there’s something about geometry + architecture

May 23, 2009

Welcome to geometry + architecture

Filed under: course info — andriyatmo @ 15:10

Blog ini merupakan wadah gagasan dari para mahasiswa kelas “Geometri & Arsitektur” semester genap 2008/2009 di Departemen Arsitektur Universitas Indonesia. Berbagai gagasan tentang geometri dan arsitektur dalam blog ini terdiri dari:

1. Penjelajahan tentang isu-isu terkait geometri dalam arsitektur, mulai dari estetika klasik hingga konteks perkembangan arsitektur terkini.

2. Refleksi terhadap sebuah wacana, teori ataupun pandangan yang berkaitan dengan geometri dan arsitektur.

3. Rekaman eksplorasi yang dilakukan dalam upaya memahami wacana geometri dalam arsitektur.

Sebagai gagasan, semua tulisan  yang ada dalam blog ini terbuka untuk didiskusikan dan diperdebatkan.

May 31, 2009

GEOMETRI SEBAGAI MATERIAL DALAM PEMBENTUKAN ARSITEKTUR

Filed under: geometry — r1ss @ 09:27
Tags: ,

Dalam mendapatkan ide dalam mendesign seringkali kita terinspirasi dari design karya arsitek lain. Tapi mungkin design tersebut kita ubah sedikit dengan di distort,invert atau di twist. Dimana pada dasarnya pembentukan massa pada kedua design itu sama namun dengan perlakuan yang berbeda. Dan hal ini seringkali disangkal para arsitek apabila designya dikatakan mirip dengan design orang lain. Sering terjadinya kemiripan design ini sebenarnya mungkin karena para arsitek sudah tidak punya ide lagi bagaimana untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar berbeda. Walaupun pertanyaan sebenarnya adalah apa mungkin apabila saat ini seorang arsitek benar-benar bisa menghasilkan design arsitektur yang benar-benar berbeda dengan yang lainnya?Karena sudah begitu banyaknya design arsitektur yang muncul di dunia ini, lalu apa mungkin ada bisa muncul design lain yang benar-benar tidak menyerupai design-design yang sudah muncul sebelumnya?
Dalam kuliah geometri ini saya belajar bahwa geometri seperti sebuah material dalam pembentukan design arsitektur. Dimana material-material ini berperan sebagai metode yang berbeda-beda yang ditawarkan geometri dalam membantu kita untuk mendesign sebuah arsitektur. Metode-metode inilah yang seperti membuka pikiran kita untuk mencari cara lain agar bisa menghasilkan sebuah design arsitektur yang berbeda. Mungkin pada awalnya saya berpikir bahwa geometri adalah bentuk-bentuk kotak atau segitiga yang malah bersifat mengekang bentuk-bentuk dalam arsitektur itu sendiri. Namun setelah dipelajari sebenarnya geometri inilah yang membebaskan kita untuk mencari sebuah design yang lain dan tidak hanya dengan mengikuti design orang lain. Material-material yang berbeda dalam pembentukan geometri bukan hanya kotak atau segitiga namun bisa melalui metode music, persepsi, golden section (aturan yang sudah ada pada arsitektur), Euclidean atau bahkan dengan ilmu-ilmu biologi. Dahulu kalau saya ditanya bagaimana music atau persepsi bisa membentuk geometri maka mungkin saya juga akan bingung menjawabnya. Bagaimana bisa geometri yang merupakan rumus matematika bisa dihubungkan dengan music atau persepsi,karena kedua hal itu ada pada bidang yang berbeda. Karena seringkali kita menganggap bahwa apabila ada kedua hal yang berbeda maka kita tetap akan menganggapnya berbeda, yang padahal mungkin saja dual hal yang berbeda belum tentu tidak berhubungan. Mungkin sebenarnya di sekeliling kita masih banyak material lain yang dapat kita temukan dalam pembentukan arsitektur, namun kita tidak menyadarinya karena kita sudah terkekang dengan metode-metode yang sudah kita kenal selama ini dan sudah terpatri di kepala kita. Arsitektur merupakan sebuah lahan dimana kita bisa menggunakan banyak metode untuk mengisi lahan itu. Dan metode-metode yang kita ketahui selama ini masihlah sangat sedikit sehingga kita selalu meingisi lahan itu dengan metode yang sama atau dengan mengikuti metode yang orang lain lakukan. Dan peran geometri disinilah yang membantu kita untuk membebaskan kita dari metode-metode konvensional yang kita kenal sehingga kita tidak terkekang dengan metode yang lama, dan membuat arsitektur menjadi lahan yang berisi berbagai hal yang penuh dengan keberagaman dan kekreatifan kembali.

IDEAL

Filed under: ideal cities — ayushekar @ 09:26
Tags: , ,

Ideal..
kata ideal dipakai untuk menunjukkan tingkat kepuasan seseorang atau sekelompok masa akan sesuatu. Ideal berarti sesuai, dan sering diartikan sesuai dengan order, tidak disorder. Entah itu bekaitan dengan keinginan, pemikiran, fungsi, estetik, dan sebagainya atau bahkan kesemua unsur tersebut. Karena ideal merupakan simbol tertinggi, maka akan sulit dicapai seseorang terlebih lagi kelompok, bahkan masyarakat untuk memenuhinya. Tulisan ini dilatarbelakangi oleh keraguan-raguan saya terhadap segala sesuatu yang mereka bilang ideal. Hal ini karena sebenarnya tentu ada unsur ataupun nilai yang telah mereka reduksi dari tujuan atau maksud sebenarnya untuk mencapai kata ideal, sehingga yag terjadi bukalah ke-ideal-an sebenarnya. Mengapa demikian? Karena sesungguhnya utopia setiap manusia terlalu tinggi untuk dijangkau. Bukankah manusia tidak pernah puas? Kata-kata ideal yang mereka gunakan adalah bentuk dari keputusasaan terhadap kondisi yang diinginkan, tetapi bagi orang lain itulah ke-ideal-an mereka. Dan ketika mereka sampai ke titik tersebut mereka tidak pernah lagi megatakan bahwa “Ini ideal untuk saya.”

Maka bagaimana manusia bisa membuat kota ideal?

Kota merupakan ekosistem yang kompleks. Kota ideal adalah kota yang dapat memenuhi segala kebutuhan hidup manusia di dalamnya, memberi keamanan, ketenangan, kenyamanan, keindahan, kesejahteraan, dan keteraturan. Tapi sebenarnya manusia golongan mana yang kebutuhannya dipenuhi? Dan siapa atau golongan mana yang memberi status ideal tersebut?

Mari kita mengambil contoh yang lebih kecil agar ke-ideal-an ini mudah dipahami. Anggap saja sebuah rumah adalah sebuah kota dan anggota keluarga yang tinggal di dalamnya adalah penduduk yang memiliki beragam umur, status sosial, aktivitas, dan kebutuhan. Ketika seseorang wartawan dari sebuah majalah rumah tinggal bertanya,
wartawan : “Apakah menurut anda rumah ini telah ideal bagi anda?”
kepala keluarga : “Oh tentu, kami telah membuat kolam renang di taman belakang, ada home
theatre, juga ada ruang fitness.setaip kamar memiliki kamar mandi didalamnya, juga televisi. Hal ini membuat keluarga saya tidak perlu kemana-mana lagi. Saya telah memenuhi semua kebutuhan keluarga saya.”

Itu adalah ungkapan ideal sang kepala keluarga, dimana ternyata definisi ideal sang ayah bukanlah definisi ideal anggota keluarga yang lain. Bagi si Ibu rumah ideal adalah rumah yang tak perlu ada kamar mandi disetiap kamar sehingga setiap paginya beliau bisa mendengar anak2nya berteriak berebutan kamar mandi, menggedor-gedor pintu, dan akhirnya belajar berbagi. Rumah yang ideal bagi si ibu adalah rumah yang televisinya hanya satu, sehingga di setap malamnya semua anggota keluarga bisa berkumpul bersama, menonton dan mengobrol.

Bagi si anak, rumah yang ideal adalah rumah yang lega sehingga iya bisa bermain sepeda di dalam saat hari hujan. Tanpa perlu takut dimarahi si ibu dan ayah barang-barang berharga mereka yang mahal itu pecah atau rusak. Rumah yang dindingnya bisa dijadikan kanvas untuk menggambar apa saja yang dia inginkan.

Keadaan diatas menunjukkan bahwa definisi ideal setiap orang belum tentu sebuah keteraturan, dimana segala sesuatu harus berjalan sesuai order, indah dan dilakukan pada tempatnya. Dengan demikian, segala sesuatu yang disorder dianggap jelek, buruk, dan tidak boleh muncul kepermukaan. padahal seperti contoh diatas bahwa ideal tentunya berurusan dengan “rasa” masing-masing orang yang nantinya membentuk definisi ideal-nya.

May 23, 2009

Hasrat Ber-Arsitektur

Filed under: contemporary theories — ayushekar @ 20:32
Tags: ,

Arsitektur tidak hanya melulu ruang dan hadir dalam keindahan bentuk, tetapi juga proses. Banyak arsitek ternama menghasilkan karya yang bisa dibilang terlihat biasa saja, tetapi ternyata diberikan apresiasi tinggi, karena prosesnya. Yang terpenting bukanlah B yang berasal dari A, tetapi area diantara A dan B. “Perjalanan” A menjadi B. Mengapa mereka terlihat dengan mudah menemukan metode tersebut? Karena mereka memiliki kepercayaan (belief).

Salah satunya adalah FOA (Foreign Office Architects). FOA percaya bahwa bentuk-bentuk yang dihasilkan memiliki suatu kedekatan atau kekerabatan dengan bentuk yang lain. Seperti sistem klasifikasi kekerabatan pada dunia biologi. Apa yang kemudian mereka sebut dengan PHYLOGENESIS. Kepercayaan tersebut yang menuntun mereka untuk meneliti dan menemukan apa yang mereka yakini.

