilakukan secara manual maupun secara digital menggunakan komputer dsb.

2. Print the vector Illustration

Desain atau gambar yang telah selesai di “convert” kedalam vector. Kemudian vector yang telah dibat dibuat outline-nya. Hal selanjutnya yang dilakukan adalah mencetaknya kedalam sebuah kertas.

3. Acetate

Hasil cetak dengan kertas ditempelkan ke kertas plastik. Penggunaan plastik ditujukkan agar lebih kaku dan saat ingin memotong pola dalam layer pada proses cutting.

4. Layering & Cutting

Pada tahap Layering ia menentukkan komposisi warna juga bentuk agar gambar terlihat 3 dimensi (shading). Setelah menetukkan layer mulai dilakukan pemotongan pada acetate berdasarkan layer yang telah dibuat.

5. Spraying / Brushing / Painting

Proses selanjutnya adalah mencetaknya ke dinding dan atau tempat lain. Proses ini diwali dengan menempelkan pola yang telah jadi ke dinding dan mulai mewarnai sesuai potongan pada layer menggunakan cat semprot atau media mewarnai yang lain. Selain itu, diperlukan pula pembatas pada tepi pola agar tidak menciptakan outline disisi luar bidang mengecat.

Pola cetak stensil

Invers

Hal yang menarik dari stensil adalah invers yang terjadi dari pola potongan cetakan merupakan jejak atau bidang yang menjadi pola cetak. Tanpa kita mengetahui bagaimana pola cetaknya dengan melihat dan memahami karya stensilnya kita mampu menggambarkan bagaimana pota cetaknya. Invers ini menjadi bagian yang menarik didalam memahami sebuah bentuk. Jika kita mendapatkan salah satu antara benda asli atau inversnya kita dapat mencari dan memahami bagaimana bentuk kebalikannya itu. Dari memahami langkah-langkah dalam proses menciptakan karya stensil kita bisa mempelajari invers juga. Hal yang lebih menarik jika kita mencoba melakukannya didalam benda 3D karena kita akan mendapatkan info mengenai invers dari depth, volume, dan bidang-bidang pembentuknya.

ALEX PARDEE DAN PERSEPSINYA DALAM MELIHAT BENTUK GEOMETRI

Filed under: architecture and other arts — Febrian Anugrah @ 00:10

Ketika kita melihat suatu benda, terkadang kita akan otomatis terpikir mengenai nama bentuk geometri benda tersebut. Misalnya ketika kita melihat sebuah kasur, mungkin beberapa orang akan menganggap bentuk kasur tersebut adalah bentuk balok, atau lain lagi misalnya kita melihat sebuah kaleng obat serangga, sebagian besar mungkin akan menyebut “tabung” ketika kita menanyakan bentuk apakah yang dimiliki oleh benda tersebut. Hal hal tersebut terjadi karena kita telah memiliki pengetahuan mengenai bentuk bentuk geometri dasar yang wajib dipelajari ketika kita duduk di bangku sekolah dasar atau sekolah menengah. Lain halnya jika kita belum memiliki pengetahuan tersebut. Seorang anak balita mungkin merasa sangat girang ketika melihat sebuah karpet, bisa saja dalam pikiran mereka karpet tersebut merupakan karpet terbang, atau bisa saja mereka berpikir karpet tersebut merupakan kapal yang akan membawa mereka berkeliling dunia.
Perbedaan persepsi mengenai bentuk geometri tersebut terpengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor pengetahuan bahkan hingga faktor imajinasi. Disini saya akan mengambil satu contoh orang yang menurut saya memiliki persepsi bentuk geometri yang berbeda.

Alex Pardee merupakan seorang seniman, street artist, dan seorang apparel designer. Ia telah berpengalaman membuat cover album beberapa musisi, seperti, The Used, Aiden, dan In Flames. Dalam karyanya, Ia menampilkan bentuk bentuk surealis, dimana terkadang setelah kita perhatikan, kita bisa mengetahui darimana ia mengambil bentuk gambarnya tersebut.


(alex pardee – the pregnancy)

Misalnya dalam karyanya yang berjudul “The Aroma”. Ia mengambil bentuk eskrim sebagai dasarnya, lalu dengan persepsi dan imajinasi yang ia miliki, semua berubah menjadi sebuak karya yang menyeramkan.


(alex pardee – the aroma)

Begitu pula ketika ia melihat sebuah bangunan, apa yang ia lihat disana bukan seperti apa yang orang lain lihat, ia telah memiliki cara pandang tersendiri terhadap berbagai benda. Baginya seluruh benda memiliki sisi menyeramkannya sendiri. Sehingga ketika melihat suatu benda, apa yang ada didalam kepalanya bukanlah nampak seperti benda yang terlihat karena ia memiliki persepsi tersendiri dalam melihat sesuatu.


