Sepanjang kuliah geometri tentang arsitektur dan musik, saya menangkap kesan bahwa penciptaan arsitektur yang didasarkan pada musik seolah-olah hanya diperuntukkan untuk orang yang mampu mendengar saja karena sebagian besar arsitektur menekankan bagaimana agar suara yang tercipta dari bangunan dapat dinikmati oleh orang yang non tunarungu. Saya tidak mengatakan itu sesuatu yang salah. Saya juga mengakui bahwa ada juga bangunan yang merupakan hasil translasi visual dari musik seperti yang tertulis pada artikel Y-Condition yang terdapat pada buku Architecture as a Translation of Music. Artikel ini tertulis oleh Elizabeth Martin. Saya hanya ingin mengatakan bagaimana seharusnya musik itu dapat dinikmati oleh orang tunarungu juga melalui arsitektur. Tidak hanya orang non tunarungu.
Perlu diketahui bahwa tunarungu memiliki tiga cara menikmati musik yaitu melalui suara, getaran,dan visual. Memang tidak semua orang tunarungu dapat menikmati musik melalui suara karena tingkat ketuliannya berbeda-beda. Akan tetapi, dengan alat bantu dengar, barulah ada beberapa orang tunarungu dapat merasakan keindahan musik. Saya menyebutkan kata “ beberapa” karena tidak semua orang bisa mendengar dengan alat bantu dengar. Ada juga yang menderita ketulian total. Ada juga tidak suka mengenakan alat itu karena membuat kepala pusing.
Sedangkan, getaran merupakan sarana yang sangat umum atau paling sering digunakan orang tunarungu untuk menikmati musik. Memang ada orang tunarungu yang memilih menikmati musik melalui pendengaran sehingga kurang mengembangkan kemampuan ’mendengar’ musik melalui getaran. Tubuh manusia merupakan konduktor getaran yang cukup baik. Dengan memegangi alat musik atau radio, kulit sudah mampu merasakan getaran. Getaran itu merambat cukup cepat. Bahkan otak juga dapat merasakannya
Sebagai orang tunarungu, saya termasuk orang yang sering memanfaatkan getaran sebagai sarana untuk merasakan ’keindahan’ musik. Dulu, pada saat memainkan piano, saya suka menempelkan kakiku pada pedal. Dengan demikian, saya merasakan keindahan musik dari getaran. Ditambah feeling, kenikmatan musik makin terasa. Dengan feeling, saya sering membayangkan bagaimana rasanya jika musik itu dinikmati orang non tunarungu. Kendatipun, tidak selalu benar, saya tetap menikmatinya. Bahkan ditambah dengan alat bantu dengar, musik terasa lebih indah. Saya harus mengakui itu lebih indah daripada melalui getaran. Bagaimanapun, getaran tetap paling sering saya gunakan. Ketika bermain piano, saya masih suka menempelkan kakiku pada piano walaupun sudah mengenakan alat bantu. Apalagi jika alat bantu dengar itu rusak, saya tetap bisa menikmatinya meksipun rasanya agak berbeda.
Visual memang tidak banyak membantu untuk menangkap apa yang dimaksud dari sebuah lagu. Tetapi visual bisa memperdalam feeling sehingga orang tunarungu makin bisa merasakan kenikmatan musik. Jika saya melihat orang sedang memainkan piano di tengah ruang yang gelap, tepatnya di bawah lampu yang redup, saya langsung mendapat feeling. Saya bisa membayangkan seperti apa musik itu,. Dengan demikian, saya tetap bisa menikmati musik walaupun ruangan itu tidak mendukung baik getaran maupun suara. Jadi, kesimpulannya, agar orang tunarungu dapat merasakan musik melalui bangunan, maka arsitek harus menekankan suara, getaran, dan visual. Ketiga itu akan membentuk pengalaman ruang atau feeling. Feeling yang mengakibatkan orang tunarungu dapt menikmati musik, sama seperti orang non tunarungu.
Berikutnya merupakan contoh arsitektur yang baik sehingga orang tunarungu dapat menikmati musik , tidak hanya suara tetapi juga getaran dan visual, yaitu Synaptic Island. Synaptic Island adalah ruang yang menjadi perantara dari ruang luar ke ruang dalam the Tokushima 21 st Century Cultural Information Center selama CyberSound Week (30 April-5 Mei 1992). The Tokushima 21 st Century Cultural Information Center merupakan bagian dari Tokushima Bunka-no–Mori Park. Ruang ini mengeksplorasi akustik, persepsi, arsitektur, dan komputer. Ruang ini membuat kita tidak hanya mendengar tetapi juga merasakan getaran dan visual.
Ruang ini sengaja dibuat persis dengan bentuk anatomi telinga musik untuk menghadirkan perpectual geography. Perceptual geography akan memperkuat persepsi kita akan ruang daripada suara. Synaptic island sengaja dibuat untuk menunjukan spatial dimensions dari musik. Dalam hal ini, arsitektur dijadikan sebagai alat memperlebarkan dimensi baru musik. Komposisi musik di dalam ruang ini ditentukan oleh tinggi dan lokasi. Material bangunan ini dijadikan sebagai media perambatan musik (getaran). Ini mengakibatkan kecepatan suara bertambah tinggi sekaligus memperbesarkan gelombang suara. Panjang gelombang suara untuk nada C yang melalui udara (airborne sound) hanya empat kaki. Sedangkan yang melalui material bangunan (structure-borne sound) panjangnya justru lebih dari dua puluh kaki. Ini membuat tubuh kita merasakan getaran suara lebih cepat daripada melalui udara. Ini menimbulkan sensasi dalam merasakan ruang, seperti kutipan berikutnya:
” Tactile in prescene, they appear both larger than life and small enough to touch, heard as tough miles away, or felt inside the listener” (Maryamme Amacher, 1994).
Sebagai responnya, neuroanatomy memberi sinyal data bentuk yang paling rumit (getaran) ke dalam telinga yang mengakibatkan kita mendengar tiga bunyi, satu dari getaran dan dua lainnya berasal dari udara. Suara yang terdengar ini tidak berasal dari electronic multispeaker tetapi dari resonasi suara pada ruang itu. Dengan kata lain, bangunan berfungsi sebagai speaker dan otak sebagai mixing board. Selain itu, interior yang berbeda-beda dalam ruangan itu makin menambah variasi dalam mengalami keruangan.
Jadi, Synaptic Island benar-benar memeberi pengalaman ruang dari segi visual, pendengaran, dan getaran. Sekarang, terserah pada arsitek, mau membuat bangunan yang ‘ramah’ tunarungu atau tidak.
Referensi:
Martin, Elizabeth, et.al, 1994. Arhitecture as Translation of Music. New York: Princenton Architectural Press.