Pada dasarnya FOA mencoba mencari parameter yang nantinya bisa mereka pakai dalam menentukan hubungan kekerabatan mereka. Meski dalam hal ini saya belum mengerti benar alasan mereka mengemukakan faciality, function, balance, continuity, dan lainnya. Meski banyak pertanyaan disekitar metode ini, seperti apakah bisa dipakai untuk semua bentuk bangunan dan semua arsitek, mengapa beranjak dari hubungan kekerabatan, dan pertanyaan lainnya, namun yang perlu digaris bawahi adalah proses penemuan metode tersebut, Sikap dan mental mereka.

Walaupun mereka menyadari betul metode yang mereka ciptakan akan menuai banyak protes, pertanyaan, dan sikap skeptis dari berbagai pihak, toh mereka tetap menjalaninya. Entah apakah mereka memang memiliki banyak waktu atau memang suatu tanggung jawab yang harus dilakukan, namun saya jadi berpikir bahwa bukankah seharusnya kita bersikap demikian. Mempertahankan dan membuktikan apa yang kita yakini, sehingga nantinya mahakarya tersebut tidak hanya sekedar berlabel “Iya bangunannya bagus.” tetapi juga “ wow ternyata …” ada sesuatu yang bisa dibawa siapa saja kedalam pengetahuan mereka. Hasrat seperti ini sulit ditemukan, tidak hanya di dalam diri saya, studio perkuliahan, hingga arsitek parktisi Indonesia saat ini.

Jadi, arsitektur tidak hanya berbicara hasil akhir, tetapi juga proses.

Hierarchy Reversal

Filed under: contemporary theories — ayushekar @ 20:30
Tags: ,

Konsep dekonstruksi yang dilahirkan Derrida memang sangat asyik untuk dibahas dan tak ada habisnya. Salah satu prinsip dalam konsep dekonstruksi adalah Pembalikan hirarki (hierarchy reversal).

Jika kita berbicara tentang hirarki tentunya berarti ada sesuatu yang lebih unggul dari pada yang lain sehingga memunculkan asosiasi adanya perbedaan posisi atau derajat antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Jika sesuatu itu dianggap penting, berarti kita meyakini dan menyadari kehadirannya. Sementara jika sesuatu tersebut dinggap tidak penting atau memiliki posisi atau derajat lebih rendah maka kehadirannya lebih diabaikan, bahkan cenderung dianggap tidak ada.

Artinya ketika kita membicarakan masalah hirarki maka secara tidak langsung menyebutkan makna atau ide tentang kehadiran dan ketidakhadiran (presence and absence). Salah satu keunikan yang dimiliki oleh konsep dekonstruksi Derrida adalah adanya oposisi yang harmonis. Maksud oposisi yang harmonis adalah konsep oposisi di dunia ini dapat kita sebutkan dengan jelas misalnya siang-malam, gelap-terang, luar-dalam, baik-salah, juga presence-absence. Presence (kehadiran) akan ada atau akan eksis ketika kita tahu keberadaan, dimana bisanya cara paling mudah bagi kita

untuk mengetahui keber-ada-annya adalah melalui keadirannya. Dan absence (ketidakhadiran) kita ketahui setelah kita mengerti akan kehadiran. Seperti kita tidak akan mengetahui terang jika sebelumnya kita tidak mengetahui apa itu gelap. Maka konsep hirarki menunjukkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya secara hubungan vertikal, sehingga menciptakan ke-tidak sejajar-an.

Pembalikan hirarki (hierarchy reversal) berarti menjelasan mengenai tingkatan atau hubungan yang tadinya terbentuk secara vertikal, posisi yang satu berada dibawah atau diatas yang lain, yang menunjukkan sesuatu yang lebih baik/penting dari yang lain, sehingga memberikan kesan bahwa ada suatu keberadaan yang tidak peting, seolah dihilangkan atau ditindas menjadi tidak berlaku. Semua hal diangap sejajar dan sama. Bahkan sesuatu yang absence atau ada namun tidak hadir (ketidak hadiran pada tataran ini lebih diartikan sebagi kehadiran yang tertunda, bukan tiada) dimunculkan sehingga semua dianggap sejajar sehingga secara bersama-sama dapat menguak makna (kebenaran) yang lebih luas dan mendalam. Semua menjadi sama pentingnya.Banyak bidang yang telah mampu menunjukkan prinsip ini baik di bidang seni, bahasa, maupun arsitektur.

May 21, 2009

Deaf + Music = Architecture?

Filed under: music and architecture — meurin @ 06:42
Tags: ,

Sepanjang kuliah geometri tentang arsitektur dan musik, saya menangkap kesan bahwa penciptaan arsitektur yang didasarkan pada musik seolah-olah hanya diperuntukkan untuk orang yang mampu mendengar saja karena sebagian besar arsitektur menekankan bagaimana agar suara yang tercipta dari bangunan dapat dinikmati oleh orang yang non tunarungu. Saya tidak mengatakan itu sesuatu yang salah.  Saya juga mengakui bahwa ada juga bangunan yang merupakan hasil translasi visual dari musik seperti  yang tertulis pada artikel Y-Condition yang terdapat pada buku Architecture as a Translation of Music. Artikel ini tertulis oleh Elizabeth Martin. Saya hanya ingin mengatakan bagaimana seharusnya musik itu dapat dinikmati oleh orang tunarungu juga melalui arsitektur. Tidak hanya orang non tunarungu.

Perlu diketahui bahwa tunarungu memiliki tiga cara menikmati musik yaitu melalui suara, getaran,dan visual. Memang tidak semua orang tunarungu dapat menikmati musik melalui suara karena tingkat ketuliannya berbeda-beda. Akan tetapi, dengan alat bantu dengar, barulah ada beberapa orang tunarungu dapat merasakan keindahan musik. Saya menyebutkan kata “ beberapa” karena tidak semua orang bisa mendengar dengan alat bantu dengar. Ada juga yang menderita ketulian total. Ada juga tidak suka mengenakan alat itu karena membuat kepala pusing.

Sedangkan, getaran merupakan sarana yang sangat umum atau paling sering digunakan orang tunarungu untuk menikmati musik. Memang ada orang tunarungu yang memilih menikmati musik melalui pendengaran sehingga kurang mengembangkan kemampuan ’mendengar’ musik melalui getaran. Tubuh manusia merupakan konduktor getaran yang cukup baik. Dengan memegangi alat musik atau radio, kulit sudah mampu merasakan getaran. Getaran itu merambat cukup cepat. Bahkan otak juga dapat merasakannya

Sebagai orang tunarungu, saya termasuk orang yang sering memanfaatkan getaran sebagai sarana untuk merasakan ’keindahan’ musik. Dulu, pada saat memainkan piano, saya suka menempelkan kakiku pada pedal. Dengan demikian, saya merasakan keindahan musik dari getaran. Ditambah feeling, kenikmatan musik makin terasa. Dengan feeling, saya sering membayangkan bagaimana rasanya jika musik itu dinikmati orang non tunarungu. Kendatipun, tidak selalu benar, saya tetap menikmatinya. Bahkan ditambah dengan alat bantu dengar, musik terasa lebih indah. Saya harus mengakui itu lebih indah daripada melalui getaran. Bagaimanapun, getaran tetap paling sering saya gunakan. Ketika bermain piano, saya masih suka menempelkan kakiku pada piano walaupun sudah mengenakan alat bantu. Apalagi jika alat bantu dengar itu rusak, saya tetap bisa menikmatinya meksipun rasanya agak berbeda.

Visual memang tidak banyak membantu untuk menangkap apa yang dimaksud dari sebuah lagu. Tetapi visual bisa memperdalam feeling sehingga orang tunarungu makin bisa merasakan kenikmatan musik. Jika saya melihat orang sedang memainkan piano di tengah ruang yang gelap, tepatnya di bawah lampu yang redup, saya langsung mendapat feeling. Saya bisa membayangkan seperti apa musik itu,. Dengan demikian, saya tetap bisa menikmati musik walaupun ruangan itu tidak mendukung baik getaran maupun suara. Jadi, kesimpulannya, agar orang tunarungu dapat merasakan musik melalui bangunan, maka arsitek harus menekankan suara, getaran, dan visual. Ketiga itu akan membentuk pengalaman ruang atau feeling. Feeling yang mengakibatkan orang tunarungu dapt menikmati musik, sama seperti orang non tunarungu.

Berikutnya merupakan contoh arsitektur yang baik sehingga orang tunarungu dapat menikmati musik , tidak hanya suara tetapi juga getaran dan visual, yaitu Synaptic Island. Synaptic Island adalah ruang yang menjadi perantara dari ruang luar ke ruang dalam the Tokushima 21 st Century Cultural Information Center selama CyberSound Week (30 April-5 Mei 1992). The Tokushima 21 st Century Cultural Information Center merupakan bagian dari Tokushima Bunka-no–Mori Park.  Ruang ini mengeksplorasi akustik, persepsi, arsitektur, dan komputer. Ruang ini membuat kita tidak hanya mendengar tetapi juga merasakan getaran dan visual.