(alex pardee – breathing architecture)


(alex pardee – chynaphobia)


(alex pardee – once were peacock)

Alex Pardee hanyalah salah satu contoh seniman seniman surealis yang memiliki persepsi berbeda terhadap bentuk yang dilihat. Ketika seorang balita hingga seorang seniman surealis bisa melakukan hal itu, lalu apa yang membuat sebagian besar orang tidak bisa melakukannya, apakah hanya karena faktor imajinasi?ataukah terdapat faktor penghalang lain yang membatasi cara kita “melihat” suatu benda?

Sumber:

http://www.eyesuckink.com/

http://alexpardee.deviantart.com/gallery

Mobius Strip pada Simbol Recycle

Filed under: architecture and other arts — tithanasution @ 00:07
Tags: , , ,

Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata daur ulang? Barang-barang bekas diubah menjadi barang-barang dengan fungsi baru? Mengurangi sampah dunia? Apapun itu, jika berkaitan dengan daur ulang (recycle) Anda (dan saya) pasti mengenal simbol ini.

Simbol recycle yang berlaku universal dan sering kita temukan yaitu berbentuk tiga buah panah yang terlipat ujungnya membentuk sebuah lingkaran. Panah yang terlipat tersebut tidak ada yang sama persis. Satu sisi panah terlipat di sisi yang berlawanan dari panah lainnya. Mungkin banyak dari Anda yang tidak menyadari bahwa simbol ini membentuk mobius strip. Lalu apa makna simbol ini dan kaitannya dengan mobius strip?
Mobius strip ditemukan pertama kali pada tahun 1858 oleh August Ferdinand Möbius and Johann Benedict Listings dua orang matematikawan dari Jerman. Mobius strip dapat dibentuk dengan menyatukan ujung dari sebuah pita (yang semula memiliki dua surface) yang kemudian di putar setengah putaran membentuk sebuah surface. Ketika kita menelusuri satu sisi dari pita yang telah diputar dan disatukan tersebut kita akan kembali ke sisi dimana kita memulai. Esensi mobius strip yang menjadi karakteristik mobius strip adalah tidak terbatas, berkelanjutan, dan memiliki satu surface.
Sejarah simbol ini dibentuk ialah, pada tahun 1969 dan sekitar awal 1970 isu yang sedang marak di dunia yaitu isu lingkungan yang berpuncak pada ditetapkannya hari bumi pertama. Sebuah produsen karton daur ulang, Container Corporation of America yang berbasis di Chicago merespon isu tersebut dengan mengadakan kontes bagi para pelajar untuk mendesain simbol recycle sebagai langkah untuk meningkatkan kepedulian akan isu lingkungan tersebut. Kontes tersebut dimenangkan oleh Gary Anderson, seorang mahasiswa berusia 23 tahun dari University of Southern California yang hingga kini karyanya dikenal sebagai simbol recycle universal.
Karakteristik berkelanjutan, tidak terbatas, dan siklus satu arah yang meneruslah yang dimaknai oleh Anderson sebagai proses recycle itu sendiri. Recycle (daur ulang) adalah proses dimana menggunakan kembali barang-barang yang kita anggap sampah untuk keperluan lain dengan maksud untuk mengurangi sampah. Proses ini diharapkan akan dapat terus berkelanjutan hingga tak terhingga dalam menanggapi isu lingkungan.
Dengan begitu dapat saya simpulkan bahwa mobius strip pada simbol daur ulang (recycle) yang berlaku secara universal ini tidak menggambarkan seperti apa itu daur ulang, atau apa saja kegiatan daur ulang itu namun lebih kepada menekankan bagaimana proses daur ulang tersebut berlangsung. Bentuk geometri simbol ini merepresentasikan proses atau urutan kegiatan. Analogi dari panah-panah yang terlipat berlawanan arah yang berarti proses daur ulang ini tidak memiliki awal dan akhir –berkelanjutan, yang digambarkan dengan bentuk simbol yang melingkar.

Sumber :
“Recycling Symbol History “ (http://www.recycling-revolution.com/recycling-symbol-history.html diakses pada 12 Juni 2012. Pukul 23.00)
(http://en.wikipedia.org/wiki/Recycling_symbol) diakses pada 12 Juni 2012. Pukul 23.00
“Moebius Mobius Strip in Art and Culture” (http://nuclear-imaging.info/site_content/2009/02/03/moebius-mobius-strip-in-art-and-culture/ diakses pada 12 Juni 2012. Pukul 23.00)

June 12, 2012

Cheerleading dari sudut pandang Arsitektur

Filed under: architecture and other arts — dtnada27 @ 23:45

Cheerleading merupakan bentuk seni yang saat ini sudah dikategorikan sebagai olahraga karena banyaknya stunts yang membuthkan kekuatan dan teknik yang presisi. Sebelumnya dianggap sebagai hiburan semata karena memang tujuan awalnya adalah sebagai pendukung untuk tim olahraga dan bersifat sebagai pelengkap saja. Namun, dengan perkembangan jaman, cheerleading menjadi lebih independen dan dominan sehingga saat inipun sudah banyak kompetisi khusus cheerleading dan sudah didirikan organisasi yang mengatur bentuk olahraga ini sama halnya seperti basket, sepakbola, bulutangkis, dll.