Ruang ini sengaja dibuat persis dengan bentuk anatomi telinga musik  untuk menghadirkan perpectual geography. Perceptual geography akan memperkuat persepsi kita akan ruang daripada suara. Synaptic island sengaja dibuat untuk menunjukan spatial dimensions dari musik. Dalam hal ini, arsitektur dijadikan sebagai alat memperlebarkan dimensi baru musik. Komposisi musik di dalam ruang ini ditentukan oleh tinggi dan lokasi. Material bangunan ini dijadikan sebagai media perambatan musik (getaran). Ini mengakibatkan kecepatan suara bertambah tinggi sekaligus memperbesarkan gelombang suara. Panjang gelombang suara untuk nada C yang melalui udara (airborne sound) hanya empat kaki. Sedangkan yang melalui material bangunan (structure-borne sound) panjangnya justru lebih dari dua puluh kaki. Ini membuat tubuh kita merasakan getaran suara lebih cepat daripada melalui udara. Ini menimbulkan sensasi dalam merasakan ruang, seperti kutipan berikutnya:

” Tactile in prescene, they appear both larger than life and small enough to touch, heard as tough miles away, or felt inside the listener” (Maryamme Amacher, 1994).

Sebagai responnya, neuroanatomy memberi sinyal data bentuk yang paling rumit (getaran) ke dalam telinga yang mengakibatkan kita mendengar tiga bunyi, satu dari getaran dan dua lainnya berasal dari udara. Suara yang terdengar ini tidak berasal dari electronic multispeaker tetapi dari resonasi suara pada ruang itu. Dengan kata lain, bangunan berfungsi sebagai speaker dan otak sebagai mixing board. Selain itu, interior yang berbeda-beda dalam ruangan itu makin menambah variasi dalam mengalami keruangan.

Jadi, Synaptic Island benar-benar memeberi pengalaman ruang dari segi visual, pendengaran, dan getaran. Sekarang, terserah pada arsitek, mau membuat bangunan yang ‘ramah’ tunarungu atau tidak.

Referensi:

Martin, Elizabeth, et.al, 1994. Arhitecture as Translation of Music. New York: Princenton Architectural Press.

Ideal city: Man vs Architecture

Filed under: ideal cities — indira28 @ 06:40
Tags:

The ideal of the modern city is like the ideal of a well-ordered home : a place for everything and everything in its place. (Lofland)

Pernyataan dari Lofland tersebut mendefinisikan ideal seperti sebuah rumah dengan order yang baik. Dimana rumah sebagai tempat untuk segala sesuatunya dan segala sesuatunya ada pada tempatnya. Ideal cities dengan segala sesuatunya yang order. Seketika saya berpikir tentang arsitektur. Ketika kita merancang suatu bangunan, tentunya bangunan itu memiliki fungsi sebagai wadah dari suatu aktivitas yang nantinya kita (sebagai perancang) mengharapkan aktivitas tersebut terjadi di dalam bangunan kita. Ketika kita merancang, kita berusaha untuk mengatur manusia. Bagaimana kita dapat mengatur manusia tersebut agar dapat mengikuti harapan perancang akan perilaku manusia yang akan terjadi di dalam bangunan rancangannya. Perancang mengatur manusia agar berada di tempat yang benar dan mengatur tempat tersebut agar manusia mau berada dan berkegiatan di tempat tersebut. Apakah bisa jika kemudian saya mengatakan arsitektur itu sebagai sesuatu yang order?

Arsitektur, ketika kita berpikir tentang arsitektur, apakah arsitektur itu? Secara kasat mata, saya melihat arsitektur itu selalu berhubungan dengan manusia. Arsitektur itu ada karena manusia ada. Pada awalnya manusia menciptakan arsitektur, namun pada akhirnya arsitektur ini yang mengatur manusia. Arsitektur sebagai bagian dari suatu kota tempat dimana manusia hidup. Seperti yang disebutkan oleh Lofland bahwa ideal cities itu seperti well-ordered home. Disinilah arsitektur berperan, arsitektur menciptakan ideal cities. Arsitektur mengatur manusia, menempatkan manusia pada tempatnya yang seharusnya.

Namun, apakah kota memang harus diatur untuk menjadi ideal? Sebenarnya menurut saya, ideal itu merupakan kata yang teramat “berat” untuk diucapkan. Saya mengartikan ideal seperti sebuah angan-angan. Angan-angan seperti layaknya mimpi. Mungkin kita akan melakukan sesuatu untuk meraih angan-angan itu, namun sebenarnya kita tidak akan mencapai angan-angan tersebut. Yang akan kita capai adalah hal yang mendekati angan-angan tersebut. Hal ini kembali kepada sifat dari manusia yang tak pernah puas akan sesuatu. Begitu pula dengan angan-angan manusia yang selalu berubah ke titik tertinggi.

A city is many things (Lofland)

The big cities are natural generators of diversity (Jacobs)

Ketika kita melihat suatu kota, kita akan melihat keanekaragaman di dalamnya. Begitupun dengan manusia yang berperan sebagai actor di dalam suatu kota, tentunya mereka berasal dari keberagaman budaya yang ada. Individu-individu yang menyatu ini mempunyai cara masing-masing untuk mewujudkan ideal city yang berada dalam benaknya, sehingga konsep ideal city dengan well-ordered home nya semakin sulit untuk diwujudkan. Kota tumbuh dengan sendirinya dengan segala ketidak-teraturan di dalamnya. Hal ini bertolak-belakang dengan pernyataan Lofland yang menyebutkan the ideal of the modern city is like the ideal of a well-ordered home. Kata dan arsitekturnya adalah dua hal yang saling berhubungan. Arsitektur cenderung mengatur kota. Arsitektur mengelompokkan manusia berdasarkan aktivitasnya. Namun, apakah manusia senang dikelompokkan? Manusia sebagai actor utama di dalam kota cenderung bertindak sesuai keinginannya untuk mencapai konsep ideal cities yang sudah ada di kepalanya. Pada awalnya kota sedemikian rupa mengatur manusia agar tercipta ideal cities dengan segala ke-order-an yang ada, namun seiring berjalannya waktu manusialah yang memegang peranan penting bagi kota. Sampai kapanpun konsep ideal cities tidak akan pernah tercapai. Manusia dengan segala egonya dan arsitektur dengan ke-order-annya akan sulit untuk menentukan kata sepakat.

Geometri sebagai Permainan Arsitektur

Filed under: geometry — def1 @ 06:36
Tags: , ,

Arsitektur adalah bagaimana kita mengutak-atik sebuah bentuk. Inilah yang sekilas terlintas di pikiran ketika saya mengingat kembali apa yang telah saya dapatkan dari selama belajar geometri arsitektur. Entah itu mengenai masalah pengaturan penyusunannya, proporsinya, unsur titik, garis, bidang sampai bagaimana kita mampu mengolah dari apa yang sudah ada dengan keluar dari yang seharusnya dan biasanya. Dan yang lebih menariknya bentuk-bnetuk yang lahir tersebut tidak selalu dari bentuk-bentuk persegi, segitiga, lingkaran dan lainnya tetapi dari sebuah music. Interval dari sebuah music seperti sebuah pola yang dalam arsitektur adalah golden section, passage (bagian dari lagu) disamakan dengan sebuah fasad dari bangunan. Betapa luasnya hal-hal yang dapat diterjemahkan ke dalam sebuah bentuk arsitektur. Seperti pada bangunan Le Corbusier yakni de La Tourette, dimana saat itu Le Corbusier bekerja sama dengan seorang musisi, Xenakis. Beliau mengaplikasikan harmoni dan ritme dari sebuah musik yang hasilnya adalah dapat dilihat pada panel-panel kaca sebagai efek dari lirik sebuah musik.

Permainan dari bentuk-bentuk yang terjadi tidaklah terlepas dari yang namanya persepsi. Ketika manusia melihat suatu bentuk atau mendengarkan music maka pikiran mereka akan menangkap apa yang dilihat dan didengarnya yang kemudian diterjemahkan pada sebuah pembentukan dalam pikiran. Hasil dari terjemahan tersebut kadang diolah kembali oleh manusia atau langsung dituangkan begitu saja. Misalnya seseorang yang mendengarkan music dengan alunan yang lambat dan kemudian diterjemahkan olehnya menjadi sebuah bentuk garis bergelombang dengan jarak puncak gelombang berbeda-beda sesuai dengan irama music yang didengarnya. Lalu dari bentuk garis gelombang tersebut apa yang dapat diambil poin-poinnya, apakah spasi antar titik puncak gelombangnya, ketinggian dari masing-masing titik puncak atau mungkin alur yang terbentuk darinya (surfacenya). Proses dari pengolahan penerjemahan itulah yang menurut saya dapat adalah bagian permainan bentuk dalam sebuah arsitektur. Di dalam permainan tersebut ada proses berpikir, trial and error, dan proses menelusuri (yang menurut saya adalah proses dimana kita mencoba untuk mengetahui bagaimana bentuk tersebut diperoleh, apa saja yang menyusun bentuk-bentuk tersebut) juga cara pandang kita (melihatnya dengan menyederhanakan, melihatnya seperti semut yang mengelilingi surface, dll)

Pada intinya proses saat permainan itulah yang menjadi sesuatu yang menarik dalam arsitektur. Seperti seorang anak kecil yang bermain balok-balok yang disusun-susun, jika ia tidak puas maka ia akan membongkarnya kembali dan mencobanya untuk menysun kembali sampai ia berhasil menyusunnya sesuai dengan apa yang ia suka. Dan ketika susunan balok-balok itu berdiri maka dalam arsitektur sama saja dengan ketika bangunan hasil dari permainan bentuk-bentuk berhasil terbangun.

April 17, 2009

Music in Architecture

Filed under: music and architecture — r1ss @ 17:37
Tags:

Musik merupakan bagian penting dalam hidup manusia. Terkadang music juga memberikan experience of feeling yang berbeda-beda pada setiap orang. Ada music jazz atau klasik yang menenangkan, music rock yang membuat semangat, atau musik-musik yang mengingatkan kita pada momen-momen yang spesial. Kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari musik. Namun ketika music ini dikaitkan dengan arsitektur, apa peran music ini menjadi berubah menjadi tidak hanya untuk dinikmati? Sebenarnya di dalam music dan arsitektur terdapat kesamaan yaitu dimana kedua-duanya membutuhkan kedisiplinan. Dalam memainkan music yang indah dan harmoni maka pemain music harus memainkannya sesuai naskah lagu yang ada sehingga tidak ada yang sumbang atau tidak cocok. Dan begitu juga dengan arsitektur dimana dalam membentuk sebuah produk arsitektur maka tidak bisa kita langsung membuatnya. Aturan-aturan yang ada di dalam arsitektur yaitu berupa konteks sekitarnya, orang-orang yang akan menghuni nya sehingga terbentuk keharmonian antara produk arsitektur itu dengan konteks sekelilingnya dan dengan orang yang ada di dalamnya. Namun itu apabila kita mengartikan terpisah antara music dan arsitektur dan membahas persamaannya. Lalu bagaimana bila dikaitkan antara music dan arsitektur itu?

le-corbusier21le-corbusier

Salah satu ketergabungan antara music dan arsitektur dilakukan oleh Le Corbusier dalam mendesign Philips Pavilion Poeme Electronic. Le Corbusier bekerja sama dengan Iannis Xenakis yang menciptakan music untuk bangunan itu yang nantinya akan diterjemahkan ke dalam matematika dan kemudian diubah menjadi space. Apa yang dilakukan Le Corbusier seakan-akan bisa ditarik kesimpulan bahwa music mempunyai peran yang lebih besar dibandingkan arsitektur, dimana musik berperan sebagai pembentuk dari arsitektur itu sendiri. Ketika bangunan itu akan didesign maka bangunan itu akan mengikuti naskah music yang telah diciptakan sebelumnya, dimana yang nantinya naskah itulah yang berfungsi sebagai pembentuk space. Lalu ketika music ini diterjemahkan menjadi space, maka akankah arsitektur itu menjadi berbeda dengan arsitektur yang berisi space yang dibuat tanpa berdasarkan terjemahan music? Musik dalam design Le Corbusier hanyalah berperan sebagai pembentukan benda arsitektural itu secara visual yaitu menjadi bentuk hyperbolic paraboloid shapes. Tapi dari experience feeling of space, apakah akan ada bedanya antara bangunan yang didesign berdasarkan terjemahan music ataupun yang bukan? Bukan music itu sangatlah berkaitan dengan feeling yang bisa kita rasakan keindahannya? Apa yang dilakukan Le Corbusier ini sangatlah bertentangan yang dilakukan oleh Daniel Libeskind dimana, Libeskind menjadikan music dan arsitektur menjadi Music Space Reflection.

“Architecture is an acoustical reality. Most people think about it as something visual or spatial. But the sense of balance is in the inner ear and orientation is through the ear. So the acoustics of a building — the sound of a space — is an incredibly important part of my work. And the whole process of architecture is also musical, both in its end characteristic and in its relationship to time.”
— Daniel Libeskind

Libeskind beranggapan bahwa arsitektur yang seringnya dinilai dengan visual maka sebenarnya untuk mencapai arsitektur yang seimbang itu juga harus mempertimbangkan dari akustiknya, tidak hanya spatial of space tapi juga sound of space. Yang dipentingkan oleh Libeskind antara music dan arsitektur ini yaitu bukanlah bagaimana music membentuk arsitektur itu hanya secara visual tapi juga secara experience, dimana sound of space itu bisa memberikan perasaan yang khusus untuk orang-orang yang ada didalamnya, sehingga keindahan music itu tidak hanya bisa dilihat namun juga dirasakan seperti music yang sebenarnya sering kita dengar,dan kemudian bisa terjalinlah keindahan yang harmoni antara musik dan arsitektur itu sendiri.

“Architecture can be felt with eyes, ear, touch, and feeling”

www.schirmer.com & at.or.at

April 7, 2009

Geometri Sebagai Alat Visualisasi “idealisme”

Filed under: geometry — rannymonita @ 01:13
Tags: ,

“Ideal” adalah conception of something in its perfection. Kata perfect bersifat amat sangat subjektif pada konteks ini dikarenakan “ideal” itu sendiri masih berupa suatu keabstrakan yang ada dalam pikiran tiap orang. Oleh karena tiap orang memiliki kapasitas pengalaman dan pengetahuan yang berbeda-beda, maka bentuk abstrak akan idealism itu sendiri pastinya akan berbeda-beda pula. Tapi perbedaan idealism yang abstrak tersebut bukanlah inti dari pembahasan ini. Yang ditekankan dalam bahasan kali ini adalah idealism merupakan suatu ide akan angan-angan atas keinginan (desire) dan kebutuhan (need) yang ingin diwujudkan demi mendapatkan kehidupan yang lebih berkualitas dan lebih baik.

Contoh kasus: Kamakura House
kamakura

Kamakura House dirancang untuk kolektor Buddhism art. Bangunan ini digunakan sebagai tempat retreat (tempat untuk menyepi). Rumah ini terdiri atas paviliun memanjang, ruang besar multi fungsi, dan tempat tinggal. Arsiteknya menyatakan desain bangunan ini didasarkan atas kepercayaan orang Jepang, yaitu penyatuan antara alam dengan bangunan buatan manusia akan melahirkan keindahan. Di sini penyatuan dengan alam diwujudkan pada olahan bentukan geometri yang berkesan simple dan unite. Kesederhanaan diwujudkan melalui susunan bentuk-bentuk geometri yang berkesan simple berupa bidang persegi dan balok. Selain mudah dikenal, bentuk persegi dan balok memiliki kesan yang sederhana dan lugas. Karakter sudutnya yang tegak lurus mudah disatukan membentuk karakter yang unite.

The purpose of geometry of design is not to quantify aestheticsthrough geometry but rather to reveal visual relationships that have foundations in the essential qualities of life such as proportion and growth patterns as well as mathematics. Its purpose is to lend insight into the design process and give visual coherence to design through visual structure. It is through this insight that the artist or designer may find worth and value for themselves and their own work” (Elam, 2001: 5)

Pada kutipan di atas, dijelaskan bahwa tujuan dari geometri bukanlah untuk mengukur suatu estetika, melainkan menguak dan membeberkan hubungan antara suatu ‘visual’ melalui proporsi dan pola secara matematis (numerial indicating a number).

Crowe (1997) dalam prespektif humanismenya menyebutkan bahwa geometri arsitektur dimunculkan dari sumber alami bangunan, yaitu: menunjuk pada ketertiban atau order dari bangunan, juga proses membentuk bangunan, yaitu karakteristik struktural dari material-material konstruksi.
Pada kutipan di atas, dijelaskan bahwa suatu geometri arsitektur menunjukan suatu ketertiban/order dari suatu bangunan tertentu. Pada kasus di atas, idelisme yang ingin disampaikan oleh sang arsitek (tentang nilai kepercayaan yang dianalogikan sebagai penyatuan antara alam dan buatan manusia) diwujudkan dan dihadirkan melalui bentuk arsitektural yang berupa olahan bentuk-bentuk geometri (kesederhanaan diwujudkan dalam bentuk-bentuk yang terlihat familiar seperti bentuk balok dan persegi). Itu berarti, geometri telah dijadikan sebagai alat yang tepat mengvisualisasikan ide/makna (idealism) yang ingin disampaikan oleh sang arsitek tersebut. Geometry dapat dijadikan sebagai alat yang dapat mewujudkan/menggambarkan/mengvisualisasikan idealisme-idealisme tersebut Karena geometry terdiri dari variable angka (yang mana merupakan bahasa universal yang dapat dimengerti banyak orang) sehingga dengan bahasa yang dimengerti oleh banyak orang itulah maka makna “ideal” yang ingin disampaikan akan semakin dapat dirasakan kehadirannya.

Jika dilihat dari kasus di atas, maka hubungan antara nilai “ideal” , order, dan geometry dapat saya simpulkan melalui bagan di bawah ini:

bagan-idelisme1

Pada bagan di atas, terlihat hubungan yang jelas antara nilai “ideal” sebagai suatu makna, karakteristik, dan identitas yang ingin dicapai merupakan suatu variable-variabel yang jika diuraikan lebih dalam akan membentuk suatu rumusan-rumusan yang akan menjadi cikal bakal suatu bentuk arsitektur (order). Dari rumusan-rumusan tersebutlah maka peran seorang arsitek dituntut untuk sekreatif mungkin menemukan bentuk-bentuk ruang yang bisa “berbicara” / mengvisualisasikan nilai-nilai ideal yang dimaksud. Dan geometri sendiri berperan sebagai bahasa universal yang menjelaskan bentuk suatu ruang yang dihasilkan dari rumusan-rumusan nilai-nilai ideal tersebut. Untuk itu, suatu rangkaian nilai-nilai ideal, menurut saya, hanya tepat menghasilkan suatu order dan geometry tertentu. Jika nilai-nilai ideal tersebut berubah (bertambah/berkurang variable nilai idealnya) maka rumusan order yang dihasilkan akan berbeda pula sehingga nantinya geometry yang dihasilkan akan berbeda pula.

Sumber:
http://jurnalrona.files.wordpress.com/2008/02/06-tipologi-geometri
http://arsitekiki.blogspot.com/2008/02/kamakura-house
http://www.fosterandpartners.com/Projects/0932/Default.aspx
www.dictionary.com

Hidden Geometry

Filed under: geometry — kiekie21 @ 01:02
Tags: ,

Pernahkah anda merasakan, bahwa terdapat sebuah garis yang menghubungkan sebuah objek dengan objek lain di kehidupan sehari-hari? Secara tidak sadar hal yang sama saya rasakan saat saya melihat sebuah keteraturan yang ada. Walau tidak ada yang sangat presisi tetapi jika anda pernah merancang pasti anda pernah merasakan perasaan ingin meletakan sesuatu terhadap sesuatu yang lain dalam kondisi yang fit.