Bentuk olahraga ini mungkin belum terlalu dipandang di Indonesia karena peminatnya yang sebatas murid SMP hingga SMA. Olahraga jenis ini masih dianggap tabu, apalagi untuk para kaum pria yang masih menganggap cheerleading diperuntukan untuk wanita. Bila kita melihat negara maju seperti Amerika, Jepang, Cina, dan beberapa negara Eropa (Finlandia, Belanda, dll) bidang ini sudah menjadi salah satu perhitungan. Bahkan salah satu presiden Amerika (George Bush) adalah seorang cheerleader semasa mudanya. Apakah yang spesial dari bentuk olahraga yang mengacu pada kesenian ini? Bagaimana kedua aspek teknis dan seni ini berintegrasi dalam rutin cheerleading? Dan apa kaitannya dengan arsitektur?

Cheerleading stunt memiliki bentuk dasar seperti sebuah pyramid. Bentuk pyramid, dalam matematika, dianggap sebagai salah satu bidang padat penting geometri Euclidean. Untuk membentuk sebuah pyramid harus ada tiga elemen yang dipenuhi yaitu figur 3 dimensi, sisi segitiga yang bertemu pada satu titik dan dasar poligon. Dalam arsitektur, bentuk pyramid juga populer dalam kontruksi arsitektural karena dianggap memiliki struktur yang kuat (dapat dilihat pada struktur bangunan terutama high-rise). Hal ini diadaptasi untuk melakukan cheerleading stunt, yang mementingkan keamanan sehingga struktur keberdirian harus kuat dan stabil. Struktur pyramid ini dapat diolah menjadi bermacam-macam variasi bentuk yang masih memegang prinsip pyramid yang terdiri dari base (sebagai dasar dan pondasi utama), spotters (struktur pendukung) dan flyers (beban yang diangkat).

“…we ought to imitate nature as seen in the case of things growing; for example, in … trees …every one of which is rather thick just above the roots and then, as it goes on increasing in height, tapers off naturally and symmetrically in growing up to the top. Hence, if nature requires this in things growing, it is the right arrangement that what is above should be less in height and thickness than what is below. –Book V Chapter One Section 3.

Struktur bangunan yang terletak lebih rendah harus lebih kuat dibanding yang lebih tinggi. Seperti halnya pada stunt cheerleading yang biasanya terdiri dari lapisan paling bawah (sebagai pondasi) terdiri dari 5-10 base, lapisan kedua (flyer yang juga menopang beban) terdiri dari 2 orang dan yang terakhir lapisan ketiga (top flyer) terdiri dari satu ini orang. Tinggi level pyramid ini maksimal adalah 2,5 yang dihitung sebagai berikut;

Image 

 

Dari gambar diatas terlihat bentuk struktur menyerupai pohon tanpa dahan dan ranting. Base bekerja sebagai akar,  pondasi utama dan struktur pendukung.

Dalam Arsitektur terdapat beberapa fundamental menurut Vitruvius yaitu Arrangement, Eurythmy, Symmetry, Propriety dan Economy. Poin-poin ini mengacu pada keteraturan atau order. Arrangement sebagai pengaturan tata letak sehingga menimbulkan efek elegan, eurythmy mengacu pada symmetry yang merupakan keselarasan antar elemen bangunan sehingga menjadi cerminan satu sama lain. Simetri sebuah bangunan mengacu pada simetri tubuh manusia karena tubuh manusia dianggap sangat proposional dan terkoordinasi satu sama lainnya. Jadi pada penerapannya terjadi hubungan timbal balik antara manusia dengan arsitektur. Dasar-dasar arsitektur mengikuti tubuh manusia, yang pada akhirnya diadaptasi lagi oleh kegiatan manusia, salah satu contohnya cheerleading.

Ketiga poin diatas juga diterapkan dalam cheerleading stunt atau bentuk-bentuk keterbangunan pyramid cheerleading. Setiap stunt memiliki order atau urutan tersendiri dan arrangement yang berbeda. Variasi biasanya muncul dari perbedaan posisi flyer (orang yang ditopang), namun untuk base atau pondasinya masih memiliki prinsip yang sama.

 “… in perfect buildings the different members must be in exact symmetrical relations to the whole general scheme.” – Vitruvius, Book III

Semua stunt di rutin cheerleading bersifat simetris karena membutuhkan kestabilan pada keberdiriannya. Terdapat beberapa stunt yang sebenarnya tidak simetris secara keseluruhan namun terdiri dari susunan stunt kecil yang simetris, jadi pada dasarnya masih mengacu pada prinsip yang sama. Adapun sejumlah kecil pengecualian yang memang menjadi tantangan tersendiri bagi pelakunya. Beberapa contoh simetri pada stunt akan ditunjukkan pada gambar dibawah;

Image

gambar 1.2

Image

Gambar 1.3

 

“Without symmetry and proportion there can be no principles in the design of any temple; that is, if there is no precise relation between its members as in the case of those of a well shaped man” – Vitruvius, Book III

Vitruvius membahas tentang pembangunan kuil yang diutamakan agar simetris karena berpengaruh pada proporsi bangunan. Proporsi ini berdasarkan setiap ukuran pada elemen pembentuk yang menunjang keseluruhan sistem bangunan. Prporsi ini dianggap penting akrena memberi keselarasan dan harmonisasi pada bentuk. Tidak berbeda dengan masa itu, bentuk-bentuk simetris lebih populer digunakan pada stunt karena lebih bersifat masif dan megah dari adanya proporsi yang sesuai dari penyusunan bentuk yang simetris. Proporsi dari kuil yang memiliki pengaturan sendiri, seperti panjang berukuran dua kali lebar, juga digunakan dalam beberapa stunt yang sifatnya masif dan biasanya menjadi stunt pada akhir penampilan karena memberikan efek yang lebih mencengangkan (lihat Gambar 1.3 dan 1.4).