Seperti yang telah dibahas oleh tezza pada “Alam sebagai Basis Perancangan, Kaidah Proporsi dan Arsitektur”. Saya berpikiran bahwa manusia telah menyederhanakan bentuk kedalam kaidah geometri sederhana. Dimana didalamnya terdapat sebuah garis yang tidak tercitra secara nyata, yang hanya ada dalam pikiran manusia, yang kemudian dijadikan patokan (standard) dalam skala proporsi dan ritme. Seperti yang sering ditampilkan dalam perancangan arsitektur klasik.

Photobucket
Lalu apakah sekarang garis-garis bantu tersebut tidak terpakai lagi? Bila kita lihat perkembangan arsitektur dari classic – modern – postmodern – hingga sekarang ini maka banyak yang masih menggunakan garis imaginer tersebut terhadap metode perancangan mereka. Contohnya mungkin grid dan garis as untuk menentukan kolom dan tembok. Lalu bagaimana dengan geometri pada arsitektur ‘Zaha Hadid’? apakah masih menggunakan hidden geometri yang sama dengan yang digunakan vitruvius jaman dahulu?

Walau belum mendapatkan sumber yang jelas mengenai hal ini, tetapi saya memiliki judgment sendiri. Ketika jaman arsitektur modern orang beranggapan yang mengikuti garis adalah yang indah. Lalu pada jaman post-modern beranggapan bahwa yang rapi-rapi tersebut sangatlah membosankan. Sehingga timbul ‘less is bore’ sebuah counter dari ‘less is more’ sehingga mengubah posisi dan sumbu garis imaginer yang sebelumnya dijadikan standard utama merancang menjadi relatif dan cenderung berantakan, Seperti yang diperagakan Frank Gerry. Satu titik yang mengahiri jamannya adalah ketika orang sudah mulai bosan melihatnya. Maka jaman yang baru telah tiba dimana arsitektur bergaya futuristik lahir sebagai sebuah utopia baru. Sehingga bila saya gambarkan dalam garis akan seperti demikian.

Photobucket

April 5, 2009

Denah, tampak, potongan

Filed under: geometry — ayushekar @ 21:37
Tags:

Geometri merupakan bahasa yang mengungkapkan makna melalui rupa dan bentuk. Dengan begitu geometri menjadi penting dalam dunia arsitektur karena arsitektur juga berbicara melalui bentuk, meski tentunya bentuk bukanlah satu-satunya syarat berkomunikasi dalam dunia arsitektur. Bagaimana rupa itu terbentuk, hubungan antara bentuk yang satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk suatu kesatuan yang harmonis, menjadi ranah pembahsan dalam geometri. Dan salah satu pendekatan geometri, melalui bentuk, dapat dilihat melalui denah, tampak, dan potongan.

ABC of Architecure menjelaskan bahwa arsitektur hadir ketika seseorang atau suatu institusi memiliki masalah yang hanya dapat dipecahkan melalui bangunan (building). Dan medianya adalah gambar arsitektural (architectural drawing), yang di dalamnya mencakup 3 dasar gambar arsitektural, yaitu denah (plan), potongan (section), dan tampak (elevation). Apa yang dikatakan di dalam buku ini sejauh kalimat diatas masih saya anggap sangat benar. Karena sampai saat ini tuntutan akan kehadiran 3 gambar tersebut selalu ada. Namun yang dipertanyakan kemudian adalah apakah kita akan memulai rancangan dengan sebuah denah atau tidak. Namun jika dimulai dengan denah pun, apa yang salah?

Dahulu membuat denah terlebih dahulu menjadi penting karena, dinyatakan lebih lanjut di dalam buku tersebut, bahwa denah (plan) merupakan manifestasi dari kenginan client dan menunjukkan keseimbangan spatial melalui hubungan antara ruang dan dampaknya. Potongan (section) tujuan utamanya untuk memperlihatkan sistem strukur yang akan digunaan sehingga bisa diketahui kekokohannya. Sedangkan tampak (elevation) merupakan pertunjukan seni yang dituangkan pada bangunan yang akan senantiasa bisa dilihat oleh setiap orang dan dapat dikagumi keidahannya. Sehingga melalui denah kita dapat membayangkan pengalaman spatial saat kita hadir disana. Jika demikian justru membuat denah terlebih dahulu merupakan proses pembentukan kenyamanan spatial yang baik. Namun seiring perkembangan dunia arsitektur, ternyata denah dianggap tidak cukup mampu untuk memperlihatkan ke-spatial-an suatu ruang, karena telah ada suatu kebutuhan yang dinamakan pengalaman ruang, yang dianggap tidak mampu dihadirkan hanya melalui denah dan dengan melihat denah.

Pengalaman ruang berbicara melalui indra semaksimal mungkin. Artinya tidak hanya visual,audio, sentuhan, tetapi juga bermain dengan perasaan (feeling). Sehingga pengertian arstektur saat ini menjadi lebih kompleks, karena tidak hanya menciptakan bangunan indah yang kokoh dan fungional, tetapi bisa saja arsitektur tersebut hadir dalam bentuk instalasi yang kaya akan sensasi. Karena tututan arsitektur saat ini adalah lebih kepada bagaima sesuatu yang hadir bisa memberikan efek yang dapat dirasakan tidak hanya diluar sesuatu tersebut, tetapi juga saat manusia hadir didalamnya.

Belajar

Filed under: geometry — ayushekar @ 21:35
Tags: ,

“ Seorang arsitek yang berpraktek tanpa dasar teori tidak dapat menjelaskan alasan dan dasar mengenai bentuk-bentuk yang dia pilih. Sementara arsitek yang berteori tanpa berpraktek hanya berpegang kepada “bayangan” dan bukannya substansi. Seorang arsitek yang berpegang pada teori dan praktek, ia memiliki senjata ganda. Ia dapat membuktikan kebenaran hasil rancangannya dan juga dapat mewujudkannya dalam pelaksanaan.” (http://id.wikipedia.org/wiki/Arsitektur)

Kutipan diatas secara tidak langsung menjelaskan adanya dan perlunya cabang ilmu yang lain dalam pemahaman akan dunia arsitektur khususnya menjadi seorang arsitek. Itulah mengapa pada dahulu kala vitruvius mengemukakan pentingnya pemahaman akan filsafat, musik, astronomi, matematika, dan lainnya agar semua hal dan setiap langkah yang dilakukan oleh seorang arsitek menjadi beralasan, bukan tanpa penjelasan. Untuk itu diperlukan model studi, scoring, presentasi, design report, dan media lainnya untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya tersebut.

Yang menjadi bahan perenungan dan pertannyaan saat ini adalah ternyata sulit untuk melaksanakan berpraktek dan berteori dengan satu langkah yang sama. Dan pada kenyataan sekarang ini, saya justru bertanya benarkah para arsitek hari ini berpraktek dengan teori? Teori siapa? Teori yang telah disimpulkan oleh dirinya sendiri atau teori yang memang sudah dengan baik dikuasainya. Tidak perlu jauh-jauh menganalisa para praktisi arsitek tersebut, cukup dengan mengetahui bahwa apakah yang sudah saya lakukan, sebagai calon sarjana arsitek, sudah berpraktek dan berteori-kah?

Secara sadar atau pun tidak sistem atau urutan perancangan saya selalu berulang dengan mencari site, membuat preseden, penjelasan ide, membuat model studi dan scoring, hingga bentuk bangunan saya tercipta. Entah apakah ini suatu teori dasar perancangan atau tidak yang secara tidak langsung diperkenalkan oleh jurusan, tetapi pastinya saya pernah mendapatkan sistematika bentuk perancangan ini saat di mata kuliah metoling (metode dan perancangan lingkungan) dan teori lainnya seperti dekonstruksi, fenomenologi, kedekatan ruang, dan lainnya. Tapi pada kenyataannya semua yang pernah diajarkan tersebut hilang saat proses perancangan berlangsung. Padahal bukankah semua materi tersebut diberikan sebagai pendukung proses perancangan. Yang nantinya setiap tindakan yang saya lakukan dalam merancang memiliki arti dan tujuan sehingga bukan “ngasal” merancang yang bentuknya tercipta tanpa tahu dari mana dia tercipta. Agar semua karya yang saya ciptakan sebelumnya punya asal, sehingga dirinya bisa menjawab pertanyaan “siapa kamu?”

Ideal vs Slum

Filed under: ideal cities — mirantimanisyah @ 21:31
Tags: ,

Setelah saya mengikuti kuliah mengenai Geometry and Ideal City, saya merasa terusik oleh adanya isu mengenai konsep ideal city yang menentang kehadiran slum area. Dari beberapa kutipan para filsuf perkotaan mengenai makna ideal city, menyatakan bahwa ideal city adalah kota yang cantik, bersih, dan berpenampilan baik. Sedangkan slum dimaknai sebagai momok yang paling menakutkan dalam mewujudkan kota yang ideal, yaitu kemiskinan, kotor, tidak sehat dan jelek.

“poverty, dirt, disease and ugliness as the evils of the city life which need to be destroyed” (Geddes)
Kemunculan slum, kadang-kadang terjadi begitu saja dan tidak bisa dihindari. Slum terjadi begitu spontan dan sporadis. Apakah slum selalu identik dengan hal yang negatif?
Saya mencoba mengkaji fenomena kawasan slum yang sempat dijuluki The Darkness City yaitu Kowloon Walled City (KWC). KWC merupakan kawasan megablok yang masih terletak di daratan Hong Kong. Saat KWC ini masih berdiri, kawasan ini mungkin menjadi kawasan terpadat di dunia, dimana menampung sekitar 50.000 penduduk dalam luasan 0.026 km². Sempat terjadi kekosongan kekuasaan dimana pemerintah China ataupun Inggris enggan untuk bertanggung jawab dalam menangani pembangunan di daerah tersebut. KWC menjadi tumbuh tak terkendali. Dalam The Convention for Extension of Hong Kong Territory pada tahun 1898, mengenai penyerahan Hong Kong ke tangan Inggris selama 99 tahun, KWC tidak termasuk di dalamnya.

Kawasan ini terus mengalami pergolakan waktu. Sempat diinvasi oleh Jepang. Setelah beberapa tahun, Jepang mengalami kekalahan dan meninggalkan KWC. Kemudian saat RRC berdiri, banyak penduduk yang berimigrasi ke wilayah ini. Tanpa campur tangan pemerintah Inggris maupun Republik China, KWC tumbuh secara organik di bawah kuasa organisasi kriminal China yang memegang kendali kawasan ini. bangunan-bangunan berdiri tanpa keterlibatan arsitek. Akibatnya pembangunan menjadi tak terkendali, kawasan terbentuk menjadi monolit yang semrawut. Bangunan tersebut dibangun tinggi, antara bangunan satu dengan yang lain berhimpitan, sehingga sinar matahari tak mampu menerobos celah-celah kecil, sehingga koridor-koridor antara bangunan menjadi gelap. Hal tersebut memunculkan istilah dark side of KWC. Bahkan terdapat rumor bahwa “sekali kita memasuki kawasan ini, kita tak akan bisa keluar”.

Pada saat itu, hanya ada dua peraturan pembangunan yang mereka pegang. Pertama adalah penyediaan listrik demi menghindari pemakaian api dalam bangunan, kemudian tinggi bangunan tidak boleh lebih dari 14 tingkat karena letaknya tidak jauh dari airport. A real band-aid architecture, itulah istilah yang dapat dikemukakan dalam menggambarkan kondisi fisik kawasan ini.

MVRDV dalam bukunya FARMAX, mengadakan research yang fokus pada density, fluid organization, dan blurred typologies of space. Namun terlepas dari permasalahan lingkungan fisik, banyak hal yang dapat kita telusuri dari kebudayaan yang terdapat di kawasan ini. Bahwa “sesuatu yang tak ideal” menjadi “hal yang ideal untuk ditelusuri kembali”, untuk dilihat kembali dari segi yang lain. Kenyataan bahwa kawasan tersebut telah dihuni oleh penduduknya selama berpuluh-puluh tahun, mengalami regenerasi hingga mereka survive di sana. Mereka memiliki cara tersendiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari, seolah menegaskan teori tentang kemampuan adaptasi manusia yang luar biasa.


Buku City of Darkness: Life in Kowloon Walled City oleh Greg Girard dan Ian Lambot, mengangkat fenomena KWC dalam dua sisi. Lambot membahas sisi dari fenomena arsitektur, sedangkan Girard membahas sisi kebudayaan yang terjadi disana. Bagaimana seorang tukang pos sangat hafal dengan struktur kota yang begitu rumit. Kriminal yang memanfaatkan efek perbatasan, mereka merampok dan lari ke dalam KWC dan polisi Hong Kong tak dapat mengejarnya (karena di luar batas wilayah mereka). Fenomena terbentuknya komunitas yang mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri tanpa campur tangan pemerintah manapun. Fenomena ruang atap sebagai tempat bermain, tempat menghirup udara segar dan tempat melepas kepenatan kota. Ruang atap juga digunakan sebagian warga untuk bergerak secara horizontal.

Sisi negatif KWC juga sering menjadi inspirasi dan diangkat dalam film juga sering menginspirasi film, antara lain Bloodsport, The Killer, dan Batman Begins (dengan distrik “tha Narrows”-nya). Juga video game, seperti Kowloon’s Gate, Final Fantasy VII, Shadow Hearts (Playstation), dan Shenmue2 (SEGA Dreamcast). Fenomena yang terjadi di KWC memang merupakan realita lingkungan fisik yang negatif dilihat dari segi arsitektur dan tatanan kota. Di awal tulisan ini, terdapat pertanyaan bahwa apakah slum selalu identik dengan hal yang negatif? Menurut saya tidak, karena begitu banyak yang dapat kita pelajari dari fenomena slum yang terjadi pada suatu kawasan, yang dapat memberikan inspirasi menuju suatu yang lebih baik. Seperti halnya yang terjadi di KWC, tidak hanya dari segi arsitektur saja yang dapat kita kritisi sebenarnya. Masih ada yang lain yang dapat kita gali, yaitu sejarahnya, penyebab dan akibat kehadirannya, serta kebudayaan yang berkembang. Dan pada akhirnya, slum memberikan kontribusi dalam menciptakan sesuatu yang ideal.

Kota membentuk dirinya sendiri

Filed under: ideal cities — arsnu @ 21:27
Tags: , , , ,

“The grid, the orthogonal plan with parallel streets, right angles, used frequently in ancient planning, appears to be the ideal city form..” (Eaton)

“the separation of activities as the prominent character of modern cities to avoid the ‘pile-up’ of activities.” (Lofland)

Ideal city, dianggap dapat direalisasikan dengan grid-grid, jika dilihat dari atas dapat dilihat zoningnya. Ada yang mengatakan itu agar rapih, agar teratur, namun ketika kita zoom in, apakah masih se-teratur seperti skala sebelumnya? Apakah zoning tadi masih jelas? atau justru zoning tadi sudah menjadi blur?

“the grid denies the existence of contrast, complexity and difference, which are the basic characteristic of urban ife” (Sennet)

“the greatest mistake in zoning is that it permits monotony, and leads to disintegration of environtment” (Jacobs)

Begitu juga ada yang berpendapat bahwa grid-grid itu monoton, terlalu dipisahkan, menghilangkan kompleksitas sebuah kota. Bahkan kata Jacobs, itu dapat mengakibatkan disintegrasi. Lagi-lagi ketika kita zoom in, apakah masih monoton? Apakah antara satu zona dengan zona lain benar-benar terpisah oleh dinding besar sehingga disintegrasi itu terjadi? tidak sebegitunya kan? Itu hanyalah God’s eye, seperti kata Sasaki, “the visuality of the Cartesian city was abstract, since it was addressed not to human eyes but to God’s eye”. Itu hanya dilihat dari atas saja, yang dari plan terlihat rapih dan bergrid seakan teratur sekali, ketika kita masuk didalamnya, tidak akan sebegitu rapihnya juga. Begitu juga dengan kemonotonannya, di plan kita lihat ‘ah monoton, grid-grid, zona-zona, sini bisnis, situ residential, bosan’, padahal ketika kita didalamnya tidak akan sebegitu monotonnya.

Menurut saya hal tersebut karena isi dari kota itu sendiri. Diversity yang sudah pasti ada dalam sebuah kota akan memblurkan zona-zona yang tadi telah dirancang, dan akan memvariasikan kemonotonan dari grid-grid yang ada. Urban planner yang menata sedikimian rupa hanyalah merapihkan dan mempermudah segala sesuatunya, dan lagi-lagi itu hanyalah God’s eye. Nantinya kota itu sendiri yang akan merancang dan membentuk dirinya. Kota itu sendiri yang akan menjalarkan segala yang ada didalam dirinya, menjalarkan sisi sosial, sejarah, budaya, ekonomi, masyarakat, arsitektur, geografis, order, disorder, semuanya. Semua itu akan mengisi kota dan akan saling berhubungan, sehingga bentuk-bentuk urban planning bukanlah hal terpenting lagi. Apakah ia grid, apakah ia memusat, apakah ia indah, apakah ia teratur, atau monoton. Itu hanyalah sebuah wadah, geometri yang menjadi wadah geometri yang lebih kecil lagi, yang bisa saja ditata berbeda-beda, dan tetap sah-sah saja. Tidak ada bentuk mutlak yang diTuhankan dan dianggap paling ideal. Karena ideal akan terus menjauh ketika kita berlomba-lomba untuk mengejarnya, hanyalah sebuah utopia.

The City of Tomorrow Khas Indonesia

Filed under: ideal cities — fathur05 @ 21:22
Tags: ,

Le Corbusier dalam gambaranya tentangThe City of Tomorrow mengusulkan bahwa pusat kota harus berupa banguinan tingkat tinggi yang ekslusif untuk fungsi komersial, bagian ini tidak lebih dari 5 %. Sedangkan 95% sisanya berupa taman. Di pusat kota dia juga menyebutkan dibutuhkan adanya stasiun kereta yang akan menghubungkan pusat ini dengan wilayah disekitarnya serta keberadaan bangunan untuk toko-toko mewah, restauran dan kafe. Si pusat kota kemudian akan dikelilingi oleh perumahan dalam bentuk block zigzag (1933, competition for the renewal of Stockholm’s city centre)

Sekilas dibayangkan gambaran kota masa depan ini nyaman ditempati. Banyak mungkin yang akan mengaku mempunyai pandangan yang sama tentang bagaimana kota masa depan seharusnya, saya salah satu diantaranya. Namun membayangkan Jakarta atau kota-kota di Indonesia berubah seperti bayangan Le Corbusier rasanya tidak rela.