Jadi dari penjabaran mengenai elemen arsitektur yang diaplikasikan dalam cheerleading stunt, kita dapat melihat bahwa cheerleading merupakan kombinasi antar seni gerak yang dapat dilihat indah secara visual dari penyusunan bentuk yang mencengangkan didukungoleh teknik yang kuat dari segi teknik yaitu struktur titik pondasi dan stabilisasi dari bentuk simetris (alokasi beba yang seimbang). Aspek seni dan olahraga ini berkolaborasi dari adanya seni gerak atau tari yang juga didukung dengan stunt yang megah dan dibalut alunan musik yang bersifat energik. Kombinasi ini memiliki kesejajaran dengan bidang arsitektur yaitu perpaduan seni dan teknik. Persamaan yang saya dapat dari keduanya adalah dimana struktur menjadi elemen penting pada keduanya dan struktur ini dapat menjadi elemen penyusun yang tang menjadi nilai estetika. Proporsi yang tepat menciptakan harmonisasi dalam bentuk. Perbedaan signifikannya adalah pada arsitektur, harmonisasi ini dapat dirasakan secara langsung oleh pengguna, sedangkan dalam aksi cheerleading harmonisasi hanya dapat dinikmati secara visual.

Adanya kombinasi tersebut membuat seni olahraga ini berbeda dari yang lainnya. Namun ternyata dengan budaya dan alasan-alasan normatif, ternyata perkembangan seni olahraga ini menjadi terbatas sasarannya yaitu siswi SMP dan SMA. Dari sini dapat disimpulkan sebagaimana baik dan bagusnya sesuatu akan kembali lagi kepada cara pandang setiap individu. Persepsi dan pemikiran manusia menjadi faktor penting terhadap bagaimana sutau hal diterima.

 

 

REFERENSI:

Vitruvius The Ten Books On Architecture

http://cheerleading.about.com/od/stunts/l/blstunt_index.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Pyramid

Disorder dan Ekspresionis

Filed under: architecture and other arts — nickyputra @ 23:35

“The geometric order is represented by ideal mathematical forms (in 2D: e.g. line,circle, quarter, or 3D: e.g. plane, sphere, cube) and ideal relationships (e.g. perpendicularly,parallelism, symmetry, rhythm/regularity). Chaos is the opposite of geometric order; it is represented by forms and relationships that are complex and dificult to describe with the language of classic mathematics.”<Pawel Rubinowicz, 2000>

Dalam interpretasi saya, sederhananya Pawel Rubinowicz berpendapat bahwa geometric order direpresentasikan dengan bentuk-bentuk matematika yang rules-nya jelas, contohnya bulat, persegi, segita, prisma, dan lain-lain, sebaliknya geometric disorder (‘chaos’ saya interpretasikan sebagai ‘disorder’) direpresentasikan dengan bentuk yang kompleks dan sulit untuk untuk digambarkan.

Dari definisi tersebut saya mengartikan dalam artian yang lebih sederhana lagi, bahwa order itu teratur, sedangkan disorder itu tidak teratur. Ketika disorder dianggap sebagai istilah yang mengartikan ketidakaturan atau no rules. Lalu bagaimana dengan istilah ekspresionis, apakah keduanya (disorder dan ekspresionis) merupakan istilah yang bermakna sama?

Ekspresionis adalah (lebih dikenal) sebagai suatu aliran dalam melukis. Pola-pola lukisan seorang ekspresionis biasanya terlihat sebagai sesuatu yang abstrak, coretan-coretan catnya tidak teratur. Berikut contoh lukisan salah satu  pelukis beraliran ekspresionisme yang terkenal, Van Gogh (1853-1890)Image

Jika dilihat, guratan-guratan pembentuk lukisan diatas memang tidak begitu jelas berbentuk apa, atau lebih tepatnya bentuk matematika apa yang mewakilinya. Selain itu, komposisi warnanya bukanlah sebuah komposisi yang bisa kita lihat pada fenomena alam yang ada. Sisi keabstrakan ini memang tidak mengkomunikasikan secara realistis objek apa yang dilukis, namun tampilan komposisi warna ini memiliki makna di dalamnya, walaupun hal itu sesuatu yang abstrak atau hanya sebagian orang yang mengerti.