“But we want an order that gives to each things its proper place, and we want to give each thing what is suitable to its nature.” Pernyataan diatas yang diungkapkan oleh Adrian Forty yang saya rasa sejalan dengan pemikiran Le Corbusier, tentang pemahaman order bahwa sesuatu harus ditempatkan sesuai tempatnya saya rasa perlu dikaji. Apa yang diusulkan Le Corbusier: “A city made for speed is made for succes. Therefore, nothing could be come in the way of the traffic flow, and the separation was seen as the part way to achieved on struction freemovement in the city” yang akhirnya merujuk pada zoning bukan pilihan yang bijak menurut saya. Terutama untuk Indonesia. Penempatan sesuai tempatnya bukan berati tiap elemen dipisahkan, terpisah, mempunyai tempatnya masing-masing. Akan membosankan jika memang diberlakukan demikian. Kemungkinan suatu elemen melebur dengan elemen lain dalam tempat yang sama harus dipertimbangkan. Perpaduan, tabrakan, kekacauan tidak boleh dilihat selalu sebagai hal yang ”disorder” yang perlu ditata dengan memisahkan elemen-elemennya. Saya rasa makan di pinggir jalan diiringi pengamen dan klakson mobil orang yang kejebak macet punya kualitas yang sayang untuk dihilangkan. Dan lagi uang yang beredar di area hangat seperti ini dapat menghidupi banyak kepala.

Namun tentu tidak untuk semua tempat. Pemisahan untuk beberapa konteks bisa jadi pilihan yang harus diambil. Jalan tol , salah satu contoh pengembangannya, sangat membantu efisiensi dan efektivitas dalam banyak hal. Terakhir, saya rasa pengembangan kota ala Indonesia bisa hadir sebagai hasil dari perpaduan antara pemikiran besar Le Corbusier dan Lofland yang mengatakan bahwa “city is many things.”

What is the REAL ideal city?

Filed under: ideal cities — holy_white_dragoon @ 21:18
Tags:

Sebelum membahas mengenai kota ideal yang sebenarnya, ada baiknya kita melihat dan menyamakan persepsi terlebih dahulu mengenai apa itu ideal, dan apa itu city? Bila melihat dari akar katanya, ideal berasal dari kata idea yang berarti pemikiran atau gagasan. “An ideal is a principle or value that one actively pursues as a goal.” (http://en.wikipedia.org/wiki/ideal_(ethics)) , dari sini terlihat bahwa arti ideal itu sendiri merupakan suatu prinsip atau nilai yang dikejar sebagai tujuan. Saya berpikir bahwa apabila ideal itu adalah sesuatu yang dikejar, maka ideal itu sendiri tidak akan pernah terpenuhi. Karena apabila telah terpenuhi, maka tidak ada lagi nilai-nilai yang dikejar untuk dicapai. Oleh karena itulah, saya berpendapat bahwa selalu ada ideal di atas ideal.

Berikutnya, kita akan melihat arti dari city itu sendiri. Apabila diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Indonesia, city berarti kota. Tapi apakah itu kota? “A city is an urban area with a high population density and a particular administrative, legal, or historical status.” (http://en.wikipedia.org/wiki/City), kota adalah area urban dengan populasi tinggi dan memiliki status administratif, keabsahan, ataupun historikal tertentu. Area urban dengan populasi tinggi mencerminkan bagaimana manusia berperan aktif dalam membentuk kota itu sendiri dan keterkaitannya dalam sebuah ‘ruang raksasa’. Lalu apa keterkaitan antara ideal dan city?

Di atas sudah dijelaskan bahwa ideal berkaitan dengan idea yang berarti pemikiran. Pemikiran itu sendiri lekat dengan manusia sebagai makhluk berakal yang menjadi komponen utama pembentuk sebuah kota. Jadi, dapat dikatakan bahwa setiap manusia sebagai individu, pasti akan membawa idealisme masing-masing guna menilai ideal tidaknya sebuah kota tempat mereka tinggal. Ironis apabila kita sebagai perancang berpikiran untuk membuat sebuah kota yang ideal bagi semua orang karena nilai ideal itu sendiri tak dapat diukur, bersifat abstrak, dan bervariasi pada tiap individu. Jadi pentingkah kota yang ideal? Untuk apa kita mengetahui tentang kota yang ideal apabila ideal itu sendiri tak mungkin diwujudkan?

Saya berpendapat bahwa penting bagi perancang untuk mengetahui tentang kota yang ideal. Walaupun tidak mungkin mewujudkan idealisme yang beragam ke dalam sebuah kota, setidaknya dengan mengenal hal yang disebut ideal, kita dapat menghindari hal-hal yang dianggap tidak ideal. Menurut Sennett, city -> both those perfect and imperfect things. Dari sini, saya berpikir bahwa mungkin telah ada nilai-nilai yang telah dianggap ideal oleh kelompok tertentu, namun tidak ideal di kelompok yang lain. Jadi segala sesuatu yang sempurna dan tidak sempurna pasti selalu ada dalam sebuah kota dengan manusia-manusia yang memiliki idealisme yang berbeda. Itulah yang dinamakan dinamika dalam sebuah kota. Tapi apa jadinya kalau segala sesuatunya dianggap tidak sempurna? Maka tidak ada minimal 1 idealisme pun yang terpenuhi yang dengan demikian, makin jauhlah dari kata ideal. Makin jauh dari kata ideal, maka kota mungkin akan kehilangan maknanya karena akan ditinggalkan oleh penghuninya.

Lalu, adakah kota ideal yang sebenarnya? Bagi saya, tidak ada kota yang ideal dan tidak akan pernah ada. Yang ada hanyalah kota yang tidak ideal atau kota yang bukan tidak ideal.

Euclidean = Proyeksi non-Euclidean

Filed under: geometry — anggrenisimanjuntak @ 21:16
Tags: , ,

Ketika saya belajar geometri di bangku sekolah, saya mengenal bahwa segitiga itu adalah bentuk dua dimensi yang terdiri dari 3 garis dan memiliki jumlah sudut 180 derajat. Lalu, ketika saya mengikuti kuliah geometri mengenai euclidean dan non-euclidean beberapa pekan lalu, pemikiran saya tetang ke-180 derajat-an segitiga itu diputarbalikkan sebesar 180 derajat. Seakan geometri ketika saya bersekolah itu berbeda dengan geometri di arsitektur.

Euclidean berbicara tentang bidang planar atau datar. Sehingga, dalam euclidean, garis lurus dapat digambarkan dengan menarik garis dari satu titik ke titik yang lain. Dengan demikian, ketika saya mempertemukan 3 garis lurus dengan 3 titik sudut maka akan terbentuk sebuah bidang yang jumlah sudutnya pasti 180 derajat. Itulah si segitiga saya yang saya kenal sejak sekolah, si segitiga 180 derajat. Tetapi, kemudian saya dipertemukan dengan istilah non-euclidean dimana di sini kita tidak berbicara tentang sesuatu yang datar lagi. Tidak ada lagi yang namanya garis lurus. Tidak ada lagi si segitiga 180 derajat. Segitiga itu seperti diperbesar dan nemplok pada permukaan bumi kita (yang tidak datar melainkan cembung). Maka, yang ada bukan lagi si segitiga 180 derajat, tetapi bisa menjadi segitiga 270 derajat atau mungkin lebih ataupun mungkin juga kurang, kita namakan saja dia si segitiga nemplok .

Geometri merupakan suatu ilmu mengukur bumi. Bumi kita bulat, tidak datar. Dan itu sudah terbukti dengan penjelajahan para tetua kita di masa lampau. Tak perlu disangkal lagi. Kalau begitu, teori non-euclidean benar karena tidak berbicara dalam bidang datar? apakah segitiga 180 derajat itu salah, karena sebenarnya tidak ada garis lurus di bumi ini?? Lalu buat apa saya susah-susah belajar tentang segitiga 180 waktu sekolah? Dan apakah benar jika adik saya yang masih duduk di bangku sekolah bertanya berapa jumlah sudut segitiga dan saya menjawab 270 derajat? Hmm..saya rasa tidak. Pasti guru matematikanya akan marah-marah. Lagian, toh selama inipun, dalam merancang yang saya temukan tetap si segitiga 180 derajat, bukan si segitiga nemplok. Terus, kasihan sekali si segitiga nemplok yang seharusnya benar, tapi malah dianggap salah. Kedua sudut pandang ini memiliki sisi kebenaran dan kekurangan masing-masing.

Dari sini, sayapun mencoba untuk melihat kedua sudut pandang ini (euclidean dan non-euclidean) bukan dari siapa yang benar dan salah, tetapi bagaimana hubungan yang satu dengan yang lain. Saya beranggapan bahwa si segitiga 180 merupakan sebuah proyeksi si segitiga cembung yang terbaca oleh mata manusia. Dengan keterbatasan jarak pandang manusia dan sistem kerja bumi dan segala isinya, maka bumi yang sebenarnya bulat terlihat datar oleh mata manusia. Hal-hal yang data inilah yang kemudian terus dipelajari oleh manusia dalam peradabannya, termasuk dalam perhitungan matematika, yang akhirnya menghasilkan si segitiga 180, yang kemudian menghantarkan manusia pada ilmu arsitektur. Jadi, kalau sekarang ini, kita merancang sesuatu dengan menggunakan garis lurus dan mewujudkannya di bumi ini, maka sebenarnya kita juga telah membangun bangunan yang sifatnya non-euclidean, hanya saja kita tidak dapat menangkapnya dalam mata kita, hanya Tuhan yang dapat melihatnya, dan mungkin para astronot yang sedang menjelajahi luar angkasa (entahlah, saya tidak pernah pergi ke luar batas atmosfer bumi). Dengan demikian, sekarang saya dapat simpulkan bahwa tidak ada yang salah dan benar antara euclidean dan non-euclidean, mereka adalah dua hal yang saling menggambarkan. Euclidean = proyeksi non-euclidean.

Superblok, wujud kota ideal..??

Filed under: ideal cities — dyahnajjah @ 21:14
Tags: ,

Beberapa hari yang lalu, saya menyalakan televisi, dan tanpa sengaja menonton dengan siaran ‘iklan’ merangkap acara bincang-bincang properti di MetroTV. Tidak hanya pagi itu saja, hamper setiap minggunya acara itu disiarkan. Pembawa acara tersebut berusaha meyakinkan penonton bahwa Perusahaan property tersebut telah mendiriikan sebuah kawasan Superblok di daerah Kelapa Gading, yang katanya bakal menjadi kawasan masa depan perkotaan yang warganya menghendaki kemudahan fasilitas, aktivitas yang menyatu, lepas dari kepadatan dan kemacetan kota.

Kurang lebih, berikut promosi mereka: ”Kelapa Gading Square adalah suatu kawasan hunian dan komersiil dengan tema “One Stop Living Concept”, yaitu suatu kawasan hunian yang didukung dengan adanya kawasan komersiil yang saling terintegrasi dan melengkapi dengan mengedepankan 4 aspek yaitu living, business, shopping dan pleasure dalam satu kawasan terpadu. Sehingga penghuni dapat memenuhi segala kebutuhannya hanya dengan selangkah ke kawasan komersiil yaitu Mall of Indonesia yang dilengkapi oleh Carrefour, Italian Walk Shopping Arcade dan Rukan di bawah apartemen. Semua serba lengkap dan dapat dicapai tanpa perlu membuang-buang waktu macet di jalan. Hal ini dikarenakan jaraknya yang sangat dekat sehingga semua dapat dicapai dengan berjalan kaki. Selain itu, penghuni dapat menikmati kenyamanan 20 fasilitas bintang lima seperti swimming pool, tennis court, squash, clinic, coffee shop, day care center, club house, jacuzzi, whirl pool, laundry, post office, mini market, play group, putting green, salon, spa dan atm center. Benar-benar suatu hunian yang menawarkan kelengkapan dan kenyamanan hidup. Kelapa Gading Square merupakan super block seluas +/- 17 hektar dan mixed use terpadu yang terbesar di Kelapa Gading, sehingga memungkinkan pengembang melengkapi kawasan hunian ini dengan fasilitas bintang lima yang akan memberi kenyamanan bagi penghuni dan meningkatkan nilai investasi bagi seluruh pemilik produk di Kelapa Gading Square. Kelapa Gading Square berlokasi di bagian Barat Kelapa Gading yang cenderung lebih prestigious dan lebih tinggi market valuenya dari kawasan lain di dalam wilayah Kelapa Gading. Serta mudah diakses dan memiliki akses langsung dengan jalan Toll Inner Ring Road (Tol Lingkar Dalam) dan dekat dengan akses ke Outer Ring Road (Tol Lingkar Luar). Hal ini akan menyebabkan akses pencapaian yang mudah dari dan ke kawasan ini, sehingga pertumbuhan nilai investasi akan meningkat pesat. Terlebih lagi dengan dibangunnya akses langsung dari arah Sunter dan akan diwujudkan akses langsung dari arah Mal Artha Gading, sehingga penghuni dapat memiliki alternatif jalan selain dari jalan Yos Sudarso. Hadirnya +/- 4000 hunian apartemen yang dilengkapi fasilitas mewah didalamnya dan Mall of Indonesia serta pertokoan, menjadikan kawasan ini semakin bertumbuh dan saling mendukung. Maka, bergabunglah di Kelapa Gading Square, pilihan tepat yang mewujudkan mimpi Anda menjadi kenyataan. Kunjungi show unit kami sekarang juga di kantor pemasaran”.

Mendengar kalimat-kalimat di atas, saya kembali terpikir soal sebuah kota ideal, Sebuah kota ideal, Sebagaimana yang pernah saya pelajari, berbagai teori jelas mengatakan bahwa kota yang ideal adalah kota yang memiliki kondisi fisik yang sempurna, pemerintahan yang baik, Sesuatu yang baru, yang tidak memiliki bau yang tidak sedap, tidak bising, tidak ada gubuk, kuburan. Di sana hanya terdapat rumah-rumah “bagus”. Dikatakan pula bahwa dalam kota ideal, kemiskinan, kotoran, penyakit, dan ke”jelekkan” harus dihancurkan. Bila kita mengacu pada teori tersebut, maka Superblok (kawasan yang menggabungkan pusat hunian (apartemen), perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, sekolah, pusat kesehatan, tempat olahraga, bahkan juga tempat rekreasi. Pendeknya, segala fasilitas yang dibutuhkan menyatu dalam satu kawasan. dimana penghuni superblok tak bakalan kerepotan karena bisa melakukan aktivitas keseharian hanya dalam satu kawasan. Bahkan cukup berjalan kaki tanpa berkendaraan,dan seluruh kegiatan bisa dilakukan di superblok.), nampaknya merupakan solusi yang kurang lebih bisa memenuhi hasrat akan sebuah kota yang ideal. Perwujudan sebuah kota yang ideal.

Namun, Saya menyimpulkan begini, berarti, kota ideal sama dengan harus mahal. Mengapa demikian? Lihat saja, berapa uang yang harus kita kocek untuk dapat merasakan ke-ideal-an tersebut? Bayangkan untuk sebuah hunian di kawasan superblock tersebut kita harus mengeluarkan uang hingga ratusan juta rupiah. Yah, memang hal ini bukanlah sebuah kewajiban, melainkan sebuah pilihan, kalau ingin hidup enak, kalau ingin menjadi seorang yang idealis, beli saja apartemen. Bagi mereka yang beruntung, hal ini semudah membalikkan telapak tangan. Dengan demikian, teori tersebut memang dapat dirasakan kebenarannya. Kota yang ideal haruslah berisikan orang-orang elit yang berkantong tebal.

Apakah perwujudan kota ideal ini sudah ideal? Dalam artian, apakah usaha menciptakan kota yang ideal sudah memperhatikan hal-hal yang mendasar? Apakah mereka memperhatikan tata ruang?atau sekedar membangun? Atau, apakah Pembangunan superblock ini sudah memperhatikan dampak-dampak apa yang akan mereka hasilkan bila mereka tidak meneliti dengan seksama bahwa mereka sudah menggunakan lahan yang sangat Super? apakah mereka sudah menyadari bahwa tidak hanya kaum elit saja yang punya hak untuk hidup, hak untuk merasakan kesenangan, sehingga perwujudan kota ideal sudah cukup berperikemanusiaan?

Apakah ideal city merupakan sesuatu yang teratur dan positif?

Filed under: ideal cities — f3br1ant1 @ 16:20
Tags: , ,

Setelah mengikuti kuliah dua minggu ini yang membahas “ideal city” saya menjadi bertanya-tanya seperti apa sebenarynya sebuah kota itu dapat dikatakan sebagai kota yang ideal. Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa kota yang ideal itu harus terlihat sempurna dan tidak boleh terlihat satu kejelekan apapun dari nya dan tertata rapi membentuk grid-grid atau pun segala sesuatu yang bentuk dan susunannya teratur. Salah satu yang berpendapat seperti itu adalah oleh Barnet, menurutnya “The ideal city will be new…
No smell filth, danger or noise, no old houses, no cemeteries, no prisons, no slaughter houses with ugly appearance. Instead there are good houses with broad and lighted streets”. Namun ada pendapat yang lain yang membantah pernyataan-pernyataan tentang ideal city yang pada awal nya disebutkan sebagai segala sesuatu yang berada di dalam sebuah kota yang ideal hanyalah segala sesuatu yang baik-baik. Pendapat yang menentang nya mengatakan bahwa ideal city itu menyatakan bahwa kota yang ideal itu didalam terdapat order dan disorder (terdapat campuran sesuatu yang bersifat positif dan negative di dalamnya).
Hal senada juga dikatan oleh Sennett, “Disorder is actually a good thing that should happen in the cities.”

Dari dua macam pendapat di atas saya lebih setuju dengan pendpat kedua, yang mengatakan bahwa ideal city, itu di dalam nya terdapat order dan disorder. Mengapa? Karena menurut saya order dan disorder itu sangat berkaitan satu sama lain, tanpa adanya disorder tidak mungkin terbentuk order (jika semuanya sudah terusun dengan rapi dan tidak ada yang di katakan tidak baik itu maka mungkin saja sesuatu yang sudah order itu suatu saat berubah menjadi disorder, karena tidak ada yang menjadi perbandingan. Hal ini bisa saja membuat pandangan orang mengenai sesuatu yang order itu berubah menjadi sesuatu yang disorder karena terjadinya perkembangan pemikiran manusia dan kemajuan ilmu pengetahuan).

Menurut pendapat saya ideal city itu merupakan suatu keadaan kota yang seimbang (terdapat keseimbangan antara segala sesuatu). Hal-hal yang positif dan negative tersebut saling melengkapi dan saling mempengaruni dan membutuhkan satu sama lain. Menurut saya, kita tidak bisa membuat sebuah patokan seperti apa sebuah kota yang dikatakan “Ideal City” secara global, karena terdapat banyak hal yang mempengaruhinya seperti dalam hal kebudayaan dan kebiasaan yang ada di dalam suatu masyarakat (misalnya, di salah satu Negara di Kamboja wanita yang dikatakan cantik oleh mereka adalah wanita yang memiliki leher yang panjang dan mereka mulai dari anak-anak mulai memasukkan kalung-kalung di leher mereka agar semakin panjang. Namun hal itu hanya berlaku di daerah tersebut, mungkin bagi kita yang melihat hal itu tidak cantik sama sekali). Begitu juga dalam perencanaan sebuah kota, karena setiap daerah memiliki kebudayaan masing-masing dan hal tersebut mempengaruhi cara pandang mereka mengenai suatu kota yang dikatakan ideal tersebut.

Next Page »

Blog at WordPress.com.