Pada proses melukisnya, pelukis beraliran ekspresionisme melukis “semaunya” tanpa banyak berpikir, tanpa membuat gambar kasar terlebih dahulu. Ia hanya mengalir begitu saja, biasanya pelukis memakai perasaannya untuk mengekspresikan lukisannya.

Pada penjelasan ini, saya melihat suatu konsep yang sama pada disorder. Disorder muncul tanpa regulasi yang jelas, bahkan hasil yang diciptakan dari disorder tersebut merupakan sesuatu yang diluar dari regulasi yang ada.

Lalu, ketika prosesnya secara prinsipil mirip, apakah lantas disorder bisa diartikan memiliki makna yang sama dengan ekspresionis? Pada prakteknya, disorder memang merupakan sesuatu metode yang menghasilkan ruang objek 3D, seperti kota misalnya. Sedangkan ekspresionis merupakan suatu metode dalam membuat lukisan (objek 2D). Saya tetap tidak bisa mengatakan sama atau tidak secara gamblang, karena disorder atau ekspresionis itu sendiri tidak memiliki makna yang terdefinisikan dengan jelas, karena tidak ada rules yang pasti. Seringkali ia menjadi subjektif. Ketidakjelasan ini bertambah karena disorder ataupun lukisan ekspresionis bisa saja berubah makna menjadi sebaliknya.

Dalam salah satu essay di Blog everydayarchitecture.wordpress.com terdapat tulisan NotJustSthenny tentang “Which disorder is disorder?” Disana dipaparkan bahwa order memang ditujukan (secara sadar atau tidak) untuk meregulasi pada sesuatu. Disorder awalnya memang berkebalikan dari itu. Namun, apabila ke-disorder-an itu bertahan dalam jangka waktu tertentu ia akan menjadi sebuah order. Pola ini saya temukan pada metode melukis ekspresionis. Proses pembentukan dan jika dilihat secara mikro (tidak secara keseluruhan) lukisan itu tidak menggambarkan sesuatu apapun, namun ketika kita melihat secara keseluruhan atau ditambah dengan penjelasan makna dari sang pelukis, lukisan beraliran ekspresionis akan menjadi jelas polanya dan menggambarkan tentang apa lukisan itu, walaupun itu sulit. Jelas ini berlawanan dengan definisi ekspresionis di awal tadi.

 

 

Referensi:

notjusthenny. (2008, 11 3). Which Disorder Is Disorder? Retrieved 6 12, 2012, from architecture + everyday: http://everydayarchitecture.wordpress.com/2008/11/03/which-disorder-is-disorder/#comments

Rubinowicz, P. (2000). Chaos and Geometric Order in Architecture , 1.

Filed under: architecture and other arts,ideal cities,perception — mahardikaandi @ 22:40

Springfield sebagai Kota Ideal

Siapa yang tidak kenal dengan Homer, Bart, Marge, Maggie, dan Liza. Mereka semua adalah karakter-karakter dalam keluarga The Simpsons, karakter-karakter aneh berwarna kuning, buah karya dari Matt Groening. Homer telah sukses untuk menjadi sosok yang sangat bertentangan dengan sosok bapak seharusnya, begitu pula dengan Bart dan anggota lain keluarga ini, telah sukses untuk “mencerdaskan” kita tentang bagaimana keluarga seharusnya.

                                                                                                 

Keluarga ini hidup di sebuah kota yang juga merupakan hasil imajinasi dari Matt Groening, Springfield. Dalam sejarahnya Springfield didirikan pada 1796 oleh Jebediah Springfield (Hans Sprungfeld) bersama para pengikutnya. Alasannya karena Jebediah Springfield salah menafsirkan Al Kitab, dan mencoba menemukan The New Sodom. Kota ini mencapai masa kejayaannya pada pertengahan abad ke-20, ketika pabrik Aquacar pertama di dunia didirikan. Diceritakan juga pada masa keemasannya, jalan-jalan di kota ini di aspal dengan emas.  Saat ini total populasi kota ini adalah 30720 jiwa, dan diwalikotai oleh Joe Quimby.

Lalu apa itu ideal city? Kota ideal pada dasarnya hanya berupa gagasan dalam pikiran manusia tentang bagaimana kota seharusnya dibentuk, bagaimana seharusnya kota dan penghuninya berinteraksi, serta bagaimana seharusnya kota itu terlihat. Ide tentang kota ideal mungkin sudah muncul sejak lama. Plato sendiri pernah berbicara tentang hal ini, menurutnya kota ideal adalah cermin dua sisi yang pada satu sisi mencerminkan tentang kosmos, dan pada sisi lainnya mencerminkan tentang individu di dalam kota tersebut. Kota ideal menurut Plato, merupakan bentuk pengkombinasiaan unsur sosial dan politik yang dapat mengembangkan potensi dari tiap individu.

Pemikir-pemikir setelah Plato yang mengemukakan ide tentang Kota Ideal, pada dasarnya memiliki gagasan yang sama dengan Plato, yaitu menciptakan kota yang baik dari semua sisi. Kota tersebut akan bagus jika dilihat dari luar, terlihat indah dan tertata rapi. Kota tersebut memiliki fasilitas dan sarana yang menunjang semua keperluan, sistempolitik dan pemerintahan, sistem pengairan, listrik, sirkulasi dalam kota, semuanya berjalan dengan teratur dan dapat diatur. Dalam semua keteraturan tersebut, diharapkan akan mengurangi elemen-elemen yang akan membuat kota terlihat usang. Kemiskinan dan kriminalitas diharapkan dapat dicegah dengan keteraturan tersebut.

Secara fisik salah satu contoh pengaplikasian langsung dari keteraturan dalam kota ideal adalah penggunaan grid dalam pembangunan suatu kota, yang diharapkan akan menciptakan sirkulasi yang baik dan tidak memperlambat waktu pencarian terhadap suatu tempat.

Kembali pada pembahasan mengenai Springfield, kota ini pun merupakan salah satu bagian dari kota yang coba untuk dijadikan “ideal”. Jebediah Springfield pasti punya gagasan sendiri tentang kota saat dirinya mendirikan kota ini. Secara sederhana jika kita langsung melihat peta kota Springfield di bawah ini, akan mudah untuk menemukan adanya grid-grid dalam kota tersebut. Terlihat bagaimana kota ini diatur pembagian antara kawasan kerja dan kawasan permukiman.

Pada kenyataannya Jebediah Springfield telah berhasil menjadikan kota ini sebagai kota yang berhasil dengan konsep idealnya (Springfield mencapai masa kejayaan pada abad 20). Namun pertambahan penduduk dan berkembangnya zaman, mungkin telah menjadi penanda bahwa keidealan kota ini sudah seharusnya diperbarui. Seperti yang kita semua tahu bahwa gagasan dari manusia akan selalu berkembang, karena gagasan merupakan bentuk awal dari budaya, dan tentu saja budaya manusia tidak berhenti di satu titik. Maka sudah seharusnya gagasan tentang kota ideal mengalami perkembangan dan penyesuaian dengan manusia yang menjadi pemakai kota tersebut nantinya. Pembangunan kota ideal semestinya tidak berjalan sendiri tanpa mempedulikan kepentingan sesungguhnya dari pemakai kota tersebut nantinya. Bila pembangunan kota ideal berjalan sendiri tanpa peduli apapun kecuali estetika yang ingin ditampilkannya, maka jadilah kota tersebut sebuah kota yang bahkan penghuninya sendiri nantinya akan merasa asing untuk meninggalinya. Lalu, yang terjadi nantinya adalah kota tersebut menjadi bentukan kota yang ideal secara fisik, tetapi kota tersebut menjadi tidak ideal secara isi.

Masa kejayaan Kota Springfield mulai luntur dengan semakin jauhnya abad 20 dari mereka dan semakin mendekatnya abad 21. Homer, Marge, Bart, Liza, dan Meggie hidup di masa Springfield telah kehilangan masa keemasannya. Saat jalan-jalan di kota ini sudah di aspal dengan aspal, tidak lagi dengan emas, Saat tingkat polusi dan pencemaran di kota ini sudah sangat tinggi, saat tingkat kriminalitas di kota ini telah menjadi sangat tinggi, dan saat kota ini telah mendapat sebutan America’s Worst City dari majalah TIME.

Sebuah kota yang didirikan dengan gagasan untuk menjadi sebuah kota ideal, The New Sodom oleh Jebediah Springfield, tidak mampu mempertahankan keidealannya sebagai kota selain hanya grid yang masih terlihat pada kota tersebut jika suatu hari Anda ada waktu untuk terbang mengunjungi kota ini. Bagaimana mungkin hal ini dapat terjadi?

Mungkin karena kota yang didirikan pada 1796 ini memang sudah tidak ideal lagi dengan penataan kotanya untuk dipertahankan sampai memasuki abad ke-21. Pada awal kota ini didirikan tentu belum ada Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir milik Mr. Burns yang menjadi penyumbang limbah terbesar bagi kota ini.

Konsep kota ideal yang memisahkan antara kawasan bermukim dan kawasan kerja memang memberi dampak positif bagi kota ini, setidaknya warga Kota Springfield tidak terpapar langsung radiasi nuklir. Tetapi sistem pembuangan limbah yang tadinya hanya merupakan limbah pabrik tekstil kini berganti menjadi limbah nuklir, yang mengalir ke bendungan air untuk keperluan warga. Sekali lagi kota ideal yang di bangun Jebediah Springfield telah gagal bertahan melawan perjalanan waktu.

Kota ideal dapat menjadi ideal bila hadir di waktu dan tempat yang tepat. Seandainya memang keidealan tersebut tidak sesuai dengan pemakai dari kota tersebut, untuk apa keidealan tersebut harus dipaksakan hadir. Beberapa kota di Amerika mungkin memang telah berhasil untuk terlihat bagus secara fisik dan memenuhi syarat kota ideal. Tapi apa yang ada di Amerika tentu akan berbeda dengan apa yang ada di tempat lain. Jika Indonesia berusaha untuk mengikuti pembangunan kota seperti apa yang telah ada di Amerika, mungkin nantinya nasib kota-kota di Indonesia akan sama seperti Kota Springfield yang berusaha mempertahankan keidealn kotanya.

Jika Amerika memang telah berhasil menemukan bentuk kota idealnya, mengapa kota-kota di Indonesia tidak berusaha untuk menemukan bentuk idealnya sendiri yang sesuai dengan sosial dan budaya masyarakat setempat. Seperti Kota Springfield yang pada akhirnya berusaha untuk menemukan kota idealnya untuk masa sekarang.

 

Daftar Literatur

http://en.wikipedia.org/wiki/Ideal_city

http://www.scottlondon.com/articles/idealcity.html

http://www.da-vinci-inventions.com/ideal-city.aspx

http://en.wikipedia.org/wiki/The_Simpsons

http://en.wikipedia.org/wiki/Springfield_(The_Simpsons)

Episode The Simpsons dari berbagai Season.

 

 

April 4, 2012

SIMETRI DAN PROPORSI PADA ORNAMEN MEANDER

Filed under: architecture and other arts,classical aesthetics — dyahprawirajati @ 21:44

Pada zaman Yunani Kuno, arsitektur banyak menerapkan unsur simetri dan proporsi, seperti yang dikatakan Vitruvius, seorang arsitek pada masa itu yang menulis buku De Architectura yang sekarang dikenal Ten Books of Architecture yang dipersembahkan untuk Kaisar Augustus dalam upaya pembangunan kota bangsa Yunani. Menurut Vitruvius : “The design of a temple depends on symmetry, the principles of which must be most carefully observed by the architect. They are due to proportion, in Greek ἁναλογἱα. Proportion is a correspondence among the measures of the members of an entire work, and of the whole to a certain part selected as standard. From this result the principles of symmetry. Without symmetry and proportion there can be no principles in the design of any temple; that is, if there is no precise relation between its members, as in the case of those of a well shaped man”. Simetri dan proporsi menjadi bagian penting dalam membangun candi atau kuil. Unsur tersebut menurut Vitruvius dihadirkan untuk mendapatkan nilai estetika, “beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry.” Tidak hanya candi atau kuil yang menerapka dua unsur ini tetapi juga dalam fungsi bangunan lain, kolom dan juga ornamen.

Ornamen merupakan salah satu elemen dekoratif yang banyak dipakai pada arsitektur klasik, pada masa Yunani Kuno pun benda arsitektural telah menggunakan ornamen sebagai elemen dekoratif. Apakah salah satu ornamen Yunani Kuno yaitu Meander memiliki simetri dan proporsi yang pada masa itu menjadi elemen penting untuk mendapatkan estetika?

Meander merupakan salah satu ornamen kuno yang berasal dari Yunani, Awalnya meander dipakai sebagai elemen dekoratif pada alat-alat perkakas manusia seperti tembikar, vas bunga, dan lain-lain, lalu meander banyak dipakai sebagai elemen arsitektural seperti pada kolom-kolom, dinding dan ceiling. Meander terdiri dari garis yang saling berhubungan dan kontinu. Ornamen ini diambil dari sungai Meander yang alirannya berkelok-kelok ada juga yang menyebutkan meander berasal dari cerita popular tentang legenda raja Minos dan Crete, Theseus yang mencoba membunuh Minotaur yang mencari jalan masuk keluar di labirin. Hal ini juga yang membuat meander sering diaplikasikan pada jalan masuk seperti pintu dan pilar.

Gambar 1. Variasi Ornamen Meander

Gambar 1. Variasi ornamen meander

Gambar 2. Aplikasi Meander pada pilar

Gambar 2. Aplikasi ornamen meander

Simetri telah ada di alam bahkan ditubuh manusia itu sendiri hingga alat-alat yang dihasilkan manusia. Menurut Slavik Vlado Jablan (2002) dalam seni rupa istilah simetri diartikan estetika pada masa Yunani Kuno, dalam arti yang lebih luas simetri menunjukan harmoni, kesepakatan, ketaraturan, sedangkan dalam artian yang sempit merupakan pencerminan atau garis pemantulan.

Gambar 3. Detail Ornamen Meander

Diagram 1. Simetri bentuk dasar meander

Diagram diatas menjelaskan simetri yang terjadi pada ornament meander ini, diagram diatas mencoba mencari bentuk dasar dari ornament ini, bentuk dasar yang didapat adalah garis horizontal dan vertical yang saling membentuk sudut 90o terjadi beberapa tahap pencerminan, pertama dicerminkan terhadap sumbu x lalu dicerminkan lagi terhadap sumbu y. Pada pencerminan terhadap sumbu y ini selanjutnya dilakukan pengulangan berkali-kali, ornament meander ini biasanya membentuk memanjang horizontal.

Diagram 2. Proporsi bentuk dasar meander

Proporsi merupakan perbandingan suatu elemen terhadap elemen lain didalamnya. Dari bentuk dasar meander, garis horizontal dan vertikal yang terbentuk memiliki proporsi yang sama, sehingga membentuk proporsi yang seimbang.

Ornamen meander menerapkan simetri dan proporsi yang menjadi elemen penting dalam pembentuk estetika dalam arsitektur dan seni klasik. Bentuk ornamen dipengaruhi waktu dan tempat dimana ornamen itu dibuat, pengambilan bentuk bianya berdasarkan benda dan fenomena alam serta keseharian yang dijadikan simbol yang memiliki makna khusus untuk kelompok masyarakat tertentu

DAFTAR PUSTAKA

Vitruvius. The Ten Books of Arcitecture. trans by Morris Hicky Morgan, Ph.D, Ll.D

Vlado Jablan, Slavik. (2002) . Symmetry, Ornament, and Modularity. Singapore: World Scientific Publishing

British Museum Pattern Books: Roman Designs, by Eva Wilson, 1999, p. 12.

Geometri dan Bentuk Tubuh Manusia

Filed under: architecture and other arts,perception — sisbut @ 19:12

Banyak buku gambar yang memulai pembelajaran berdasarkan bentuk-bentuk dasar seperti kubus, lingkaran, ataupun prisma. Bentuk-bentuk ini mendasari gambar dan menjadikan latihan awal dalam menggambarkan sosok manusia.

 

Tubuh manusia digambarkan sebagai kumpulan volume 3D yang terkait satu sama lainnya, bagian sendi disimbolkan dengan bola dengan kemampuan untuk berputar sesuai dengan kemampuan sendi. Bola tersebut menghubungkan bentuk geometris bersudut di dalam tubuh berupa benda ini adalah tulang. Bentuk tulang asli memang tidak 3D namun volume yang menutupi berupa daging memberikan bantuk kepada tulang sehingga mereka dapat dilambangkan sebagai sebuah bangun 3D.

Bentuk-bentuk ini kemudian mengikuti bagian yang sesuai dengan susunan rangka dan volume dari bagian manusia. Tidak hanya itu, setiap bagian masih dapat disederhanakan menjadi sebuah bentuk geometri.

Bentuk-bentuk dasar ini justru digunakan kembali dalam seni beraliran kubisme. Bentuk kubus dan bentuk lingkaran dikembangkan untuk mencapai sebuah komposisi seperti terlihat dalam karyanya Pablo Picasso yang berjudul The Mandolin:

The Mandolin karya Picasso

Leonardo da Vinci mengambil perbandingan ini lebih jauh lagi hingga menemukan perbandingan tertentu pada modelnya Vitruvian Man. Rumusan yang diambil berdasarkan buku yang ditulis Vitruvius, De architectura:

Vitruvian Man karya Leonardo da Vinci

Le Corbusier, juga merumuskan perbandingan yang ia buat berdasarkan bentuk geometri tertentu dengan perbandingan dan proporsi yang diambil ketika seseorang meregangkan tanganya dan mencapai ketinggian 2.20 meter. Ide awalnya, Le Corbusier berusaha untuk mentranslasikan perbedaan satuan penghitungan antara inch dan meter.

The Modulor karya Le Corbusier

Pengertian akan geometri dan penemuan rumus-rumus serta proporsi tertentu membantu manusia untuk mendapatkan gambaran akan bentuk. Terutama bagi mereka yang sangat menyukai matematika, bentuk-bentuk 3D ini tidak akan lepas dari perhitungan dan presisi. Namun lewat ekspresi dalam karya seni, sebagai contoh aliran kubisme, benda-benda yang semula tampak kaku dengan perbandingan yang ketat dapat digambarkan dengan lebih bebas. Tidak hanya itu, bentuk sederhana tersebut juga digunakan mereka yang menggambar kartun seperti contoh di bawah ini:

Stop - Cyanide and Happiness

Bentuk-bentuk geometri tampaknya tidak akan lepas dari bagaimana seseorang melihat dunia. Mulai dari usaha Leonardo da Vinci  untuk mengejar kesempurnaan dalam bentuk tubuh manusia hingga The Modulor milik Le Corbusier. Namun di tengah kerumitan dan perhitungan yang seolah-olah mengejar kebenaran dan suatu standar akan penilaian manusia, kita juga berusaha untuk menyederhanakan bentuk kembali ke bentuk dasar dan bentuk 3 dimensi. Kerumitan dalam 3D dapat disederhakan dengan bentuk 2D untuk menghasilkan proyeksi tertentu seperti contoh pada gambar di atas, rupa manusia disederhanakan menjadi bentuk berupa lingkaran (kepala), segiempat (badan), garis (untuk tangan, kaki & mulut), dan titik (biji mata). Geometri tampaknya tidak akan lepas dari persepsi sesorang selama kita masih mencari asosiasi berupa keserupaan bentuk akan bentuk lain terutama adanya pembelajaran ilmu dasar berupa geometri itu sendiri.

Daftar Pustaka:
Art of Drawing the Human Body
. Sterling Publishing Co., Inc. 2004
Borenstein, Sheldon. See, Feel, Trace, Draw It. DNP.

http://en.wikipedia.org/wiki/Vitruvian_Man

http://en.wikipedia.org/wiki/The_Modulor

Sumber gambar:

« Previous PageNext Page »

The Rubric Theme Blog at WordPress.com.